31 Desember, 2008

Falsafah Menangis atas Imam Husain as

Karbala, nama hamparan sahara dekat sungai Eufrat yang menjadi panggung drama nyata tragedi kemanusiaan terbesar sepanjang sejarah. Sebuah padang pasir yang di beritakan dalam Al-Kitab, bahwa di tempat ini terjadi penyembelihan yang teramat dahsyat, yang digambarkan pedang akan makan sampai kenyang dan akan puas minum darah mereka (Yeremia 46:1). Dari sekian tragedi kemanusiaan yang terjadi, tragedi di Karbalalah yang terbesar. Bukan dilihat dari jumlah korban, melainkan siapa yang telahmenjadi korban dan bergelimang darah. Jumlah mereka tidak seberapa, 'hanya' kurang lebih 72 orang. Yang menjadikan peristiwa ini sulit untuk terlupakan adalah Karbala menjadi samudera pasir yang menyuguhkan genangan darah dan air mata suci putera-puteri Rasul. 10 Muharram 61 Hijriah, Imam Husain bersama 72 pengikutnya — termasuk di dalamnya anak-anak — syahid dibantai oleh sekitar 30.000 tentara Yazid bin Muawiyyah di padang Karbala , Irak. Kepala Imam dan para syuhada dipenggal dan diarak keliling kota. Tragedi Karbala merupakan tragedi terbesar sepanjang sejarah Islam. Meski telah berlalu berabad-abad lamanya, namun masih sangat membekas dan berpengaruh dalam benak umat manusia, seakan-akan peristiwa ini terjadi kemarin sore. Kita tidak menemukan peristiwa apapun di dunia ini yang dikenang sedemikian rupa melebihi kenangan atas tragedi Karbala. Tragedi Karbala benar-benar menggelitik nalar dan nurani kita untuk mengajukan pertanyaan-pertanyaan; mengapa tragedi ini harus selalu dikenang ? Mengapa kematian sekelompok orang yang sudah berlalu sekian abad masih terus ditangisi? Mengapa perasaan benci terhadap para pembantai keluarga Nabi masih terus dipelihara? Bukankah sebagai seorang muslim sudah seharusnya melupakan masa lalu dan memaafkan segala kesalahan mereka? Bukankah membahas peristiwa ini hanya akan menyulut benih-benih perpecahan antara kaum muslimin, antara kelompok yang pro dengan kebangkitan dan kesyahidan Imam Husain as, dengan kelompok yang kontra dan menganggap Imam Husain as adalah agitor dan pemberontak terhadap penguasa yang sah ?. Masihkah relevan kita memperbincangkan tentang kesyahidan Imam Husain di padang Karbala di abad yang justru orang-orang membincangkan perdebatan antar budaya dan peradaban melalui dunia maya? Apa faedah kita mengungkit-ngungkit tragedi yang telah menjadi masa lalu ini, dan buat apa kita menangisinya ?. Bukankah semestinya kita berpikir tentang upaya mendirikan peradaban yang lebih manusiawi dan membangun masyarakat yang inklusif-prularis di tengah perseteruan yang tajam antar penganut agama? Saya pribadi, menganggap hal ini sangat penting untuk kita perbincangkan. Terlepas dari tragedi Karbala, di Indonesia, atas nama suku, agama, ras dan golongan, nyawa manusia tidak lebih mahal dari sebungkus rokok. Aceh, Ambon , Sambas, Sampit, Poso, Papua adalah sebagian diatara kota-kota yang telah menjadi saksi prahara itu. Kitapun menyaksikan sampai detik ini, Jet-jet tempur Rezim Zionis Israel tak henti-hentinya menggempur sejumlah kawasan di Jalur Gaza yang menjadikan ratusan orang hancur menjadi debu dan darah dalam waktu singkat. Genangan darah, tumpukan mayat diantara bangunan yang roboh, jerit tangis dan air mata telah menjadi saksi atas kebiadaban segelintir manusia atas manusia lainnya. Lalu, di manakah kemanusiaan kita? Tersentuhkah kita dengan derita-derita mereka? Sayyid Muhammad Husain Fadhlullah pernah berkata, “Mereka yang tidak pernah tersentuh dengan tragedi Karbala, tidak akan pernah tersentuh dengan tragedi kemanusiaan yang lain.” Tragedi Karbala menjadi ukuran. Kepedulian kita atas tragedi kemanusiaan, khususnya di bumi Nusantara maupun yang terjadi di Gaza saat ini akan terukur dari kepedulian kita pada Karbala . Imam Ja;far Ash-Shadiq as pernah berkata, “Sungguh kesyahidan Husain senantiasa membakar hati-hati orang-orang yang beriman.” Dari sini, saya melihat tragedi Karbala sangat relevan untuk kita kenang.
Hakekat Tangisan
Pertama-tama, kami tegaskan bahwa masalah memperingati tragedi Karbala (10 Muharram) bukanlah masalah khas Syi'ah saja, tetapi masalah islami. Meskipun muslim yang bermadhzab Syi'ah lebih memberikan prioritas terhadap peristiwa ini dibanding kelompok muslim lainnya. Sebab, Imam Husain ra tokoh utama dibalik tragedi ini, bukanlah pelita bagi kaum Syi'ah saja, melainkan lentera hati setiap mukmin, apapun madhzabnya. Karenanya, kami tegaskan lagi, apapun yang berkaitan dengan peristiwa karbala pada hakikatnya adalah fenomena islami. Yang akan saya ketengahkan adalah, tangisan dan perilakunya terhadap manusia. Kami berusaha menjawab pertanyaan-pertanyaan kritis seputar tangisan yang biasa dilakukan orang-orang Syi'ah saat mengenang peristiwa Karbala . Peringatan akan tragedi Karbala dengan tangisan dan ratapan yang mereka lakukan bagi sebagian muslim yang lain adalah bid'ah bahkan cenderung kepada kesyirikan. Manusia manapun pasti mengalami kegetiran hidup yang membuatnya harus menangis. Bahkan lembaran kehidupan manusia diawali dengan tangisan dan diakhiri pula dengan tangisan perpisahan. Tangisan sesuatu yang alamiah, sesuatu yang telah menjadi fitrah kemanusiaan.
Menurut Syaikh Taqi Misbah Yazdi, menangis disebabkan empat tingkatan spiritual : keridhaan (ar-rida'), kebenaran (ash-shidiq), petunjuk (al-hidayah) dan pemilihan (al-isthifa'). Dan para nabi telah mencapai empat tingkatan spiritual yang tinggi ini. "Sesungguhnya orang-orang yang diberi pengetahuan sebelumnya apabila Al-Qur'an al-Karim dibacakan kepada mereka, mereka menyungkur atas muka mereka sambil bersujud, dan mereka berkata, "Maha Suci Tuhan kami, sesungguhnya janji Tuhan kami pasti dipenuhi." Dan mereka menyungkur atas muka mereka sambil menangis dan mereka bertambah khusyuk." (Qs. Al-Isra' : 107-109). Melalui ayat ini, disimpulkan bahwa ilmu dan makrifat adalah penyebab timbulnya tangisan. Setiap orang yang mengetahui hakikat sesuatu, mengetahui hakikat kenabian Rasulullah SAW dan mengetahui hakikat kesyahidan Imam Husain ra, maka hatinya sangat peka dan matanya muda mengucurkan air mata. Rasul bersabda, "Seandainya kalian mengetahui apa yang aku ketahui, niscaya kalian akan sedikit tertawa dan banyak menangis. " Di ayat lain Allah SWT berfirman, "Dan apabila mereka mendengarkan apa yang diturunkan kepada Rasul, kamu melihat mata mereka mencucurkan air mata disebabkan kebenaran yang telah mereka ketahui (Qs. Al-Maidah : 83).
