<?xml version='1.0' encoding='UTF-8'?><?xml-stylesheet href="http://www.blogger.com/styles/atom.css" type="text/css"?><feed xmlns='http://www.w3.org/2005/Atom' xmlns:openSearch='http://a9.com/-/spec/opensearchrss/1.0/' xmlns:georss='http://www.georss.org/georss' xmlns:gd='http://schemas.google.com/g/2005' xmlns:thr='http://purl.org/syndication/thread/1.0'><id>tag:blogger.com,1999:blog-6808511174156263273</id><updated>2011-10-03T07:48:04.543-07:00</updated><category term='aktivitas'/><category term='ada-ada saja'/><category term='Sejarah'/><category term='Pendidikan'/><category term='Hikmah'/><category term='a'/><category term='Sosial Budaya'/><category term='Agama'/><category term='Muslimah'/><category term='Iranologi'/><category term='kebangsaan'/><title type='text'>Abi-Azzahra</title><subtitle type='html'></subtitle><link rel='http://schemas.google.com/g/2005#feed' type='application/atom+xml' href='http://abi-azzahra.blogspot.com/feeds/posts/default'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6808511174156263273/posts/default?max-results=100'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://abi-azzahra.blogspot.com/'/><link rel='hub' href='http://pubsubhubbub.appspot.com/'/><link rel='next' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6808511174156263273/posts/default?start-index=101&amp;max-results=100'/><author><name>Ismail Amin</name><uri>http://www.blogger.com/profile/00461561157182799656</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://bp0.blogger.com/_b535izL1kDU/R54Ij8cN26I/AAAAAAAAAA8/7WbjvsXb9Tg/S220/Aku.jpg'/></author><generator version='7.00' uri='http://www.blogger.com'>Blogger</generator><openSearch:totalResults>103</openSearch:totalResults><openSearch:startIndex>1</openSearch:startIndex><openSearch:itemsPerPage>100</openSearch:itemsPerPage><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6808511174156263273.post-2239088363106575498</id><published>2010-08-09T14:15:00.000-07:00</published><updated>2010-08-09T14:19:05.431-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Agama'/><title type='text'>Marhaban ya Ramadhan</title><content type='html'>&lt;a href="http://4.bp.blogspot.com/_b535izL1kDU/TGBwq34y3MI/AAAAAAAAA24/DaGkaFQwmdc/s1600/inde6x.jpg"&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5503522626505727170" style="FLOAT: left; MARGIN: 0px 10px 10px 0px; WIDTH: 138px; CURSOR: hand; HEIGHT: 201px" alt="" src="http://4.bp.blogspot.com/_b535izL1kDU/TGBwq34y3MI/AAAAAAAAA24/DaGkaFQwmdc/s320/inde6x.jpg" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;
&lt;div class="fullpost" align="justify"&gt;[Meminjam bahasa Jalaluddin Rakhmat, manusia adalah “anak-anak Tuhan” yang dikeluarkan dari rumah-Nya untuk bermain-main di halaman dunia ini -Sesungguhnya, kehidupan dunia ini hanyalah permainan dan hiburan- (QS. Al-An’am: 32). Pada bulan Ramadhan inilah, anak-anak Tuhan diminta kembali dan meninggalkan halaman permainan. ]&lt;/div&gt;
&lt;div class="fullpost" align="justify"&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="fullpost" align="justify"&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="fullpost" align="justify"&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="fullpost" align="justify"&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="fullpost" align="justify"&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="fullpost" align="justify"&gt;Dalam Kitab Minhaj Al-Balaghah diriwayatkan, menjelang Ramadhan Rasulullah saww menyampaikan sebuah khutbah, “Wahai manusia, sudah datang kepada kalian bulan Tuhan yang membawa berkat, rahmat, dan ampunan; bulan yang paling utama di sisi Tuhan dari bulan mana pun. Paling utama hari-harinya, malam-malamnya, bahkan jam demi jamnya. Inilah bulan ketika kalian diundang untuk menjadi tamu-tamu Tuhan. Di bulan ini, kalian dijadikan orang-orang yang berhak memperoleh jamuan Tuhan. Di bulan ini, nafas kalian menjadi tasbih, tidur kalian ibadah, amal kalian diterima, dan doa kalian diijabah. Mohonlah kepada Allah dengan niat yang tulus dan hati yang bersih, supaya Dia membimbing kamu untuk menjalankan puasanya dan membaca Kitab-Nya. Malanglah orang yang tidak mendapat ampunan Tuhan di bulan yang agung ini. Kenanglah dengan lapar dan dahaga kamu di bulan ini lapar dan dahaga pada hari kiamat. Bersedekahlah kepada fakir miskin. Muliakan para pemimpin kamu dan kasih-sayangi orang-orang kecil di antara kamu. Sambungkan persaudaraan kamu. Pelihara lidah kamu. Jagalah dirimu agar kamu tidak melihat apa yang tidak boleh kamu lihat dan tidak mendengar apa yang tidak boleh kamu dengar. Sayangilah anak-anak yatim orang lain supaya Tuhan menyayangi anak-anak yatim kamu.”&lt;/div&gt;
&lt;div class="fullpost" align="justify"&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="fullpost" align="justify"&gt;
Sebagaimana biasa, khutbah Rasulullah singkat namun menyentuh hati dan menggelorakan perasaan. Kata-kata yang dipilih sederhana, mudah dipahami namun bermuatan filosofis yang begitu mendalam. Insya Allah, izinkan saya menguraikan beberapa catatan apresiasi dalam penggalan khutbah Rasulullah saww tersebut yang sayangnya sering terabaikan oleh kebanyakan kita.&lt;/div&gt;
&lt;div class="fullpost" align="justify"&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="fullpost" align="justify"&gt;
&lt;strong&gt;Ramadhan, Bulan Tuhan&lt;/strong&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="fullpost" align="justify"&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="fullpost" align="justify"&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="fullpost" align="justify"&gt;
Pada penggalan awal khutbah di atas, Rasulullah saww menyebut Ramadhan sebagai bulan Tuhan, sebagai bulan yang paling mulia di sisi Allah. Dalam terminologi Al-Qur’an, Tuhan ataupun Allah bukan sekedar wujud yang kepadanya kita sematkan asma-asma kemuliaan dan keagungan, bukan sekedar sesuatu yang kita tempatkan di altar persembahan, tempat segala ampunan dan pengharapan kita muarakan. Namun Allah juga adalah ‘kampung halaman’ kita. Tempat kita berasal dan akan kembali, “Hanya kepada Allah kamu semua kembali.” (QS. Al-Maidah: 48). Dalam bahasa Jalaluddin Rumi, penyair sufi asal Persia, Tuhan adalah “rumpun bambu” kita, sedangkan kita adalah seruling bambu yang tercerabut dari rumpunnya. Suara yang keluar dari sebuah seruling sesungguhnya adalah jeritan kerinduan untuk bisa kembali kepada rumpun bambu, tempatnya berasal. Dengan beberapa ketentuan seorang Muslim ketika bepergian atau melakukan perjalanan jauh dari rumahnya boleh menyingkat shalat-shalatnya atau menggabungkannya. Tetapi jika disekitaran Kakbah, darimanapun para jamaah haji datang dan betapapun jauhnya perjalanan yang di tempuh, shalat mereka harus sempurna dan tidak boleh disingkatkan. Sebab perjalanan menuju Kakbah sesungguhnya adalah perjalanan kembali ke kampung halaman. Karena itulah Kakbah disebut juga Baitullah, Rumah Tuhan. Begitu juga dengan Ramadhan, disebut Bulan Tuhan, karena pada bulan ini kita semua, orang-orang yang beriman kepada-Nya, kembali kepada Tuhan. &lt;/div&gt;
&lt;div class="fullpost" align="justify"&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="fullpost" align="justify"&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="fullpost" align="justify"&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="fullpost" align="justify"&gt;
Meminjam bahasa Jalaluddin Rakhmat, manusia adalah “anak-anak Tuhan” yang dikeluarkan dari rumah-Nya untuk bermain-main di halaman dunia ini -Sesungguhnya, kehidupan dunia ini hanyalah permainan dan hiburan- (QS. Al-An’am: 32). Pada bulan Ramadhan inilah, anak-anak Tuhan diminta kembali dan meninggalkan halaman permainan. Selama kita asyik bermain, kita sibuk membeli “jajanan” yang bermacam-macam: Kekayaan, kekuasaan dan kemasyhuran. Kita diingatkan bahwa ada makanan lain yang jauh lebih sehat dan lebih lezat. Pada bulan Ramadhan Tuhan mempersiapkan jamuan-Nya dan kita diundang untuk menjadi tamu-Nya. Rasulullah saww berkata,” Inilah bulan ketika kalian diundang untuk menjadi tamu-tamu Tuhan. Di bulan ini, kalian dijadikan orang-orang yang berhak memperoleh jamuan Tuhan. Di bulan ini, nafas kalian menjadi tasbih, tidur kalian ibadah, amal kalian diterima, dan doa kalian diijabah.&lt;/div&gt;
&lt;div class="fullpost" align="justify"&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="fullpost" align="justify"&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="fullpost" align="justify"&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="fullpost" align="justify"&gt;
Bulan Solidaritas &lt;/div&gt;
&lt;div class="fullpost" align="justify"&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="fullpost" align="justify"&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="fullpost" align="justify"&gt;
Ramadhan sering disebut juga bulan rahmat (kasih sayang), karena pada bulan ini kepekaan dan rasa kasih sayang kita digugah. Rasulullah saww menganjurkan kita meyayangi dan menyantuni anak-anak yatim, bersedekah kepada fakir miskin, memuliakan pemimpin dan mengasihi orang-orang kecil dan para pekerja yang berada di bawah tanggungan kita. Kita dihimbau untuk menjalin akrab relasi kemanusiaan. Pada bulan ini, anak-anak kembali kerumah orang-orang tua mereka menjalin kembali kasih sayang dan persaudaraan, anak-anak yatim disantuni dan mendapat perhatian berlebih, para atasan mempererat hubungan dengan para karyawannya, para pemimpin semakin mencintai rakyatnya dan orang-orang kaya memadu kasih dengan orang-orang miskin. Ditengah kegersangan relasi kemanusiaan dan solidaritas sosial, Tuhan mempersembahkan Ramadhan yang membawa rahmat bagi sebanyak-banyaknya orang. &lt;/div&gt;
&lt;div class="fullpost" align="justify"&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="fullpost" align="justify"&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="fullpost" align="justify"&gt;
Ramadhan datang untuk memperpeka kembali kemanusiaan kita yang selama ini terkotori oleh kesadaran hidup yang bersifat ordiner, konsumtif dan profan semata. Dengan berpuasa, kita mampu memenangkan insan malakuti diatas sifat kebinatangan yang bersemayam dimasing-masing jiwa kita. Rasulullah saww menganjurkan agar di bulan ini kita melatih diri untuk mengubah pola relasi kebinatangan yang berdasarkan kebencian dan permusuhan dengan pola relasi yang lebih manusiawi, kontak sosial yang berdasarkan cinta, kasih sayang dan silaturahmi.
Baik kepada rakyat kecil maupun para pembesar, Nabi berkata, “Bersedekahlah kepada fakir miskin. Muliakan para pemimpin kamu dan sayangi orang-orang kecil di antara kamu. Sambungkan persaudaraan kamu. Sayangilah anak-anak yatim orang lain supaya Tuhan menyayangi anak-anak yatim kamu.” Ketika Nabi Yusuf as menjadi menteri logistik, ia membiasakan puasa setiap hari. Orang bertanya kepadanya: Mengapa Anda membiasakan lapar sementara perbendaharaan bumi di tangan Anda? Yusuf menjawab: Aku takut kenyang dan mengabaikan mereka yang lapar.” &lt;/div&gt;
&lt;div class="fullpost" align="justify"&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="fullpost" align="justify"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6808511174156263273-2239088363106575498?l=abi-azzahra.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://abi-azzahra.blogspot.com/feeds/2239088363106575498/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=6808511174156263273&amp;postID=2239088363106575498&amp;isPopup=true' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6808511174156263273/posts/default/2239088363106575498'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6808511174156263273/posts/default/2239088363106575498'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://abi-azzahra.blogspot.com/2010/08/marhaban-ya-ramadhan.html' title='Marhaban ya Ramadhan'/><author><name>Ismail Amin</name><uri>http://www.blogger.com/profile/00461561157182799656</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://bp0.blogger.com/_b535izL1kDU/R54Ij8cN26I/AAAAAAAAAA8/7WbjvsXb9Tg/S220/Aku.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/_b535izL1kDU/TGBwq34y3MI/AAAAAAAAA24/DaGkaFQwmdc/s72-c/inde6x.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6808511174156263273.post-4845400424265961653</id><published>2010-04-19T21:54:00.001-07:00</published><updated>2010-04-19T22:08:18.120-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Agama'/><title type='text'>Semuanya Kembali Kepadamu</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://3.bp.blogspot.com/_b535izL1kDU/S802nNtbifI/AAAAAAAAA2g/b3kC8GPCYxk/s1600/58a028fb7d391810.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 10px 10px 0pt; float: left; cursor: pointer; width: 108px; height: 145px;" src="http://3.bp.blogspot.com/_b535izL1kDU/S802nNtbifI/AAAAAAAAA2g/b3kC8GPCYxk/s320/58a028fb7d391810.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5462081970393287154" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;

&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Ada sebuah riwayat yang saya senang menyampaikannya berulang-ulang, terutama jika diminta sedikit memberi taujih secara mendadak waktu masih jadi 'aktivis' di lembaga dakwah kampus dulu. Sayang, saya benar-benar lupa di buku mana saya pernah membacanya, setidaknya untuk mengetahui lebih detail dari kitab hadits mana riwayat ini dituliskan. Saya mencoba menyampaikannya kembali, kali ini secara tertulis (dan tentu saja saya menceritakannya dengan bahasa sendiri), untuk mengambil berkah dari riwayat ini. Semoga ada manfaatnya.





Diriwayatkan, seorang shahabiyah (kalangan sahabat Nabi dari perempuan) baru saja kehilangan suaminya. Setelah upacara pemakaman, masih dengan suasana hati yang diliputi duka cita, ia mendekat ke sisi Nabi saww dan bertanya dengan setengah berbisik, "Ya Rasulullah, di detik-detik menjelang kepergian suamiku, dalam sekaratnya ia memberikan isyarat supaya aku mendekat. Akupun mendekatkan diri kepadanya, untuk mendengarkan apa yang akan dikatakannya. Tetapi yang aku dengar adalah ucapan-ucapan yang sama sekali tidak aku mengerti. Ia berkata, 'Akh seandainya yang baru, akh seandainya semuanya, dan akh seandainya masih jauh.' Apakah ucapan suami saya itu semacam wasiat ya Rasulullah? Tapi aku benar-benar tidak mengerti dengan apa yang dia maksudkan?."









Rasulullah terdiam sejenak, sembari tersenyum beliau bersabda, "Pernah suatu hari, suamimu berbelanja ke pasar, ia membeli sebuah mantel baru. Dalam perjalanan pulang ke rumah, ia melihat seseorang yang duduk terpojok di sudut jalan. Ia meringkuk tampak sangat kedinginan. Suamimu menjadi iba dan kemudian memberikan, mantelnya yang lama. Dalam sekaratnya, ia diperlihatkan oleh Allah balasan pahala dari amalannya itu. Ketika melihat penampakan balasan dari Allah, sekonyong-konyong timbul rasa sesal dalam dirinya, mengapa ia tidak memberikan saja mantelnya yang baru, tentu balasan dari Allah akan lebih besar. Ia pun berkata, Akh, seandainya yang baru!."







Nabi saww melanjutkan, "Pernah suatu hari lagi, suamimu kembali dari pasar. Rejeki yang ia dapatkan hari itu ia belikan dua potong roti. Ia berencana membawakannya untukmu dan keluarga. Namun dalam perjalanan, ia melihat seseorang yang terbaring lemah karena lapar. Ia pun menjadi iba, dan memberikan sepotong roti buatnya. Sepotongnya lagi ia bawa pulang. Dalam sekaratnya, ia diperlihatkan oleh Allah balasan dari amalannya itu. Ia pun kembali menyesal, andainya saja ia memberikan semuanya, pasti balasan Allah lebih besar lagi. Ia pun berkata, Akh, seandainya semuanya.."






Selanjutnya, "Di hari yang lain, suamimu dalam perjalanan  menuju masjid, dengan arah yang sama ditemuinya seorang tua yang tampak kepayahan dan tertatih-tatih melangkahkan kakinya. Suamimupun menawarkan diri untuk membantu, dan digendongnya orang tua yang lemah itu menuju masjid. Ketika diperlihatkan oleh Allah balasan dari amalan perbuatannya itu, ia kembali menyesal dan berharap seandainya saja jarak masjid itu lebih jauh, ia akan mendapat balasan pahala yang lebih banyak. Dalam penyesalannya ia berkata, Akh, seandainya masih jauh."







Saya cukupkan menyampaikan riwayat ini sampai di sini saja, saya juga lupa, apa kisah ini masih memiliki kelanjutan atau tidak. Setidaknya, kita bisa menarik pesan moral dari riwayat ini. Rasulullah ingin menyampaikan, bahwa setiap amalan apapun bentuknya akan mendapat balasan dari Allah SWT. Allah SWT berfirman, "Jika kamu berbuat baik (pada dasarnya) kamu berbuat baik untuk dirimu sendiri. Dan jika kamu berbuat jahat, maka (kerugian kejahatan) itu untuk dirimu sendiri." (Qs. Al-Isra: 7). Ayat ini terpahamkan maksudnya, jika kita kaitkan dengan riwayat yang telah disebutkan sebelumnya. Kebaikan-kebaikan yang telah dilakukan semasa hidup pada hakikatnya, keberuntungan dan natijah (hasil) dari kebaikan itu akan kembali juga pada akhirnya pada si pelaku. Begitu juga dengan keburukan-keburukan.
Dari riwayat di atas, diceritakan pula bahwa balasan dari amalan-amalan itu diperlihatkan pada saat seseorang menghadapi sakaratul maut. Allah SWT secara sekilas menyampaikannya dalam Al-Qur an, "Dan datanglah sakaratul maut dengan sebenar-benarnya. Itulah yang dahulu hendak kamu hindari." (Qs. Qaf: 19). Dalam sakaratul maut seseorang, apa yang tampak ghaib bagi orang lain, ia mampu melihatnya, "...maka Kami singkapkan tutup (yang menutupi) matamu, sehingga penglihatanmu pada hari ini sangat tajam." (Qs. Qaf: 22). Ketika diperlihatkan balasan dari amalan-amalan semasa hidup, setiap orang akan diliputi rasa penyesalan. Dari riwayat di atas, diceritakan penyesalan dari salah seorang sahabat Nabi dalam sakaratul mautnya, mengapa ia tidak melakukan kebaikan-kebaikan yang lebih banyak. Didetik-detik akhirnya, ia tersadar, apapun yang ia lakukan pada hakikatnya kembali kepada dirinya sendiri. Pada saat-saat genting seperti inilah, setiap yang menjelang kematiannya berharap masih punya waktu untuk melakukan amal kebaikan. Yang selama ini menghabiskan usianya dalam kemaksiatan dan kedurhakaan, ia meminta sedikit waktu untuk bisa menggantinya dengan melakukan amal kebaikan. Sementara yang dengan karunia-Nya melakukan amalan-amalan shalih dalam hidupnya, ia tetap meminta secuil waktu untuk menambah amalan shalih lagi. Dalam kuliah akhlaknya, Ayatullah Tawakkuli (semoga Allah merahmati beliau) pernah menyampaikan, "Ketika menghadapi sakaratul maut, seseorang sangat berusaha untuk menambah amalan kebaikannya setidaknya dengan menyunggingkan senyum. Sunggingan senyum terakhirpun akan menjadi catatan amal kebaikan buatnya". Namun, ketika ajal telah tiba, tidak ada sesaatpun tambahan waktu. Allah SWT berfirman tentang ajal, "Apabila telah datang ajal mereka, maka mereka tidak dapat mengundurkannya barang sesaatpun dan tidak (pula) mendahulukan(nya)." (Qs. Yunus: 49).












Kalau orang yang kerap melakukan kebaikanpun menyesal ketika menghadapi sakaratul maut, bagaimana dengan penyesalan orang-orang yang kesibukannya dipermukaan bumi hanya melakukan kerusakan. Allah SWT mengabadikan penyesalan mereka dalam Al-Qur an, di penghujung surah An-Naba kita membaca, "...pada hari manusia melihat apa yang telah diperbuat oleh kedua tangannya, orang kafir berkata, Yaa laetanii, kuntu turaabaa......akh seandainya aku hanyalah sebongkah tanah..!"









*****










Sewaktu sedang ingin menyantap makanan, tiba-tiba ada yang datang mengetuk pintu rumah Rasululullah. Ia kelaparan dan meminta sesuap makanan. Rasulullah pun memberian bagian lebih banyak dari makanannya, dan menyisakan lebih sedikit buatnya, sekedar yang dibutuhkan. Istri Rasulullahpun bertanya, "Ya Rasulullah, mengapa kau berikan lebih banyak dan menyisakan lebih sedikit buat kita?"  Rasulullah saww menjawab, "Yang kita berikan itu sesungguhnya, akan menjadi simpanan (bekal) buat kita, sementara yang kita makan, habis dan hanya akan menjadi kotoran."









Pada akhirnya, semuanya juga akan kembali padamu, karenanya jangan pelit. Begitu kira-kira yang hendak dipesankan Nabi.






"Dia yang menjadikan kematian dan kehidupan supaya Dia menguji kamu, siapa diantara kamu yang lebih baik amalnya." (Qs. Al-Mulk: 2)