Mengapa Menangis atas Imam Husain ?
Seseorang yang menjadikan Imam Husain sebagai kekasihnya dan mendengar sang kekasih mengalami musibah dan bencana, apa layak hanya menanggapinya dengan dingin dan tidak menangis ?. Imam Husain adalah adalah kekasih bagi setiap muslim, beliau gugur dalam keadaan kehausan dan tidak cukup dibantai, tapi kepala beliau dipisahkan dari tubuhnya dan ditancapkan di atas tombak serta di bawa untuk dipersembahkan kepada raja Yazid yang bermukim di Syuriah. Oleh karenanya bagi yang ingin menziarahi tubuh Imam Husain, maka hendaknya pergi ke Karbala Irak dan bagi yang ingin menziarahi kepalanya, maka hendaknya pergi ke Suriah. Ini bukan cerita dongeng, sejarahnya sangat masyhur dan ditulis dalam kitab-kitab ahli sejarah. Tidak ada yang memungkiri, Imam Husain adalah cucu kesayangan nabi, dan berkali-kali menyampaikan kepada para sahabat untuk juga menyayanginya. Abu Hurairah bercerita, “Rasulullah SAW datang kepada kami bersama kedua cucu beliau, Hasan dan Husain. Yang pertama di bahu beliau yang satu, yang kedua di bahu beliau yang lain. Sesekali Rasulullah SAW menciumi mereka, sampai berhenti di tempat kami berada. Kemudian beliau bersabda, ‘Barang siapa mencintai keduanya (Hasan dan Husain) berarti juga mencintai daku; barang siapa membenci keduanya berarti juga membenci daku.” Imam Husain adalah kekasih setiap mukmin dan mukminah dan teman dekat setiap Muslim dan Muslimah, sehingga setiap orang mukmin akan merasa sedih atas kepergiannya.
Tidak sedikit rakyat Pakistan yang menangisi kematian Benazir Bhutto yang tragis ataupun mahasiswa Makassar yang tidak bosan-bosannya memperingati tragedi AMARAH tiap tahunnya, maka bagaimana mungkin kita tidak menangis atas kematian Imam Husain yang mengajari dan menjaga nilai-nilai dan prinsip-prinsip kebenaran! Seandainya kalau bukan karena jihad sucinya, niscaya Islam akan lenyap bahkan namanya pun tidak akan terdengar. "Jikalau raga diciptakan untuk menyongsong kematian, maka kematian di ujung pedang di jalan Allah jauh lebih baik dan mulia ketimbang mati di atas ranjang." (Al-Husain bin Ali bin Abi Thalib).
Menangis atas Imam Husain, Sunnah atau Bid'ah ?
Allah SWT berfirman tentang nabi Yaqub as yang menangisi kepergian anaknya, Nabi Yusuf as, "…Aduhai duka citaku terhadap Yusuf; dan kedua matanya menjadi putih (buta) karena kesedihan dan dialah yang menahan amarahnya (terhadap anak-anaknya)." (Qs. Yusuf : 85). Dari ayat ini, kita bisa bertanya, apakah tangisan Nabi Yaqub as karena terpisah dengan anaknya sampai matanya menjadi buta adalah bentuk jaza' (keluh kesah) yang dilarang ? apakah Nabi Yaqub as melakukan sesuatu yang menjemuruskan dia dalam kebinasaan sampai anak-anaknya bertanya, " Demi Allah, senantiasa kamu mengingat Yusuf, sehingga kamu mengidap penyakit yang berat atau termasuk orang yang binasa ?" (Qs. Yusuf : 86). Alhasil, Al-Qur'an menceritakan bahwa ketika Yusuf dijauhkan Allah SWT dari pandangan Yaqub serta merta Yaqub menangis sampai air matanya mengering karena sangat sedihnya. Tentu saja tangisan Nabi Yaqub as bukanlah tangisan keluh kesah yang sia-sia, melainkan ungkapan kesedihan atas kebenaran yang telah dikotori, atas anaknya Yusuf yang telah di dzalimi. Hakim an-Naisaburi dalam Mustadrak Shahih Muslim dan Bukhari meriwayatkan, bahwa Rasulullah keluar menemui para sahabatnya setelah malaikat Jibril memberitahunya tentang terbunuhnya Imam Husain dan ia membawa tanah Karbala. Beliau menangis tersedu-sedu di hadapan para sahabatnya sehingga mereka menanyakan hal tersebut.
Beliau memberitahu mereka, "Beberapa saat yang lalu Jibril mendatangiku dan membawa tanah Karbala , lalu ia mengatakan kepadaku bahwa di tanah itulah anakku Husain akan terbunuh." Kemudian beliau menangis lagi, dan para sahabatpun ikut menangis. Oleh karena itu, para ulama mengatakan bahwa inilah acara ma'tam (acara kesedihan dan belasungkawa untuk Imam Husain). Jika ketika mendengar kisah terbunuhnya Imam Husain lalu tidak mengucurkan air mata, maka kitapun akan dingin terhadap tragedi-tragedi kemanusiaan lainnya.
Jika ketika mendengar kisah terbunuhnya Imam Husain lalu tidak mengucurkan air mata, maka kitapun akan dingin terhadap tragedi-tragedi kemanusiaan lainnya. Karenanya wajar, hati masyarakat kita tidak tersentuh ketika mendengar berita seorang suami membakar istrinya, seseorang membunuh dengan dalih yang sepele dan sebagainya. Mayoritas kita kehilangan kepekaan kemanusiaan dan empati sosial ketika menatap korban-korban di Jalur Gaza yang berlumuran darah dan debu bangunan. Masyarakat kita tidak terbiasa menangis tetapi terbiasa untuk tertawa. Hati kita cenderung keras dan menganggap tangisan adalah bentuk kekalahan. Tangisan atas Imam Husain bukanlah tangisan kehinaan dan kekalahan, namun adalah protes keras atas segala bentuk kebatilan dan sponsornya di sepanjang masa. Orang-orang mukmin merasakan gelora dalam jiwanya ketika mengenang terbunuhnya Imam Husain, bahkan Mahatma Ghandi berkali-kali mengatakan semangat perjuangannya terinspirasi dari revolusi Imam Husain ra. Kullu Yaumin As-Syura , Kullu ardin Karbala, semua hari adalah As-Syura, semua tempat adalah Karbala. Hari asy-Syura sesungguhnya termasuk hari-hari Allah, tentangnya Allah berfirman: "Keluarkanlah kaummu dari kegelapan kepada cahaya terang benderang dan ingatkanlah mereka kepada hari-hari Allah." (Qs. 14:5). Meskipun ada usaha-usaha untuk memadamkan gelora perlawanan akan ketertindasan dan kedzaliman. Tetapi Allah Maha Perkasa, Dia tetap menyempurnakan cahaya-Nya meskipun musuh-musuh-Nya tidak suka. Allah tetap menjaga gelora spiritual itu tetap menyala di hati-hati orang mukmin dan tidak akan pernah padam sampai hari kiamat. Semua mukminin wajib mengenang tragedi ini dan menangis atasnya, "Apakah kamu merasa heran terhadap pemberitaan ini? Dan kamu menertawakan dan tidak menangis?" (QS. An-Najm: 59-60) Wallahu'alam bishshawwab
Qom, 2 Muharram 1430 H

29 Desember, 2008

Hapus Israel dari Peta Dunia

Mari berkelana ke Timur Tengah, penggalan dunia yang berkisah tentang banyak hal. Di sana, ribuan tahun lalu, tiga agama besar dunia lahir dan peradaban moral dimulai, dibangun dan ditinggikan. Namun, di sana pula, kedustaan, kesombongan dan kezaliman yang tak terperikan ditebar hingga kini.

Sejenak kita mampir di Afghanistan. Afghanistan adalah negara kaya yang letaknya sangat strategis dan punya akses langsung dengan laut Kaspia yang kaya minyak. Negeri yang dulu dikenal dengan panorama alamnya yang indah, peradaban yang luhur serta sumbangsihnya terhadap perkembangan kemajuan dunia, oleh ketamakan dan kerakusan kini hanya menjadi cerita panjang tentang darah dan airmata. Selama berabad-abad, mereka didera oleh perang tak berkesudahan. Meskipun rezim Taliban telah runtuh bersamaan dengan invasi AS yang memporakporandakan negara mereka. Namun mereka belum juga bisa menentukan nasib bangsa mereka sendiri.
Selanjutnya kita ke Irak. Negeri yang tak perlu banyak diceritakan lagi tentang kemajuan dan kecemerlangan peradaban yang dimilikinya dimasa silam. Negeri seribu satu malam ini kini hanya bisa bercerita tentang seribu satu sayatan luka rakyatnya yang belum juga kering. Dan mari kita berlama-lama di Palestina. Tengoklah negeri ini, selama 60 tahun Israel telah menjadikannya panggung monolog mementaskan drama nyata tragedi kemanusiaan yang tak berkesudahan. Kita baru-baru ini menyaksikan apa yang menimpa penduduk Gaza. Pembunuhan massal, keterusiran, blokade ekonomi dan militer telah menghalangi sebuah bangsa untuk tumbuh dan berkembang. Jet-jet tempur Rezim Zionis Israel tak henti-hentinya menggempur sejumlah kawasan di Jalur Gaza yang menjadikan ratusan orang hancur menjadi debu dan darah dalam waktu singkat. Mereka tidak cukup puas hanya sekedar memblokade jalur Gaza sejak 17 Januari 2008.
Sampai saat ini, kaum pengungsi Palestina nyaris berjumlah 4 juta orang, di luar populasi keseluruhan bangsa Palestina yang mendekati angka 10 juta. Mereka yang jutaan orang harus hidup dalam kamp-kamp pengungsian yang sangat tidak layak, sementara hak pulang mereka hingga detik ini masih dirampas secara internasional. Di Tepi Barat, Israel bahkan terus melanjutkan proyek akuisisi lahan demi mewujudkan mimpi fasis “pemukiman eksklusif Israel” dan “jalan khusus Israel”.
Sudah banyak upaya untuk menciptakan perdamaian di Palestina. Minimalnya ada dua perjanjian penting yang pernah ditandatangani kedua pihak, Perjanjian Oslo I dan Perjanjian Oslo II. Namun sampai detik ini perdamaian belum juga terwujud. Rumitkah konflik ini ?.
Absurditas Pengakuan atas Israel
Satu hal yang membuat konflik ini terlihat rumit adalah secara sengaja kita terjebak dalam amnesia bersama. Kita harus memulainya dari apa yang telah memicu kelahiran Israel sebagai sebuah negara yang dicangkokkan secara paksa di Palestina dan berbagai tindakan anti-kemanusiaan yang menyertainya. Amnesia sejarah ini terkadang membuat kita tanpa sadar menyalahkan Palestina, apa sulitnya mengakui kedaulatan Israel dan hidup berdampingan secara damai dan tidak mengganggu ketenangan rakyat sipil Israel dengan bom-bom bunuh diri dan tindakan terorisme lainnya. Kita lihat faktanya, pada pagi buta, 9 April 1948, tiga milisi Zionis internasional, Haganah, Irgun, dan Stern Gang menyerang sebuah desa Palestina, Deir Yassin, yang berada di sebelah barat Yerusalem. Lebih dari 100 orang dibantai secara tragis. Teror ini berlangsung dari hari kehari, karena mencemaskan hidup mereka, sebagian besar meninggalkan tanah historis yang telah dihuni berabad-abad. Tak lebih dari setahun, dengan gerak cepat, Milisi Rezim Zionis memobilisasi pemindahan Yahudi dari seantero dunia ke rumah-rumah dan tanah-tanah rakyat Palestina yang ditinggalkan. Ketika Israel mendeklarasikan diri 60 tahun lalu, lebih dari 700,000 Palestina terusir sementara 78 persen tanah historis Palestina terhapus dari peta dan berubah nama menjadi “Israel”. Karenanya dari sini, sangat absurd jika harus memberi pengakuan keabsahan (right) Israel untuk eksis. Menuntut bangsa Palestina untuk melakukan itu sebagai upaya perdamaian, sama saja memaksa mereka mengakui bahwa mereka layak untuk diusir dari tanah-tanah mereka, dibantai, diblokade, dan ditindas sekejam-kejamnya.
Alasan lainnya, pengakuan atas Israel, menurut seorang pengacara internasional, John V Whitbeck, mengandung problem linguistic (Irman Abdurrahman, 2007). Persoalannya, Israel sampai saat ini adalah satu-satunya negara yang tidak memiliki batasan geografis yang jelas. Keberadaan Israel yang mana yang harus diakui ? Apakah 55 persen tanah Palestina yang ditetapkan oleh Majelis Umum PBB pada 1947 sebagai negara Israel? Apakah 78 persen tanah Palestina yang dijarah gerakan Zionis pada 1948 (tragedi Nakba), dan kini dipandang sebagian besar masyarakat dunia sebagai Israel ? Ataukah 100 persen tanah Palestina yang dikuasai Israel sejak Juni 1967 ? Karenanya tuntutan untuk mengakui keabsahan Israel sebagai sebuah negara yang berdaulat sangat tidak bisa diterima, tidak bermoral sebab sama halnya memberikan pengakuan pembenaran terhadap tindakan-tindakan anti kemanusiaan yang selama ini dilakukan Israel. "Israel must wiped off the map", inilah yang diucapkan Ahmadi Nejad untuk segera menyelesaikan konflik. One state solution adalah solusi yang paling logis. Selanjutnya, mengizinkan bangsa Palestina, baik itu Yahudi, Kristiani maupun muslim yang telah ribuan tahun hidup bersama secara damai menentukan sendiri nasib mereka dalam sebuah referendum yang bebas. Pertanyaan Ahmadi Nejad yang belum juga dijawab sampai detik ini, "Jika Israel harus didirikan untuk menebus derita kaum Yahudi pada Perang Dunia II, lalu mengapa tebusan atas tragedi yang terjadi di Eropa itu harus dilakukan dan ditanggung rakyat Palestina yang letaknya justru di Timur Tengah ? "
Telah 60 tahun rakyat Palestina dalam penderitaan, seiring bergantinya tahun, haruskah mereka merasakan derita lebih lama ?.
Qom, 29 Desember 2008

22 Desember, 2008

Yesus dalam Narasi Islam

Adalah sebuah kenyataan yang tidak bisa dipungkiri, Yesus as adalah tokoh yang kelahiran dan kehidupannya telah menciptakan gelombang gerakan kemanusiaan yang luar biasa. Ia termasuk yang disebut Thomas Carlyle sebagai 'pencipta' sejarah. Seorang tokoh teladan kemanusiaan yang sangat penting keberadaannya dalam tradisi Kristiani dan Islam. Geoffrey Parrinder, seorang Kristiani, ahli teologi Islam di Oxford University, Inggris, menulis sebuah buku yang sangat unik dan menarik berjudul Jesus in The Qur'an (Oxford: Oneworld, 1995). Kajian Geoffrey Parrindar dalam bukunya, menunjukkan bahwa Yesus merupakan salah satu dari sekian nabi yang mempunyai kedudukan sangat tinggi dan terhormat dalam Islam. Yesus dalam Al Quran disebut 'Isa. Nama Yesus berasal dari perkataan bahasa Syiria, Yeshu' , dan dalam bahasa Arab menjadi 'Isa. Di dalam Al Quran terdapat tiga surat yang berkaitan dengan Isa, yaitu: surat Al Imran, Al Maidah, dan Maryam. Nama Isa disebut sebanyak 35 kali, dan umumnya turun pada surat-surat Madaniyah, sedangkan sebutan tidak langsung namun berkaitan dengan 'Isa sebanyak 93 kali di dalam 15 surat. Al Quran memberikan sejumlah gelar kehormatan kepada 'Isa as, setidaknya tiga gelar utama, yaitu: nabi, al-Masih dan Anak Maryam.
Patut disayangkan, meskipun tercatat sebagai nabi, apresiasi ummat Islam terhadap tokoh ini teramat minim, bahkan sebagai sosok yang asing. Yesus seakan-akan hanya 'milik' umat Kristiani. Kita sering lupa bahwa semua nabi adalah bersaudara dan mereka membawa misi tauhid. Apalagi di dalam rukun iman umat Islam diwajibkan untuk beriman kepada kitab suci dan nabi-nabi sebelum Islam. Dalam teologi Islam, Yesus memiliki status khusus sebagai salah satu nabi ulu’ al-‘azm, lima nabi utama dengan sejumlah keistimewaan, yang patut dihargai dan dihormati. Al-Qur'an menyediakan informasi yang mendetail tentang tahap-tahap kehidupan Yesus (as), dari kelahirannya, perjalanan dakwah tauhidnya, proses pengangkatannya ke haribaan Allah, kemunculannya kembali dan kematiannya. Dalam al-Qur’an, banyak terdapat ayat yang menggambarkan penghormatan yang begitu tinggi terhadap Yesus. Dalam surah Ali-Imran ayat 45, Yesus digambarkan sebagai sebuah Kalimat dari Allah. Tentu saja penafsiran logos dalam teologi Kristen berbeda dengan penafsiran kalimat di kalangan umat Islam. Islam menyebut Yesus sebagai kalimat Allah justru untuk menegaskan statusnya sebagai nabi. Karena statusnya tinggi sebagai nabi, Yesus menjadi manifestasi sempurna dari Allah, orang yang menyampaikan pesan Allah, yang berkata atas nama Allah dan karenanya menjadi Kalimah Allah, bukan Allah itu sendiri yang berinkarnasi. Dalam penafsiran lain, Ia diciptakan langsung dengan kalimat Allah yakni "Kun" maka terciptalah ia, tanpa melalui proses pencampuran sperma dan sel ovum sebagaimana kebanyakan kelahiran manusia pada umumnya.
Selain digelari ‘Kalimat Allah’, Yesus juga disebut sebagai ‘Ruh Allah’. Allah swt berfirman: "Sungguh, Al-Masih Isa putra Maryam itu, adalah utusan Allah dan (yang diciptakan) dengan kalimat-Nya yang disampaikan-Nya kepada Maryam, dan (dengan tiupan) roh dari-Nya"(4:171). Ruh adalah simbol paling nyata tentang eksistensi Tuhan. Karena itu, mungkin ini menjadi alasan bagi kalangan Kristen menganggap Yesus memiliki sifat ketuhanan. Sedangkan –mengutip bahasa Muhsin Labib- teologi Islam memahaminya sebagai ruh yang telah dibersihkan sedemikian rupa sehingga menjadi cermin yang dengannya Tuhan dikenal. Ibnu al-‘Arabi, dalam The Bezels of Wisdom (Fushus al-Hikam) mengatakan, "Biara menjadi suci bukan karena kesucian dalam bangunannya, tetapi karena ia merupakan tempat menyembah Tuhan". Gelar yang lain kepada 'Isa ialah al-Masih (messias, mashiah, kristus), yang arti harfiah ialah "diurapi". Sebelum Islam datang kata al-Masih memang sudah dikenal di Arabia bagian selatan. Di dalam Al Quran sebutan al-Masih disebutkan sebanyak 11 kali, semuanya dalam surat Madaniyah. Di dalam bahasa Ibrani kata mashiah digunakan untuk mengacu pada seorang juru selamat yang dinanti-nantikan. Kata itu kemudian diterjemahkan ke dalam bahasa Yunani menjadi Kristos. Jadi, nama Isa al-Masih adalah identik dengan Yesus Kristus. Bisa juga kata al-masih dikaitkan dengan kata masaha dalam bahasa Arab, artinya membasuh atau menyucikan. Gelar lain yang sering disebut di dalam Al Quran ialah Anak Maryam ('Isa Ibn Maryam). Kisah kelahiran 'Isa Ibn Maryam dijelaskan dua kali secara rinci dalam Al Quran. Memang para malaikat memberi tahu Maryam akan kedatangan sebuah kalimah (perkataan atau logos) dari Tuhan 'yang bernama al-Masih" (Q. 3:45). "Anak Maryam dan ibunya" dikatakan telah dipilih sebagai tanda karena ia memberikan keterangan dan bukti-bukti tentang Tuhan (Q. 2: 87, Q. 23:50, Q. 43:63). Seorang pakar tafsir modern, Baidawi, mengatakan bahwa gelar Anak Maryam dipakai untuk menunjukkan dan membuktikan bahwa 'Isa dilahirkan dan merupakan anak manusia, bukan anak Tuhan sebagaimana dalam doktrin Kristen. Keistimewaan lainnya, nama Al-Masih Isa putra Maryam adalah pemberian langsung dari Allah SWT, tidak sebagaimana kelahiran anak pada umumnya, anggota keluarganyalah yang memberi nama. Allah berfirman : "(Ingatlah) ketika Malaikat berkata, "Hai Maryam, sesungguhnya Allah menggembirakan kamu (dengan kelahiran seorang putra yang diciptakan) dengan kalimat (yang datang) dari-Nya, namanya Al-Masih Isa putra Maryam, seorang terkemuka di dunia dan di akhirat dan salah seorang di antara orang-orang yang didekatkan (kepada Allah)." (Qs. Ali Imran: 45)
Misi Para Nabi