Wallahu alam bishshawwab












Qom, 17 April 2010&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6808511174156263273-4845400424265961653?l=abi-azzahra.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://abi-azzahra.blogspot.com/feeds/4845400424265961653/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=6808511174156263273&amp;postID=4845400424265961653&amp;isPopup=true' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6808511174156263273/posts/default/4845400424265961653'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6808511174156263273/posts/default/4845400424265961653'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://abi-azzahra.blogspot.com/2010/04/semuanya-kembali-kepadamu.html' title='Semuanya Kembali Kepadamu'/><author><name>Ismail Amin</name><uri>http://www.blogger.com/profile/00461561157182799656</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://bp0.blogger.com/_b535izL1kDU/R54Ij8cN26I/AAAAAAAAAA8/7WbjvsXb9Tg/S220/Aku.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/_b535izL1kDU/S802nNtbifI/AAAAAAAAA2g/b3kC8GPCYxk/s72-c/58a028fb7d391810.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6808511174156263273.post-8151429848345378976</id><published>2010-04-05T04:38:00.000-07:00</published><updated>2010-04-05T04:41:18.923-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Agama'/><title type='text'>Banyak-banyaklah Mengingat Allah</title><content type='html'>&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://4.bp.blogspot.com/_b535izL1kDU/S7nMJZfTGWI/AAAAAAAAA2Q/pRtJ4oEIvrA/s1600/d20d7148575afbda.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 10px 10px 0pt; float: left; cursor: pointer; width: 145px; height: 135px;" src="http://4.bp.blogspot.com/_b535izL1kDU/S7nMJZfTGWI/AAAAAAAAA2Q/pRtJ4oEIvrA/s320/d20d7148575afbda.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5456616885369117026" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;
&lt;/span&gt;&lt;div class="fullpost"&gt; &lt;meta equiv="Content-Type" content="text/html; charset=utf-8"&gt;&lt;meta name="ProgId" content="Word.Document"&gt;&lt;meta name="Generator" content="Microsoft Word 12"&gt;&lt;meta name="Originator" content="Microsoft Word 12"&gt;&lt;link rel="File-List" href="file:///C:%5CDOCUME%7E1%5Ccofe%5CLOCALS%7E1%5CTemp%5Cmsohtmlclip1%5C01%5Cclip_filelist.xml"&gt;&lt;!--[if gte mso 9]&gt;&lt;xml&gt;  &lt;o:officedocumentsettings&gt;   &lt;o:relyonvml/&gt;   &lt;o:allowpng/&gt;  &lt;/o:OfficeDocumentSettings&gt; &lt;/xml&gt;&lt;![endif]--&gt;&lt;link rel="themeData" href="file:///C:%5CDOCUME%7E1%5Ccofe%5CLOCALS%7E1%5CTemp%5Cmsohtmlclip1%5C01%5Cclip_themedata.thmx"&gt;&lt;link rel="colorSchemeMapping" href="file:///C:%5CDOCUME%7E1%5Ccofe%5CLOCALS%7E1%5CTemp%5Cmsohtmlclip1%5C01%5Cclip_colorschememapping.xml"&gt;&lt;!--[if gte mso 9]&gt;&lt;xml&gt;  &lt;w:worddocument&gt;   &lt;w:view&gt;Normal&lt;/w:View&gt;   &lt;w:zoom&gt;0&lt;/w:Zoom&gt;   &lt;w:trackmoves/&gt;   &lt;w:trackformatting/&gt;   &lt;w:punctuationkerning/&gt;   &lt;w:validateagainstschemas/&gt;   &lt;w:saveifxmlinvalid&gt;false&lt;/w:SaveIfXMLInvalid&gt;   &lt;w:ignoremixedcontent&gt;false&lt;/w:IgnoreMixedContent&gt;   &lt;w:alwaysshowplaceholdertext&gt;false&lt;/w:AlwaysShowPlaceholderText&gt;   &lt;w:donotpromoteqf/&gt;   &lt;w:lidthemeother&gt;EN-US&lt;/w:LidThemeOther&gt;   &lt;w:lidthemeasian&gt;X-NONE&lt;/w:LidThemeAsian&gt;   &lt;w:lidthemecomplexscript&gt;FA&lt;/w:LidThemeComplexScript&gt;   &lt;w:compatibility&gt;    &lt;w:breakwrappedtables/&gt;    &lt;w:snaptogridincell/&gt;    &lt;w:wraptextwithpunct/&gt;    &lt;w:useasianbreakrules/&gt;    &lt;w:dontgrowautofit/&gt;    &lt;w:splitpgbreakandparamark/&gt;    &lt;w:dontvertaligncellwithsp/&gt;    &lt;w:dontbreakconstrainedforcedtables/&gt;    &lt;w:dontvertalignintxbx/&gt;    &lt;w:word11kerningpairs/&gt;    &lt;w:cachedcolbalance/&gt;   &lt;/w:Compatibility&gt;   &lt;m:mathpr&gt;    &lt;m:mathfont val="Cambria Math"&gt;    &lt;m:brkbin val="before"&gt;    &lt;m:brkbinsub val="--"&gt;    &lt;m:smallfrac val="off"&gt;    &lt;m:dispdef/&gt;    &lt;m:lmargin val="0"&gt;    &lt;m:rmargin val="0"&gt;    &lt;m:defjc val="centerGroup"&gt;    &lt;m:wrapindent val="1440"&gt;    &lt;m:intlim val="subSup"&gt;    &lt;m:narylim val="undOvr"&gt;   &lt;/m:mathPr&gt;&lt;/w:WordDocument&gt; &lt;/xml&gt;&lt;![endif]--&gt;&lt;!--[if gte mso 9]&gt;&lt;xml&gt;  &lt;w:latentstyles deflockedstate="false" defunhidewhenused="true" defsemihidden="true" defqformat="false" defpriority="99" latentstylecount="267"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="0" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Normal"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="9" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="heading 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="9" qformat="true" name="heading 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="9" qformat="true" name="heading 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="9" qformat="true" name="heading 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="9" qformat="true" name="heading 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="9" qformat="true" name="heading 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="9" qformat="true" name="heading 7"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="9" qformat="true" name="heading 8"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="9" qformat="true" name="heading 9"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="39" name="toc 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="39" name="toc 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="39" name="toc 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="39" name="toc 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="39" name="toc 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="39" name="toc 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="39" name="toc 7"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="39" name="toc 8"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="39" name="toc 9"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="35" qformat="true" name="caption"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="10" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Title"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="1" name="Default Paragraph Font"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="11" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Subtitle"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="22" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Strong"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="20" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Emphasis"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="59" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Table Grid"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" unhidewhenused="false" name="Placeholder Text"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="1" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="No Spacing"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="60" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Shading"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="61" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light List"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="62" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Grid"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="63" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="64" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="65" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="66" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="67" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="68" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="69" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="70" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Dark List"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="71" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Shading"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="72" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful List"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="73" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Grid"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="60" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Shading Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="61" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light List Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="62" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Grid Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="63" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 1 Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="64" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 2 Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="65" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 1 Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" unhidewhenused="false" name="Revision"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="34" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="List Paragraph"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="29" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Quote"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="30" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Intense Quote"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="66" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 2 Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="67" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 1 Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="68" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 2 Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="69" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 3 Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="70" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Dark List Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="71" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Shading Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="72" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful List Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="73" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Grid Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="60" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Shading Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="61" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light List Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="62" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Grid Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="63" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 1 Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="64" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 2 Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="65" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 1 Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="66" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 2 Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="67" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 1 Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="68" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 2 Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="69" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 3 Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="70" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Dark List Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="71" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Shading Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="72" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful List Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="73" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Grid Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="60" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Shading Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="61" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light List Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="62" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Grid Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="63" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 1 Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="64" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 2 Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="65" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 1 Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="66" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 2 Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="67" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 1 Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="68" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 2 Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="69" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 3 Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="70" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Dark List Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="71" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Shading Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="72" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful List Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="73" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Grid Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="60" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Shading Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="61" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light List Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="62" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Grid Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="63" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 1 Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="64" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 2 Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="65" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 1 Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="66" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 2 Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="67" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 1 Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="68" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 2 Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="69" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 3 Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="70" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Dark List Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="71" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Shading Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="72" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful List Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="73" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Grid Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="60" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Shading Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="61" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light List Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="62" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Grid Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="63" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 1 Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="64" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 2 Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="65" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 1 Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="66" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 2 Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="67" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 1 Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="68" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 2 Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="69" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 3 Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="70" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Dark List Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="71" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Shading Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="72" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful List Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="73" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Grid Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="60" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Shading Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="61" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light List Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="62" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Grid Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="63" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 1 Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="64" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 2 Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="65" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 1 Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="66" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 2 Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="67" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 1 Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="68" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 2 Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="69" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 3 Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="70" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Dark List Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="71" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Shading Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="72" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful List Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="73" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Grid Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="19" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Subtle Emphasis"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="21" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Intense Emphasis"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="31" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Subtle Reference"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="32" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Intense Reference"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="33" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Book Title"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="37" name="Bibliography"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="39" qformat="true" name="TOC Heading"&gt;  &lt;/w:LatentStyles&gt; &lt;/xml&gt;&lt;![endif]--&gt;&lt;style&gt; &lt;!--  /* Font Definitions */  @font-face 	{font-family:"Cambria Math"; 	panose-1:0 0 0 0 0 0 0 0 0 0; 	mso-font-charset:1; 	mso-generic-font-family:roman; 	mso-font-format:other; 	mso-font-pitch:variable; 	mso-font-signature:0 0 0 0 0 0;} @font-face 	{font-family:Calibri; 	panose-1:2 15 5 2 2 2 4 3 2 4; 	mso-font-charset:0; 	mso-generic-font-family:swiss; 	mso-font-pitch:variable; 	mso-font-signature:-1610611985 1073750139 0 0 159 0;}  /* Style Definitions */  p.MsoNormal, li.MsoNormal, div.MsoNormal 	{mso-style-unhide:no; 	mso-style-qformat:yes; 	mso-style-parent:""; 	margin-top:0cm; 	margin-right:0cm; 	margin-bottom:10.0pt; 	margin-left:0cm; 	text-align:right; 	line-height:115%; 	mso-pagination:widow-orphan; 	direction:rtl; 	unicode-bidi:embed; 	font-size:11.0pt; 	font-family:"Calibri","sans-serif"; 	mso-ascii-font-family:Calibri; 	mso-ascii-theme-font:minor-latin; 	mso-fareast-font-family:Calibri; 	mso-fareast-theme-font:minor-latin; 	mso-hansi-font-family:Calibri; 	mso-hansi-theme-font:minor-latin; 	mso-bidi-font-family:Arial; 	mso-bidi-theme-font:minor-bidi;} .MsoChpDefault 	{mso-style-type:export-only; 	mso-default-props:yes; 	mso-ascii-font-family:Calibri; 	mso-ascii-theme-font:minor-latin; 	mso-fareast-font-family:Calibri; 	mso-fareast-theme-font:minor-latin; 	mso-hansi-font-family:Calibri; 	mso-hansi-theme-font:minor-latin; 	mso-bidi-font-family:Arial; 	mso-bidi-theme-font:minor-bidi;} .MsoPapDefault 	{mso-style-type:export-only; 	margin-bottom:10.0pt; 	line-height:115%;} @page Section1 	{size:595.3pt 841.9pt; 	margin:72.0pt 72.0pt 72.0pt 72.0pt; 	mso-header-margin:35.4pt; 	mso-footer-margin:35.4pt; 	mso-paper-source:0; 	mso-gutter-direction:rtl;} div.Section1 	{page:Section1;} --&gt; &lt;/style&gt;&lt;!--[if gte mso 10]&gt; &lt;style&gt;  /* Style Definitions */  table.MsoNormalTable 	{mso-style-name:"Table Normal"; 	mso-tstyle-rowband-size:0; 	mso-tstyle-colband-size:0; 	mso-style-noshow:yes; 	mso-style-priority:99; 	mso-style-qformat:yes; 	mso-style-parent:""; 	mso-padding-alt:0cm 5.4pt 0cm 5.4pt; 	mso-para-margin-top:0cm; 	mso-para-margin-right:0cm; 	mso-para-margin-bottom:10.0pt; 	mso-para-margin-left:0cm; 	line-height:115%; 	mso-pagination:widow-orphan; 	font-size:11.0pt; 	font-family:"Calibri","sans-serif"; 	mso-ascii-font-family:Calibri; 	mso-ascii-theme-font:minor-latin; 	mso-hansi-font-family:Calibri; 	mso-hansi-theme-font:minor-latin;} &lt;/style&gt; &lt;![endif]--&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;
&lt;/span&gt;&lt;p class="MsoNormal" dir="LTR" style="text-align: justify; line-height: normal; direction: ltr; unicode-bidi: embed;"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:85%;"  &gt;“Barang siapa yang berpaling dari mengingat Tuhan Yang Maha Pemurah, Kami kuasakan atasnya setan (yang menyesatkan), lalu setan itulah yang menjadi teman yang selalu menyertainya.” (Qs. Az-Zukhruf: 36).
&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" dir="LTR" style="text-align: justify; line-height: normal; direction: ltr; unicode-bidi: embed;"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;
&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" dir="LTR" style="text-align: justify; line-height: normal; direction: ltr; unicode-bidi: embed;"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;
&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" dir="LTR" style="text-align: justify; line-height: normal; direction: ltr; unicode-bidi: embed;"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;
&lt;/span&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:85%;"  &gt;&lt;b&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" dir="LTR" style="text-align: justify; line-height: normal; direction: ltr; unicode-bidi: embed;"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:85%;"  &gt;Dari ayat suci ini jelas dan terang, bahwa untuk tidak terjebak pada penguasaan syaitan maka kita tidak boleh lalai apalagi berpaling dari mengingat Allah SWT. Keutamaan mengingat Allah bukan sekedar agar terhindar dan terlepas dari godaan dan gangguan syaitan, namun lebih dari itu, mengingat Allah adalah ibadah yang lebih besar keutamaannya dibanding ibadah-ibadah yang lain. Allah SWT berfirman, “…dan sesungguhnya mengingat Allah adalah lebih besar (keutamaannya dari ibadah-ibadah yang lain).” (Qs. Al-Ankabut: 45). Dikatakan mengingat Allah (dzikrullah) lebih besar keutamaannya karena pada hakikatnya setiap ibadah yang dilakukan (shalat, zakat, puasa, naik haji, jihad, ‘amar ma’ruf nahi munkar dan lain-lain) adalah dalam rangka semata-mata untuk mengingat Allah. Ayatullah Husain Mazhahiri dalam kitabnya Jihad an-Nafs menafsirkan firman Allah SWT,  “Sesungguhnya Aku ini adalah Allah, tidak ada Tuhan selain Aku, maka sembahlah Aku dan dirikanlah shalat untuk mengingat-Ku.” (Qs. Thaha: 41) dengan mengartikan, “Tidak ada Tuhan yang memberikan pengaruh di alam wujud selain Aku, dan wajib atas kamu beribadah kepada-Ku dengan tujuan mengingat Aku, yang merupakan sebesar-besarnya kewajiban.”&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" dir="LTR" style="text-align: justify; line-height: normal; direction: ltr; unicode-bidi: embed;"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;
&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" dir="LTR" style="text-align: justify; line-height: normal; direction: ltr; unicode-bidi: embed;"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;
&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" dir="LTR" style="text-align: justify; line-height: normal; direction: ltr; unicode-bidi: embed;"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;
&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" dir="LTR" style="text-align: justify; line-height: normal; direction: ltr; unicode-bidi: embed;"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;
&lt;/span&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:85%;"  &gt;&lt;b&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" dir="LTR" style="text-align: justify; line-height: normal; direction: ltr; unicode-bidi: embed;"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:85%;"  &gt;Hal lain yang menunjukkan keutamaan dzikrullah dibanding ibadah lain, misalnya dalam shalat, haji, zakat, puasa ataupun jihad pengamalannya memiliki syarat-syarat, batasan-batasan, situasi dan kondisi tertentu, dan waktu-waktu yang telah ditentukan, sementara zikir tidak. Allah SWT memerintahkan, “Hai orang-orang beriman, berzikirlah (dengan menyebut nama) Allah, dengan zikir yang sebanyak-banyaknya. Dan bertasbihlah kepada-Nya di waktu pagi dan petang.” (Qs. Al-Ahzab: 41). Jika ibadah lain yang dituntut adalah kualitasnya, zikir sedikit berbeda, yang dituntut adalah kuantitasnya. Puasa misalnya, kita hanya diwajibkan untuk melakukannya di bulan Ramadhan saja, haji hanya pada Dzulhijjah saja, shalat fardhu pada waktu-waktu dan tempat yang telah ditentukan namun zikir bisa dilakukan kapan, dimana saja dan dalam setiap keadaan. Perintah Allah untuk berzikir sebanyak-banyaknya, menunjukkan tidak ada batasan waktu untuk berzikir. Allah menyifatkan ibadah-ibadah yang lain dengan ‘amalan shâlihâ bukan ‘amalan katsîrâ. Namun  khusus untuk zikir, Al-Quran memakai kata sifat dzikran katsîrâ bukan dzikran shâlihâ. Ini juga bisa diartikan, betapa pun jelek kualitas zikir kita, kita tetap dianjurkan untuk berzikir sebanyak-banyaknya. Zikir dianjurkan untuk dilakukan dalam setiap keadaan, sambil berdiri, duduk atau dalam keadaan berbaring, bahkan dalam keadaan sibuk mencari rezeki sekalipun. Allah SWT berfirman, “Apabila salat telah ditunaikan, maka bertebaranlah kamu di muka bumi, carilah karunia Allah, dan ingatlah Allah banyak-banyak supaya kamu beruntung.” (Qs. Al-Jumuah: 10). 7. Sungguh indah Allah SWT yang menyampaikan, “Kaum laki-laki yang tidak dilalaikan oleh perniagaan dan tidak (pula) oleh jual beli dari mengingat Allah, mendirikan shalat, dan menunaikan zakat. Mereka takut kepada suatu hari yang (di hari itu) hati dan penglihatan menjadi guncang. (Mereka mengerjakan yang demikian itu) supaya Allah memberi balasan kepada mereka (dengan balasan) yang lebih baik daripada apa yang telah mereka kerjakan, dan supaya Allah menambah karunia-Nya kepada mereka. Dan Allah memberi rezeki kepada siapa yang dikehendaki-Nya tanpa batas.” (Qs. An-Nur: 37-38).
&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" dir="LTR" style="text-align: justify; line-height: normal; direction: ltr; unicode-bidi: embed;"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;
&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" dir="LTR" style="text-align: justify; line-height: normal; direction: ltr; unicode-bidi: embed;"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;
&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" dir="LTR" style="text-align: justify; line-height: normal; direction: ltr; unicode-bidi: embed;"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;
&lt;/span&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:85%;"  &gt;&lt;b&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" dir="LTR" style="text-align: justify; line-height: normal; direction: ltr; unicode-bidi: embed;"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:85%;"  &gt;Orang-orang yang senantiasa mengingat Allah disebut oleh Allah SWT sebagai orang-orang yang berakal (Ulil Albab). Allah SWT berfirman, “Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi, dan silih bergantinya malam dan siang terdapat tanda-tanda bagi orang-orang yang berakal, (yaitu) orang-orang yang mengingat Allah sambil berdiri, duduk, atau dalam keadaan berbaring dan mereka memikirkan tentang penciptaan langit dan bumi (seraya berkata), “Ya Tuhan kami, tiadalah Engkau menciptakan ini dengan sia-sia. Maha Suci Engkau, maka peliharalah kami dari siksa neraka.” (Qs. Ali-Imran: 190-191). Jika Allah SWT menjadikan zikir sebanyak-banyaknya sebagai tanda dari Ulil Albab (orang-orang yang berakal)  maka bagi yang zikirnya sedikit, Allah menyebutnya sebagai tanda kemunafikan. Allah SWT berfirman tentang orang-orang munafik, “…dan tidaklah mereka menyebut Allah kecuali sedikit sekali.” (Qs. An-Nisa’: 142). Sedangkan bagi yang sama sekali lalai dan berpaling dari zikrullah maka Allah menyifatkannya sebagai teman-teman syaitan, “Barang siapa yang berpaling dari mengingat Tuhan Yang Maha Pemurah, Kami kuasakan atasnya setan (yang menyesatkan), lalu setan itulah yang menjadi teman yang selalu menyertainya.” (Qs. Az-Zukhruf: 36). Bahkan dalam ayat lain dikatakan termasuk dalam golongan syaitan, “Syaitan telah menguasai mereka lalu menjadikan mereka lupa mengingat Allah; mereka itulah golongan syaitan. Ketahuilah, bahwa sesungguhnya golongan syaitan itulah golongan yang merugi. (Qs. Al Mujaadilah: 19). Naudzubillah.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" dir="LTR" style="text-align: justify; line-height: normal; direction: ltr; unicode-bidi: embed;"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;
&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" dir="LTR" style="text-align: justify; line-height: normal; direction: ltr; unicode-bidi: embed;"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;
&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" dir="LTR" style="text-align: justify; line-height: normal; direction: ltr; unicode-bidi: embed;"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;
&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" dir="LTR" style="text-align: justify; line-height: normal; direction: ltr; unicode-bidi: embed;"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;
&lt;/span&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:85%;"  &gt;&lt;b&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" dir="LTR" style="text-align: justify; line-height: normal; direction: ltr; unicode-bidi: embed;"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:85%;"  &gt;Zikrullah adalah aktivitas Anbiyah as dan para Aimmah as, mereka tidak pernah lepas dari mengingat Allah SWT. Sebagaimana yang diriwayatkan Ibn Asakir dalam Tarikh Dimasyq, II, hal. 439, Rasulullah saww sampai menyebut Imam Ali as sebagai orang yang selalu berzikir (da’im az-zikr). Dalam banyak ayat, secara khusus Allah SWT memerintahkan kepada kekasih-Nya Muhammad saww untuk senantiasa berzikir, “…Dan sebutlah nama Tuhan-mu pada (waktu) pagi dan petang. Dan di malam hari, bersujud dan bertasbihlah kepada-Nya pada sebagian besar malam.” (Qs. Al-Insan: 25-26). Zikir bisa dilakukan dengan dua cara, zikir secara lisan (lafzhi) sebagaimana dalam perintah, “Sebutlah!”dan zikir dengan hati (qalbi) sebagaimana dalam perintah, “Ingatlah!”.. Keduanya sangat berpengaruh pada jiwa. Lewat berzikir dan mengingat Allah maka pintu-pintu jalan bagi syaitan untuk memberi pengaruh akan tertutup rapat, baik syaitan dari kalangan jin maupun manusia. Zikir juga dapat menghilangkan was-was, keraguan dan menentramkan batin, Allah SWT berfirman, “Ingatlah, hanya dengan mengingati Allah-lah hati menjadi tenteram.” (Qs. Ar Ra'd: 28).&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" dir="LTR" style="text-align: justify; line-height: normal; direction: ltr; unicode-bidi: embed;"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;
&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" dir="LTR" style="text-align: justify; line-height: normal; direction: ltr; unicode-bidi: embed;"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;
&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" dir="LTR" style="text-align: justify; line-height: normal; direction: ltr; unicode-bidi: embed;"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;
&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" dir="LTR" style="text-align: justify; line-height: normal; direction: ltr; unicode-bidi: embed;"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;
&lt;/span&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:85%;"  &gt;&lt;b&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" dir="LTR" style="text-align: justify; line-height: normal; direction: ltr; unicode-bidi: embed;"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:85%;"  &gt;Terakhir, untuk tulisan ini. Ada hadits qudsi yang diriwayatkan secara muttafaq ‘alaihi, yakni diriwayatkan oleh dua Imam ahli hadits Ahlus Sunnah wal Jama’ah, Imam Bukhari dan Imam Muslim, sehingga sulit untuk melemahkan kedudukannya, sayangnya sering dipenggal secara sepihak oleh pihak tertentu. Dari Abu Hurairah, Allah SWT berfirman lewat lisan Nabiullah Muhammad saw, &lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;i&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;"  lang="FR"&gt;“Aku terserah kepada persangkaan hamba-Ku terhadap-Ku. Jika ia mengingat-Ku (berzikir) dalam dirinya, Aku akan menyebutnya dalam diri-Ku. Jika ia mengingat-Ku di dalam sebuah jama’ah, Aku akan menyebutnya di dalam jama’ah yang lebih baik dari mereka”.&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;b&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;" &gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" dir="LTR" style="text-align: justify; line-height: normal; direction: ltr; unicode-bidi: embed;"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:85%;"  lang="FR" &gt;Ya, ingatlah Allah sebanyak-banyaknya, dalam setiap keadaan, dalam keadaan berkesendirian, dalam keadaan berjama'ah....
&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" dir="LTR" style="text-align: justify; line-height: normal; direction: ltr; unicode-bidi: embed;"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;
&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" dir="LTR" style="text-align: justify; line-height: normal; direction: ltr; unicode-bidi: embed;"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;
&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" dir="LTR" style="text-align: justify; line-height: normal; direction: ltr; unicode-bidi: embed;"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;
&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;b&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;" &gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" dir="LTR" style="text-align: justify; line-height: normal; direction: ltr; unicode-bidi: embed;"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:85%;"  lang="FR" &gt;Qom, 27 Maret 2010&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" dir="LTR" style="text-align: justify; line-height: normal; direction: ltr; unicode-bidi: embed;"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;
&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" dir="LTR" style="text-align: justify; line-height: normal; direction: ltr; unicode-bidi: embed;"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;
&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" dir="LTR" style="text-align: justify; line-height: normal; direction: ltr; unicode-bidi: embed;"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;
&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;b&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;" &gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" dir="LTR" style="text-align: justify; line-height: normal; direction: ltr; unicode-bidi: embed;"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;b&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;" &gt;{bisa dilihat juga di http://telagahikmah.org}&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" dir="LTR" style="text-align: left; direction: ltr; unicode-bidi: embed;"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;span style="font-size:85%;"&gt;


&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6808511174156263273-8151429848345378976?l=abi-azzahra.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://abi-azzahra.blogspot.com/feeds/8151429848345378976/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=6808511174156263273&amp;postID=8151429848345378976&amp;isPopup=true' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6808511174156263273/posts/default/8151429848345378976'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6808511174156263273/posts/default/8151429848345378976'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://abi-azzahra.blogspot.com/2010/04/banyak-banyaklah-mengingat-allah.html' title='Banyak-banyaklah Mengingat Allah'/><author><name>Ismail Amin</name><uri>http://www.blogger.com/profile/00461561157182799656</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://bp0.blogger.com/_b535izL1kDU/R54Ij8cN26I/AAAAAAAAAA8/7WbjvsXb9Tg/S220/Aku.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/_b535izL1kDU/S7nMJZfTGWI/AAAAAAAAA2Q/pRtJ4oEIvrA/s72-c/d20d7148575afbda.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6808511174156263273.post-2371714177414142896</id><published>2010-03-29T23:31:00.000-07:00</published><updated>2010-03-29T23:38:13.596-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Agama'/><title type='text'>Korelasi antara Ketakwaan dan Santapan Kita</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://3.bp.blogspot.com/_b535izL1kDU/S7GcPOND6vI/AAAAAAAAA2I/mpA5v0jawUI/s1600/7c0ff26ce4b98422.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 10px 10px 0pt; float: left; cursor: pointer; width: 145px; height: 108px;" src="http://3.bp.blogspot.com/_b535izL1kDU/S7GcPOND6vI/AAAAAAAAA2I/mpA5v0jawUI/s320/7c0ff26ce4b98422.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5454312409047231218" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;
&lt;div style="text-align: justify;" class="fullpost"&gt;
“Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dengan sebenar-benar takwa kepada-Nya; dan janganlah sekali-kali kamu mati melainkan dalam keadaan beragama Islam.” (Qs. Ali-Imran: 102).





Penggalan firman suci ini bukan sesuatu yang asing lagi kita dengar, hampir setiap da’i dan muballigh kita sebelum memulai nasehat-nasehat keagamaannya lebih lanjut sering mengawalinya dengan berpesan dan mengingatkan dalam hal ketakwaan. Bahkan dalam kehidupan seharian dengan mudah kita menemukan kata-kata takwa; dalam butir-butir Pancasila, dalam spanduk-spanduk pesan kemasyarakatan, dalam butiran misi lembaga-lembaga pendidikan dan dalam setiap pasal persyaratan untuk menjadi pemimpin atau menduduki jabatan dalam sebuah organisasi atau lembaga pemerintahan dan dalam butiran nasehat orang-orang tua kita. Namun dengan sedemikian akrabnya kita dengan idiom ‘takwa’ ini, apakah kita telah menemukan orang yang benar-benar bertakwa? Seberapa gigihkah kita untuk menjadi insan yang bertakwa? Atau kita perlu mengajukan pertanyaan, sedemikian pentingkah ketakwaan itu?.






Takwa adalah kata serapan dari bahasa Arab yang secara etimologi merupakan bentuk masdar dari kata-kata ittaqa-yattaqiy, yang berarti menjaga dari segala yang membahayakan. Dalam istilah syar’i, kata takwa mengandung pengertian,“menjaga diri dari segala perbuatan dosa, kemaksiatan dan hal-hal yang dilarang Allah SWT dan melaksanakan segala yang diperintahkan-Nya.” Al-Qur’an menyebut orang yang bertakwa dengan muttaqi, jamaknya muttaqin dan berulang sebanyak 50 kali, dan kata takwa secara keseluruhan dengan berbagai varian dan dalam konteks yang bermacam-macam berulang sebanyak 258 kali, hal ini menunjukkan sedemikian penting dan urgennya pembahasan mengenai ketakwaan. Allah SWT berfirman, “Sesungguhnya orang yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah ialah orang yang paling bertakwa.” (Qs. Al-Hujurat: 13). Sebenarnya dengan menyimak satu ayat ini saja, telah cukup menunjukkan betapa pentingnya ketakwaan itu. Selain itu Al-Qur’an juga tidak luput untuk menyampaikan kepada kita janji-janji Allah SWT kepada orang-orang yang bertakwa, diantaranya, diberikan kemudahan atas segala urusannya (Qs. 65: 4), diberikan keberkahan dari langit dan bumi (Qs. 7: 96), mendapat kemenangan (Qs. 78: 31) dan mendapat perlindungan Allah (Qs. 45: 19).






Dengan segala keistimewaan dan kemuliaannya, maka wajar jika ulama-ulama dan da’i kita tanpa lelah menggedor-gedor kesadaran kaum muslimin untuk bertakwa dan senantiasa meningkatkannya. Hanya saja ada hal penting yang terkadang lalai  atau lupa untuk tersampaikan. Takwa tidak hanya berkaitan dengan ketaatan dalam melakukan hal-hal yang diperintahkan namun juga kerelaan untuk meninggalkan yang terlarang. Ketakwaan sangat berkaitan erat dengan menjaga perut dari makanan haram, sebab pantangan terbesar ahli takwa adalah memakan makanan haram. Allah SWT berfirman, “Dan makanlah makanan yang halal lagi baik dari apa yang Allah telah rezekikan kepadamu, dan bertakwalah kepada Allah yang kamu beriman kepada-Nya. (Qs. Al-Maaidah: 88). Dalam ayat ini, perintah untuk memakan makanan yang halal lagi baik (tayyiban) lebih didahulukan dari perintah untuk bertakwa, sebab seseorang tidak akan mencapai derajat ketakwaan jika tidak lebih dahulu mencegah masuknya makanan yang diharamkan ke dalam  perutnya. Sebagaimana dalam hadits disebutkan, “Sesungguhnya syaitan itu dalam diri anak Adam layaknya darah yang mengalir.” (Safinat al-Bihar, juz I, hal. 698). Syaitan masuk kedalam diri manusia seringnya lewat makanan haram. Sebagaimana yang diketahui, makanan adalah penyuplai energi bagi tubuh, yang lewat energi itu manusia bergerak dan beraktivitas. Bila suplai energi bagi tubuh dari sesuatu yang haram, maka yang mendominasi motivasi seseorang beraktivitas adalah nafsu syaitani. Sebagaimana aliran darah, syaitan akan menguasai dan leluasa dalam tubuh manusia. Selama makanan haram masih tersisa dan mencemari dalam tubuh, maka selama itu pula syaitan akan tetap bersemayam dan mengambil alih kuasa atas pikiran dan tubuh. Dalam sebuah riwayat disebutkan, bahwa jika seseorang memakan makanan haram maka selama 40 hari shalatnya tidak diterima dan do’anya tidak di ijabah. Ini disebabkan karena dalam tubuh masih terdapat sisa makanan haram. Meskipun orang tersebut membaca Al-Qur’an, shalat, puasa dan berzikir pada hakikatnya yang melakukannya adalah jiwa syaitani. Hatta pada saat isti’adzah  (memohon perlindungan Allah) sekalipun, sebab lisannya adalah lisan syaitani. Melalui perantara lisannya, syaitan melafadzkan kalimat, a’udzubiillahi minasysyaithanirrajim.