Sebagaimana telah dituliskan, menurut Al-Qur'an, Yesus Kristus hanyalah anak manusia dan posisinya sama dengan nabi lainnya yang di utus oleh Tuhan Semesta Alam untuk menciptakan keadilan di muka bumi. Sebagaimana nabi lainnya, Yesus pun memiliki kuasa (eksousia) sehingga mampu memperlihatkan mukjizat sebagai tanda atas kenabiannya. Mukjizat itu sebagaimana digambarkan dalam Surah Al-Maidah ayat 110 diantaranya, mampu berbicara sejak baru dilahirkan, membentuk burung dari tanah, mampu menyembuhkan orang buta bahkan menghidupkan orang yang telah mati, yang kesemuanya itu terjadi dengan seizin Allah SWT. Namun, yang paling penting dari status kenabian Yesus, bukan pada kemampuannya memperlihatkan mukjizat, tetapi kepeduliannya terhadap orang-orang menderita sakit, miskin, tertindas, dan orang-orang yang sesat jalan hidupnya. Diantara misi perjuangan para nabi dan pelanjutnya yang ditegaskan Al-Qur'an adalah melepaskan dari beban berat dan belenggu-belenggu yang memasung kebebasan ummat manusia (Qs. Al-A’raf : 157). Al-Qur'an menggambarkan ajaran yang dibawa para nabi adalah ajaran yang penuh antusias dan menawarkan mimpi besar tentang kesejahteraan dan keadilan, roh perjuangan mereka adalah memerdekakan manusia dari segala bentuk penindasan dan penyembahan kepada sesama makhluk. Sedangkan para nabi dan rasul adalah revolusioner. Mereka diutus Allah untuk mengubah dunia sesuai dengan kehendak Ilahi. Nabi Ibrahim memproklamasikan revolusi tauhid menentang kemusyrikan dan tirani Namrudz. Nabi Musa membebaskan bangsa Israel dari perbudakan Fir’aun. Nabi Isa as (Yesus Kristus) mendeklarasikan revolusi spritual melawan kekuasaan tirani Imperium romawi. Injil menulis tentang Yesus as "Ia akan menghapus segala air mata dari mata mereka" (Wahyu 21:4).
Menyoal Natal
Dari sini, umat Kristiani kiranya perlu mencatat bahwa umat Islam menerima Yesus sebagai juru selamat, bersama seluruh nabi lainnya. Karena fungsi kenabian adalah menyelamatkan umat manusia dari belenggu-belenggu yang memasung pundak-pundak mereka. Yesus (as) pada masanya sebagaimana Muhammad yang diutus di akhir zaman adalah sebagai rahmat bagi semesta alam. Al Quran menyebutnya sebagai "sebuah tanda bagi alam semesta" (Q. 21:91) dan dia diutus "untuk Kami jadikan tanda bagi manusia" (Q. 19:21). Karenanya, perayaan Natal semestinya tidak dipandang hanya sebagai hari raya kelahiran Yesus sebagai putra Tuhan Bapak sesuai teologi Kristen semata, sehingga tidak terkesan hanya milik umat Kristiani saja. Melainkan juga perlu dipandang dan ditradisikan sebagai hari raya kelahiran Yesus, Nabi Isa (as) Sang Kalimat dan Ruh Allah, sebagaimana diyakini umat Islam. Dalam teologi Islam, wajib mengimani keseluruhan nabi tanpa memilah-milah. Bagi saya penggalan do'a Yesus, "Dan kesejahteraan semoga dilimpahkan kepadaku, pada hari kelahiranku, pada hari wafatku, dan pada hari aku dibangkitkan kembali." (Qs. 19 : 33) menunjukkan hari kelahirannya adalah sesuatu yang patut dihargai. Bahwa kemudian Nabi Isa "dijadikan" Anak Tuhan oleh umat Kristiani, adalah suatu hal yang lain lagi, yang tidak mengurangi arti ucapan Yesus itu. Artinya, Natal (hari lahir Yesus) diakui oleh kitab suci al-Qur'an sebagai hari yang mulia, juga sebagai kata penunjuk hari kelahiran beliau harus dihormati oleh umat Islam juga. Kalau Yesus (as) dan pengikutnya menjadikan hari turunnya hidangan dari langit buat mereka sebagai hari raya (baca Qs. 5 : 114) maka hari dimana nabi dilahirkan yang diutus Tuhan untuk menyajikan hidangan akal dan ruhani yang menyelamatkan manusia maka lebih patut lagi untuk dijadikan hari raya. Maka secara pribadi, tidak ada ganjalan psikologis sedikitpun untuk turut merayakan Natal sebagaimana penulis yakini tentang Yesus sebagai salah satu Nabi Allah, yang tentu saja dalam bentuk dan maksud yang berbeda. Adalah benar bahwa makna perayaan hari besar suatu agama tidak mesti bertempat pada kuatnya akurasi hitungan hari dan tanggal, tapi bagaimana merevitalisasi makna-makna di balik perayaannya. Karenanya, tidak perlu berlarut-larut mempersoalkan 25 Desember yang diyakini kaum Kristiani sebagai hari kelahiran Yesus, kalaupun umat Islam tidak menerimanya, izinkan mereka mengekspresikan keyakinan mereka, bagi mereka amal mereka, bagi kita amal kita. Selamat atas kelahiran Yesus Kristus (as).
Wallahu'alam bishshwwab.
Qom, 23 Desember 2008
Juga bisa disimak di http://www.wisdoms4all.com/ind/

17 Desember, 2008

Tatanan Politik Islam yang Terkoyak

(Mengenang Peristiwa Ghaidir Khum yang Terlupakan)