Syahid Tsani dalam Asrar al-Shalatnya meriwayatkan sebuah hadits dari Nabi saww, “Allah memandang hati kalian, bukan wajah kalian.” (Rasa’il asy-Syahid al-Tsani, hal. 110). Hadits ini mengingatkan sekaligus menegaskan bahwa yang terpenting dari sebuah amalan adalah ‘isi’nya bukan penampakan lahiriahnya. Yang diinginkan oleh Allah pada hakikatnya adalah yang bersifat hakiki yang secara lahiriah tidak nampak di mata manusia. Ungkapan lisan bisa saja menarik perhatian orang lain, namun bagi Allah SWT yang menarik bukanlah padanan dan manisnya tuturan kata-kata itu, melainkan apa yang terkandung di dalam hati yang berbicara. Hal ini sejalan dengan penjelasan al-Qur’an, “Daging-daging unta dan darahnya itu sekali-kali tidak dapat mencapai (keridhaan) Allah, tetapi ketakwaan darimulah yang dapat mencapainya.” (Qs. Al-Hajj: 37). Dalam hal ini kita harus senantiasa tetap dalam kehati-hatian dan kecurigaan jangan sampai syaitan telah mengambil alih kendali diri kita. Sekalipun kita berada dalam kondisi kebaikan, senantiasa terbiasa melakukan amalan ibadah ataupun selalu berniat mendekatkan diri kepada Allah, namun bisa saja itu adalah bisikan syaitan bukan hidayah Ilahi. Boleh jadi secara lahiriah, penampilan dan perilaku kita sangat mengagumkan dan menakjubkan, namun pada hakikatnya, hati kita telah membusuk dan merupakan musuh yang paling nyata disebabkan masuknya makanan haram di dalam tubuh. “Ingatlah, sesungguhnya mereka itulah orang-orang yang membuat kerusakan, tetapi mereka tidak sadar.” (Qs. Al-Baqarah: 12).







Karena itu, diantaranya –bahkan termasuk yang terpenting- yang mesti dilakukan untuk menjadi ahli takwa adalah menghindarkan meja kita dari sajian makanan yang didapat melalui cara-cara yang diharamkan. Ketakwaan tidaklah secara ekslusif hanya bisa diraih oleh kalangan tertentu, ulama, urafa, sufi atau hanya didominasi oleh wali-wali Allah yang mencapai maqam tertentu dan kedekatan dengan Allah lewat tarekat-tarekat dan suluk (perjalanan spiritual) yang sulit dan rumit. Insya Allah, kita bisa memulai untuk menjadi ahli takwa dengan menjaga perut dari makanan-makanan yang diharamkan ataupun yang bernilai syubhat, sehingga dengan hidayah-Nya kita bisa terhindar dari melakukan kemaksiatan-kemaksiatan yang lebih besar. Allah SWT berfirman, “Hai sekalian manusia, makanlah yang halal lagi baik dari apa yang terdapat di bumi, dan janganlah kamu mengikuti langkah-langkah syaitan; karena sesungguhnya syaitan itu adalah musuh yang nyata bagimu. (Qs. Al Baqarah: 168). Larangan Allah SWT untuk untuk tidak mengikuti langkah-langkah syaitan hanya bisa dipatuhi dan dilaksanakan ketika terlebih dahulu memenuhi perintahnya, dengan memakan makanan yang halal lagi baik (thayyib). Menurut Al-Qur’an, adalah kesia-siaan belaka jika anjuran untuk bertakwa  dalam pesan-pesan keagamaan di atas mimbar-mimbar mesjid kita, tidak disertai dengan ajakan untuk menjaga apa yang kita santap. Perlu ada seruan berulang-ulang, bahwa yang masuk ke dalam perut bukanlah makanan yang diperoleh dari korupsi, menipu dan merampas hak orang lain. Uang yang dipergunakan untuk membeli makanan bukan dari pekerjaan yang diperoleh dari sogokan, suap dan nepotisme.  Dalam ayat terakhir yang saya sebutkan, dengan frase, “Hai sekalian manusia…” menunjukkan seruan Allah SWT ini tidak hanya dikhususkan kepada orang Islam dan yang beriman saja, setidaknya lewat ayat ini Allah SWT ingin menyampaikan pesan, “Kalaupun kau tidak mau beriman kepada Ku, setidaknya makanlah makanan yang kau peroleh secara halal dan baik-baik.”




Wallahu ‘alam bishshawwab




Qom, 9 Maret 2009



&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6808511174156263273-2371714177414142896?l=abi-azzahra.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://abi-azzahra.blogspot.com/feeds/2371714177414142896/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=6808511174156263273&amp;postID=2371714177414142896&amp;isPopup=true' title='1 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6808511174156263273/posts/default/2371714177414142896'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6808511174156263273/posts/default/2371714177414142896'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://abi-azzahra.blogspot.com/2010/03/korelasi-antara-ketakwaan-dan-santapan.html' title='Korelasi antara Ketakwaan dan Santapan Kita'/><author><name>Ismail Amin</name><uri>http://www.blogger.com/profile/00461561157182799656</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://bp0.blogger.com/_b535izL1kDU/R54Ij8cN26I/AAAAAAAAAA8/7WbjvsXb9Tg/S220/Aku.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/_b535izL1kDU/S7GcPOND6vI/AAAAAAAAA2I/mpA5v0jawUI/s72-c/7c0ff26ce4b98422.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6808511174156263273.post-7061845160882183638</id><published>2010-02-21T22:58:00.000-08:00</published><updated>2010-02-21T22:59:48.771-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Agama'/><title type='text'>Tawassul, Tanda Cinta Nabi pada Ummatnya</title><content type='html'>&lt;div class="fullpost"&gt;

&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://4.bp.blogspot.com/_b535izL1kDU/S4Ips8s8sPI/AAAAAAAAA1o/FeHMseJYVog/s1600-h/ee2df881e051dd22.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 10px 10px 0pt; float: left; cursor: pointer; width: 130px; height: 130px;" src="http://4.bp.blogspot.com/_b535izL1kDU/S4Ips8s8sPI/AAAAAAAAA1o/FeHMseJYVog/s320/ee2df881e051dd22.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5440957152002617586" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;
&lt;div class="fullpost"&gt;    &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;b style=""&gt; &lt;/b&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style=""&gt;            &lt;/span&gt;&lt;i style=""&gt;“Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan carilah jalan yang mendekatkan diri kepada-Nya, dan berjihadlah pada jalan-Nya supaya kamu mendapat keberuntungan.” (Qs. Al-Maidah : 35).&lt;/i&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;i style=""&gt;
&lt;/i&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;
&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;
&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;
&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;
&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;i style=""&gt;
&lt;/i&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style=""&gt;            &lt;/span&gt;Al-Qur’an menyatakan kepada kita bahwa ada suatu cara pendekatan “al-wasilah” untuk mendekatkan diri kepada Allah Azza wa Jalla, dan kita diperintahkan mencarinya. Salah satu wasilah pendekatan kepada &lt;span class="yshortcuts" id="lw_1266821133_2"&gt;Allah SWT&lt;/span&gt; yang kebanyakan kaum muslimin melupakannya, malah oleh rekayasa sejarah&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;dianggap kesyirikan adalah tawassul. Sesungguhnya tawassul dan wasilah berasal dari akar kata yang sama. Tawassul adalah usaha pendekatan kepada Allah melalui perantara yang lebih taat kepada Allah. Karena melalui perantara maka wasilah ini dianggap kesyirikan dengan dalih menggan&lt;/p&gt; &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;ggap ada selain Allah yang bisa mendatangkan manfaat dan memberikan mudharat atau praktik berdoa melalui perantara sama halnya memohon pertolongan kepada selain Allah. Sesungguhnya dalih ini tidak beralasan menganggap tawassul adalah usaha yang sesat dalam mendekatkan diri kepada Allah. Apalagi menyamakan tawassul dengan menyembah berhala atau praktik tawassul kaum kafir jahiliyah yang menjadikan patung-patung buatan mereka sendiri sebagai perantara diri mereka dengan Allah. Alasan praktik penyembahan kaum kafir jahiliyah dilarang dan dianggap kesyirikan bukan karena menggunakan perantara melainkan keyakinan mereka terhadap berhala yang mereka jadikan perantara dapat mendatangkan kehancuran dan memberikan manfaat. Alasan selanjutnya adalah mereka menggunakan perantara yang salah, perantara yang menurut prasangkaan mereka dapat memberikan pertolongan padahal yang mereka jadikan perantara tidak dapat memberikan manfaat apa-apa, “Dan berhala-berhala yang mereka seru selain Allah tidak dap&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;at memperkenankan sesuatu pun bagi mereka.” (Qs. Ar-Ra’d: 14).&lt;span style=""&gt;
&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;
&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;
&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;
&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;
&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;
&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;
&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 36pt;"&gt;Sedangkan jika bertawassul kepada orang yang dekat kepada Allah dan tidak meyakini bahwa yang menjadi perantara memiliki kekuatan sendiri selain dari Allah tetapi yang mereka miliki adalah kedudukan ruhani di sisi Allah dan Allah tidak mengabaikan permohonan mereka apabila mereka berdoa kepada Allah atas diri kita, bukanlah perbuatan syirik. Dan saya akan memberikan beberapa referensi singkat mengenai hal ini. &lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;
&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;
&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;
&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; color: rgb(255, 0, 0);"&gt;&lt;b style=""&gt;Memohon Kepada Allah Melalui Perantara&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;b style=""&gt;
&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;
&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;
&lt;/p&gt; &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://4.bp.blogspot.com/_b535izL1kDU/S4Ip1CyT6nI/AAAAAAAAA1w/RoA9HT5PVNI/s1600-h/d73927816940f7e0.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 10px 10px 0pt; float: left; cursor: pointer; width: 93px; height: 140px;" src="http://4.bp.blogspot.com/_b535izL1kDU/S4Ip1CyT6nI/AAAAAAAAA1w/RoA9HT5PVNI/s320/d73927816940f7e0.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5440957291074677362" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;b style=""&gt;
&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style=""&gt;            &lt;/span&gt;Saya akan mengawalinya dari yang telah menjadi kesepakatan seluruh kaum muslimin, bahwa sesun&lt;/p&gt; &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;gguhnya tidak ada perbedaan di kalangan ulama bahwa memohon kepada Allah melalui perantara, secara prinsip adalah sah. Tidak ada perbedaan dikalangan ummat Islam mengenai bolehnya tiga jenis tawassul kepada Allah :&lt;/p&gt;   &lt;ol style="margin-top: 0cm;" start="1" type="1"&gt;&lt;li class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;Bertawassul kepada orang yang sangat dekat kepada Allah yang masih hidup. Contohnya seorang pelajar memohon di doakan oleh ulama agar bisa memiliki konsentrasi penuh dalam belajar. Tawassul sejenis ini juga pernah dilakukan oleh putra-putra Nabi Yakub as, "Wahai ayah kami, mohonkanlah ampun bagi kami terhadap dosa-dosa kami, sesungguhnya kami adalah orang-orang yang bersalah ". (QS. Yusuf : 97). Begitu juga pernah dilakukan oleh &lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;sahabat-sahabat      yang meminta kepada Rasulullah saww agar memohon kepada Allah SWT supaya &lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;menurunkan hujan bagi mereka. (HR Bukhari      No. 1013 dan Muslim 897)&lt;/li&gt;&lt;li class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;Bertawwassul kepada Allah melalui perbuatan baik      dan amal salehnya. Contohnya, pada hadits yang diriwayatkan &lt;span class="yshortcuts" id="lw_1266821133_3"&gt;Imam Bukhari&lt;/span&gt; dalam shahihnya tentang tiga orang yang terkurung oleh batu besar dalam sebuah gua. Mereka memohon kepada Allah SWT melalui perantaraan amal-amal saleh yang pernah mereka lakukan. &lt;/li&gt;&lt;li class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;Bertawassulnya seseorang kepada Allah melalui nama-nama-Nya      yang indah. Sebagaimana &lt;span class="yshortcuts" id="lw_1266821133_4"&gt;firman Allah SWT&lt;/span&gt;, “Dan Allah memiliki Asma’ul Husna (nama-nama yang indah) maka bermohonlah kepada-Nya dengan menyebut Asma’ul Husna itu…” (Qs. Al-A’raf: 180).&lt;/li&gt;&lt;/ol&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 36pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 36pt; text-align: justify;"&gt;
&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 36pt; text-align: justify;"&gt;
&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 36pt; text-align: justify;"&gt;
&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 36pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style=""&gt;
&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;Karena legalitas tiga jenis tawassul ini telah disepakati, tidak ada alasan untuk menunjukkan bukti. Ketidaksepakatannya adalah bertawassul kepada seorang yang shalih yang telah meninggal dunia. &lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;
&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;
&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;
&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;
&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;
&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;
&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 36pt;"&gt;Disini, saya kemukakan sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Imam Tirmidzi dan Imam al-Hakim melalui rangkaian perawi dari Usman bin Hunaif, "Suatu hari seorang yang lemah dan buta datang kepada Rasulullah saww dan berkata: "Wahai Rasulullah, aku tidak mempunyai orang yang menuntunku dan aku merasa berat" Rasulullah berkata, "Ambillah air wudhu, lalu beliau berwudhu dan sholat dua rakaat, dan berkata: "Bacalah doa (artinya)" Ya Allah sesungguhnya aku memintaMu dan menghadap kepadaMu melalui nabiMu yang penuh &lt;span style="border-bottom: 1px dashed rgb(0, 102, 204); cursor: pointer;" class="yshortcuts" id="lw_1266821133_5"&gt;kasih sayang&lt;/span&gt;, wahai Muhammad sesungguhnya aku menghadap kepadamu dan minta tuhanmu melaluimu agar dibukakan mataku, Ya Allah berilah ia syafaat untukku dan berilah aku syafaat". Utsman berkata:"Demi Allah, kami belum lagi bubar dan belum juga lama pembicaraan kami, orang itu telah datang kembali dengan segar bugar".&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 36pt;"&gt;
&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 36pt;"&gt;
&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 36pt;"&gt;
&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 36pt;"&gt;
&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 36pt;"&gt;
&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 36pt;"&gt;
&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 36pt;"&gt;Dari hadits ini, praktik tawassul adalah absah dalam ibadah, secara implisit hal ini tidak hanya membenarkan tawassul kepada orang saleh yang masih hidup (seperti Nabi yang waktu itu masih hidup) tetapi juga membenarkan keabsahan tawassul melalui orang yang sudah meninggal dunia juga, karena dari gambaran hadits tersebut, Rasulullah saww mengajarkan rangkaian lafadz do’a tanpa menyampaikan keharamannya untuk dibaca apabila beliau telah meninggal dunia. Artinya setiap memiliki hajat-hajat yang serupa, lafadz do’a tersebut bisa dibaca kapan saja, tidak ada syarat atau kaitannya dengan kehidupan dan kematian Rasulullah saww. Pada hakikatnya, tawassul melalui orang yang masih hidup atau sudah meninggal bukan melalui tubuh fisik, kehidupan atau kematian, tetapi melalui makna positif (ma’na tayyib) yang melekat pada orang itu baik dalam keadaan masih hidup atau sudah meninggal. Tubuh hanyalah kendaraan yang memuat makna, yang dalam dirinya tetap dihormati baik dalam keadaan masih hidup atau sudah meninggal.&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 36pt;"&gt;
&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 36pt;"&gt;
&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 36pt;"&gt;
&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 36pt;"&gt;
&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 36pt;"&gt;
&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 36pt;"&gt;
&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 36pt;"&gt;Dalam surah an-Nisa’ ayat 64, Allah SWT berfirman: “Dan kami tidak mengutus seseorang Rasul melainkan untuk ditaati dengan seizin Allah. Dan sungguh, sekiranya mereka setelah menzalimi dirinya datang kepadamu (Muhammad), lalu memohon ampun kepada Allah, dan Rasulpun memohonkan ampun untuk mereka, niscaya mereka mendapati Allah Maha Penerima Taubat lagi Maha Penyayang”. Ayat ini menegaskan ketaatan kepada Rasulullah saww tidak memiliki kaitan dengan kehidupan dan kematian beliau, meskipun Rassullah saww sudah meninggal dunia sehingga kaum muslimin pada masa ini tidak hidup bersama beliau dan tidak bisa bertemu langsung namun ajaran-ajaran, pesan-pesan moral serta sabda-sabdanya adalah keniscayaan untuk ditaati bagi segenap kaum muslimin tanpa terkecuali disetiap tempat dan masa. Karenanya demikian pula dengan kasih sayang Rasulullah terhadap umatnya, setiap dari umatnya yang telah menzalimi diri mereka sendiri ‘datang’ kepada Rasulullah dan memohon ampun kepada Allah SWT maka Rasulullah saww pun turut memohonkan ampun buat mereka. Pada bagian yang lain banyak ayat-ayat Al-Qur’an yang mengindikasikan bahwa kematian bukanlah akhir dari kehidupan. Adalah salah besar jika memahami bahkan meyakini bahwa dengan kematian segala sesuatu yang menyangkut dengan manusia berakhir sudah dan tidak ada yang tersisa dari manusia selain tubuh fisiknya yang secara bertahap kembali melebur menjadi tanah. Al-Qur’an menegaskan bahwa kematian fisik tidak meniscayakan kehidupan ruh juga turut berakhir, melainkan ruh terus hidup meski telah berpisah dengan raganya. Allah SWT berfirman, “Dan janganlah kamu mengatakan terhadap orang-orang yang gugur di jalan Allah, (bahwa mereka itu) mati; bahkan &lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;(sebenarnya) mereka itu hidup, tetapi kamu tidak menyadarinya.” (Qs. Al-Baqarah: 154). Tidak ada keraguan sama sekali, bahwa Rasulullah saww adalah yang termasuk gugur di jalan Allah bahkan yang paling utama. Berdasarkan ayat ini, pada hakikatnya Rasulullah saww masih hidup, masih mendapat rezeki dan nikmat-nikmat dari Tuhannya, maka berdoa dengan menjadikan beliau saww sebagai wasilah masih tetap absah dan berlaku sebagaimana sahabat-sahabat Nabi dimasanya melakukannya. Karenanya, bagi ulama atau kelompok Islam yang mempersyaratkan bahwa tawwasul yang diperbolehkan adalah melalui perantaraan orang-orang shalih selagi masih hidup maka bertawassul melalui Rasulullah saww dan orang-orang yang gugur di jalan Allah termasuk dalam kategori tawassul yang diperbolehkan, dan dalil untuk menyebutnya syirik atau kesesatan tidak cukup kuat sebab akan mendapat penentangan dari Allah SWT, “… mereka tidaklah mati, mereka itu hidup, tetapi kamu tidak menyadarinya.”&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;
&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;
&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;
&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;
&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;
&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; color: rgb(255, 0, 0);"&gt;&lt;b&gt;Kasih Sayang yang Tak Berkesudahan&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;
&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;
&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;
&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;
&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;Saya nukilkan satu ayat lagi yang semakin mempertegas bahwa terpisahnya ruh Rasulullah saww dengan jasadnya bukanlah akhir hubungan dan keterikatan beliau dengan umatnya. Allah SWT berfirman, “Sesungguhnya Allah dan para malaikat-Nya bershalawat untuk Nabi. Wahai orang-orang yang beriman. Bershalawatlah kamu untuk Nabi dan ucapkanlah salam dengan penuh penghormatan kepadanya.” (Qs. Al-Ahzab: 56). Perintah Allah SWT untuk mengucapkan salam dengan penuh penghormatan kepada Rasulullah saww bukanlah salam-salam tanpa makna atau sekedar formalitas belaka. Ketika Rasulullah saww bersabda bahwa menjawab salam wajib hukumnya, maka perintah Allah SWT kepada&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;orang-orang beriman untuk menyampaikan salam kepada Nabi Muhammad saww meniscayakan kenyataan yang takkan terbantahkan bahwa Nabi Muhammad saww akan menjawab setiap salam yang disampaikan kepadanya. &lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 36pt;"&gt;
&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 36pt;"&gt;
&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 36pt;"&gt;
&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 36pt;"&gt;
&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 36pt;"&gt;
&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 36pt;"&gt;
&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;Menakjubkan! Adalah sangat tidak adil, jika kaum muslimin yang hidup sezaman dengan Rasulullah saww setiap mereka menzalimi diri, cukup dengan mendatangi Rasulullah saww dan memohon ampun kepada &lt;span class="yshortcuts" id="lw_1266821133_6"&gt;Allah SWT&lt;/span&gt; dan Rasulullah saww pun turut memohonkan ampun hanya berlaku semasa Rasulullah saww hidup dan kaum muslimin pasca wafatnya Rasulullah saww tidak memiliki kesempatan serupa untuk dimohonkan ampun oleh Rasulullah saww sementara kewajiban-kewajiban syariat terus berlaku untuk segenap kaum muslimin di setiap masa termasuk mengucapkan salam penghormatan kepada Rasulullah saww. Sangat tidak adil, jika sahabat-sahabat setiap berdosa dapat segera menemui Nabi dan meminta agar Nabi memohonkan bagi mereka ampunan Allah diyakini sebagai tauhid, begitu juga putra-putra Nabi Ya’qub as yang telah meminta kepada ayah mereka agar memohonkan ampunan Allah bagi mereka (sebagaimana tersurat dalam &lt;span class="yshortcuts" id="lw_1266821133_7"&gt;surah Yusuf&lt;/span&gt; ayat 97-98) disebut &lt;span style="border-bottom: 1px dashed rgb(0, 102, 204); cursor: pointer;" class="yshortcuts" id="lw_1266821133_8"&gt;sebagai bagian dari&lt;/span&gt; tauhid namun ketika permohonan ampun kepada Allah SWT melalui Nabi-Nya setelah wafatnya disebut sebagai syirik dan membatalkan keimanan. &lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 36pt;"&gt;
&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 36pt;"&gt;
&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 36pt;"&gt;
&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 36pt;"&gt;
&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 36pt;"&gt;
&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 36pt;"&gt;
&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 36pt;"&gt; &lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;Untuk mengakhiri tulisan ini, saya nukilkan dua riwayat yang semoga dapat menghilangkan keraguan kita akan keabsahan bertawassul kepada Nabi saww, bahwa tanpa beban psikologis apapun kita katakan, tawassul &lt;span style="border-bottom: 1px dashed rgb(0, 102, 204); cursor: pointer;" class="yshortcuts" id="lw_1266821133_9"&gt;adalah salah satu&lt;/span&gt; mukjizat dan karomah kenabian, Nabi Muhammad saww. Adalah wajar, Rasululah saww sebagai makhluk Allah yang terkasih dan memiliki kedudukan (jah / maqom / wajih) yang sangat tinggi di sisi Allah, diberi otoritas oleh Allah untuk menjadi perantara (wasilah) dan tempat meminta pertolongan (istighotsah) kepada Allah SWT.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 36pt;"&gt;
&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 36pt;"&gt;
&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 36pt;"&gt;
&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 36pt;"&gt;
&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 36pt;"&gt;
&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 36pt;"&gt;
&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 36pt;"&gt;
&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;Berkata al-Hafidz Abu Abdillah Muhammad bin Musa an-Nukmani dalam karyanya yang berjudul “Mishbah adz-Dzolam”; Sesungguhnya al-Hafidz Abu Said as-Sam’ani menyebutkan satu riwayat yang pernah kami nukil darinya yang bermula dari Khalifah Ali bin Abi Thalib yang pernah mengisahkan: “Telah datang kepada kami seorang badui setelah tiga hari kita mengebumikan Rasulullah. Kemudian ia menjatuhkan dirinya ke pusara Rasul dan membalurkan tanah (kuburan) di atas kepalanya seraya berkata: Wahai Rasulullah, engkau telah menyeru dan kami telah mendengar seruanmu. Engkau telah mengingat Allah dan kami telah mengingatmu. Dan telah turun ayat; “Sesungguhnya Jikalau mereka ketika menganiaya dirinya datang kepadamu, lalu memohon ampun kepada Allah, dan rasulpun memohonkan ampun untuk mereka, tentulah mereka mendapati Allah Maha Penerima Taubat lagi Maha Penyayang” (QS an-Nisa: 64) dan aku telah menzalimi diriku sendiri. Dan aku mendatangimu agar engkau memintakan ampun untukku. Lantas terdengar seruan dari dalam kubur: Sesungguhnya Dia (Allah) telah mengampunimu”. (Lihat: Kitab “Wafa’ al-Wafa’” karya as-Samhudi 2/1361)&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 36pt;"&gt;
&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 36pt;"&gt;
&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 36pt;"&gt;
&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 36pt;"&gt;
&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 36pt;"&gt;
&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 36pt;"&gt;
&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;Ad-Darami (dalam Sunan Ad-Darami: 1/56), meriwayatkan: Penghuni &lt;span class="yshortcuts" id="lw_1266821133_10"&gt;Madinah&lt;/span&gt; mengalami paceklik yang sangat parah. Lantas mereka mengadu kepada Aisyah (ummul Mukminin). Lantas Aisyah mengatakan: “Lihatlah pusara Nabi! Jadikanlah ia (kuburan) sebagai penghubung menuju langit sehingga tidak ada lagi penghalang dengan langit. Lantas ia (perawi) mengatakan: Kemudian mereka (penduduk Madinah) melakukannya, kemudian turunlah hujan yang banyak hingga tumbulah rerumputan dan gemuklah onta-onta dipenuhi dengan lemak. Maka saat itu disebut dengan tahun “al-fatq” (sejahtera)”. &lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 36pt;"&gt;
&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 36pt;"&gt;
&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 36pt;"&gt;
&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 36pt;"&gt;
&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 36pt;"&gt;
&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 36pt;"&gt;
&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 36pt;"&gt;
&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;Konklusinya adalah, jika kaum muslimin yang bertemu dan hidup bersama Rasulullah saww setiap melakukan kesalahan atau memiliki hajat bisa memohon kepada Allah SWT dengan perantaraan Nabi, maka kaum muslimin setelahnya pun bisa melakukannya. Rasullah saww adalah rahmat bagi semesta alam, kebaikan dan keberkahannya tidak hanya didapatkan oleh orang-orang yang semasanya dan tidak pula berakhir dengan wafatnya. Kepada Nabi Muhammad saww, Allah SWT berfirman, “…dan berdoalah untuk mereka. Sesungguhnya doamu itu (menumbuhkan) kententraman jiwa bagi mereka. Allah Maha Mendengar, Maha Mengetahui.” (Qs. At-Taubah: 103). &lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;
&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;
&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;
&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;
&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;
&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;Allahumma inni atawajjahu ilaika binabiyyika nabiyyirrahmati Muhammadin shallallahu ‘alaihi wa alihi…&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;Ya Allah, sesungguhnya aku memohon kepada-Mu dan menghadap kepada-Mu dengan (perantaraan) Nabi-Mu, nabi pembawa rahmat, Nabi Muhammad, shalawat atasnya dan atas keluarganya…&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;
&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;
&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;
&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;
&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;
&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;
&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;Wallahu ‘alam bishshawwab&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;
&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;
&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;
&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;
&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;
&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;Qom, 7 Rabiul Awal 1431 H&lt;/p&gt;





&lt;/div&gt;

&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6808511174156263273-7061845160882183638?l=abi-azzahra.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://abi-azzahra.blogspot.com/feeds/7061845160882183638/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=6808511174156263273&amp;postID=7061845160882183638&amp;isPopup=true' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6808511174156263273/posts/default/7061845160882183638'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6808511174156263273/posts/default/7061845160882183638'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://abi-azzahra.blogspot.com/2010/02/tawassul-tanda-cinta-nabi-pada-ummatnya.html' title='Tawassul, Tanda Cinta Nabi pada Ummatnya'/><author><name>Ismail Amin</name><uri>http://www.blogger.com/profile/00461561157182799656</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://bp0.blogger.com/_b535izL1kDU/R54Ij8cN26I/AAAAAAAAAA8/7WbjvsXb9Tg/S220/Aku.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/_b535izL1kDU/S4Ips8s8sPI/AAAAAAAAA1o/FeHMseJYVog/s72-c/ee2df881e051dd22.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6808511174156263273.post-1012502950497487904</id><published>2009-12-22T23:36:00.000-08:00</published><updated>2009-12-22T23:49:37.051-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Agama'/><title type='text'>Revolusi Al-Husain, Inspirasi yang Tak Pernah Habis</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://4.bp.blogspot.com/_b535izL1kDU/SzHLdcifrLI/AAAAAAAAA1Y/GF9huQVZYks/s1600-h/7.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0px auto 10px; display: block; text-align: center; cursor: pointer; width: 320px; height: 217px;" src="http://4.bp.blogspot.com/_b535izL1kDU/SzHLdcifrLI/AAAAAAAAA1Y/GF9huQVZYks/s320/7.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5418335533440937138" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Karbala terletak beberapa kilo meter dari hulu sungai Eufrat di barat laut Kufah. Tanah Karbala awalnya bernama Kur Babal lalu disingkat menjadi Karbala untuk memudahkan pengucapan. Kata Babal dalam nubuat Yesaya berarti gurun laut (shahra' al bahr) sebuah lembah luas yang dibelah oleh sungai Eufrat. Versi lainnya, disebut Karbala karena pada zaman Babilonia disana terdapat tempat penyembahan. Karb berarti tempat penyembahan, tempat sembahyang dan tempat suci dan kata 'Abala dalam bahasa Aramea berarti Tuhan, sehingga Karbala artinya tanah suci Tuhan. Kitab-kitab samawi sebelumnya menyebut tanah tersebut Karbala, karena dinubuatkan di tempat inilah terjadi kesulitan dan bencana yang sangat memilukan hati. Karb dalam bahasa Arab artinya kesulitan dan bala artinya bencana. Al-Kitab, memberitakan bahwa di Karbala inilah terjadi penyembelihan yang teramat dahsyat, yang digambarkan pedang akan makan sampai kenyang dan akan puas minum darah mereka (Yeremia 46:1).












































Sejarahpun mengabadikan, Karbala adalah hamparan sahara yang menyuguhkan genangan darah dan air mata suci putera-puteri Rasul. 10 Muharram 61 Hijriah, Imam Husain bersama 72 pengikutnya — termasuk di dalamnya anak-anak — syahid dibantai oleh sekitar 30.000 tentara Yazid bin Muawiyyah di padang Karbala, Irak. Kepala Imam dan para syuhada dipenggal dan diarak keliling kota. Sangat disayangkan, peristiwa tragis ini kurang mendapat apresiasi bahkan dari kaum muslimin sendiri. Diantara buku-buku sejarah yang menumpuk diperpustakaan kita, sulit kita temukan buku yang membahas pembantaian Karbala, seakan-akan peristiwa ini tidak ada pentingnya untuk dikaji dan diapresiasi, sedangkan yang dibantai secara tragis adalah Imam Husain, cucu Rasulullah yang tersisa. Rasul bersabda tentangnya, "Husain berasal dariku dan aku berasal darinya. Allah mencintai siapa yang mencintainya. Siapa menyakitinya berarti menyakitiku"








































Karbala bukanlah sebuah peristiwa sejarah yang berhenti pada 10 Muharram, tetapi merupakan titik balik yang sangat penting bagi aqidah Islam yang agung. Yang dilakukan Imam Husain as di Karbala adalah revolusi tauhid, yakni revolusi yang –menurut Ali Syariati- gugusannya dimulai oleh nabi Ibrahim as, diledakkan secara sempurna oleh Nabi Muhammad saww, dipertahankan hidup oleh Imam Husain as dan berakhir pada Imam Mahdi. Ali Syariati merasa perlu mengingatkan, bahwa melupakan riwayat Imam Husain as sebagai mata rantai yang lepas dari rangkaian sejarah tidak bedanya memotong bagian tubuh manusia yang masih hidup untuk dilakukan penelitian atasnya. Perlawanan yang dikobarkan Imam Husain adalah hikayat kebebasan yang dikubur hidup-hidup oleh pisau kezaliman pada setiap zaman dan tempat. Karenanya semangat itu perlu kita hidupkan kembali.





























&lt;span style="font-weight: bold; color: rgb(255, 0, 0);"&gt;Pentingnya Mengenang Karbala&lt;/span&gt;
























Kebijakan Muawiyah bin Abu Sufyan mengangkat Yazid putranya sendiri sebagai khalifah atas kaum muslimin adalah awal pemicu prahara tak berkesudahan dalam tubuh umat Islam. Pengangkatan ini tidak hanya mengakhiri keagungan dan kecemerlangan Daulah Islamiyah yang telah dibangun oleh Rasulullah saww dan dijaga oleh keempat sahabat beliau yang mulia namun juga telah mengoyak-ngoyak tatanan politik Islam yang berkeadilan. Para sejarahwan menuliskan Yazid bukanlah orang yang layak menjadi khalifah, ia dzalim dan sering tampak secara terang-terangan menginjak-injak sunnah Rasulullah. Untuk memutlakkan kekuasaannya atas kaum muslimin, Yazid bin Muawiyah meminta baiat dan pengakuan dari Imam Husain as, sebagai orang yang paling alim dimasanya.
























Disinilah kondisi lebih pelik bermula, berhadapan dengan kekuatan besar dan kekuasaan Yazid, kematian adalah sesuatu yang tidak bisa ditawar lagi ketika memilih menolak berbaiat. Sebenarnya bisa saja Imam Husain as menganggap jalan menuju surga tidak hanya terbatas pada berjuang di bawah kilatan pedang. Jihad bukanlah satu-satunya jalan menuju surga, bukankah dengan hidup zuhud, menyingkirkan diri dari keramaian, menyibukkan diri dengan ibadah di sudut-sudut mesjid adalah jalan yang lebih mudah dan aman menempuh surga?. Tetapi tidak bagi al-Husain, surga bukanlah satu-satunya tujuan dan impiannya. Beliau harus melaksanakan tugas yang diemban dan taklif yang saat itu berada dipundaknya, mempertahankan kebenaran dan revolusi Islam yang telah diledakkan sang kakek. Menurut Imam Husain as, dasar kepercayaan Islam adalah kekuatan perlawanan dan pembebas. Islam tidak semata-mata memuat deretan do’a dan ibadah melainkan perlawanan yang bergelora. Mungkin dengan semangat itulah, Islam hakiki akan tampak, sebagaimana diturunkan pertama kali, menjadi pembebas bagi mereka yang berada dalam ketertindasan. Baginya, mengosentrasikan jiwa dan pikiran di sudut-sudut mesjid dan rumah-rumah kosong adalah pengkhianatan terhadap revolusi Islam. Dengan kekuatan yang tersisa, Imam Husain as mengajak keluarganya untuk memilih kematian daripada harus mengakui kekuasaan Yazid yang menumpahkan tinta lain selain Islam dalam pemerintahannya.



















Imam Husain berangkat melawan untuk membela kebenaran, yakni kebenaran bagi semua umat manusia. Jadi perlawanan tersebut dengan esensinya akan terus berlangsung selama-lamanya. Dimanapun seorang melakukan perlawanan terhadap kezaliman, disitulah Karbala. Setiap tusukan pedang pada hari Asyura adalah tusukan terhadap penguasa yang dzalim pada periode kapanpun. Itulah perlawanan yang mulai membara dan terus membara selama masih ada kedzaliman di atas muka bumi, selama masih ada pemerintah yang dzalim, selama masih ada aqidah dipermainkan. Itulah perlawanan yang takkan mereda, terutama saat ini ketika intimidasi menimpa banyak bangsa, aqidah dan agama dipermainkan untuk mengokohkan kezaliman, pengrusakan dan membenarkan kebiadaban segelintir manusia atas manusia lainnya
Antoane Bara dalam bukunya The Saviour Husain dalam Kristinitas (Citra, 2007) menulis, Al-Husain adalah pelita Islam yang menerangi batin agama-agama hingga akhir zaman. Ajaran-ajaran revolusi Imam Husain, perlawanan terhadap ketidak adilan, kebebasan dan kemerdekaan jiwa, altruisme (ajaran rela berkorban) bukankah ini batin agama-agama sepanjang masa? Revolusi Al-Husain adalah lompatan keberanian dalam penjara-penjara hegemoni pada zamannya. Sebuah citarasa yang tinggi. Kalimat syahadat, La ila haillallah adalah simbol universitas kesyahidan, yakni kebebasan, tidak ada ketundukan kepada selain Allah. Allah SWT berfirman, "Janganlah kalian mengira bahwa orang-orang yang terbunuh di jalan Allah itu mati, tetapi mereka hidup" Demikianlah Al Husain tetap hidup, hidup di sisi Allah, di dalam hati, jiwa dan pikiran orang-orang yang memerdekakan jiwanya. Hidup dalam perasaan, di atas mimbar, di dalam majelis-majelis, dalam slogan-slogan perlawanan, hidup dalam buku. Gerakan, semangat dan misi Al-Husain di Karbala, di hari Asyura akan selalu menginspirasi setiap gerakan revolusi di dunia, di setiap masa. Revolusi Al-Husainlah yang menginspirasi Mahatma Ghandi membawa rakyat India menuju pembebasan dari penjajahan Inggris. Di penghujung abad 20 Imam Khomeini telah menuntun kafilah dan semangat Asyura meruntuhkan Imperium yang berkuasa 2.500 tahun membuktikan Revolusi Al-Husain mengungguli dunia dan zaman. Kullu Yaumin As-Syura , Kullu ardin Karbala, semua hari adalah As-Syura, semua tempat adalah Karbala.

