Dalam keyakinan kita sebagai muslim, Islam merupakan sistem keyakinan dan tata nilai yang memuat aturan-aturan Ilahi yang universal dan hakiki, mencakup berbagai sisi kemanusiaan baik bersifat personal (berkaitan dengan diri sendiri) maupun publik (berkaitan dengan di luar diri). Sistem ini ditujukan untuk mengatur prikehidupan manusia, agar manusia bisa menegakkan keadilan baik ke sisi terdalam dirinya maupun ke luar dirinya. Karenanya, sesungguhnya ketika Allah SWT berfirman: "Sungguh, Kami telah mengutus rasul-rasul Kami dengan bukti-bukti yang nyata dan Kami turunkan bersama mereka kitab dan neraca (keadilan) agar manusia dapat berlaku adil." (Qs. Al-Hadid : 25), maka sebetulnya Islam tengah menyuguhkan sebuah bentuk tatanan politik.
Ayat di atas menegaskan tatanan politik yang dikehendaki Islam berasas pada keadilan. Menurut Islam keadilan harus dirasakan oleh semua, baik oleh yang meyakini Islam sebagai agama yang dipeluknya maupun yang mengingkarinya. Karenanya, keadilan pada Islam berdiri pada pondasi kepastian dan keyakinan. Islam berbeda dengan tatanan politik buatan manusia yang dibangun atas dasar perkiraan dan prediksi semata. Kemutlakan kebenaran ajaran Islam ini meniscayakan adanya orang-orang utusan yang telah mendapat sibgah (celupan) Ilahi, sehingga setiap perkataan dan tindak tanduknya merupakan manifestasi Ilahi, tidak semillipun meleset dari apa yang dikehendaki-Nya. Gambaran ringkasnya ada pada kepribadian nabi Muhammad saww yang mengaktualisasikan aturan Ilahi itu dalam seluruh hembusan nafas dan perilakunya. Ketika umat manusia mengikuti segenap tuntunan sang Nabi, maka kemuliaan dan keagungan mampu mereka raih. Namun ketika justru berpaling, Al-Qur'an membahasakan, "Mereka akan mendapat azab yang pedih".
Karenanya lewat tulisan ini saya ingin menegaskan, kesengsaraan dan ketimpangan sebagai 'azab pedih' yang dirasakan umat Islam saat ini, bukan bersumber dari aturan-aturan Islam yang tidak update, yang ketinggalan zaman, melainkan umat Islam sendiri yang telah 'nakal' mengganti nikmat Allah dengan hukum-hukum buatan manusia. Kita tidak bisa menghindari kenyataan akan traumanya umat Islam akan sistem kepemimpinan politik Islam. Dalam perjalanan sejarah masyarakat Islam, tatanan politik berkeadilan yang hendak diwujudkan Islam pernah mengalami terpaan badai prahara. Dunia Islam pernah dipimpin oleh khalifah-khalifah yang terkadang salah dan tidak becus dalam menjalankan kekuasaannya bahkan melakukan kedzaliman yang tiada tara yang membuat sebagian orang trauma dengan pemerintahan Islam. Menurut saya, wajar saja, sebab yang dianggap khalifah oleh umat Islam adalah orang-orang yang sebenarnya tidak layak memegang jabatan itu. Untuk membenarkan ketidakbecusan mereka inilah kitapun berpendapat khalifah atau pemimpin bisa saja salah, dan dibuatlah konsep, tidak ada ketaatan kepada pemimpin dalam kemaksiatan. Dikatakanlah pemimpin tidaklah harus yang paling alim, tidaklah mesti yang paling tahu tentang ajaran agama ini, bahkan dengan hadits yang dibuat-buat, ketaatan harus tetap diberikan kepada pemimpin meskipun mereka melakukan kedzaliman. Pendapat seperti ini mendapat tantangan dari Allah SWT yang berfirman di dalam Surah al-Zumar (39) : 9: "Katakanlah: Adakah sama orang-orang yang mengetahui dengan orang-orang yang tidak mengetahui? Sesungguhnya orang yang berakallah yang dapat menerima pelajaran". Dan firman-Nya di dalam Surah Yunus (10):35: "Maka apakah orang-orang yang menunjuki jalan kepada kebenaran itu lebih berhak diikuti ataukah orang-orang yang tidak dapat memberi petujuk? Mengapa kamu (berbuat demikian)? Bagaimana kamu mengambil keputusan?"
Laporan Sejarahwan
Ya, begitulah. Aqidah sesat inilah yang melahirkan pemimpin-pemipin durjana yang berjubah Islam. Tersebutlah pemerintahan Muawiyah yang didalamnya Imam Hasan terbunuh dengan racun yang menghancurkan ulu hatinya, Yazid yang dimasa pemerintahannya Imam Husain syahid terbantai secara tragis. Padahal keduanya adalah cucu kesayangan Rasulullah saww. Tersebutlah Marwan ibnul Hakam yang merubah sunnah-sunnah Rasulullah dengan kekuasaannya, padahal ayahnya pernah dilaknat oleh Rasulullah saww sementara Marwan saat itu berada pada tulang sulbi ayahnya. Aisyah ra menyebut Marwan sebagai tetesan dari laknat Allah. Hadits tentang ini diriwayatkan oleh An-Nasai dan Al Hakim mensahihkannya dalam Mustadrak al-Hakim (4 : 481). Tak terperihkan penderitaan yang harus dialami ulama-ulama Islam sepanjang pemerintahan khalifah-khalifah dari Dinasti Bani Umayyah dan Bani Abbasiyah. Cambukan, siksaan, pemenjaraan bahkan sampai dibunuh harus menjadi tebusan atas dakwah mereka. Melihat kenyataan ini, Imam Khomeini ra mengatakan, "Islam tumbuh dan berkembang karena pengorbanan dan kesyahidan putra putri tercintanya."
Kita lihat apa yang dilaporkan sejarahwan atas ulah khalifah-khalifah yang menyalahi ajaran Islam dan mengabaikan syarat-syarat yang dibutuhkan seorang pemimpin. Dalam kitab tarikhnya, Al-Kamil fi Tarikh, Daru'l Kitab Al-Arabi, Beirut, jilid 12 hlm 375 Ibnu Atsir menuliskan kesaksiaannya yang melihat dengan mata kepala sendiri ulah raja-raja dan khalifah-khalifah 25 tahun sebelum kejatuhan Baghdad. Ia menggambarkan para raja-raja ini tidak ubahnya seperti hewan yang hanya memikirkan persoalan perut dan melampiaskan nafsu syahwat sesuka mereka.
Ibnu Katsir dalam al-Bidayah wa'n Nihayah jilid 13 hlm 200 menulis : "Saya memasuki kota Baghdad tahun 656 H. Pada tahun itu saya melihat bala tentara Tartar telah mengepung kota Baghdad, kemudian pasukan Tartar tersebut mengepung istana khalifah, lalu menghujaninya dengan anak panah dari segenap penjuru, sehingga akhirnya mengenai seorang sahaya wanita yang sedang main-main dengan khalifah. Sahaya yang bernama Arfah itu termasuk salah seorang gundik khalifah. Ketika anak panah itu mengenainya, ia sedang menari-nari di hadapan khalifah. Khalifahpun terkejut dan ketakutan.". Apa yang terpetik dalam benak ketika membaca penyaksian Ibnu Katsir ini ?. Mana tanggungjawab sang khalifah sebagai pemimpin ketika justru negara dalam kondisi perang dan genting masih juga bermain-main, bukankah sebagai khalifah dia harusnya memikirkan masa depan rakyatnya dan umat Islam ?.
Sedangkan laporan sejarahwan Khatib Baghdadi dalam Tarikh Baghdad, menuliskan Khalifah Muqtadir memiliki sebelas ribu orang kebiri dan ribuan budak dari Sicilia, Roma dan Ethiopia dan kemewahan yang tiada taranya dalam sejarah. Cukuplah tiga pengakuan sejarahwan ini yang saya nukilkan.
Sejarahwan muslim telah menulis sejarah dengan apa adanya dan laporan-laporan sejarah mereka menunjukkan adanya kenyataan yang tidak terpungkiri, sebagian besar khalifah-khalifah yang diakui sebagai penguasa dan pemimpin atas kaum muslimin mempraktikkan gaya hidup yang hedonisme, penuh kemewahan, menghambur-hamburkan Baitul Mal, menginjak-injak aturan Islam, menyogok ulama untuk mengukuhkan kekuasaan mereka dan menyingkirkan Imam yang sah dan ulama-ulama yang berusaha menyadarkan masyarakat muslim akan kedzaliman mereka. Saya tidak memungkiri adanya kejayaan dan prestasi-prestasi gemilang yang mereka raih, namun apakah kita bisa menyebut pemerintahan mereka Islami ketika kemajuan dan kemakmuran hanya dirasakan segelintir orang sementara jumlah mereka yang tersingkirkan secara sosial tidak terhitung ?. Bisakah mereka disebut sebagai khalifah-khalifah Islam sementara keadilan sebagai prinsip Islam tidak mereka tegakkan ?
Pesan Ghadir Khum yang Terabaikan
Keberadaan khalifah-khalifah yang menyimpang dari tuntunan Ilahi ini membuat aturan politik Islam terpecah menjadi kepingan-kepingan besar. Sebagian besar umat Islam menyatakan Islam tidak mengurusi persoalan politik, dan sebagiannya lagi justru sibuk menggedor-gedor kesadaran kaum muslimin akan pentingnya politik dan kekhilafaan dalam masyarakat Islam. Kaum muslimin menderita sakit yang memilukan dan menghilangkan simpatik umat lain. Bukan hanya syariat Islam yang diragukan kedigdayaannya menegakkan keadilan, namun juga berimbas kepada penghinaan dan pengolok-olokan nabi Muhammad saww yang dianggap telah menebar teror kemanusiaan bukannya menegakkan keadilan. Allah SWT berfirman, "Yang demikian itu karena sesungguhnya Allah tidak akan mengubah suatu nikmat yang telah diberikan-Nya kepada suatu kaum, hingga kaum itu mengubah yang ada pada diri mereka sendiri. Sungguh, Allah Maha Mendengar, Maha Mengetahui." (Qs. Al-Anfal : 53). Jadi sesungguhnya, bukan Allah SWT tidak menepati janjinya, bahwa umat Islam adalah umat yang terbaik, ummat yang diutus sebagai rahmat bagi seluruh alam, umat washatan yang mampu menegakkan keadilan, melainkan umat ini sendiri yang mengingkari nikmat dan anugerah yang telah diberikan. Umat Islam sendirilah yang berani menorehkan tinta berwarna selain Islam dengan membuat aturan-aturan politik lain lalu kemudian menyebutnya sebagai aturan Islam.
Setelah melakukan ibadah Haji Perpisahan (Hajjatul-Wada) tahun 10 H, bersama jemaah haji Rasulullah berhenti di Gaidir Khum. Rasulullah menyampaikan khutbah terakhirnya dihadapan ratusan ribu sahabatnya, diantara penggalan khutbahnya sembari memegang dan mengangkat tangan Imam Ali as tinggi-tinggi, Rasulullah bersabda, "Wahai manusia sekalian ! Allah adalah maulaku dan aku adalah maula kalian, maka barangsiapa yang menjadikan aku maulanya maka Ali ini (juga adalah maulanya." Masih tetap memegang erat tangan Imam Ali as Penguasa mutlak atas manusia berfirman pada Rasullah saww, "Pada hari ini telah Aku sempurnakan agamamu untukmu, dan telah Aku cukupkan nikmat-Ku bagimu dan telah Aku ridhai Islam sebagai agamamu." (Qs. Al-Maidah :3). Ya, kesempurnaan ajaran Islam meniscayakan adanya tatanan politik yang kuat dan cemerlang dalam Islam untuk menegakkan keadilan atas umat manusia, sehingga menjadi ajaran rahmat bagi sekalian alam.
Wallahu 'alam bishshawwab
Qom, 18 Dzulhijjah 1429 H
Tulisan ini juga bisa dinikmati di http://telagahikmah.org/ina/