Wallahu 'alam bishshawwab &lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6808511174156263273-1012502950497487904?l=abi-azzahra.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://abi-azzahra.blogspot.com/feeds/1012502950497487904/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=6808511174156263273&amp;postID=1012502950497487904&amp;isPopup=true' title='1 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6808511174156263273/posts/default/1012502950497487904'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6808511174156263273/posts/default/1012502950497487904'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://abi-azzahra.blogspot.com/2009/12/revolusi-al-husain-inspirasi-yang-tak.html' title='Revolusi Al-Husain, Inspirasi yang Tak Pernah Habis'/><author><name>Ismail Amin</name><uri>http://www.blogger.com/profile/00461561157182799656</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://bp0.blogger.com/_b535izL1kDU/R54Ij8cN26I/AAAAAAAAAA8/7WbjvsXb9Tg/S220/Aku.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/_b535izL1kDU/SzHLdcifrLI/AAAAAAAAA1Y/GF9huQVZYks/s72-c/7.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6808511174156263273.post-2538086097362048969</id><published>2009-12-19T23:36:00.000-08:00</published><updated>2009-12-19T23:38:38.448-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Agama'/><title type='text'>Studi Kritis Hadits “Kurun Generasi Terbaik”</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: justify;" class="fullpost"&gt; &lt;meta equiv="Content-Type" content="text/html; charset=utf-8"&gt;&lt;meta name="ProgId" content="Word.Document"&gt;&lt;meta name="Generator" content="Microsoft Word 12"&gt;&lt;meta name="Originator" content="Microsoft Word 12"&gt;&lt;link rel="File-List" href="file:///C:%5CDOCUME%7E1%5Ccofe%5CLOCALS%7E1%5CTemp%5Cmsohtmlclip1%5C01%5Cclip_filelist.xml"&gt;&lt;!--[if gte mso 9]&gt;&lt;xml&gt;  &lt;o:officedocumentsettings&gt;   &lt;o:relyonvml/&gt;   &lt;o:allowpng/&gt;  &lt;/o:OfficeDocumentSettings&gt; &lt;/xml&gt;&lt;![endif]--&gt;&lt;link rel="themeData" href="file:///C:%5CDOCUME%7E1%5Ccofe%5CLOCALS%7E1%5CTemp%5Cmsohtmlclip1%5C01%5Cclip_themedata.thmx"&gt;&lt;link rel="colorSchemeMapping" href="file:///C:%5CDOCUME%7E1%5Ccofe%5CLOCALS%7E1%5CTemp%5Cmsohtmlclip1%5C01%5Cclip_colorschememapping.xml"&gt;&lt;!--[if gte mso 9]&gt;&lt;xml&gt;  &lt;w:worddocument&gt;   &lt;w:view&gt;Normal&lt;/w:View&gt;   &lt;w:zoom&gt;0&lt;/w:Zoom&gt;   &lt;w:trackmoves/&gt;   &lt;w:trackformatting/&gt;   &lt;w:punctuationkerning/&gt;   &lt;w:validateagainstschemas/&gt;   &lt;w:saveifxmlinvalid&gt;false&lt;/w:SaveIfXMLInvalid&gt;   &lt;w:ignoremixedcontent&gt;false&lt;/w:IgnoreMixedContent&gt;   &lt;w:alwaysshowplaceholdertext&gt;false&lt;/w:AlwaysShowPlaceholderText&gt;   &lt;w:donotpromoteqf/&gt;   &lt;w:lidthemeother&gt;EN-US&lt;/w:LidThemeOther&gt;   &lt;w:lidthemeasian&gt;X-NONE&lt;/w:LidThemeAsian&gt;   &lt;w:lidthemecomplexscript&gt;FA&lt;/w:LidThemeComplexScript&gt;   &lt;w:compatibility&gt;    &lt;w:breakwrappedtables/&gt;    &lt;w:snaptogridincell/&gt;    &lt;w:wraptextwithpunct/&gt;    &lt;w:useasianbreakrules/&gt;    &lt;w:dontgrowautofit/&gt;    &lt;w:splitpgbreakandparamark/&gt;    &lt;w:dontvertaligncellwithsp/&gt;    &lt;w:dontbreakconstrainedforcedtables/&gt;    &lt;w:dontvertalignintxbx/&gt;    &lt;w:word11kerningpairs/&gt;    &lt;w:cachedcolbalance/&gt;   &lt;/w:Compatibility&gt;   &lt;m:mathpr&gt;    &lt;m:mathfont val="Cambria Math"&gt;    &lt;m:brkbin val="before"&gt;    &lt;m:brkbinsub val="--"&gt;    &lt;m:smallfrac val="off"&gt;    &lt;m:dispdef/&gt;    &lt;m:lmargin val="0"&gt;    &lt;m:rmargin val="0"&gt;    &lt;m:defjc val="centerGroup"&gt;    &lt;m:wrapindent val="1440"&gt;    &lt;m:intlim val="subSup"&gt;    &lt;m:narylim val="undOvr"&gt;   &lt;/m:mathPr&gt;&lt;/w:WordDocument&gt; &lt;/xml&gt;&lt;![endif]--&gt;&lt;!--[if gte mso 9]&gt;&lt;xml&gt;  &lt;w:latentstyles deflockedstate="false" defunhidewhenused="true" defsemihidden="true" defqformat="false" defpriority="99" latentstylecount="267"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="0" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Normal"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="9" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="heading 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="9" qformat="true" name="heading 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="9" qformat="true" name="heading 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="9" qformat="true" name="heading 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="9" qformat="true" name="heading 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="9" qformat="true" name="heading 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="9" qformat="true" name="heading 7"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="9" qformat="true" name="heading 8"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="9" qformat="true" name="heading 9"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="39" name="toc 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="39" name="toc 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="39" name="toc 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="39" name="toc 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="39" name="toc 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="39" name="toc 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="39" name="toc 7"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="39" name="toc 8"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="39" name="toc 9"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="35" qformat="true" name="caption"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="10" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Title"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="1" name="Default Paragraph Font"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="11" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Subtitle"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="22" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Strong"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="20" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Emphasis"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="59" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Table Grid"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" unhidewhenused="false" name="Placeholder Text"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="1" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="No Spacing"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="60" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Shading"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="61" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light List"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="62" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Grid"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="63" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="64" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="65" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="66" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="67" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="68" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="69" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="70" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Dark List"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="71" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Shading"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="72" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful List"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="73" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Grid"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="60" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Shading Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="61" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light List Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="62" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Grid Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="63" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 1 Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="64" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 2 Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="65" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 1 Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" unhidewhenused="false" name="Revision"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="34" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="List Paragraph"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="29" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Quote"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="30" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Intense Quote"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="66" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 2 Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="67" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 1 Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="68" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 2 Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="69" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 3 Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="70" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Dark List Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="71" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Shading Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="72" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful List Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="73" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Grid Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="60" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Shading Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="61" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light List Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="62" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Grid Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="63" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 1 Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="64" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 2 Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="65" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 1 Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="66" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 2 Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="67" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 1 Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="68" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 2 Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="69" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 3 Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="70" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Dark List Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="71" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Shading Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="72" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful List Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="73" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Grid Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="60" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Shading Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="61" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light List Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="62" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Grid Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="63" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 1 Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="64" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 2 Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="65" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 1 Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="66" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 2 Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="67" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 1 Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="68" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 2 Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="69" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 3 Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="70" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Dark List Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="71" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Shading Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="72" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful List Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="73" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Grid Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="60" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Shading Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="61" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light List Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="62" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Grid Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="63" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 1 Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="64" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 2 Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="65" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 1 Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="66" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 2 Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="67" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 1 Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="68" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 2 Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="69" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 3 Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="70" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Dark List Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="71" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Shading Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="72" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful List Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="73" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Grid Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="60" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Shading Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="61" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light List Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="62" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Grid Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="63" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 1 Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="64" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 2 Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="65" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 1 Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="66" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 2 Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="67" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 1 Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="68" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 2 Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="69" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 3 Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="70" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Dark List Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="71" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Shading Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="72" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful List Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="73" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Grid Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="60" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Shading Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="61" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light List Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="62" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Grid Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="63" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 1 Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="64" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 2 Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="65" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 1 Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="66" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 2 Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="67" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 1 Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="68" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 2 Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="69" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 3 Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="70" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Dark List Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="71" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Shading Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="72" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful List Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="73" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Grid Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="19" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Subtle Emphasis"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="21" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Intense Emphasis"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="31" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Subtle Reference"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="32" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Intense Reference"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="33" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Book Title"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="37" name="Bibliography"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="39" qformat="true" name="TOC Heading"&gt;  &lt;/w:LatentStyles&gt; &lt;/xml&gt;&lt;![endif]--&gt;&lt;style&gt; &lt;!--  /* Font Definitions */  @font-face 	{font-family:"Cambria Math"; 	panose-1:0 0 0 0 0 0 0 0 0 0; 	mso-font-charset:1; 	mso-generic-font-family:roman; 	mso-font-format:other; 	mso-font-pitch:variable; 	mso-font-signature:0 0 0 0 0 0;} @font-face 	{font-family:Calibri; 	panose-1:2 15 5 2 2 2 4 3 2 4; 	mso-font-charset:0; 	mso-generic-font-family:swiss; 	mso-font-pitch:variable; 	mso-font-signature:-1610611985 1073750139 0 0 159 0;}  /* Style Definitions */  p.MsoNormal, li.MsoNormal, div.MsoNormal 	{mso-style-unhide:no; 	mso-style-qformat:yes; 	mso-style-parent:""; 	margin-top:0cm; 	margin-right:0cm; 	margin-bottom:10.0pt; 	margin-left:0cm; 	line-height:115%; 	mso-pagination:widow-orphan; 	font-size:11.0pt; 	font-family:"Calibri","sans-serif"; 	mso-ascii-font-family:Calibri; 	mso-ascii-theme-font:minor-latin; 	mso-fareast-font-family:Calibri; 	mso-fareast-theme-font:minor-latin; 	mso-hansi-font-family:Calibri; 	mso-hansi-theme-font:minor-latin; 	mso-bidi-font-family:Arial; 	mso-bidi-theme-font:minor-bidi; 	mso-bidi-language:AR-SA;} span.gen 	{mso-style-name:gen; 	mso-style-unhide:no;} .MsoChpDefault 	{mso-style-type:export-only; 	mso-default-props:yes; 	mso-ascii-font-family:Calibri; 	mso-ascii-theme-font:minor-latin; 	mso-fareast-font-family:Calibri; 	mso-fareast-theme-font:minor-latin; 	mso-hansi-font-family:Calibri; 	mso-hansi-theme-font:minor-latin; 	mso-bidi-font-family:Arial; 	mso-bidi-theme-font:minor-bidi; 	mso-bidi-language:AR-SA;} .MsoPapDefault 	{mso-style-type:export-only; 	margin-bottom:10.0pt; 	line-height:115%;} @page Section1 	{size:612.0pt 792.0pt; 	margin:72.0pt 72.0pt 72.0pt 72.0pt; 	mso-header-margin:36.0pt; 	mso-footer-margin:36.0pt; 	mso-paper-source:0;} div.Section1 	{page:Section1;} --&gt; &lt;/style&gt;&lt;!--[if gte mso 10]&gt; &lt;style&gt;  /* Style Definitions */  table.MsoNormalTable 	{mso-style-name:"Table Normal"; 	mso-tstyle-rowband-size:0; 	mso-tstyle-colband-size:0; 	mso-style-noshow:yes; 	mso-style-priority:99; 	mso-style-qformat:yes; 	mso-style-parent:""; 	mso-padding-alt:0cm 5.4pt 0cm 5.4pt; 	mso-para-margin-top:0cm; 	mso-para-margin-right:0cm; 	mso-para-margin-bottom:10.0pt; 	mso-para-margin-left:0cm; 	line-height:115%; 	mso-pagination:widow-orphan; 	font-size:11.0pt; 	font-family:"Calibri","sans-serif"; 	mso-ascii-font-family:Calibri; 	mso-ascii-theme-font:minor-latin; 	mso-hansi-font-family:Calibri; 	mso-hansi-theme-font:minor-latin; 	mso-bidi-language:AR-SA;} &lt;/style&gt; &lt;![endif]--&gt;      &lt;p class="MsoNormal" style="line-height: normal; text-align: center;"&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 150%; font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;;"&gt;Dari Abdullah ibn Mas’ud radhiyallahu anhu, Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda: "Sebaik-baik manusia adalah (yang hidup) di zamanku, kemudian orang-orang setelahnya, kemudian orang-orang setelahnya". HR. Bukhari, no. 2652, Muslim, no. 6635.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="line-height: normal; text-align: center;"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;;"&gt;&lt;o:p&gt;
&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="line-height: normal; text-align: center;"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;;"&gt;&lt;o:p&gt;
&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="line-height: normal; text-align: center;"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;;"&gt;&lt;o:p&gt;
&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="line-height: normal; text-align: center;"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;;"&gt;&lt;o:p&gt;
&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="line-height: normal; text-align: center;"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 150%; font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;;"&gt;Berdasarkan hadits nabi yang diriwayatkan Imam Bukhari dan Imam Muslim di atas, ada tiga kelompok yang merupakan sebaik-baik manusia, yang hidup sezaman dengan Nabi saww yakni para sahabat, zaman setelahnya yakni tabi’in dan zaman setelahnya lagi, yakni generasi tabi’ut tabi’in. Inilah di antara hadits yang biasa digunakan kaum salafiyun dalam mendakwahkan pemahaman dan keyakinan Islam mereka. Dengan berlandaskan hadits ini pula dibuatlah teori baru mengenai bid’ah, bahwa bid’ah adalah apa-apa yang tidak ada pada tiga kurun setelah wafatnya Nabiullah Muhammad saww. Mereka senantiasa berargumentasi, bahwa apapun yang dianggap baik bagi agama ini, maka tiga generasi tersebut niscaya akan lebih dahulu melakukannya, karena mereka adalah sebaik-baik manusia, mereka memiliki pemahaman agama yang hanif, bersih dan lebih mendalam dibanding generas-generasi Islam setelahnya. Karenanya suatu kewajiban, pemahaman dan pendapat apapun mengenai agama ini harus merujuk kepada pemahaman ketiga generasi terbaik tersebut.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="line-height: 150%;"&gt;
&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="line-height: 150%;"&gt;
&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="line-height: 150%;"&gt;
&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="line-height: 150%;"&gt;
&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 150%; font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 150%; font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;;"&gt;Sebagai bentuk kecintaan kepada agama ini yang telah disampaikan dan didakwahkan oleh Nabiullah Muhammad saww, adalah suatu keharusan sejarah untuk senantiasa kritis dan tak berhenti melakukan tahqiq (penelitian) yang serius dan mendalam terhadap apapun yang dianggap bagian dari agama ini, termasuk terhadap hadits-hadits yang dikatakan dari Nabi yang merupakan diantara rujukan umat Islam dalam beraqidah dan beramal. Menelusuri keshahihan sebuah hadits melalui penelusuran sanad dan kejujuran para perawi adalah salah satu di antara metode yang digunakan untuk menjaga kemurnian ajaran Islam dari anasir-anasir yang ingin mencemarinya. Namun tidak pula bisa diabaikan kenyataan sejarah menjadi salah satu tolok ukur keshahihan dan kebenaran sebuah hadits, bahwa Nabiullah saww tidak berbicara dan bersabda berdasarkan hawa nafsu belaka, apa yang beliau sabdakan berasal dari petunjuk Allah swt yang Maha Mengetahui keadaan. Karenanya bisa ditetapkan, bahwa apapun yang disampaikan dan dinubuatkan oleh Nabi akan terbukti dan dipersembahkan oleh kenyataan sejarah. Dengan metode ini kita akan melakukan peninjauan kembali terhadap hadits di atas, benarkah tiga kurun generasi yang katanya disebutkan oleh Nabi saww tersebut adalah generasi terbaik?.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="line-height: 150%;"&gt;
&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="line-height: 150%;"&gt;
&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="line-height: 150%; color: rgb(255, 0, 0);"&gt;
&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="line-height: 150%; color: rgb(255, 0, 0);"&gt;
&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 150%; font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="line-height: 150%; color: rgb(255, 0, 0);"&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 150%; font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;;"&gt;Kriteria Generasi Terbaik&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="line-height: 150%;"&gt;
&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="line-height: 150%;"&gt;
&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="line-height: 150%;"&gt;
&lt;b&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 150%; font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 150%; font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;;"&gt;Permasalahan mendasar yang mesti kita ajukan sebagai pertanyaan, adalah apa yang dijadikan standar dan kriteria sebuah generasi dikatakan terbaik atau terburuk?. Ada tiga tolok ukur asumtif yang biasa diajukan kaum salaf dalam memberikan atribut baik buruknya sebuah generasi.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="line-height: 150%;"&gt;
&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="line-height: 150%;"&gt;
&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="line-height: 150%;"&gt;
&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="line-height: 150%;"&gt;
&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 150%; font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 150%; font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;;"&gt;Pertama, sebuah generasi disebut terbaik karena tidak adanya perselisihan di antara mereka dalam masalah ushuluddin dan aqidah. Kedua, karena mereka hidup dalam kondisi yang aman, tentram, sejahtera dan penuh dengan rasa persaudaraan. Ketiga, karena mereka menunjukkan loyalitas terbaik terhadap cita-cita agama dan merealisasikannya dalam tataran implementasi. Mereka gigih menuntut ilmu, berdakwah dan berjihad demi bertumbuh dan tersebarnya ajaran agama ini.
&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="line-height: 150%;"&gt;
&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="line-height: 150%;"&gt;
&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="line-height: 150%;"&gt;
&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 150%; font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 150%; font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;;"&gt;Namun ketika ketiga kriteria asumtif tersebut kita gunakan untuk membuktikan terbaiknya tiga generasi pasca wafatnya Rasulullah saww, sayangnya tidak satupun dari ketiganya yang membenarkan hadits tersebut, bahkan oleh Al-Qur’an sendiri dan kontradiktif dengan hadits Nabi lainnya.
&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="line-height: 150%;"&gt;
&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="line-height: 150%;"&gt;
&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="line-height: 150%;"&gt;
&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 150%; font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 150%; font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;;"&gt;Jika tolok ukurnya adalah akidah yang shahih dan bersih, maka sebuah keniscayaan ketiga generasi yang dikatakan terbaik, orang-orang muslim semuanya akan berpegang teguh pada satu akidah yang benar sebagaimana yang disampaikan Rasulullah saww, dan akidah yang batil dan menyimpang baru akan muncul dan lahir setelah tiga generasi terbaik tersebut. Namun sejarah lahirnya beragam sekte, firqah dan mazhab dalam masyarakat Islam menyangkal klaim tersebut. Khawarij muncul dipenghujung tahun ke-30 H, mereka memiliki akidah yang batil mengenai keimanan, mereka membunuhi kaum muslimin yang berselisih paham dengan keyakinan mereka, dengan mudah mereka menyematkan kekafiran kepada banyak kaum muslimin, sehingga hamparan bumi bersimbah darah karenanya. Belum berakhir satu abad pertama, kembali muncul Murjiah, mereka mengajak umat Islam untuk berlepas dari tatanan dan komitmen syariat dengan slogan yang terkesan humanis dan elegan, “Selama seseorang masih beriman, maksiat apapun yang dilakukan tidak tercatat sebagai dosa”. Iman bagi paham ini cukup dengan ucapan, sehingga berbagai kewajiban agama, moralitas dan berbagai kode etik diremehkan dan ditinggalkan. Tidak lama berselang setelah itu, muncul kembali Mu’tazilah pada tahun 105 H dengan jarak yang singkat sebelum wafatnya Hasan al Bashri. Kehadiran paham baru ini semakin membuat jurang perselisihan dan perpecahan kaum muslimin semakin menganga dan melebar dan bahkan terkadang perselisihan yang ada mesti diselesaikan dengan pertumpahan darah.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="line-height: 150%;"&gt;
&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="line-height: 150%;"&gt;
&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="line-height: 150%;"&gt;
&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="line-height: 150%;"&gt;
&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 150%; font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 150%; font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;;"&gt;Jika ukurannya adalah terpeliharanya keamanan, ketentraman dan seluruh kaum muslimin menyatu dan bersaudara dalam ikatan ukhuwah islamiyah yang erat dan mapan maka fakta sejarahpun secara tegas menampiknya. Sketsa politik generasi awal Islam menjadi lembaran sejarah paling hitam dalam sejarah perjalanan umat Islam. Kurun generasi awal disertai serangkaian peristiwa tragik yang menorehkan tinta hitam di kening umat Islam. Khalifah kedua sampai keempat mati bersimbah darah karena fitnah yang dipicu kaum muslimin sendiri. Kecuali khalifah kedua, khalifah ketiga dan keempat gugur terbunuh di tangan kaum muslimin sendiri. Meletusnya perang saudara, diantaranya perang Jamal dan Shiffin, pemberontakan Muawiyah dan kaum Khawarij terhadap khalifah yang dibaiat mayoritas kaum muslimin jelas merupakan penyimpangan dan kesalahan besar yang mengoyak-ngoyak persaudaraan dan persatuan kaum muslimin. Tidak bisa dilupakan pula terbantainya Imam Husain as, cucu kesayangan Rasulullah saww yang disebutkannya sebagai penghulu pemuda surga dimasa pemerintahan rezim Yazid bin Muawiyah. Imam Husain as beserta ahlul bait nabi lainnya syahid dibantai secara kejam dan bengis di padang Karbala, tanpa pembelaan, tanpa pertolongan dari mayoritas kaum muslimin yang tersebar di semenanjung Arab, Makah, Madinah, Syam, Thaif dan Kufah serta daerah-daerah Islam lainnya, sementara masih segar dalam ingatan mereka Rasulullah saww pernah bersabda dan mengingatkan agar Ahlul Bait dan itrah suci beliau dijaga dan senantiasa berpegang teguh dengan pemahaman mereka sebagaimana telah menjadikan Al-Qur’an sebagai pegangan dan pedoman hidup. Tidak cukup puas dengan membantai keluarga Nabi, Yazid bin&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Muawiyah, atas perintahnya kehormatan kota Madinah telah tercemari, pembunuhan sejumlah sahabat Nabi dan Tabi’in, perampasan harta dan pembakaran rumah-rumah penduduk, bahkan Ka’bahpun dirusak dan diserang. Tragedi ini dikenal dikalangan ulama dan sejarahwan sebagai tragedi Al-Harrah.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="line-height: 150%;"&gt;
&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="line-height: 150%;"&gt;
&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="line-height: 150%;"&gt;
&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="line-height: 150%;"&gt;
&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 150%; font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 150%; font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;;"&gt;Semua peristiwa dan tragedi yang memilukan hati ini terjadi sebelum genap abad pertama Hijriyah, lalu bagaimana mungkin generasi tersebut disebut dan diklaim sebagai generasi terbaik dan utama?. Sangat sulit melakukan penalaran secara sehat, bahwa Rasulullah saww telah menetapkan bahwa generasi yang kaum musliminnya saling bunuh sesamanya disebut sebagai generasi terbaik. K&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 150%; font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;;"&gt;alau masa sahabat, tabi'in dan tabi'ut tabi'in adalah sebaik-baik masa tentu tidak akan terjadi fitnah dan perpecahan umat. Kalau mereka semuanya adalah orang-orang terbaik dan pilihan tentu tidak akan terjadi pertumpahan darah di antara mereka, tentu tidak akan ada sahabat yang membunuh sahabat lainnya. Sebab orang adil tidak akan membunuh orang lain yang diharamkan Allah SWT untuk dibunuh. Seandainya seluruh sahabat adil dan masa mereka adalah masa terbaik tentu tidak akan terjadi pembunuhan kepada Imam Ali as dan kedua putranya yang merupakan buah kecintaan Rasulullah, dan juga pembantaian atas ratusan sahabat pada tragedi Al-Harrah. Kalau masa mereka adalah masa terbaik tentu kekhalifaan diserahkan kepada yang terbaik diantara mereka, bukan diserahkan kepada orang yang menyalahgunahkan kekhalifaan dan merubahnya menjadi kerajaan untuk kepentingan keluarganya.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="line-height: 150%;"&gt;
&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="line-height: 150%;"&gt;
&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="line-height: 150%;"&gt;
&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="line-height: 150%;"&gt;
&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="line-height: 150%;"&gt;
&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 150%; font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 150%; font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 150%; font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;;"&gt;Jika tolok ukur yang digunakan adalah sikap konsisten dan berpegang teguh terhadap nilai-nilai luhur yang dibawa Rasulullah saww maka sulit bagi kita membenarkan hadits yang diriwayatkan Syaikhain (Bukhari dan Muslim) tersebut mengenai khairu ummah. Bagaimana kita dapat mengimani keshahihan hadits tersebut sementara Al-Qur’an lebih banyak menyematkan atribut dan sifat-sifat negatif terhadap kebanyakan kaum muslimin yang sezaman dengan Nabiullah Muhammad saww?. Al-Qur’an menginformasikan kepada kita kebanyakan dari mereka yang sezaman dengan Nabi sebagai orang-orang munafik, yang keterlaluan dalam kemunafikannya &lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 150%; font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;;"&gt;(Qs. At-Taubah: 101)&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 150%; font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;;"&gt;, masih berpenyakit dalam hatinya, tidak memiliki keteguhan iman, dan berprsangka jahiliyah terhadap Allah swt (&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 150%; font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;;"&gt;Qs. Ali-Imran: 154)&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 150%; font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;;"&gt;, sangat enggan berjihad &lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 150%; font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;;"&gt;(Qs. An-Nisa': 71-72 dan At-Taubah ayat 38)&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 150%; font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;;"&gt;, melakukan kekacauan dalam barisan &lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 150%; font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;;"&gt;(Qs. At-Taubah: 47), &lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 150%; font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;;"&gt;lari tunggang langgang ketika berhadapan dengan musuh &lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 150%; font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;;"&gt;(Qs. Ali-Imran: 153 dan&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 150%; font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;;" lang="FI"&gt; At-Taubah : 25&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 150%; font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;;"&gt;), &lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 150%; font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;;"&gt;bahkan kebanyakan mereka lebih memilih perdagangan dan permainan daripada mendengarkan Nabiullah Muhammad saww berkhutbah, “&lt;span class="gen"&gt;Dan apabila mereka melihat perniagaan atau permainan, mereka bubar untuk menuju kepadanya dan mereka tinggalkan kamu sedang berdiri (berkhotbah). Katakanlah: "Apa yang di sisi Allah lebih baik daripada permainan dan perniagaan", dan Allah Sebaik-baik Pemberi rezki.” (Qs. Al-Jumu’ah: 11).
&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="line-height: 150%;"&gt;
&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="line-height: 150%;"&gt;
&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="line-height: 150%;"&gt;
&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="line-height: 150%;"&gt;
&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="line-height: 150%;"&gt;
&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 150%; font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;;"&gt;&lt;span class="gen"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 150%; font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;;"&gt;Tolok ukur kebenaran hadits adalah tidak mungkin hadits yang disampaikan Rasulullah saww bertentangan dengan realita yang terjadi. Karenanya secara pribadi, saya menyangsikan keshahihan hadits ‘khairuh ummah’ ini, &lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;hatta diriwayatkan dan ditulis oleh yang diklaim sebagai Amirul Mu’minin fil hadith sekalipun.. Kalau disuruh memilih saya lebih memilih hadits yang menyatakan, "Sebaik-baik manusia adalah yang paling banyak manfaatnya bagi manusia yang lain." Ataupun firman Allah SWT, "Sungguh sebaik-baiknya diantara kamu di sisi Allah ialah yang paling bertakwa." (Qs. Al-Hujurat: 13).&lt;span style=""&gt; 
&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="line-height: 150%;"&gt;
&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="line-height: 150%;"&gt;
&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="line-height: 150%;"&gt;
&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="line-height: 150%;"&gt;
&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 150%; font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;;"&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;/span&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 150%; font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;;"&gt;Akh, maafkan saya, kalau lebih memilih firman Allah SWT yang suci dari pada ucapan yang belum terjamin kemutlakannya pernah disabdakan oleh Nabi-Nya. Allah SWT berfirman, "Demi masa. Sungguh, manusia berada dalam kerugian, kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan kebajikan serta saling menasehati untuk kebenaran dan saling menasehati dalam &lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;kesabaran." (Qs. Al-'Asr: 1-3). Ayat ini menegaskan manusia senantiasa berada dalam kebaikan selama mereka beriman, mengerjakan kebajikan, saling menasehati untuk kebenaran dan saling menasehati dalam kesabaran. Allah SWT tidak mempersyaratkan masa dan zaman di mana seorang hambanya hidup dan bermukim. Seorang manusia tidak pernah memilih dan tidak punya ikhtiar mengenai kapan dan dimana ia dilahirkan, sebab telah menjadi hak mutlak Allah swt untuk menetapkannya. Karenanya berdasarkan falsafah keadilan Ilahi adalah keniscayaan tidak menjadikan semata-mata masa dan tempat lahir sebagai persyaratan seseorang disebut memiliki kebaikan dan kemuliaan, melainkan berdasarkan kekuatan iman, kedalaman ilmu dan keikhlasan amal.&lt;span style=""&gt;   
&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="line-height: 150%;"&gt;
&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="line-height: 150%;"&gt;
&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="line-height: 150%;"&gt;
&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="line-height: 150%;"&gt;
&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 150%; font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;;"&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;/span&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 150%; font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;;"&gt;Saya menemukan sebuah hadits dalam kitab Shahih Muslim no. 578 Jilid I pada Bab Jenazah (Mayyit), dari Abbad bin Abdullah bin Zubair ra, katanya, bahwa Aisyah memerintahkan supaya jenazah Sa’ad bin Abi Waqqash dimasukkan ke dalam masjid untuk dishalatkan. Perintah itu diingkari oleh banyak orang. Berkata Aisyah, “Alangkah lekasnya orang-orang telah lupa, bahwa Rasulullah saw telah menyembahyangkan jenazah Suhail bin Albaidha’ di dalam Masjid”. Kita bisa mengambil kesimpulan sendiri mengenai inti dari riwayat ini, dari sisi mana generasi mereka dikatakan terbaik di antara generasi Islam jika mereka sebagaimana kesaksian Ummul Mukminin Aisyah Radiallahu anha begitu lekas lupa dengan sunnah Nabi-Nya yang mereka menyaksikan sendiri Rasulullah saww mempraktikannya?. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 150%; font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;;"&gt;Sebagai penutup, saya menyertakan sebuah hadits lainnya yang justru menafikan hadits ‘khairu ummah’ yang diriwayatkan Bukhari-Muslim yang kita bicarakan. D&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 150%; font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;;"&gt;iriwayatkan dari Abu Jum’ah ra yang berkata “Suatu saat kami pernah makan siang bersama Rasulullah saww dan ketika itu ada Abu Ubaidah bin Jarrah ra yang berkata “Wahai Rasulullah saww adakah orang yang lebih baik dari kami? Kami memeluk Islam dan berjihad bersama Engkau&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 150%; font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;;"&gt;”&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 150%; font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;;"&gt;. Beliau saww menjawab “Ya ada, yaitu kaum yang akan datang setelah kalian, yang beriman kepadaku padahal mereka tidak melihatku”.&lt;span dir="RTL"&gt;&lt;/span&gt;&lt;span dir="RTL"&gt;&lt;span dir="RTL"&gt;&lt;/span&gt; &lt;/span&gt;Hadis ini diriwayatkan oleh Imam Ahmad dalam Musnad Ahmad juz 4 hal 106 hadis no 17017 tahqiq Syaikh Syu’aib Al Arnauth dimana beliau berkata hadis ini shahih.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="line-height: 150%;"&gt;
&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="line-height: 150%;"&gt;
&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="line-height: 150%;"&gt;
&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="line-height: 150%;"&gt;
&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 150%; font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 150%; font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;;"&gt;Hadis ini juga diriwayatkan oleh Ad Darimi dalam Sunan Ad Darimi juz 2 hal 398 hadis no 2744 dengan sanad yang shahih. Dan diriwayatkan pula oleh Al Hakim dalam kitabnya Mustadrak Ash Shahihain juz 4 hal 85 hadis no 6992 dimana Beliau berkata hadis tersebut shahih dan disepakati oleh Adz Dzahabi dalam Talkhis Al Mustadrak .&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="line-height: 150%;"&gt;
&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="line-height: 150%;"&gt;
&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="line-height: 150%;"&gt;
&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="line-height: 150%;"&gt;
&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 150%; font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 150%; font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;;"&gt;Saya tidak akan banyak bercerita soal hadis tersebut karena kata demi kata dalam hadis tersebut sudah sangat jelas. Kata-kata Abu Ubaidah bin Jarrah ra adakah orang yang lebih baik dari kami? Itu merujuk pada para Sahabat Nabi . Rasulullah saww menjawab bahwa ada yang lebih baik yaitu kaum setelah Sahabat, yang beriman kepada Rasulullah saww walaupun mereka tidak melihat Beliau saww. &lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 150%; font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;;"&gt;Lantas ketika ada riwayat lain menyatakan bahwa sahabat-sahabat nabi adalah generasi terbaik tidakkah ini kontradiktif dan memancing kita untuk tidak begitu saja menerima?. Islam adalah perjuangan mencari, bukan kepasrahan menerima. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 150%; font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;;"&gt;"Dan mereka membuat tipu daya, maka Allah pun membalas tipu daya. Dan Allah sebaik-baik pembalas tipu daya." (Qs. Ali-Imran: 54).&lt;span style=""&gt; 
&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="line-height: 150%;"&gt;
&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="line-height: 150%;"&gt;
&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="line-height: 150%;"&gt;
&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 150%; font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;;"&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;/span&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 150%; font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;;"&gt;Wallahu ‘alam bishshawaab
&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="line-height: 150%;"&gt;
&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 150%; font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 150%; font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;;"&gt;Qom, 15 Desember 2009 &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 150%; font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; 


&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6808511174156263273-2538086097362048969?l=abi-azzahra.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://abi-azzahra.blogspot.com/feeds/2538086097362048969/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=6808511174156263273&amp;postID=2538086097362048969&amp;isPopup=true' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6808511174156263273/posts/default/2538086097362048969'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6808511174156263273/posts/default/2538086097362048969'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://abi-azzahra.blogspot.com/2009/12/studi-kritis-hadits-kurun-generasi.html' title='Studi Kritis Hadits “Kurun Generasi Terbaik”'/><author><name>Ismail Amin</name><uri>http://www.blogger.com/profile/00461561157182799656</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://bp0.blogger.com/_b535izL1kDU/R54Ij8cN26I/AAAAAAAAAA8/7WbjvsXb9Tg/S220/Aku.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6808511174156263273.post-2100276486156148252</id><published>2009-12-15T00:20:00.000-08:00</published><updated>2009-12-15T00:24:49.616-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Agama'/><title type='text'>Pluralisme, Ancaman Laten Agama-agama</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://4.bp.blogspot.com/_b535izL1kDU/SydHel_8ivI/AAAAAAAAA1Q/HslKmLrbtps/s1600-h/e4dab1a34a2bc1ca.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 10px 10px 0pt; float: left; cursor: pointer; width: 86px; height: 125px;" src="http://4.bp.blogspot.com/_b535izL1kDU/SydHel_8ivI/AAAAAAAAA1Q/HslKmLrbtps/s320/e4dab1a34a2bc1ca.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5415375667858279154" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;span style="color: rgb(255, 0, 0);"&gt;-Sebuah Tanggapan-&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;




Dalam sejarah kelahiran, pertumbuhan dan perkembangannya, agama-agama seringkali mengalami proses yang disebut oleh Luthfi  Assyaukanie sebagai ”proses heretisasi”, yakni upaya menjauh dari pemahaman ortodoks. Jika proses heretisasi berlangsung mulus, sebuah agama baru bakal muncul; jika tidak, konflik dan ketegangan akan terus terjadi. Proses heretisasi terjadi sepanjang sejarah. Jika kaum Yahudi menganggap Kristiani sebagai agama sempalan Yahudi, Kristen justru memandang Islam sebagai sekte sesat. Begitupun sebaliknya agama-agama yang datang belakangan memandang agama sebelumnya sebagai agama sesat jika tidak mengakui ajaran-ajaran baru yang mereka bawa.









Munculnya keragaman pemahaman dan keyakinan  adalah realitas yang sulit untuk dipungkiri. Perbedaanpun tidak hanya berkisar dalam tataran fikih (fhuru') bahkan merembes pada persoalan ushul (asas) pada ajaran agama. Setiap agama, baik yang telah punah ataupun masih tumbuh, yang kuno maupun modern, yang teistik maupun non-teistik, lahir dan hadir lengkap dengan klaim kebenaran. Terlepas apakah klaim tersebut valid atau tidak, rasional atau irrasional.







Doktrin kebenaran  yang dijunjung tinggi masing-masing agama, selama ini dianggap sebagai pemantik dan pemicu terjadinya kekerasan atas nama agama. Sejarah agama-agama selalui disertai dengan tragedi fanatisme yang berdarah-darah. Mulai dari ‘penyaliban’ Isa al Masih, sampai dengan aksi terorisme abad 21 yang menyisakan kisah pilu yang tak berkesudahan.








Hal ini menggugah tokoh pemikir dan kaum cendekiawan untuk berkompetisi mengusulkan solusi-solusi yang tidak hanya teoritis namun juga praktis. Mulai dari liberalisme agama abad ke-15, Protestanisme liberal abad ke-19, hingga pluralisme agama abad ke-21. John Hick, yang dianggap sebagai konseptor isme terakhir ini, berupaya mengikis religious zeal (kecemburuan agama) dengan mengeluarkan konsep, “Semua agama adalah respon terhadap keberadaan tertinggi yg bersifat transenden (Allah-yang disebutnya The Real).” Karenanya bagi John Hick, semua agama sama saja, intinya adalah mengajarkan pada kebaikan.








Sebagai tawaran solusi, pluralisme agama memang tampil simpatik, cerdas dan humanis, karena ingin membangun teologi yang toleran, inklusif dan berupaya menempatkan masing-masing penganut agama sejajar satu sama lain. Dalam pandangan pluralisme agama, tidak ada agama yang salah, dan tidak boleh ada satupun pemeluk agama yang mengklaim hanya agamanya sendiri sebagai jalan satu-satunya menuju Tuhan. Meskipun terkesan luhur, teologi pluralisme agama ini tidak luput dari beberapa kritikan terutama mengenai ancamannya yang serius terhadap pertumbuhan dan perkembangan agama-agama.








&lt;span style="font-weight: bold; color: rgb(255, 0, 0);"&gt;Bahaya Pluralisme &lt;/span&gt;









Pada dasarnya, paham pluralisme agama menyangkali iman sejati agama-agama. Yudaisme mempunyai doktrin the chosen people (masyarakat terpilih). Kebenaran dan keselamatan hanya berdasar atas etnisitas yang sempit, yaitu bangsa Yahudi. Katolik punya doktrin extra ecclesiam nulla salus (di luar gereja tidak ada keselamatan), Protestan dengan doktrin outside Christianity, no salvation (di luar Kristen tidak ada keselamatan). Dan Islam memiliki doktrin, “Tidak ada agama yang diridhai kecuali Islam”. Karena dapat mereduksi keunikan pandangan masing-masing agama, paham pluralisme agamapun mendapat perlawanan sengit dari tokoh agama dan lembaga keagamaan. Tahun 2000, Vatikan telah menolak paham pluralisme dengan mengeluarkan dekrit Dominus Jesus. Tahun 2004, seorang pendeta Kristen di Malang menulis buku serius tentang paham pluralisme agama berjudul 'Theologia Abu-Abu: Tantangan dan Ancaman Racun Pluralisme dalam Teologi Kristen Masa Kini'. Tahun 2006, Media Hindu  menerbitkan satu buku berjudul 'Semua Agama Tidak Sama' dan tidak ketinggalan MUI juga mengeluarkan fatwa yang menolak paham pluralisme agama (Adian Husaini, 2006).







Kritikan lainnya, tokoh-tokoh pluralis dalam menganut paham pluralisme agamanya cenderung in-konsisten. Jika mereka menyebut salah orang-orang yang menganggap pemahaman dan keyakinan sendirilah yang paling benar, maka mereka melakukan kesalahan yang serupa jika menyakini paham pluralisme agamalah yang paling benar dan mampu memberi keselamatan bagi umat manusia. Jika seorang  pluralis anti terhadap kaum eksklusivis yang meyakini hanya agamanya saja yang benar, maka ia bukanlah pluralis yang konsisten. Pluralis sejati adalah yang memberi ruang kebebasan berkeyakinan hatta terhadap kaum eksklusivis sekalipun tanpa perlu repot-repot menggugat keyakinan mereka. Dalam tataran praktis, kaum pluralis justru ingin mengungguli klaim kebenaran masing-masing agama dengan mengklaim diri, paham pluralisme agama sajalah yang mutlak benar.  Toleransi yang dibangun atas dasar keyakinan bahwa semua agama benar adalah toleransi yang semu. Toleransi sejati justru muncul sebagaimana yang dikatakan Frans Magnis Suseno seorang cendekiawan Kristen, ”meskipun saya tidak meyakini iman-kepercayaan Anda, meskipun iman Anda bukan kebenaran bagi saya, saya sepenuhnya menerima keberadaan Anda. Saya gembira bahwa Anda ada, saya bersedia belajar dari Anda, saya bersedia bekerja sama dengan Anda.”