07 Desember, 2008

Memaknai Qurban dan Penyembelihan

Berhentilah sejenak, kita tidak harus selalu berlari. Mari kita kembali menelisik relung terdalam dari diri kita. Semoga tulisan ini yang saya tulis kembali dari nasehat ustadz-ustadz saya bisa menjadi pengantar renungan kita bersama.

Makna Idul Qurban

Idul Qurban berasal dari dua kata dalam bahasa Arab, Ied dan Qurban. “Ied” dari kata ‘aada - ya’uudu, bermakna ‘kembali’. Qurban, dari kata qaraba-yaqrabu, bermakna ‘mendekat’. ‘Qarib’ adalah ‘dekat’, dan ‘Al-Muqarrabuun’ adalah ‘(hamba) yang didekatkan’. Idul Qurban kemudian bisa kita maknai sebagai sebuah hari dimana kita berupaya kembali pada hakikat kemanusiaan kita yang mendambakan dekat dengan yang Maha Rahim. Banyak cara yang bisa kita tempuh untuk mendekat kepada-Nya (taqarrub Ilallah), Jalaluddin Rumi menyebut, sebanyak helaan nafas manusia. Allah SWT pun memberi motivasi, "Wahai orang-orang yang beriman ! Bertakwalah kepada Allah dan carilah wasilah (jalan) untuk mendekatkan diri kepada-Nya, dan berjihadlah di jalan-Nya, agar kamu beruntung" (Qs. Al-Maidah : 35). Salah satu cara hamba untuk lebih mendekat kepada-Nya adalah dengan menginfakkan harta, termasuk berqurban, "Ketahuilah, sesungguhnya infak itu suatu jalan bagi mereka untuk mendekatkan diri (kepada Allah)." (Qs. At-Taubah : 99).

Tentu saja yang kita qurbankan adalah sesuatu yang kita cintai, sesuatu yang sebenarnya sangat berat untuk kita lepaskan. Sebab belumlah disebut berqurban jika yang kita keluarkan adalah sesuatu yang membuat kita tidak merasa kehilangan apa-apa, sesuatu yang ringan hati kita keluarkan. “Kamu sekali-kali tidak akan sampai pada kebajikan (Al-Birr), sebelum kamu menginfakkan (tunfiquu) bagian (harta) yang kamu cintai (mimma tuhibbuun). Dan apa saja yang kamu infakkan, maka sesungguhnya Allah mengetahuinya.” (QS. Ali-Imran : 92). Artinya, seseorang yang misalnya bergaji sampai 60 juta per bulannya, dengan mengeluarkan dana sejuta untuk menyembelih kambing di hari ini, apakah bisa dianggap berqurban ? apakah itu sudah sampai pada tingkat ‘menginfakkan bagian harta yang dicintai’ ? apakah jiwa merasakan adanya rasa berqurban dibanding banyaknya sisa harta yang dimiliki ? sebagaimana ayat di atas, bisakah itu mencapai derajat al-Birr ?. Bisa kita bayangkan, bagaimana rasa taqarrub nabi Ibrahim as yang bersedia mengurbankan anak kesayangannya di altar persembahan atau sebagaimana Imam Ali as dan keluarganya yang memberikan makanan yang disukainya sehingga surah Al-Insan turun untuk menceritakan keutamaan mereka. Atau justru kaum paganisme yang menyembelih yang tercantik di antara gadis-gadis mereka untuk bertaqarrub kepada tuhan-tuhan mereka. Tentu kita butuh refleksi diri. Setiap tahun tidak sedikit dari kita yang menyisihkan dana untuk merayakan hari ini dengan penyembelihan hewan qurban. Namun adakah transformasi jiwa yang terjadi ?. Adakah saudara-saudara kita itu merasa lebih dekat kepada Allah yang Maha Besar ?. Ketika kedekatan dengan Allah tidak bertambah, jiwa tidak menjadi semakin halus dan lembut, jasad tidak semakin beramal shalih, pikiran tidak semakin cemerlang dan bijaksana tentu ada yang salah dari ritual pengorbanan mereka. Padahal sebenarnya lewat hari ini mereka dapat menemukan bukan saja amal terbaik, tetapi didekatkan oleh Allah sedekat-dekatnya sampai mencapai derajat ‘Al-Muqarrabuun’.

“Daging (hewan qurban) dan darahnya itu sekali-kali tidak akan sampai kepada Allah, tetapi yang sampai kepada-Nya adalah ketakwaan kamu." (Qs. Al-Hajj : 37). Hewan ternak yang saudara-saudara qurbankan hari ini sesungguhnya, bukan dagingnya, bukan darahnya, bukan tulang belulangnya, bukan harganya melainkan ketaqwaanlah yang bisa mencapai-Nya. Semoga kita bisa berqurban dan berinfaq sampai pada titik kita benar-benar berat melakukannya, sebab adanya rasa cinta yang sangat pada yang kita qurbankanlah yang bisa mendekatkan kita pada-Nya.