Karenanya, menurut saya, tidak ada yang salah dari keyakinan bahwa hanya agama dan keyakinan kita sendirilah yang benar. Siapapun berhak mengatakan dan meyakini itu. Umat Kristiani perlu berani mengakui perkataan Yesus "Akulah jalan dan kebenaran dan hidup. Tidak ada seorangpun yang datang kepada Bapa, kalau tidak melalui Aku.” Sikap demikian bukanlah fanatik tetapi konsisten. Fanatik adalah meyakini sesuatu tanpa sikap kritis dan studi mendalam. Seseorang yang belum pernah belajar semua agama tetapi tiba-tiba mengatakan semua agama samalah yang justru fanatik dan berbahaya. Yang salah dan tidak bisa dibenarkan menurut saya, adalah pemaksaan keyakinan. Menuntut orang lain memiliki keyakinan yang sama dengan apa yang kita yakini. Islam mengajarkan bukan semata-mata keyakinan orang lain yang harus dijadikan musuh, melainkan kedzaliman. Lakum dinikum waliyadin (untukmu agamamu dan untukku agamaku), adalah konsep yang paling jelas akan adanya ajaran toleran terhadap keyakinan lain dalam Islam. Karenanya, bukan ajaran yang menyatakan semua agama sama yang harus dikembangkan untuk mengajak pemeluk agama beragama secara dewasa. Sebab pandangan itu justru merusak dan meruntuhkan sendi-sendi dan syariat khusus masing-masing ajaran agama. Kebutuhan mendasar adalah memberikan dorongan teologis bahwa kendatipun setiap agama memiliki perbedaan norma dan doktrin, namun dalam tataran empirik mempunyai kesamaan realitas, yakni kesamaan kemanusiaan. Manusia yang keinginannya sederhana saja, ingin menjadi orang baik-baik, berbudi, bermoral, berguna di hadapan manusia lain dan mulia di hadapan Tuhannya. Kita tidak harus berpikir sama, tapi marilah kita sama-sama berpikir, untuk perdamaian dan tatanan kehidupan yang lebih baik. Wallahu ‘alam bishshawwab
&lt;span style="font-size:85%;"&gt;










Ismail Amin                                            







                                                                                  Mahasiswa Mostafa International University Republik Islam Iran &lt;/span&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6808511174156263273-2100276486156148252?l=abi-azzahra.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://abi-azzahra.blogspot.com/feeds/2100276486156148252/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=6808511174156263273&amp;postID=2100276486156148252&amp;isPopup=true' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6808511174156263273/posts/default/2100276486156148252'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6808511174156263273/posts/default/2100276486156148252'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://abi-azzahra.blogspot.com/2009/12/pluralisme-ancaman-laten-agama-agama.html' title='Pluralisme, Ancaman Laten Agama-agama'/><author><name>Ismail Amin</name><uri>http://www.blogger.com/profile/00461561157182799656</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://bp0.blogger.com/_b535izL1kDU/R54Ij8cN26I/AAAAAAAAAA8/7WbjvsXb9Tg/S220/Aku.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/_b535izL1kDU/SydHel_8ivI/AAAAAAAAA1Q/HslKmLrbtps/s72-c/e4dab1a34a2bc1ca.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6808511174156263273.post-3073721817066212931</id><published>2009-12-01T23:53:00.000-08:00</published><updated>2009-12-01T23:59:03.242-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Agama'/><title type='text'>Tatanan Politik Islam yang Terkoyak</title><content type='html'>&lt;div class="fullpost"&gt; &lt;h3 class="post-title entry-title"&gt; &lt;a href="http://abi-azzahra.blogspot.com/2008/12/tatanan-politik-islam-yang-terkoyak.html"&gt;&lt;em&gt;(Mengenang Peristiwa Ghaidir Khum yang Terlupakan) &lt;/em&gt;&lt;/a&gt; &lt;/h3&gt;   &lt;p&gt;&lt;a href="http://4.bp.blogspot.com/_b535izL1kDU/SUjSZRfIE1I/AAAAAAAAAhc/ZYpYoY8Kw4Y/s1600-h/Febri138.jpg"&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5280701894724424530" style="margin: 0px 10px 10px 0px; float: left; width: 240px; height: 320px;" alt="" src="http://4.bp.blogspot.com/_b535izL1kDU/SUjSZRfIE1I/AAAAAAAAAhc/ZYpYoY8Kw4Y/s320/Febri138.jpg" border="0" /&gt;&lt;/a&gt; &lt;/p&gt;&lt;div class="fullpost" align="justify"&gt;&lt;em&gt;
&lt;/em&gt;&lt;/div&gt;&lt;em&gt;&lt;/em&gt;&lt;div class="fullpost" align="justify"&gt; &lt;em&gt;&lt;/em&gt;&lt;/div&gt;&lt;em&gt;&lt;/em&gt;&lt;em&gt;&lt;/em&gt; &lt;p&gt;&lt;em&gt;&lt;/em&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;em&gt;&lt;/em&gt;&lt;/p&gt;&lt;em&gt;&lt;/em&gt;&lt;em&gt;&lt;/em&gt;&lt;div class="fullpost" align="justify"&gt; &lt;em&gt;&lt;/em&gt;Dalam keyakinan kita sebagai muslim, Islam merupakan sistem keyakinan dan tata nilai yang memuat aturan-aturan Ilahi yang universal dan hakiki, mencakup berbagai sisi kemanusiaan baik bersifat personal (berkaitan dengan diri sendiri) maupun publik (berkaitan dengan di luar diri). Sistem ini ditujukan untuk mengatur prikehidupan manusia, agar manusia bisa menegakkan keadilan baik ke sisi terdalam dirinya maupun ke luar dirinya. Karenanya, sesungguhnya ketika Allah SWT berfirman: "Sungguh, Kami telah mengutus rasul-rasul Kami dengan bukti-bukti yang nyata dan Kami turunkan bersama mereka kitab dan neraca (keadilan) agar manusia dapat berlaku adil." (Qs. Al-Hadid : 25), maka sebetulnya Islam tengah menyuguhkan sebuah bentuk tatanan politik.






&lt;/div&gt;      &lt;div class="fullpost" align="justify"&gt; &lt;/div&gt;&lt;div class="fullpost" align="justify"&gt; Ayat di atas menegaskan tatanan politik yang dikehendaki Islam berasas pada keadilan. Menurut Islam keadilan harus dirasakan oleh semua, baik oleh yang meyakini Islam sebagai agama yang dipeluknya maupun yang mengingkarinya. Karenanya, keadilan pada Islam berdiri pada pondasi kepastian dan keyakinan. Islam berbeda dengan tatanan politik buatan manusia yang dibangun atas dasar perkiraan dan prediksi semata. Kemutlakan kebenaran ajaran Islam ini meniscayakan adanya orang-orang utusan yang telah mendapat sibgah (celupan) Ilahi, sehingga setiap perkataan dan tindak tanduknya merupakan manifestasi Ilahi, tidak semillipun meleset dari apa yang dikehendaki-Nya. Gambaran ringkasnya ada pada kepribadian nabi Muhammad saww yang mengaktualisasikan aturan Ilahi itu dalam seluruh hembusan nafas dan perilakunya. Ketika umat manusia mengikuti segenap tuntunan sang Nabi, maka kemuliaan dan keagungan mampu mereka raih. Namun ketika justru berpaling, Al-Qur'an membahasakan, "Mereka akan mendapat azab yang pedih".






&lt;/div&gt;      &lt;div class="fullpost" align="justify"&gt; &lt;/div&gt;&lt;div class="fullpost" align="justify"&gt; Karenanya lewat tulisan ini saya ingin menegaskan, kesengsaraan dan ketimpangan sebagai 'azab pedih' yang dirasakan umat Islam saat ini, bukan bersumber dari aturan-aturan Islam yang tidak update, yang ketinggalan zaman, melainkan umat Islam sendiri yang telah 'nakal' mengganti nikmat Allah dengan hukum-hukum buatan manusia. Kita tidak bisa menghindari kenyataan akan traumanya umat Islam akan sistem kepemimpinan politik Islam. Dalam perjalanan sejarah masyarakat Islam, tatanan politik berkeadilan yang hendak diwujudkan Islam pernah mengalami terpaan badai prahara. Dunia Islam pernah dipimpin oleh khalifah-khalifah yang terkadang salah dan tidak becus dalam menjalankan kekuasaannya bahkan melakukan kedzaliman yang tiada tara yang membuat sebagian orang trauma dengan pemerintahan Islam. Menurut saya, wajar saja, sebab yang dianggap khalifah oleh umat Islam adalah orang-orang yang sebenarnya tidak layak memegang jabatan itu. Untuk membenarkan ketidakbecusan mereka inilah kitapun berpendapat khalifah atau pemimpin bisa saja salah, dan dibuatlah konsep, tidak ada ketaatan kepada pemimpin dalam kemaksiatan. Dikatakanlah pemimpin tidaklah harus yang paling alim, tidaklah mesti yang paling tahu tentang ajaran agama ini, bahkan dengan hadits yang dibuat-buat, ketaatan harus tetap diberikan kepada pemimpin meskipun mereka melakukan kedzaliman. Pendapat seperti ini mendapat tantangan dari Allah SWT yang berfirman di dalam Surah al-Zumar (39) : 9: "Katakanlah: Adakah sama orang-orang yang mengetahui dengan orang-orang yang tidak mengetahui? Sesungguhnya orang yang berakallah yang dapat menerima pelajaran". Dan firman-Nya di dalam Surah Yunus (10):35: "Maka apakah orang-orang yang menunjuki jalan kepada kebenaran itu lebih berhak diikuti ataukah orang-orang yang tidak dapat memberi petujuk? Mengapa kamu (berbuat demikian)? Bagaimana kamu mengambil keputusan?"





&lt;/div&gt;      &lt;div class="fullpost" align="justify"&gt;  &lt;strong&gt;&lt;span style="color: rgb(255, 0, 0);"&gt;Laporan Sejarahwan






&lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/div&gt;      &lt;div class="fullpost" align="justify"&gt; Ya, begitulah. Aqidah sesat inilah yang melahirkan pemimpin-pemipin durjana yang berjubah Islam. Tersebutlah pemerintahan Muawiyah yang didalamnya Imam Hasan terbunuh dengan racun yang menghancurkan ulu hatinya, Yazid yang dimasa pemerintahannya Imam Husain syahid terbantai secara tragis. Padahal keduanya adalah cucu kesayangan Rasulullah saww. Tersebutlah Marwan ibnul Hakam yang merubah sunnah-sunnah Rasulullah dengan kekuasaannya, padahal ayahnya pernah dilaknat oleh Rasulullah saww sementara Marwan saat itu berada pada tulang sulbi ayahnya. Aisyah ra menyebut Marwan sebagai tetesan dari laknat Allah. Hadits tentang ini diriwayatkan oleh An-Nasai dan Al Hakim mensahihkannya dalam Mustadrak al-Hakim (4 : 481). Tak terperihkan penderitaan yang harus dialami ulama-ulama Islam sepanjang pemerintahan khalifah-khalifah dari Dinasti Bani Umayyah dan Bani Abbasiyah. Cambukan, siksaan, pemenjaraan bahkan sampai dibunuh harus menjadi tebusan atas dakwah mereka. Melihat kenyataan ini, Imam Khomeini ra mengatakan, "Islam tumbuh dan berkembang karena pengorbanan dan kesyahidan putra putri tercintanya."




&lt;/div&gt;    &lt;div class="fullpost" align="justify"&gt; Kita lihat apa yang dilaporkan sejarahwan atas ulah khalifah-khalifah yang menyalahi ajaran Islam dan mengabaikan syarat-syarat yang dibutuhkan seorang pemimpin. Dalam kitab tarikhnya, Al-Kamil fi Tarikh, Daru'l Kitab Al-Arabi, Beirut, jilid 12 hlm 375 Ibnu Atsir menuliskan kesaksiaannya yang melihat dengan mata kepala sendiri ulah raja-raja dan khalifah-khalifah 25 tahun sebelum kejatuhan Baghdad. Ia menggambarkan para raja-raja ini tidak ubahnya seperti hewan yang hanya memikirkan persoalan perut dan melampiaskan nafsu syahwat sesuka mereka.




&lt;/div&gt;    &lt;div class="fullpost" align="justify"&gt; Ibnu Katsir dalam al-Bidayah wa'n Nihayah jilid 13 hlm 200 menulis : "Saya memasuki kota Baghdad tahun 656 H. Pada tahun itu saya melihat bala tentara Tartar telah mengepung kota Baghdad, kemudian pasukan Tartar tersebut mengepung istana khalifah, lalu menghujaninya dengan anak panah dari segenap penjuru, sehingga akhirnya mengenai seorang sahaya wanita yang sedang main-main dengan khalifah. Sahaya yang bernama Arfah itu termasuk salah seorang gundik khalifah. Ketika anak panah itu mengenainya, ia sedang menari-nari di hadapan khalifah. Khalifahpun terkejut dan ketakutan.". Apa yang terpetik dalam benak ketika membaca penyaksian Ibnu Katsir ini ?. Mana tanggungjawab sang khalifah sebagai pemimpin ketika justru negara dalam kondisi perang dan genting masih juga bermain-main, bukankah sebagai khalifah dia harusnya memikirkan masa depan rakyatnya dan umat Islam ?. &lt;/div&gt;    &lt;div class="fullpost" align="justify"&gt; Sedangkan laporan sejarahwan Khatib Baghdadi dalam Tarikh Baghdad, menuliskan Khalifah Muqtadir memiliki sebelas ribu orang kebiri dan ribuan budak dari Sicilia, Roma dan Ethiopia dan kemewahan yang tiada taranya dalam sejarah. Cukuplah tiga pengakuan sejarahwan ini yang saya nukilkan.





&lt;/div&gt;    &lt;div class="fullpost" align="justify"&gt; Sejarahwan muslim telah menulis sejarah dengan apa adanya dan laporan-laporan sejarah mereka menunjukkan adanya kenyataan yang tidak terpungkiri, sebagian besar khalifah-khalifah yang diakui sebagai penguasa dan pemimpin atas kaum muslimin mempraktikkan gaya hidup yang hedonisme, penuh kemewahan, menghambur-hamburkan Baitul Mal, menginjak-injak aturan Islam, menyogok ulama untuk mengukuhkan kekuasaan mereka dan menyingkirkan Imam yang sah dan ulama-ulama yang berusaha menyadarkan masyarakat muslim akan kedzaliman mereka. Saya tidak memungkiri adanya kejayaan dan prestasi-prestasi gemilang yang mereka raih, namun apakah kita bisa menyebut pemerintahan mereka Islami ketika kemajuan dan kemakmuran hanya dirasakan segelintir orang sementara jumlah mereka yang tersingkirkan secara sosial tidak terhitung ?. Bisakah mereka disebut sebagai khalifah-khalifah Islam sementara keadilan sebagai prinsip Islam tidak mereka tegakkan ?




&lt;/div&gt;    &lt;div class="fullpost" align="justify"&gt; &lt;strong&gt;&lt;span style="color: rgb(255, 0, 0);"&gt; Pesan Ghadir Khum yang Terabaikan





&lt;/span&gt;&lt;/strong&gt; &lt;/div&gt;    &lt;div class="fullpost" align="justify"&gt; Keberadaan khalifah-khalifah yang menyimpang dari tuntunan Ilahi ini membuat aturan politik Islam terpecah menjadi kepingan-kepingan besar. Sebagian besar umat Islam menyatakan Islam tidak mengurusi persoalan politik, dan sebagiannya lagi justru sibuk menggedor-gedor kesadaran kaum muslimin akan pentingnya politik dan kekhilafaan dalam masyarakat Islam. Kaum muslimin menderita sakit yang memilukan dan menghilangkan simpatik umat lain. Bukan hanya syariat Islam yang diragukan kedigdayaannya menegakkan keadilan, namun juga berimbas kepada penghinaan dan pengolok-olokan nabi Muhammad saww yang dianggap telah menebar teror kemanusiaan bukannya menegakkan keadilan. Allah SWT berfirman, "Yang demikian itu karena sesungguhnya Allah tidak akan mengubah suatu nikmat yang telah diberikan-Nya kepada suatu kaum, hingga kaum itu mengubah yang ada pada diri mereka sendiri. Sungguh, Allah Maha Mendengar, Maha Mengetahui." (Qs. Al-Anfal : 53). Jadi sesungguhnya, bukan Allah SWT tidak menepati janjinya, bahwa umat Islam adalah umat yang terbaik, ummat yang diutus sebagai rahmat bagi seluruh alam, umat washatan yang mampu menegakkan keadilan, melainkan umat ini sendiri yang mengingkari nikmat dan anugerah yang telah diberikan. Umat Islam sendirilah yang berani menorehkan tinta berwarna selain Islam dengan membuat aturan-aturan politik lain lalu kemudian menyebutnya sebagai aturan Islam.




&lt;/div&gt;      &lt;div class="fullpost" align="justify"&gt; Setelah melakukan ibadah Haji Perpisahan (Hajjatul-Wada) tahun 10 H, bersama jemaah haji Rasulullah berhenti di Gaidir Khum. Rasulullah menyampaikan khutbah terakhirnya dihadapan ratusan ribu sahabatnya, diantara penggalan khutbahnya sembari memegang dan mengangkat tangan Imam Ali as tinggi-tinggi, Rasulullah bersabda, "Wahai manusia sekalian ! Allah adalah maulaku dan aku adalah maula kalian, maka barangsiapa yang menjadikan aku maulanya maka Ali ini (juga adalah maulanya." Masih tetap memegang erat tangan Imam Ali as Penguasa mutlak atas manusia berfirman pada Rasullah saww, "Pada hari ini telah Aku sempurnakan agamamu untukmu, dan telah Aku cukupkan nikmat-Ku bagimu dan telah Aku ridhai Islam sebagai agamamu." (Qs. Al-Maidah :3). Ya, kesempurnaan ajaran Islam meniscayakan adanya tatanan politik yang kuat dan cemerlang dalam Islam untuk menegakkan keadilan atas umat manusia, sehingga menjadi ajaran rahmat bagi sekalian alam.



&lt;/div&gt;      &lt;div class="fullpost" align="justify"&gt; Wallahu 'alam bishshawwab


&lt;/div&gt;      &lt;div class="fullpost" align="justify"&gt; Qom, 13 Dzulhijjah 1430 H &lt;/div&gt;


&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6808511174156263273-3073721817066212931?l=abi-azzahra.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://abi-azzahra.blogspot.com/feeds/3073721817066212931/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=6808511174156263273&amp;postID=3073721817066212931&amp;isPopup=true' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6808511174156263273/posts/default/3073721817066212931'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6808511174156263273/posts/default/3073721817066212931'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://abi-azzahra.blogspot.com/2009/12/tatanan-politik-islam-yang-terkoyak.html' title='Tatanan Politik Islam yang Terkoyak'/><author><name>Ismail Amin</name><uri>http://www.blogger.com/profile/00461561157182799656</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://bp0.blogger.com/_b535izL1kDU/R54Ij8cN26I/AAAAAAAAAA8/7WbjvsXb9Tg/S220/Aku.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/_b535izL1kDU/SUjSZRfIE1I/AAAAAAAAAhc/ZYpYoY8Kw4Y/s72-c/Febri138.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6808511174156263273.post-4851428765151733391</id><published>2009-10-29T00:24:00.000-07:00</published><updated>2009-10-29T00:27:32.918-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='kebangsaan'/><title type='text'>Merajut Kembali Toleransi Kebangsaan</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://1.bp.blogspot.com/_b535izL1kDU/SulD1N-p98I/AAAAAAAAA0I/Q7qCGWC85sU/s1600-h/2308c1e5a0f59850.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 10px 10px 0pt; float: left; cursor: pointer; width: 145px; height: 105px;" src="http://1.bp.blogspot.com/_b535izL1kDU/SulD1N-p98I/AAAAAAAAA0I/Q7qCGWC85sU/s320/2308c1e5a0f59850.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5397920209944836034" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;       &lt;span style=""&gt;Pada dasarnya, sejak dahulu rakyat di negeri ini sadar dengan adanya kemajemukan bangsa. Namun kemajemukan itu tidaklah dijadikan dalih untuk saling menyudutkan, justru dijadikan sebagai kekuatan pemersatu menuju terbentuknya republik. Kelompok nasionalis berlatar belakang sekuler, kalangan agamis (Islam), dan kelompok komunis melakukan konsolidasi di bawah payung ideologis bernama keindonesiaan. Perlulah kiranya selalu kita ingat bersama-sama bahwa Sumpah Pemuda, yang dilahirkan sebagai hasil Kongres Pemuda II yang diselenggarakan tanggal 27-28 Oktober 1928 di Jakarta adalah manifestasi yang gemilang dari hasrat kuat kalangan muda Indonesia, yang terdiri dari berbagai suku dan agama, untuk menggalang persatuan bangsa dalam perjuangan melawan kolonialisme &lt;span style="border-bottom: 1px dashed rgb(0, 102, 204); cursor: pointer;" class="yshortcuts" id="lw_1256801144_3"&gt;Belanda&lt;/span&gt;. Atas prakarsa Perhimpunan Pelajar-pelajar Indonesia (PPPI) inilah kongres pemuda itu telah melahirkan Sumpah Pemuda yang berisi: Satu Nusa, Satu Bangsa, Satu Bahasa yaitu  Indonesia&lt;span dir="rtl" lang="FA"&gt;.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="fullpost"&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; direction: ltr; unicode-bidi: embed;"&gt;
&lt;span dir="rtl" style="" lang="FA"&gt; &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; direction: ltr; unicode-bidi: embed;"&gt;&lt;span dir="rtl" style="" lang="FA"&gt;
&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; direction: ltr; unicode-bidi: embed;"&gt;&lt;span dir="rtl" style="" lang="FA"&gt;
&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; direction: ltr; unicode-bidi: embed;"&gt;&lt;span dir="rtl" style="" lang="FA"&gt;
&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; direction: ltr; unicode-bidi: embed;"&gt;&lt;span dir="rtl" style="" lang="FA"&gt; &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; direction: ltr; unicode-bidi: embed;"&gt;&lt;span style=""&gt;Republik  Indonesia  lahir 17 tahun kemudian, yang dijiwai semangat kebersamaan, persatuan, dan toleransi yang tinggi terhadap perbedaan. Semua pihak turut ambil andil dalam lahirnya republik. Meskipun ummat Islam mayoritas namun tak bisa dinafikan bahwa ada umat Khonghucu (Yap Tjwan Bing) yang menjadi anggota BPUPKI dan PPKI. Perlu dicatat pula bahwa sewaktu teks Sumpah Pemuda 28 Oktober 1928 dibacakan, tempatnya di rumah seorang Tionghoa Khonghucu bernama Sie Kong Liong, di Jalan Kramat Raya 106 Jakarta (yang sekarang dijadikan Museum Sumpah Pemuda). Ataupun kendaraan Kepresidenan pertama adalah mobil sumbangan seorang Tionghoa sebagai bentuk kecintaannya kepada republik yang baru terbentuk. Ini perlu dinukilkan karena masih saja ada anggapan, suku Tionghoa tidak memberi andil apa-apa dalam terbentuknya &lt;span style="border-bottom: 1px dashed rgb(0, 102, 204); cursor: pointer;" class="yshortcuts" id="lw_1256801144_4"&gt;Republik Indonesia&lt;/span&gt;&lt;span dir="rtl"&gt;&lt;/span&gt;&lt;span dir="rtl"&gt;&lt;/span&gt;&lt;span dir="rtl" lang="FA"&gt;&lt;span dir="rtl"&gt;&lt;/span&gt;&lt;span dir="rtl"&gt;&lt;/span&gt;. &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; direction: ltr; unicode-bidi: embed;"&gt;
&lt;span dir="rtl" style="" lang="FA"&gt; &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; direction: ltr; unicode-bidi: embed;"&gt;&lt;span dir="rtl" style="" lang="FA"&gt;
&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; direction: ltr; unicode-bidi: embed;"&gt;&lt;span dir="rtl" style="" lang="FA"&gt;
&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; direction: ltr; unicode-bidi: embed;"&gt;&lt;span dir="rtl" style="" lang="FA"&gt;
&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; direction: ltr; unicode-bidi: embed;"&gt;&lt;span dir="rtl" style="" lang="FA"&gt;
&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; direction: ltr; unicode-bidi: embed;"&gt;&lt;span dir="rtl" style="" lang="FA"&gt;
&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; direction: ltr; unicode-bidi: embed;"&gt;&lt;span dir="rtl" style="" lang="FA"&gt; &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; direction: ltr; unicode-bidi: embed;"&gt;&lt;span style=""&gt;Toleransi kebangsaan lagi-lagi dipertontonkan para founding father negeri ini, dalam usaha mempertahankan kemerdekaan. 10 November 1945 dalam kalender sejarah bangsa kita dicatat sebagai hari lahirnya pahlawan-pahlawan bangsa, yang rela mati demi tegaknya sebuah negeri bernama Indonesia . &lt;span style="border-bottom: 1px dashed rgb(0, 102, 204); cursor: pointer;" class="yshortcuts" id="lw_1256801144_5"&gt;Tanpa&lt;/span&gt; mempersoalkan suku, agama dan ras rakyat Indonesia  saling membahu dalam menghadapi musuh bersama. Tentara sekutu sesumbar dapat menguasai Surabaya  dalam 3 hari, namun pertempuran memakan waktu berminggu-minggu, meskipun tentara sekutu mengerahkan kekuatan penuh, namun tidak mudah menundukkan semangat rakyat yang merajut kebersamaan dalam berbagai perbedaan. Tentara sekutu tersentak dan akhirnya paham, Indonesia yang baru berusia 3 bulan, bukan bangsa kecil. Persatuan dan semangat toleran adalah kekuataan yang maha dahsyat, yang tidak tertundukkan. Karenanya tak bisa dipungkiri, rangkaian perjalanan sejarah bangsa Indonesia  telah terbukti begitu kokoh dalam pijakan kemajemukan bangsa, mulai dari suku, agama, ras hingga budaya&lt;span dir="rtl"&gt;&lt;/span&gt;&lt;span dir="rtl"&gt;&lt;/span&gt;&lt;span dir="rtl" lang="FA"&gt;&lt;span dir="rtl"&gt;&lt;/span&gt;&lt;span dir="rtl"&gt;&lt;/span&gt;.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; direction: ltr; unicode-bidi: embed;"&gt;
&lt;span dir="rtl" style="" lang="FA"&gt; &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; direction: ltr; unicode-bidi: embed;"&gt;&lt;span dir="rtl" style="" lang="FA"&gt;
&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; direction: ltr; unicode-bidi: embed;"&gt;&lt;span dir="rtl" style="" lang="FA"&gt;
&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; direction: ltr; unicode-bidi: embed;"&gt;&lt;span dir="rtl" style="" lang="FA"&gt;
&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; direction: ltr; unicode-bidi: embed;"&gt;&lt;span dir="rtl" style="" lang="FA"&gt; &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; direction: ltr; unicode-bidi: embed; color: rgb(255, 0, 0);"&gt;&lt;b&gt;&lt;span style=""&gt;Toleransi Antar Umat Beragama&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; direction: ltr; unicode-bidi: embed;"&gt;
&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; direction: ltr; unicode-bidi: embed;"&gt;
&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; direction: ltr; unicode-bidi: embed;"&gt;
&lt;b&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;span dir="rtl" lang="FA"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; direction: ltr; unicode-bidi: embed;"&gt;&lt;span dir="rtl" style="" lang="FA"&gt;  &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; direction: ltr; unicode-bidi: embed;"&gt;&lt;span style=""&gt;Toleransi beragama yang tinggi sedari dulu telah ditunjukkan oleh umat beragama di Indonesia , baik yang Muslim, Kristiani maupun yang lainnya. Apabila satu pemeluk agama tertentu suatu ketika membangun tempat ibadah, tidak jarang kemudian dibantu oleh umat agama lain. Demikian halnya dalam pembangunan Mesjid &lt;span class="yshortcuts" id="lw_1256801144_6"&gt;Agung&lt;/span&gt; Istiqlal. Mesjid yang merupakan mesjid terbesar di &lt;span style="border-bottom: 1px dashed rgb(0, 102, 204); cursor: pointer;" class="yshortcuts" id="lw_1256801144_7"&gt;Asia Tenggara&lt;/span&gt; pada masanya, dalam proses pembangunannya telah menyimpan satu sejarah toleransi beragama yang sangat tinggi. Disebutkan demikian, karena sang arsitek dari mesjid tersebut adalah seorang penganut Kristen Protestan yang taat. Friedrich Silaban yang oleh Bung Karno menjulukinya sebagai “by the grace of God” karena kemenangannya mengikuti sayembara desain Mesjid Istiqlal. Kebesaran jiwa dari umat Islam sangat jelas terlihat disini. Mereka mau menerima pemikiran atau desain tempat ibadah mereka dari seorang yang non muslim&lt;span dir="rtl"&gt;&lt;/span&gt;&lt;span dir="rtl"&gt;&lt;/span&gt;&lt;span dir="rtl" lang="FA"&gt;&lt;span dir="rtl"&gt;&lt;/span&gt;&lt;span dir="rtl"&gt;&lt;/span&gt;.
&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; direction: ltr; unicode-bidi: embed;"&gt;
&lt;span style=""&gt;&lt;span dir="rtl" lang="FA"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; direction: ltr; unicode-bidi: embed;"&gt;
&lt;span style=""&gt;&lt;span dir="rtl" lang="FA"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; direction: ltr; unicode-bidi: embed;"&gt;
&lt;span style=""&gt;&lt;span dir="rtl" lang="FA"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; direction: ltr; unicode-bidi: embed;"&gt;
&lt;span style=""&gt;&lt;span dir="rtl" lang="FA"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; direction: ltr; unicode-bidi: embed;"&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;span dir="rtl" lang="FA"&gt;
&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; direction: ltr; unicode-bidi: embed;"&gt;&lt;span style=""&gt;Mesjid yang diniatkan untuk melambangkan kejayaan dan kemerdekaan bangsa Indonesia . Mesjid yang merupakan suatu bangunan monumental kebanggaan seluruh umat Islam di Indonesia, di desain dan wakil kepala proyek pembangunannya dijabat oleh seorang Kristiani. Dia menciptakan karya besar untuk saudaranya sebangsa yang beragama Islam, tanpa mengorbankan keyakinannya pada agama yang dianutnya. &lt;span class="yshortcuts" id="lw_1256801144_8"&gt;Ummat&lt;/span&gt; Islampun menunjukkan kebesaran jiwanya dan penghargaan kepada Friedrich Silaban dengan menyebut kubah Mesjid Istiqlal sebagai “Si1aban Dom”, atau Kubah Si1aban. Silaban dan kaum beragama di negeri ini mengukir sejarah, suatu sejarah yang lebih tinggi dari karya sebuah hasil seni atau teknologi. Sejarah kemanusiaan, kebersamaan, toleransi yang tidak akan terlupakan sampai kapanpun.&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Karenanya, keanekaragaman yang selama ini ada menjadi tonggak "bineka tunggal ika" yang kuat dalam menopang berdirinya bangsa Indonesia , mesti tetap dipertahankan. Pluralitas dan multikulturalitas bagi bangsa ini merupakan suatu keniscayaan; sesuatu yang memang harus ada dan tak terbantahkan. Pluralitas dan multikulturalitas yang kita miliki ini telah menciptakan mozaik yang indah dalam tampilan fisik manusia dan budaya Indonesia di sepanjang perjalanan sejarahnya. Sungguh memilukan melihat nilai-nilai pluralitas dan multikulturalitas yang telah tumbuh sejak awal terbentuknya republik ini, di kekekinian seolah-seolah tidak pernah ada. Sementara di sisi lain, eksklusivisme kelompok justru terlihat semakin menonjol. Maka sesungguhnya tak ada satu pun pihak, tak satupun suku, tak satupun agama, yang bisa mengakui keberadaannya tanpa andil pihak lain. Tak satupun. Tak bisa kita pungkiri, kita adalah bagian dari orang lain; ada sebagian dari orang lain dalam diri kita. Mengutip Emha Ainun Nadjib, “Kamu adalah aku yang lain". &lt;span style="border-bottom: 1px dashed rgb(0, 102, 204); cursor: pointer;" class="yshortcuts" id="lw_1256801144_9"&gt;Sikap&lt;/span&gt; dan penerimaan kultural seperti ini tidak akan memberi izin&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;atau permisi kepada siapa pun untuk arogan, menganggap dirinya lebih benar, dan merasa berhak untuk menghakimi pihak lain. Dengan sikap seperti itu, kita pun dapat terhindar dari pelbagai cedera sosial yang belakangan ini menimpa bangsa kita melalui konflik-konflik horizontal maupun vertikal, intelektual maupun fisikal&lt;span dir="rtl"&gt;&lt;/span&gt;&lt;span dir="rtl"&gt;&lt;/span&gt;&lt;span dir="rtl" lang="FA"&gt;&lt;span dir="rtl"&gt;&lt;/span&gt;&lt;span dir="rtl"&gt;&lt;/span&gt;.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; direction: ltr; unicode-bidi: embed;"&gt;
&lt;span dir="rtl" style="" lang="FA"&gt; &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; direction: ltr; unicode-bidi: embed;"&gt;&lt;span dir="rtl" style="" lang="FA"&gt;
&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; direction: ltr; unicode-bidi: embed;"&gt;&lt;span dir="rtl" style="" lang="FA"&gt;
&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; direction: ltr; unicode-bidi: embed;"&gt;&lt;span dir="rtl" style="" lang="FA"&gt;
&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; direction: ltr; unicode-bidi: embed;"&gt;&lt;span dir="rtl" style="" lang="FA"&gt; &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; direction: ltr; unicode-bidi: embed;"&gt;&lt;span style=""&gt;Persatuan bangsa adalah sebuah keniscayaan. Ini bukan sesuatu yang mustahil, para pendahulu kita memiliki kisah-kisah romantis dalam merajut kebersamaan di masa lalu. Perasaan senasib dan sebangsa, badan-badan perjuangan yang berbeda ideologi membentuk front persatuan untuk menghadapi musuh bersama. Pada sisi ini, kita, seluruh bangsa Indonesia  perlu meneladani pola keberagamaan yang telah ditunjukkan generasi-generasi awal bangsa ini. Kita dituntut untuk mengembangkan keagamaan dalam konstruk pemahaman seperti itu sehingga dapat memberikan tawaran segar dan mencerahkan bagi &lt;span class="yshortcuts" id="lw_1256801144_10"&gt;Indonesia  hari ini&lt;/span&gt; dan masa depan. Insya Allah, dengan semangat toleransi kita akan mendapatkan manfaat yang jauh lebih besar dan agar kemanusiaan kita tidak jatuh tersungkur. Mengutip Helen Keller, “Toleration is the greatest gift of the mind - Toleransi adalah anugrah dari pikiran yang paling luar biasa." Mari bekerjasama.&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Wallahu 'alam&lt;span dir="rtl"&gt;&lt;/span&gt;&lt;span dir="rtl"&gt;&lt;/span&gt;&lt;span dir="rtl" lang="FA"&gt;&lt;span dir="rtl"&gt;&lt;/span&gt;&lt;span dir="rtl"&gt;&lt;/span&gt;.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; direction: ltr; unicode-bidi: embed;"&gt;&lt;span dir="rtl" style="" lang="FA"&gt;  &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; direction: ltr; unicode-bidi: embed;"&gt;
&lt;span dir="rtl" style="" lang="FA"&gt; &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; direction: ltr; unicode-bidi: embed;"&gt;&lt;span dir="rtl" style="" lang="FA"&gt;
&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; direction: ltr; unicode-bidi: embed;"&gt;&lt;span dir="rtl" style="" lang="FA"&gt;
&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; direction: ltr; unicode-bidi: embed;"&gt;&lt;span dir="rtl" style="" lang="FA"&gt;
&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; direction: ltr; unicode-bidi: embed;"&gt;&lt;span dir="rtl" style="" lang="FA"&gt; &lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;b&gt;Ismail&lt;/b&gt;&lt;b&gt; Amin
Mahasiswa Mostafa   International University  Republik Islam Iran &lt;/b&gt;