Idul Adha, Memaknai Penyembelihan

Nama lain Idul Qurban, adalah Idul Adha. Adha memiliki makna penyembelihan. Harus ada yang kita sembelih pada hari ini. Bukan persoalan apa kita memiliki harta atau tidak untuk menyembelih. Kita yang termasuk belum memiliki kemampuan untuk menyembelih hewan qurban, sesungguhnya telah diberi kemampuan untuk melakukan prosesi penyembelihan lain, menyembelih ‘kambing’, ’sapi’, maupun ‘hewan ternak’ lain yang berjubelan dan beranak pinak dalam diri kita. Hewan ternak sesungguhnya tamsil dari dominasi hawa nafsu dan syahwat kita. Tamsil segala kesesatan dan keburukan; kebodohan, kedengkian, ketakaburan, buruk sangka, kemalasan, kecintaan pada hal-hal material dan aspek lainnya yang harus kita sembelih dari diri kita. Allah SWT menyebut orang-orang yang buta hati, akal dan pikirannya lebih sesat dari hewan ternak. Pendidikan dan pergaulan yang salah bisa jadi telah merubah kita yang manusia menjadi hewan-hewan ternak tanpa sadar. Jalaluddin Rumi dalam Matsnawi-ye Ma'nawi menafsirkan empat ekor burung yang disembelih dan dicincang oleh nabi Ibrahim as dalam surah Al-Baqarah ayat 260 sebagai empat ekor unggas yang ada dalam diri kita. Keempat ekor unggas itu adalah bebek yang mencerminkan kerakusan, ayam jantan yang melambangkan nafsu, merak yang menggambarkan kesombongan dan gagak yang melukiskan keinginan. Dan menurut Rumi kita hanya bisa kembali hidup sebagaimana manusia ketika kita berani menyembelih keempat unggas ini, sebagaimana Ibrahim as mencincangnya. Di antara keempat unggas ini, bebeklah yang paling mewakili karakter kebanyakan kita. Tentang bebek Rumi bercerita :

Bebek itu kerakusan, karena paruhnya selalu di tanah Mengeruk apa saja yang terbenam, basah atau kering
Tenggorokannya tak pernah santai, sesaatpun
Ia tak mendengar firman Tuhan, selain makan
minumlah !
Seperti penjarah yang merangsek rumah-rumah
Dan memenuhi kantongnya dengan cepat
Ia masukkan ke dalam kantongnya baik dan buruk
Permata atau kacang tiada beda
Ia jejalkan ke kantong basah dan kering
Kuatir pesaing akan merebutnya
Waktu mendesak, kesempatan sempit,
Ia ketakutan
dengan segera di bawahtangannya
Ia tumpukkan apapun….

Better late than never. Sudah waktunya sekarang, tidak harus selalu menunggu hari seperti ini untuk melakukan penyembelihan. Bermula hari ini, kita persembahkan diri kita yang telah tersembelih dari sifat-sifat yang sepantasnya hanya dimiliki hewan ternak kepada Allah Dzat yang Maha Suci, yang cinta kepada mereka yang senantiasa menyucikan dan menyembelih dirinya.

Idul Adha, Memaknai Kembali

“Dan sekalipun telah Kami perintahkan kepada mereka, "Bunuhlah dirimu atau keluarlah dari kampung halamanmu," ternyata mereka tidak akan melakukannya, kecuali sebagian kecil dari mereka." (Qs. An-Nisa : 66). Sudah waktunya pula kita belajar untuk ‘keluar dari kampung’ kita : belajar untuk keluar dari zona nyaman dan memerdekakan diri dari dominasi nafsu jasadiyah menuju jiwa kita yang sejati. Masih ada dunia lain di luar ‘kampung’ kita ini, yang bisa jadi selama ini kita anggap berbahaya. Juga harus ada upaya untuk keluar dari keegoisan diri kita dan belajar memahami orang lain. Memahami mereka yang selama ini kita kutuk karena berbeda.

Dalam surah An-Nisa' ayat 100 Allah SWT berfirman, "Barang siapa yang keluar dari rumahnya dengan maksud berhijrah kepada Allah dan Rasul-Nya, kemudian kematian menimpanya (sebelum sampai ke tempat yang dituju), maka sungguh telah tetap pahalanya di sisi Allah. Dan adalah Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang." Dalam syarah 40 hadits Imam Khomeini ra menafsirkan rumah pada ayat ini adalah ego kita. Ya, rumah yang paling berat kita tinggalkan adalah kepentingan-kepentingan keakuan kita. Setiap hari kita sibuk, kecapaian dan kelelahan hanya untuk mempromosikan citra kita dihadapan manusia, hanya untuk memenuhi kepentingan diri kita. Kita masih berputar-putar di area rumah dan kampung kita, tanpa selangkahpun keluar. Rumah dan kampung telah menjadi zona nyaman yang sayang untuk kita tinggalkan, sebab melangkah keluar selalu membutuhkan pengorbanan, butuh kepayahan dan keletihan. Dalam surah Ali Imran Allah SWT berfirman, "Segeralah kamu pada ampunan dari Tuhanmu dan surga yang luasanya seluas langit dan bumi, disediakan bagi orang-orang yang taqwa, yaitu orang-orang yang menginfakkan hartanya dalam suka dan duka, orang yang sanggup mengendalikan amarahnya, yang memaafkan orang lain dan sesungguhnya Allah suka dengan orang yang berbuat baik." Bersegera menuju Allah SWT berarti melangkah menjauh dari rumah keakuan kita, meninggalkan kampung ego kita, kembali keharibaan-Nya yang penuh kasih. Kembali kepada-Nya tidaklah selalu berarti mati dan meninggalkan dunia ini. Rasulullah saww bersabda, "Mutu qabla antamutu, matilah sebelum kamu mati." (Bihar Al-Anwar 66:317). Kematian pada kata perintah mutu adalah kematian mistikal, kematian ego atau kematian diri. Ibnu Arabi menyebutnya al mawt al-iradiy, kematian keinginan.

Adalah benar, bahwa kita adalah makhluk organis --begitu kata A.N. Whitehead-- yang bebas menentukan hidup. Kita bebas menentukan atau merancang jenis hidup apa yang kita inginkan. Kita bebas untuk memilih, hidup sebagai manusia atau berkubang seperti hewan ternak. Tetap berleha-leha di dalam rumah dan kampung yang bukan negeri kita sebenarnya, atau berhijrah kembali menuju-Nya. Tidak terdengarkah panggilan mesra Ilahi, "Wahai jiwa yang tenang, kembalilah kepada Tuhanmu dengan hati yang puas lagi diridhai-Nya." (Qs. Al-Fajr : 27-28)

Selamat Hari Raya Idul Adha.

Wallahu 'alam bishshawwab

Filosofi Haji dan Pesan Kemanusiaan

Apa yang kamu bayangkan ketika mendengar kata Ka’bah ?. Bagi yang belum pernah melihat atau mendapatkan informasi tentang Ka’bah kecuali bahwa Ka’bah sebagai arah kaum muslimin menghadapkan wajahnya ketika berinteraksi ‘intim’ dengan Tuhannya, adalah wajar jika membayangkan Ka’bah adalah sebuah bangunan yang megah dan indah. Itupula yang saya bayangkan tentang Ka’bah di usia belum balighku dulu. Saya bayangkan Ka’bah berupa istana megah, sebuah karya arsitektur yang indah, dibangun dengan cita rasa estetika yang tinggi, penuh dengan ornamen-ornamen mahal, bisa jadi terbuat dari emas, berlian atau pecahan-pecahan intan permata, yang penuh dengan warna-warni yang menyejukkan mata.
Tapi ternyata tidak ! yang kita saksikan dari Ka’bah hanyalah bangunan kubus yang sama sekali tidak memiliki keindahan arsitektural, seni atau kualitas yang biasa kita saksikan pada bangunan-bangunan yang diklaim sebagai keajaiban dunia, tidak ada warna-warni sama sekali. Bangunan ini hanya terbuat dari batu-batu hitam keras yang tersusun sederhana, dengan kapur putih sebagai penutup celah-celahnya. Dan di dalam bangunan persegi itu, pernah kubayangkan ada bongkahan sesuatu yang selama ini dikejar-kejar manusia sebut saja, emas, intan permata, atau mutiara manikam. Sekali lagi semuanya terbantahkan, ternyata didalamnya tidak ada-apa, sama sekali kosong ! Tidak ada sesuatupun juga. Bisa jadi ketika melihatnya timbul pertanyaan dan keraguan benarkah bangunan ini pusat agama, shalat, cinta, hidup dan kematian kita ? Benarkah Kubus yang yang tanpa dekorasi ini adalah arah kaum muslimin menghadapkan wajahnya di dalam shalatnya, benarkah dia pusat eksistensi, keyakinan, cinta dan kehidupan manusia bahkan ke arah ini pula kaum muslimin yang mati dikuburkan? Apa yang dicari oleh mereka yang berseliweran disekelilingnya, yang seolah melupakan segala yang dimilikinya, ditempat itu mereka menumpahkan perasaan, tangis dan air mata, bersimpuh penuh pengharapan, merendahkan diri serendah-rendahnya, menciumnya dengan penuh perasaan cinta dan sedari sana timbul kerinduan mendalam untuk kembali ?.
Abrahah pun heran dengan Ka’bah ini, ia berusaha menyaingi, dengan membangun tempat peribadatan yang lebih megah dan terbuat dari ornament yang sangat mahal bahkan bagi peziarah ia janjikan hadiah yang banyak, tetap saja Ka’bah ramai dengan kerumunan orang. Kedengkiannya semakin besar, ia bermaksud meruntuhkan Ka’bah, dengan ribuan pasukan yang menunggang gajah ia menuju Makkah, kota tempat Ka’bah berdiri tegak. Ia dan pasukannya menyangka akan mendapatkan perlawanan hebat dari penduduk Makkah yang tidak ingin rumah ibadahnya dihancurkan. Setibanya disana, ia malah mendapatkan tontonan yang membingungkan, tidak ada satupun penduduk Makkah yang menjaga atau berusaha melindungi Kabah, semuanya menyelamatkan diri ke bukit-bukit. Bahkan Abdul Muthalib, pembesar Bani Hasyim menghadap ke Abrahah hanya untuk mengambil unta-unta yang dirampas pasukan Abrahah. Tentang ini Abdul Muthalib, Kakek Rasulullah hanya menjawab singkat, “Unta-unta ini milik kami, karenanya kami harus mengambilnya kembali, sedangkan Ka’bah adalah rumah Allah, Dia sendirilah yang memberinya penjagaan”. Ya, Ka’bah, bukan milik siapa-siapa, ia milik Tuhan seutuhnya, tidak diberikan kesiapapun, tidak diamanahkan apalagi diwariskan.
Patut engkau ketahui, meskipun rumah Allah, Ka’bah tetap hanyalah bangunan. Hanyalah kumpulan batu gunung yang hitam pekat. Ka’bah bukanlah tujuan dari kedatanganmu. Kesederhanaan Ka’bah yang kamu lihat di hadapanmu mengingatkan akan tujuan perjalananmu. Ka’bah adalah penunjuk arah. Ada hal lain yang harus menjadi tujuan akhir perjalananmu. Gerakan abadi yang kamu lakukan adalah gerakan menuju Allah, bukan menuju Ka’bah. Kamu datang untuk memenuhi undangan Allah. Setiap orang diantara kalian harus mengenakan pakaian yang telah ditentukan, kamu tidak memiliki dirimu lagi, kamu harus meleburkan diri dan tidak boleh memasuki rumah suci ini jika engkau masih terikat dengan dirimu, masih memikirkan dirimu sendiri. Kesederhanaan Ka’bah menunjukkan betapa kemewahan dan kemegahan bukanlah tujuan hidupmu. Ka’bah adalah Baitullah, rumah Allah. Dibangun oleh Ibrahim atas perintah-Nya. Ketika kau menghadapnya sesungguhnya merupakan tamparan keras buatmu, buatmu yang membangun rumah dengan penuh ornamen mahal yang hanya akan membuatmu pongah.
Haji, Menghampiri Allah
Kota Mekkah disebut juga “Bait-Atiq”. Atiq berarti bebas. Kota ini tidak dimiliki siapapun juga. Tak seorangpun berhak menguasainya. Kota ini milik Allah ‘sepenuhnya’. Dengan beberapa ketentuan seorang muslim ketika bepergian atau melakukan perjalanan jauh dari rumahnya boleh menyingkat shalat-shalatnya atau menggabungkannya. Tetapi di kota Mekkah, darimanapun engkau datang dan betapapun jauhnya perjalanan yang engkau tempuh, shalatmu harus sempurna dan tidak boleh disingkatkan. Sebab kedatanganmu karena memenuhi panggilan, kamu bukanlah tamu, Mekkah negerimu sendiri, kamu tidak sedang bepergian jauh, kamu melakukan perjalanan pulang ke negerimu. Kedatanganmu disambut layaknya seorang sahabat dan anggota keluarga Allah yang telah lama pergi, dan pulang kembali. Kembalilah engkau kepada-Nya, dengan penuh kecintaan dan kerinduan. Tidakkah engkau mendengar seruan Ibrahim : Dan serulah manusia untuk melakukan Haji. Mereka akan datang kepadamu dengan bertelanjang kaki atau dengan menunggang unta yang kurus yang datang dari segenap penjuru yang jauh (Qs. 22 : 27) Dan kepunyaan Allah-lah Kerajaan langit dan bumi dan kepada Allahlah kembali semua makhluk (Qs. 24 : 42) Engkau harus menghadap dan pulang kepadanya dengan penuh ketulusan hati, tidak dikotori oleh motif-motif lain. Ketulusan hati itu tampak jelas dalam ayat Al-Quran yang memerintahkanmu berhaji. ''Karena Allah SWT, wajib bagi manusia untuk menunaikan ibadah haji, yaitu bagi orang yang sanggup mengadakan perjalanan ke baitullah.'' (QS Ali Imran: 97). ''Dan sempurnakanlah ibadah haji dan umrah karena Allah SWT.'' (QS Al-Baqarah: 196).
Perintah haji dalam dua ayat di atas, ditekankan harus lillah, tulus karena Allah SWT. Redaksi demikian tidak ditemukan di ayat lain yang isinya perintah untuk beribadah, seperti shalat, zakat, dan puasa. Meskipun, pada dasarnya semua ibadah harus lillah, terlebih lagi haji yang menuntut perjuangan dan kerja keras, menguras apapun yang menjadi milikmu, lahir dan batin dalam waktu yang tidak sedikit. Ibadah haji mencerminkan kepulangan seorang manusia kepada Allah yang mutlak, yang tidak memiliki keterbatasan dan yang tak diserupai oleh sesuatu apapun. Pulang kepada Allah merupakan sebuah gerakan menuju kesempurnaan, kebaikan, keindahan, kekuatan, pengetahuan, nilai dan fakta-fakta. Dengan melakukan perjalanan menuju keabadian ini manusia tidak akan “sampai” kepada Allah; Dia hanya memberikan petunjuk yang benar, tapi Dia bukan merupakan tujuan yang hendak dicapai. Menunaikan haji sama halnya menjumpai sahabat-terbaik yang telah menciptakan manusia sebaik-baik ciptaan dari makhluk lain. Allah sedang menantikan. Dengan demikian kamu pun harus mencoba untuk meninggalkan istana-istana kebesaran, gudang-gudang kekayaan dan kuil-kuil yang menyesatkan. Manusia – melalui ibadah haji, akan melepaskan diri dari perbuatan serigala (sebuah tindakan penindasan bagi orang-orang yang dipimpinnya).
Hijir Ismail
Di sebelah barat Ka’bah ada sebuah tembok rendah yang berbentuk setengah lingkaran dan menghadap ke Ka’bah. Bangunan ini disebut Hijir Ismail. Hijir bisa berarti pangkuan juga bisa diartikan pakaian wanita sebelah bawah. Tersebutlah dalam riwayat, Hajar adalah perempuan Ethopia yang miskin. Ia sahaya dari Sarah istri Ibrahim. Hajar dinikahi Ibrahim untuk memperoleh anak. Lahirlah Ismail. Kecemburuanlah yang membuat Sarah meminta Ibrahim untuk ‘mengusirnya’. Oleh Ibrahim, dibawalah Hajar dan Ismail, yang ketika itu masih bayi ke padang pasir yang luas, tidak terdapat apa-apa. Di atas pangkuan Hajarlah Ismail di besarkan. Hijir Ismail, adalah bangunan di samping Ka’bah, tempat Hajar membesarkan Ismail, dan di situ pula Hajar, ibunda Ismail dikuburkan. Dan Allah memerintahkanmu agar ketika melakukan thawaf juga mengelilingi Hijir Ismail dan tidak hanya mengelilingi Ka’bah saja, jika tidak demikian ibadah haji yang kamu lakukan tidak diterima Allah SWT. Subhanallah, kuburan seorang sahaya perempuan hitam Afrika merupakan bagian dari Ka’bah, dan hingga kiamat nanti manusia-manusia senantiasa akan berthawaf mengelilinginya. Betapa anehnya, kepada hambanya yang terhina, terlemah dan terusir di antara makhluk-makhluk-Nya, Allah memberikan tempat di sisiNya. Dia datang, memerintahkan kepada Ibrahim untuk dibuatkan rumah, dan meminta dibangunkan di sebelah rumah Hajar. Allah memilih menjadi tetangga seorang perempuan hitam yang terusir. Ali Shariati menuliskan :
Di antara semua manusia; Dia memilih perempuan Di antara semua perempuan; Dia memilih seorang budak Di antara semua budak; seorang sahaya yang berkulit hitam
Ketika kau mengetahui bahwa sesungguhnya ritual-ritual haji yang kamu lakukan adalah untuk memperingati Hajar, seorang budak perempuan hitam yang dihinakan dan diremehkan, masihkah engkau merasa lebih tinggi dari manusia selainmu ? Masih beranikah engkau sepulang dari ritual hajimu kau membanggakan diri dan acuh terhadap kehidupan mereka yang terpinggirkan secara sosial ? Allah datang dan memilih bertetangga dengan seseorang yang senantiasa terhina, kalau kamu bisa jadi lain, kamu datang untuk menggusur mereka, karena bagimu mereka mengotori bangunanmu…
Wallahu ‘alam bisshawwab.
Qom, 5 Desember 2008