&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6808511174156263273-4851428765151733391?l=abi-azzahra.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://abi-azzahra.blogspot.com/feeds/4851428765151733391/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=6808511174156263273&amp;postID=4851428765151733391&amp;isPopup=true' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6808511174156263273/posts/default/4851428765151733391'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6808511174156263273/posts/default/4851428765151733391'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://abi-azzahra.blogspot.com/2009/10/merajut-kembali-toleransi-kebangsaan.html' title='Merajut Kembali Toleransi Kebangsaan'/><author><name>Ismail Amin</name><uri>http://www.blogger.com/profile/00461561157182799656</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://bp0.blogger.com/_b535izL1kDU/R54Ij8cN26I/AAAAAAAAAA8/7WbjvsXb9Tg/S220/Aku.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/_b535izL1kDU/SulD1N-p98I/AAAAAAAAA0I/Q7qCGWC85sU/s72-c/2308c1e5a0f59850.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6808511174156263273.post-1710124365850147860</id><published>2009-10-25T00:40:00.000-07:00</published><updated>2009-10-25T00:52:54.505-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Agama'/><title type='text'>Iran, Syiah dan Pengaruhnya di Indonesia</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://4.bp.blogspot.com/_b535izL1kDU/SuQDSkm3v8I/AAAAAAAAAzo/8DLScQXrSsI/s1600-h/a04cb05c70d28232.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 10px 10px 0pt; float: left; cursor: pointer; width: 145px; height: 110px;" src="http://4.bp.blogspot.com/_b535izL1kDU/SuQDSkm3v8I/AAAAAAAAAzo/8DLScQXrSsI/s320/a04cb05c70d28232.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5396441871095939010" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Keberhasilan Revolusi Islam Iran yang terinspirasi dari doktrin-doktrin Islam Syiah, dalam banyak hal menghembuskan angin perubahan (the wind of changes), tidak hanya di dalam negeri Iran, peta politik di Timur Tengah namun juga memberikan pengaruh yang tidak sedikit pada pergulatan pemikiran di Indonesia. Tentang pengaruh revolusi tersebut, Dr. Richard N. Frye, ahli masalah Iran di Universitas Harvard, berkomentar: “Revolusi Islam di Iran bukan hanya titik-balik dalam sejarah Iran saja. Revolusi itu juga merupakan satu titik-balik bagi rakyat di seluruh negara- negara Islam, bahkan bagi massa rakyat di dunia ketiga”.











Pemikiran tokoh-tokoh dibalik Revolusi Islam Iran , seperti Ayatullah Khomenei, Syahid Muthahari, Dr. Ali Syariati dan Allamah Thabathabai serta merta menjadi kiblat politik alternatif bagi  cendekiawan dan para pemikir Islam di Indonesia. Karenanya, tidak mengherankan jika kita dengan mudah menemukan intelektual Indonesia dengan begitu fasih mengutip transkrip-transkrip pemikiran Ali Syari’ati, Muthahhari atau pemikir-pemikir Syi’ah lainnya. Bukan hanya Jalaluddin Rahmat yang mendapat gelar Syiah hanya karena menamakan yayasan yang didirikannya: Yayasan Muthahhari. Amien Rais pernah menerima gelar Syi’ah juga, karena dalam banyak kesempatan, ia sering mengutip Ali Syari’ati bahkan juga menyempatkan diri menerjemahkan karya tulis Ali Syariati.












Masuknya karya-karya para pemikir Iran di Indonesia menjadi oase bagi banyak intelektual Indonesia . Kajian filsafat, misalnya, yang dalam diskursus pemikiran Syiah tidak pernah terputus. Sehingga, ketika pemikiran mereka bersentuhan dengan kalangan intelektual Indonesia , banyak yang tercengang. Tentang karya Murthada Muthahhari “Sejarah dan Masyarakat” misalnya, Damam Rahardjo berkomentar: "Sulit membayangkan, seorang dengan pakaian jubah, seperti para kyai dan ulama di Indonesia , menulis buku seperti itu, penuh dengan ulasan-ulasan yang spekulatif, menunjukkan olah pikir yang intens”. Tentang khazanah keilmuan Syi’ah, Prof. DR. H. Umar Shihab (Ketua MUI Pusat) dalam kunjungannya ke Iran beberapa hari lalu bersama Prof Dr HM Galib MA (sekretaris MUI Sul-Sel) berkomentar: "Dalam kunjungan ini, kami tercengang melihat khazanah kepustakaan Islam yang begitu lengkap di Teheran, Masyhad dan Qom, dan sangat menyesal baru mengunjunginya di usia saya yang 70 tahun ini."








&lt;span style="font-weight: bold; color: rgb(255, 0, 0);"&gt;Umat Islam Indonesia dan Tradisi Syiah&lt;/span&gt;









Kajian tentang Syi’ah di Indonesia, telah dilakukan oleh sejumlah ahli dan pengamat sejarah, sebagian besar diantaranya berkesimpulan bahwa orang-orang Persia -yang pernah tinggal di Gujarat- yang berpaham Syiahlah yang pertama kali menyebarkan Islam di Indonesia. Bahkan dikatakan Syi’ah pernah menjadi kekuatan politik yang tangguh di Nusantara. M. Yunus Jamil dalam bukunya Tawarikh Raja-raja Kerajaan Aceh (1968) menulis kerajaan Islam yang pertama berdiri di Nusantara adalah Kerajaan Peureulak (Perlak) yang  didirikan pada 225H/845M. Pendiri kerajaan ini adalah para pelaut-pedagang Muslim asal Persia , Arab dan Gujarat dan mengangkat seorang Sayyid Maulana ‘Abd al-Aziz Syah, keturunan Arab-Quraisy, yang menganut paham politik Syi’ah, sebagai sultan Perlak.








Agus Sunyoto, staf Lembaga Penerangan dan Laboratorium Islam (LPII) Surabaya yang dipimpin Dr. Saleh Jufri, seperti dilaporkan Majalah Prospek (10 Nopember 1991), melalui penelitiannya menyimpulkan, bahwa Syaikh ‘Abd al-Ra’uf Al-Sinkli, salah seorang ‘ulama’ besar Nusantara asal Aceh pada abad ke-17, adalah pengikut dan penggubah sastra Syi’ah. Ia pun setelah melakukan penelitian terhadap kuburan-kuburan di Jawa Timur, berkesimpulan bahwa dari segi fisik dan arsitekturnya itu adalah kuburan-kuburan orang Syi'ah. Bahkan Agus Sunyoto lewat bukti-bukti sejarah, berspekulasi, sebagian besar dari Walisongo  adalah ulama Syi'ah. Dengan tegas ia menulis, Syekh Maulana Malik Ibrahim, guru dari semua sunan wali songo adalah Syiah











Dalam masyarakat NU, pengaruh Syi’ah pun cukup kuat di dalammya, Dr. Said Agil Siraj, Wakil Katib Syuriah PBNU secara terang mengatakan, “Harus diakui, pengaruh Syi’ah di NU sangat besar dan mendalam. Kebiasaan membaca Barzanji atau Diba’i yang menjadi ciri khas masyarakat NU misalnya, jelas berasal dari tradisi Syi’ah".








K.H. Abdurrahman Wahid bahkan pernah mengatakan bahwa Nahdatul Ulama secara kultural adalah Syi'ah. Ada beberapa shalawat khas Syi'ah yang sampai sekarang masih dijalankan di pesantren-pesantren. Ada wirid-wirid tertentu yang jelas menyebutkan lima keturunan Ahlul Bait. Kemudian juga tradisi ziarah kubur, lalu membuat kubah pada kuburan. Itu semua tradisi Syi'ah. Tradisi itu lahir di Indonesia dalam bentuk mazhab Syafi'i padahal sangat berbeda dengan mazhab Syafi’i yang dijalankan di Negara-negara lain. Berkembangnya ajaran pantheisme (kesatuan wujud, union mistik, Manunggal ing Kawula Gusti), di Jawa dan Sumatera merupakan pandangan teologi dan mistisisme (tasawuf falsafi) yang sinkron dengan aqidah Syiah dan sangat bertentangan dengan paham Islam wahabi yang literal. Ritus-ritus Tabut di Bengkulu dan Sumatera dan Gerebek Sura di Jogjakarta dan Ponorogo adalah ritus teologi Syiah yang datang dari Gujarat-Persia. Doktor Muhammad Zafar Iqbal dalam bukunya, “Kafilah Budaya” meruntut berbagai fakta tentang adanya pengaruh-pengaruh tradisi Syiah dan Iran di tanah air terutama bagi masyarakat Minangkabau yang masih terjaga sampai kini. Perguruan Tinggi pertama di Aceh bernama Universitas Syiah Kuala, menunjukkan fakta lainnya. Universitas yang disingkat Unsyiah yang diresmikan berdirinya oleh Presiden Soekarno tahun 1959 menunjukkan bahwa idiom Syiah telah sangat dikenal masyarakat. Syiah bukanlah idiom yang asing dan berbahaya, melainkan menunjukkan tradisi keilmuan yang tinggi sebagaimana yang dikembangkan di Iran . Kesemua fakta ini menunjukkan kenyataan terjadinya proses sinkretisasi antara Syiah dengan kebudayaan setempat di Indonesia yang sudah berlangsung sejak masuknya Islam ke Nusantara.









Karenanya, lewat tulisan ini saya menggugat, jika dikatakan tradisi Iran dan Syiah baru datang ke Indonesia belakangan ini dan dikatakan tidak sesuai dengan tradisi masyarakat muslim Indonesia yang bermazhab Sunni. Justru yang bertentangan dengan tradisi masyarakat muslim Indonesia adalah yang menganggap bid'ah dan sesat hal-hal yang selama ini ditradisikan masyarakat kita, terutama muslim Bugis-Makassar, seperti shalawatan, barazanji, maulid dan menyimpan gambar-gambar wajah wali yang dianggap mendatangkan keberkahan.








Tentunya, kajian tentang Syi’ah memang dibutuhkan. Tidak saja untuk kepentingan akademisi dan mengenal lebih dekat pemikiran Syiah, namun ia juga mempunyai kepentingan ganda: Untuk menentukan sikap! Sebab, sebagaimana pesan Imam Ali as, "Seseorang cenderung memusuhi yang tidak diketahuinya."








Wallahu ‘alam bishshawwab









&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Ismail Amin&lt;/span&gt;
&lt;span style="font-size:78%;"&gt;Mahasiswa Mostafa International University Republik Islam Iran&lt;/span&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6808511174156263273-1710124365850147860?l=abi-azzahra.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://abi-azzahra.blogspot.com/feeds/1710124365850147860/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=6808511174156263273&amp;postID=1710124365850147860&amp;isPopup=true' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6808511174156263273/posts/default/1710124365850147860'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6808511174156263273/posts/default/1710124365850147860'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://abi-azzahra.blogspot.com/2009/10/iran-syiah-dan-pengaruhnya-di-indonesia.html' title='Iran, Syiah dan Pengaruhnya di Indonesia'/><author><name>Ismail Amin</name><uri>http://www.blogger.com/profile/00461561157182799656</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://bp0.blogger.com/_b535izL1kDU/R54Ij8cN26I/AAAAAAAAAA8/7WbjvsXb9Tg/S220/Aku.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/_b535izL1kDU/SuQDSkm3v8I/AAAAAAAAAzo/8DLScQXrSsI/s72-c/a04cb05c70d28232.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6808511174156263273.post-5955554554030392328</id><published>2009-10-17T00:46:00.000-07:00</published><updated>2009-10-17T01:06:38.130-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Agama'/><title type='text'>Visualisasi Wajah Nabi, Salahkah?</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://4.bp.blogspot.com/_b535izL1kDU/Stl6Q_H5C5I/AAAAAAAAAzQ/UBl8hoUTsQk/s1600-h/pic2.thumbnail.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 10px 10px 0pt; float: left; cursor: pointer; width: 89px; height: 128px;" src="http://4.bp.blogspot.com/_b535izL1kDU/Stl6Q_H5C5I/AAAAAAAAAzQ/UBl8hoUTsQk/s320/pic2.thumbnail.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5393476460993907602" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;
&lt;div class="fullpost"&gt;
&lt;meta equiv="Content-Type" content="text/html; charset=utf-8"&gt;&lt;meta name="ProgId" content="Word.Document"&gt;&lt;meta name="Generator" content="Microsoft Word 11"&gt;&lt;meta name="Originator" content="Microsoft Word 11"&gt;&lt;link rel="File-List" href="file:///C:%5CDOCUME%7E1%5CCofe%5CLOCALS%7E1%5CTemp%5Cmsohtml1%5C01%5Cclip_filelist.xml"&gt;&lt;o:smarttagtype namespaceuri="urn:schemas-microsoft-com:office:smarttags" name="country-region"&gt;&lt;/o:smarttagtype&gt;&lt;o:smarttagtype namespaceuri="urn:schemas-microsoft-com:office:smarttags" name="City"&gt;&lt;/o:smarttagtype&gt;&lt;o:smarttagtype namespaceuri="urn:schemas-microsoft-com:office:smarttags" name="place"&gt;&lt;/o:smarttagtype&gt;&lt;!--[if gte mso 9]&gt;&lt;xml&gt;  &lt;w:worddocument&gt;   &lt;w:view&gt;Normal&lt;/w:View&gt;   &lt;w:zoom&gt;0&lt;/w:Zoom&gt;   &lt;w:punctuationkerning/&gt;   &lt;w:validateagainstschemas/&gt;   &lt;w:saveifxmlinvalid&gt;false&lt;/w:SaveIfXMLInvalid&gt;   &lt;w:ignoremixedcontent&gt;false&lt;/w:IgnoreMixedContent&gt;   &lt;w:alwaysshowplaceholdertext&gt;false&lt;/w:AlwaysShowPlaceholderText&gt;   &lt;w:compatibility&gt;    &lt;w:breakwrappedtables/&gt;    &lt;w:snaptogridincell/&gt;    &lt;w:applybreakingrules/&gt;    &lt;w:wraptextwithpunct/&gt;    &lt;w:useasianbreakrules/&gt;    &lt;w:dontgrowautofit/&gt;   &lt;/w:Compatibility&gt;   &lt;w:browserlevel&gt;MicrosoftInternetExplorer4&lt;/w:BrowserLevel&gt;  &lt;/w:WordDocument&gt; &lt;/xml&gt;&lt;![endif]--&gt;&lt;!--[if gte mso 9]&gt;&lt;xml&gt;  &lt;w:latentstyles deflockedstate="false" latentstylecount="156"&gt;  &lt;/w:LatentStyles&gt; &lt;/xml&gt;&lt;![endif]--&gt;&lt;!--[if !mso]&gt;&lt;object classid="clsid:38481807-CA0E-42D2-BF39-B33AF135CC4D" id="ieooui"&gt;&lt;/object&gt; &lt;style&gt; st1\:*{behavior:url(#ieooui) } &lt;/style&gt; &lt;![endif]--&gt;&lt;style&gt; &lt;!--  /* Style Definitions */  p.MsoNormal, li.MsoNormal, div.MsoNormal 	{mso-style-parent:""; 	margin:0cm; 	margin-bottom:.0001pt; 	text-align:right; 	mso-pagination:widow-orphan; 	direction:rtl; 	unicode-bidi:embed; 	font-size:12.0pt; 	font-family:"Times New Roman"; 	mso-fareast-font-family:"Times New Roman";} @page Section1 	{size:595.3pt 841.9pt; 	margin:72.0pt 90.0pt 72.0pt 90.0pt; 	mso-header-margin:35.4pt; 	mso-footer-margin:35.4pt; 	mso-paper-source:0; 	mso-gutter-direction:rtl;} div.Section1 	{page:Section1;} --&gt; &lt;/style&gt;&lt;!--[if gte mso 10]&gt; &lt;style&gt;  /* Style Definitions */  table.MsoNormalTable 	{mso-style-name:"Table Normal"; 	mso-tstyle-rowband-size:0; 	mso-tstyle-colband-size:0; 	mso-style-noshow:yes; 	mso-style-parent:""; 	mso-padding-alt:0cm 5.4pt 0cm 5.4pt; 	mso-para-margin:0cm; 	mso-para-margin-bottom:.0001pt; 	mso-pagination:widow-orphan; 	font-size:10.0pt; 	font-family:"Times New Roman"; 	mso-ansi-language:#0400; 	mso-fareast-language:#0400; 	mso-bidi-language:#0400;} &lt;/style&gt; &lt;![endif]--&gt;      &lt;p class="MsoNormal" dir="ltr" style="text-align: justify; direction: ltr; unicode-bidi: embed;"&gt;&lt;b&gt;&lt;span style=""&gt;
&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" dir="ltr" style="text-align: justify; direction: ltr; unicode-bidi: embed;"&gt;&lt;b&gt;&lt;span dir="rtl" style="" lang="AR-IQ"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" dir="ltr" style="text-align: justify; direction: ltr; unicode-bidi: embed;"&gt;&lt;span style=""&gt;Terpampang dalam kanvas sejarah secara telanjang, betapa Rasulullah saww dicintai oleh sahabat-sahabatnya. &lt;st1:city st="on"&gt;&lt;st1:place st="on"&gt;Ada&lt;/st1:place&gt;&lt;/st1:city&gt; seorang sahabat, yang setelah Rasulullah meninggal dunia, membanggakan mulutnya yang tidak lagi memiliki gigi. Pada saat perang Uhud, Rasulullah cedera karena rantai pelindung kepalanya menusuk pipinya. Lalu seorang sahabat menarik rantai itu dengan giginya, tapi sebelum rantai itu keluar, seluruh giginya rontok. Dia bangga bahwa giginya itu berjatuhan karena membela Rasulullah yang dicintainya. &lt;st1:city st="on"&gt;&lt;st1:place st="on"&gt;Ada&lt;/st1:place&gt;&lt;/st1:city&gt; seorang pedagang minyak wangi, di Madinah. Setiap kali pergi ke pasar, dia selalu sengaja singgah di depan rumah Rasulullah untuk sekedar mengucapkan salam dan melihat wajah Rasulullah saww. Suatu hari ia merasa tidak cukup hanya sekali melihat Rasulullah saww, iapun lebih cepat kembali dari pasar dan kembali menemui Rasulullah saww, “Saya ingin melihat engkau ya Rasulullah, karena saya takut tidak bisa melihat engkau setelah ini.” Berhari-hari kemudian, Rasulullah saww tidak lagi melihat pedagang tersebut. Ia meminta kepada sahabat-sahabatnya untuk mencarinya. Ternyata,&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;pedagang tersebut sudah meninggal dunia, tidak lama setelah melihat wajah Rasulullah saww yang terakhir kalinya. Lalu Rasulullah saww bersabda,&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;“Kecintaannya kepadaku akan menyelamatkan dia di akhirat nanti.”&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" dir="ltr" style="text-align: justify; direction: ltr; unicode-bidi: embed;"&gt;
&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" dir="ltr" style="text-align: justify; direction: ltr; unicode-bidi: embed;"&gt;
&lt;span style=""&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" dir="ltr" style="direction: ltr; unicode-bidi: embed; text-align: justify;"&gt;&lt;span dir="rtl" style="" lang="AR-IQ"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" dir="ltr" style="direction: ltr; unicode-bidi: embed; text-align: justify;"&gt;&lt;span style=""&gt;Sulit memahami ekspresi kecintaan sahabat-sahabat kepada Nabi, ini persoalan cinta, dan memang cinta cenderung diekspresikan tidak wajar. Sebagaimana perkataan Urwah Al-Tsafaqi kepada kaumnya, kaum kafir Qurays,“Orang Islam itu luar biasa! Demi Allah, aku pernah menjadi utusan menemui raja-raja. Aku pernah berkunjung kepada Kaisar, Kisra dan Najasyi. Demi Allah belum pernah aku melihat sahabat-sahabat mengangungkan rajanya, seperti sahabat-sahabat mengagungkan Muhammad. Demi Allah, jika ia meludah, ludahnya selalu jatuh pada telapak tangan salah seorang diantara mereka. Ia usapkan ludah itu kewajahnya dan kulitnya. Bila ia memerintah, mereka berlomba melaksanakannya; bila ia hendak berwudhu, mereka hampir berkelahi memperebutkan air wudhunya. Bila ia berbicara, mereka merendahkan suara dihadapannya. Mereka menundukkan pandangan dihadapannya karena memuliakannya.” (Shahih Bukhari 3 :255). Karenanya, adakah yang bisa memahami ketika muslim India bergejolak dan marah besar ketika suatu hari kehilangan sehelai rambut Rasulullah saww yang disimpan di salah satu mesjid di India, sehingga membuat pemerintah India yang sekuler kewalahan dan mengerahkan seluruh usahanya untuk menemukan kembali rambut tersebut?. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" dir="ltr" style="direction: ltr; unicode-bidi: embed; text-align: justify;"&gt;&lt;span dir="rtl" style="" lang="AR-IQ"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" dir="ltr" style="direction: ltr; unicode-bidi: embed; text-align: justify;"&gt;&lt;span style=""&gt;Karenanya meskipun pemerintah dan ulama-ulama &lt;st1:country-region st="on"&gt;Iran&lt;/st1:country-region&gt; menghimbau peredaran dan dicetaknya kembali gambar&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;yang diklaim wajah Nabi saww kala mudanya dihentikan tetap saja masyarakat &lt;st1:place st="on"&gt;&lt;st1:country-region st="on"&gt;Iran&lt;/st1:country-region&gt;&lt;/st1:place&gt; menunjukkan rasa suka terhadap gambar itu. Meskipun pada dasarnya masyarakat Iran sendiri sudah kehilangan sejarah mengenai asal-usul gambar tersebut, tetap saja diantara mereka ada yang mengklaim bahwa wajah tersebut benar-benar sketsa wajah Nabi, sebagian menyebutkan bahwa gambar tersebut dilukis oleh pendeta Buhaira yang sempat mengiringi pemuda Muhammad&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;bersama pamannya ke Syam. Sekali lagi ini masalah cinta, dan cinta cenderung mengherankan dan sulit dimengerti.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" dir="ltr" style="direction: ltr; unicode-bidi: embed; text-align: justify;"&gt;
&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" dir="ltr" style="direction: ltr; unicode-bidi: embed; text-align: justify;"&gt;&lt;span style=""&gt;
&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" dir="ltr" style="direction: ltr; unicode-bidi: embed; text-align: justify;"&gt;
&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" dir="ltr" style="direction: ltr; unicode-bidi: embed; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Ekspresi Kecintaan&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" dir="ltr" style="direction: ltr; unicode-bidi: embed; text-align: justify;"&gt;
&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" dir="ltr" style="direction: ltr; unicode-bidi: embed; text-align: justify;"&gt;
&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" dir="ltr" style="direction: ltr; unicode-bidi: embed; text-align: justify;"&gt;
&lt;span style=""&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" dir="ltr" style="direction: ltr; unicode-bidi: embed; text-align: justify;"&gt;&lt;span dir="rtl" style="" lang="AR-IQ"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" dir="ltr" style="direction: ltr; unicode-bidi: embed; text-align: justify;"&gt;&lt;span style=""&gt;Pin yang bergambar seorang pemuda tampan dengan gigi rata, hidung mancung, bibir sempurna dengan latar warna hijau yang karena diklaim sebagai gambar wajah nabi kemudian memunculkan polemik dikalangan umat Islam di Indonesia. Pertama kali gambar ini dikenal secara meluas, ketika diterbitkan di majalah National Geographic pada bulan Januari tahun 1914 dalam sebuah artikel berbahasa Persia dengan judul “Inja va Anja Dar Shumal Afriqa” (Di sana dan di sini di Utara Afrika), di bawahnya tertulis “Arabi ba Yek Gol” (Seorang Arab dengan sebuah bunga). Pada dekade dua puluhan, gambar ini menjadi sampul kartu seri Tunisia L &amp;amp; L dan sangat disukai oleh tentara Prancis di Utara Afrika. Di awal tahun 90-an, gambar ini menjadi poster paling laris di &lt;st1:country-region st="on"&gt;&lt;st1:place st="on"&gt;Iran&lt;/st1:place&gt;&lt;/st1:country-region&gt;. Masyarakat &lt;st1:country-region st="on"&gt;&lt;st1:place st="on"&gt;Iran&lt;/st1:place&gt;&lt;/st1:country-region&gt; memang punya pengalaman yang cukup panjang dalam melukis keluarga Nabi Muhammad saww dan Nabi sendiri. Argumentasi logis yang mereka bangun, kalau ada upaya mensketsa wajah nabi berdasarkan deskripsi dari riwayat-riwayat yang ada dan itu tidak bisa dibenarkan. Maka sama halnya tidak bisa dibenarkan upaya penulisan sejarah nabi mulai dari lahirnya sampai wafatnya. Adakah yang bisa menjamin sejarah nabi yang ditulis sama persis dengan kejadian sesungguhnya?. Bukankah itu juga bentuk pelecehan jika ternyata tidak sesuai dengan sejarah nabi yang sebenarnya?. Kalau penulisan sejarah dibenarkan, mengapa menggambarnya disalahkan, sementara hakekatnya sama. Gambar dan tulisan adalah goresan-goresan tinta di atas kanvas. Ketika sahabat meriwayatkan, bahwa Nabi Muhammad saww memiliki bibir yang sempurna, tidak tebal dan tidak tipis itu adalah penilaian salah seorang sahabat, yang bisa jadi berbeda dengan sahabat yang lain. Begitupun jika digambar berdasarkan deskripsi itu. Menolak visualisasi wajah Nabi, sama halnya kita menolak riwayat-riwayat yang mendeskripsikan keindahan wajah Nabi lewat kata-kata. Apa bedanya hidung mancung dengan kata-kata, dengan hidung mancung dalam bentuk gambar? Bukankah itu sama-sama upaya pendekatan agar sebuah wajah bisa sedikit dibayangkan?. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" dir="ltr" style="direction: ltr; unicode-bidi: embed; text-align: justify;"&gt;&lt;span dir="rtl" style="" lang="AR-IQ"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" dir="ltr" style="direction: ltr; unicode-bidi: embed; text-align: justify;"&gt;&lt;span style=""&gt;Diantara yang dilihat mendapat pahala adalah wajah ulama, apalagi wajah nabi. Apakah hanya karena alasan tidak pernah melihatnya, kita tidak bisa mereka-reka wajah Nabi?. Apalagi rekaan itu bukan khayalan kosong sebab ada deskripsi yang disampaikan sahabat-sahabat dan istri nabi dari riwayat yang ada. Mengapa sampai ada yang berani mensketsa surga dan neraka dalam komik-komik agama? Sementara Nabi saww bersabda, surga adalah keindahan yang tidak pernah dilihat oleh mata, didengar oleh telinga dan tidak pernah terlintas&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;dalam pikiran manusia. Mengapa menggambarkan surga dalam bentuk&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;visual tidak dipersoalkan sementara menggambar wajah nabi digugat dan dianggap pelecehan agama?. Bukankah sangat sulit menggambar surga yang tidak pernah terlintas di dalam pikiran manusia?&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" dir="ltr" style="direction: ltr; unicode-bidi: embed; text-align: justify;"&gt;
&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" dir="ltr" style="direction: ltr; unicode-bidi: embed; text-align: justify;"&gt;
&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" dir="ltr" style="direction: ltr; unicode-bidi: embed; text-align: justify;"&gt;
&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" dir="ltr" style="direction: ltr; unicode-bidi: embed; text-align: justify;"&gt;
&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" dir="ltr" style="direction: ltr; unicode-bidi: embed; text-align: justify;"&gt;
&lt;span style=""&gt;&lt;/span&gt;&lt;span dir="rtl" style="" lang="AR-IQ"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" dir="ltr" style="direction: ltr; unicode-bidi: embed; text-align: justify;"&gt;&lt;span style=""&gt;Kekhawatiran bahwa akan ada yang terjebak dalam praktik kesyirikan jika menggambar wajah nabi diperbolehkan adalah kekhawatiran yang tidak beralasan. Telah puluhan tahun gambar itu ada, namun adakah diantara kaum muslimin yang menyembah nabi Muhammad karena gambar tersebut?. Karenanya, pemerintah dan Ulama Iran hanya sekedar menghimbau untuk tidak meyakini secara mutlak bahwa itu benar gambar wajah Rasulullah saww, tidak ada larangan apalagi&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;ancaman hukuman bagi yang menyimpan dan memilikinya. Sebab pemerintah dan ulama &lt;st1:country-region st="on"&gt;&lt;st1:place st="on"&gt;Iran&lt;/st1:place&gt;&lt;/st1:country-region&gt; sendiri tidak bisa mengajukan bukti bahwa gambar tersebut adalah kedustaan dan pemanipulasian. Kesulitan mengklarifikasi kebenaran sesuatu bukanlah bukti bahwa sesuatu itu salah dan tidak benar. Berbeda dengan di &lt;st1:country-region st="on"&gt;&lt;st1:place st="on"&gt;Indonesia&lt;/st1:place&gt;&lt;/st1:country-region&gt;, atas nama kecintaan kepada Nabi sebagian dari ulama dan pemerintahnya serentak berpendapat itu kedustaan, penghinaan dan mengancam hukuman penjara, sementara mereka sendiri tidak mengetahui bagaimana wajah nabi yang sesungguhnya. Cinta memang aneh dan terkadang menggelikan. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" dir="ltr" style="direction: ltr; unicode-bidi: embed; text-align: justify;"&gt;&lt;span dir="rtl" style="" lang="AR-IQ"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" dir="ltr" style="direction: ltr; unicode-bidi: embed; text-align: justify;"&gt;&lt;i&gt;&lt;span style=""&gt;Wallahu ‘alam bishshawwab&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" dir="ltr" style="direction: ltr; unicode-bidi: embed; text-align: justify;"&gt;
&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" dir="ltr" style="direction: ltr; unicode-bidi: embed; text-align: justify;"&gt;Qom, 16 Oktober 2009
&lt;i&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/p&gt;

&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6808511174156263273-5955554554030392328?l=abi-azzahra.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://abi-azzahra.blogspot.com/feeds/5955554554030392328/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=6808511174156263273&amp;postID=5955554554030392328&amp;isPopup=true' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6808511174156263273/posts/default/5955554554030392328'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6808511174156263273/posts/default/5955554554030392328'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://abi-azzahra.blogspot.com/2009/10/visualisasi-wajah-nabi-salahkah.html' title='Visualisasi Wajah Nabi, Salahkah?'/><author><name>Ismail Amin</name><uri>http://www.blogger.com/profile/00461561157182799656</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://bp0.blogger.com/_b535izL1kDU/R54Ij8cN26I/AAAAAAAAAA8/7WbjvsXb9Tg/S220/Aku.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/_b535izL1kDU/Stl6Q_H5C5I/AAAAAAAAAzQ/UBl8hoUTsQk/s72-c/pic2.thumbnail.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6808511174156263273.post-441264071237332071</id><published>2009-08-31T20:54:00.000-07:00</published><updated>2009-08-31T21:44:45.404-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Pendidikan'/><title type='text'>Mendambakan Ospek Humanis, Rasional dan Religius</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://1.bp.blogspot.com/_b535izL1kDU/SpyiKXwZ1SI/AAAAAAAAAzI/LBHqav703Ac/s1600-h/290820092291.JPG"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 10px 10px 0pt; float: left; cursor: pointer; width: 320px; height: 240px;" src="http://1.bp.blogspot.com/_b535izL1kDU/SpyiKXwZ1SI/AAAAAAAAAzI/LBHqav703Ac/s320/290820092291.JPG" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5376350354232956194" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;
&lt;div style="text-align: justify;" class="fullpost"&gt; &lt;b style=""&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;Kedatangan Mahasiswa Baru (untuk selanjutnya disebut Maba) adalah sesuatu yang ditunggu-tunggu kedatangannya tiap tahun. Ibarat &lt;span class="yshortcuts" id="lw_1251777749_5"&gt;bulan ramadhan&lt;/span&gt; yang disambut dan dielu-elukan kaum muslimin begitupun kedatangan maba. Jauh-jauh hari hampir dipastikan disetiap universitas telah dibuat baliho dan spanduk dari bentuk yang paling ’purba’ sampai yang memakan biaya berjuta-juta. Ospek (Orientasi Studi dan Pengenalan Kampus) atau apapun namanya, telah ada sejak perguruan tinggi pertama kali didirikan di Indonesia oleh usaha swasta di Bandung tahun 1920, Technise Hoogeschool (THS) yang kita kenal dengan ITB sekarang. Sejak awal pelaksanannya pertama kali, Ospek telah menimbulkan polemik, pada saat itu (1920) bahkan seorang wartawan dianiaya karena mengkritik praktek perploncoan di kampus tersebut (THS). Masalah tersebut kemudian berlanjut ke pengadilan dan diputuskan bahwa para mahasiswa itu bersalah. Tetapi meskipun menimbulkan polemik yang dahsyat, toh hingga saat ini mesih tetap dilaksanakan dengan pola yang tidak jauh beda tetap mengandalkan kekekerasan sebagai ’tragedi’ yang ternikmati. &lt;/span&gt;   &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;
&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal"&gt;
&lt;span style="" lang="SV"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal"&gt;
&lt;span style="" lang="SV"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;
&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;Pada dasarnya Ospek merupakan wahana sosialisasi kampus bagi mahasiswa baru sehingga ada semacam pengetahuan dan pengalaman awal agar setelah masuk secara total tidak mengalami kegrogian. Dalam Ospek itu pulalah maba dibekali wawasan secara ideal, apa dan bagaimana sesungguhnya makhluk yang bernama mahasiswa itu. Agar mereka lebih mengenal dirinya, dapat mengaktualisir diri secara merdeka. Begitupun jika melihat jargon-jargon yang dikemas secara teoritik maka Ospek sesungguhnya sesuatu yang ideal karena penuh dengan pemberdayaan, penuh idealisme, penuh aroma intelektual sampai dibumbui dengan slogan ’Ilmiah dan Religius’. Namun, sayang dalam banyak kejadian Ospek harus dikritik, apalagi jika dipandang dari sudut paedagogis. Karena ternyata Ospek kering dengan pendekatan humanistik. Perangkat dan aturannya bersifat memaksakan sehingga tidak ada ruang sedikitpun bagi maba untuk berkreativitas. Ditutupnya ruang dialog dan komunikasi yang seimbang menyebabkan wajah Ospek begitu sangat buram, stagnan dan sangat mengerikan.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;&lt;span style=""&gt;    
&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal"&gt;
&lt;span style="" lang="SV"&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal"&gt;
&lt;span style="" lang="SV"&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;&lt;span style=""&gt;
&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;Bukti kengerian itu dapat dilihat dari pengalaman Ospek di tahun-tahun sebelumnya. Di UNDIP Semarang, Sivino Amaral meninggal dunia disebabkan kerasnya pelaksanaan Ospek. Andri Setiaji (masih di UNDIP) punya cerita yang menimbulkan ketraumaan psikologis yang luar biasa, ia dikeroyok 20 mahasiswa senior karena dinilai membantah dan memprotes para seniornya. Begitupun dibeberapa perguruan tinggi di pelosok tanah air tiap tahunnya memakan korban. Saya yakin kematian Wahyu Hidayat masih akan tetap membekas di benak kita semua. Dan Wahyu bukan korban pertama. Kekerasan menjadi budaya di &lt;span class="yshortcuts" id="lw_1251777749_6"&gt;Sekolah Tinggi&lt;/span&gt; yang siswanya kelak menjadi abdi negara. &lt;span class="yshortcuts" id="lw_1251777749_7"&gt;Gaya&lt;/span&gt; ’komando’ untuk mendisiplinkan menjadi sebuah keladziman. Kekerasan pun berbuah kematian, stress bahkan ada yang hampir gila. Karenanya tidak salah jika beberapa media menyebut STPDN sebagai Sekolah Tukang Pukul Dalam Negeri. Atau yang lebih sangar lagi, Mingguan Tempo menjulukinya ’neraka’.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;
&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal"&gt;
&lt;span style="" lang="SV"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal"&gt;
&lt;span style="" lang="SV"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;
&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;Berbagai kejadian riil di lapangan itulah yang selalu menimbulkan perdebatan yang tak kunjung usai. Ada yang menginginkan Ospek dihapus sama sekali karena hampir setiap Ospek selalu menimbulkan korban mulai dari cacat fisik yang ringan hingga yang cukup parah, bahkan tak jarang korbannya mengalami trauma psikologis yang berkepanjangan dan tak sedikit yang tewas akibat kebrutalan Ospek.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;&lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal"&gt;
&lt;span style="" lang="SV"&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal"&gt;
&lt;span style="" lang="SV"&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;&lt;span style=""&gt;
&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;Dipandang dari sudut manapun, dengan model Ospek yang stagnan dan itu-itu &lt;i style=""&gt;tonji&lt;/i&gt; penulis menilai adalah sesuatu yang &lt;i style=""&gt;absurd&lt;/i&gt;. Pemandangan peserta Ospek yang ditampilkan kekanak-kanakan, lucu, menggemaskan sekaligus menimbulkan rasa iba menimbulkan satu pertanyaan untuk apa semua itu dilakukan ?. Imbasnya hanya satu, menimbulkan bahan tertawaan orang, tak ada sangkut pautnya dengan nilai-nilai intelektualitas, ilmiah apalagi religiusitas. Apalagi secara ekonomi, seluruh atribut yang dibebankan kepada maba menjadi beban yang semakin memberatkan. Mereka sudah harus membayar berbagai keperluan kampus, masih harus menanggung biaya Ospek. Dari sini terlihat secara jelas kesenjangan yang terjadi. Bila kita menyakini Ospek merupakan masa orientasi yang terjadi justru penetrasi kehendak. Bila kita menilai Ospek merupakan sarana pengenalan kampus yang terjadi masa ketakutan terhadap lingkungannya.&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Ospek diinginkan sebagi proses pendidikan yang terjadi justru praktik penindasan yang dahsyat. Lewat Ospek, kampus kehilangan nafas intelektual, ilmiah apalagi religius, misi kerakyatan dan pemihakan pada kaum tertindas pudar, idealisme larut. &lt;span class="yshortcuts" id="lw_1251777749_8"&gt;Karena yang&lt;/span&gt; hadir justru iklim kekerasan dan penindasan. Ini berarti terjadi negasi besar-besaran. Kita (para senior) bisa jadi terjebak dalam situasi yang paradoks. Kebebasan akademik yang dituntut selama ini justru diberangus saat Ospek. Pendidikan yang memanusiakan yang diperjuangkan sepanjang masa oleh mahasiswa diinjak-injak sendiri dalam prosesi Ospek. Pemihakan kepada mereka yang kesulitan membayar uang kuliah terlupa sesaat. Oleh karenanya selama Ospek menjadi instrument pemasungan dan penindasan mahasiswa baru oleh mahasiswa lama, maka selama itu pula Ospek layak digugat.&lt;span style=""&gt;      &lt;/span&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;span style=""&gt;          &lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;&lt;span style=""&gt;             &lt;/span&gt;&lt;span style=""&gt;
&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal"&gt;
&lt;span style="" lang="SV"&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal"&gt;
&lt;span style="" lang="SV"&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;&lt;span style=""&gt;
&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;Sebagai wahana pengenalan kampus kepada maba yang masih ’lugu’ , maka Ospek bagaimanapun tetap dibutuhkan. Hanya saja diperlukan kebesaran jiwa para panitia Ospek untuk mengejawantahkan slogan-slogan penyambutan yang dibuat ke ’lapangan’, dan menghilangkan frame bahwa tindakan tidak manusiawi (bahasa kasarnya :pembinatangan)&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;dalam Ospek harus dipertahankan. Haruskah superioritas, penindasan, otoritas, dan tindakan subversif lainnya kembali terjadi, haruskah itu mentradisi padahal tidak ada yang nyuruh ? .&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Apa salahnya kalau kita menyiapkan ruang penyambutan yang berintikan pembebasan&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;kesadaran atau dialogika, yakni memancing mereka untuk berdialog, membiarkan mereka mengucapkan sendiri perkataannya, mendorong mereka menamai dan dengan demikian merubah paradigma mereka tentang dunia yang bisa saja selama ini meleset. &lt;b style=""&gt;Kita harus sadar yang kita hadapi adalah manusia-manusia yang butuh kesadaran, hendak disentak kemanusiannya, tapi seringkali kita masih tetap terjebak pada prosesi Ospek dengan kreativitas itu-itu juga. Hasilnya kita justru mengkader jiwa-jiwa penindas. Irrasionalitas, immoralitas, dan agresivitas adalah buah dari pohon yang kita tanam sendiri.&lt;/b&gt; Kita (mahasiswa senior) mesti berpikir, bahwa maba adalah adik yang akan mencontoh kakak-kakaknya dan hendaknya lebih menekankan pada maba akan penguatan dan pematangan nalar, bukan semata fisik. Bagaimanapun maba adalah manusia juga. Manusia yang memiliki keinginan untuk mencari dan mendekati Allah sebagai kodrat pertamanya sebagai manusia. Karenanya bantu mereka untuk merealisasikan keinginannya yang paling purba itu. Mencari, mendekati dan mencintai Allah &lt;i style=""&gt;Subhanahu wata ala&lt;/i&gt;. &lt;/span&gt;&lt;b style=""&gt;
&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;b style=""&gt;
&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;b style=""&gt;
&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;b style=""&gt;Mari bekerjasama.&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal"&gt;
&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;b style=""&gt;
&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal"&gt;
&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;style&gt; &lt;!-- #yiv517060864 #yiv1086500226   #yiv1086500226 p.MsoNormal, #yiv517060864 #yiv1086500226 li.MsoNormal, #yiv517060864 #yiv1086500226 div.MsoNormal  {margin:0in;margin-bottom:.0001pt;font-size:12.0pt;font-family:"Times New Roman";} #yiv517060864 #yiv1086500226 a:link, #yiv517060864 #yiv1086500226 span.MsoHyperlink  {color:blue;text-decoration:underline;} #yiv517060864 #yiv1086500226 a:visited, #yiv517060864 #yiv1086500226 span.MsoHyperlinkFollowed  {color:purple;text-decoration:underline;} #yiv517060864 #yiv1086500226 p  {margin-right:0in;margin-left:0in;font-size:12.0pt;font-family:"Times New Roman";} #yiv517060864 #yiv1086500226 span.yshortcuts  {} #yiv517060864 filtered #yiv1086500226 {margin:1.0in 1.25in 1.0in 1.25in;} #yiv517060864 #yiv1086500226 div.Section1  {} --&gt; &lt;/style&gt;  &lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 12pt;"&gt;&lt;strong&gt;Ismail&lt;/strong&gt;&lt;strong&gt;  Amin  &lt;/strong&gt;
Mahasiswa Mostafa   International University  Republik Islam Iran
&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 12pt;"&gt;
&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 12pt;"&gt;Dimuat di Tribun Timur, 1 September 2009
&lt;/p&gt;

&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6808511174156263273-441264071237332071?l=abi-azzahra.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://abi-azzahra.blogspot.com/feeds/441264071237332071/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=6808511174156263273&amp;postID=441264071237332071&amp;isPopup=true' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6808511174156263273/posts/default/441264071237332071'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6808511174156263273/posts/default/441264071237332071'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://abi-azzahra.blogspot.com/2009/08/mendambakan-ospek-humanis-rasional-dan.html' title='Mendambakan Ospek Humanis, Rasional dan Religius'/><author><name>Ismail Amin</name><uri>http://www.blogger.com/profile/00461561157182799656</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://bp0.blogger.com/_b535izL1kDU/R54Ij8cN26I/AAAAAAAAAA8/7WbjvsXb9Tg/S220/Aku.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/_b535izL1kDU/SpyiKXwZ1SI/AAAAAAAAAzI/LBHqav703Ac/s72-c/290820092291.JPG' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6808511174156263273.post-7281430893417492917</id><published>2009-06-20T10:57:00.000-07:00</published><updated>2009-06-20T11:02:21.466-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Iranologi'/><title type='text'>Pencideraan Sistematis Pemilu Iran</title><content type='html'>&lt;a href="http://3.bp.blogspot.com/_b535izL1kDU/Sj0jbT-WrZI/AAAAAAAAAuA/GHQj1JoZpDo/s1600-h/cinta-ahmadinejad.jpg"&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5349470884511264146" style="FLOAT: left; MARGIN: 0px 10px 10px 0px; WIDTH: 320px; CURSOR: hand; HEIGHT: 222px" alt="" src="http://3.bp.blogspot.com/_b535izL1kDU/Sj0jbT-WrZI/AAAAAAAAAuA/GHQj1JoZpDo/s320/cinta-ahmadinejad.jpg" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;
&lt;div class="fullpost" align="justify"&gt;Lewat SMS, email dan komentar di Facebook saya ditanya mengenai kekisruhan pasca Pemilu Iran bahkan ada yang meminta untuk menarik tulisan saya di Tribun Timur, “Pelajaran Berharga dari Pemilihan Presiden Iran” (15/6), “Apa yang mau dipelajari dari Pemilu Iran kalau begini? Pemilu berdarah? Pemimpin Otoriter? Pemilu dengan indikasi kecurangan?,” begitu saya ditanya. Sebagai orang yang tengah berada di Iran, wajar jika saya ditanya dan memang saya merasa perlu memberi jawaban. Diantaranya jawaban saya, berkenaan dengan opini saya sebelumnya, yang berharga dari Pemilu Iran yang menurut saya patut menjadi pelajaran adalah, Pemilu Iran untuk kedua kalinya berhasil menggolkan figur Mahmoud Ahmadi Nejad yang bukan siapa-siapa menjadi Presiden. Ia bukan Mullah, bukan dari sentra kekuasaan kanan dan kiri, bukan orang partai, bukan orang kaya, bukan anak pejabat, bukan bangsawan, bukan dari kalangan militer, bukan pengusaha, bukan orang yang mendapat dukungan dari AS bahkan dimusuhi AS, bukan orang gagah bahkan terkesan lusuh dan bukan pula figur yang sebelumnya dikenal sebagai politikus. Mahmoud Ahmadi Nejad dalam pidato kemenangannya berujar, “Saya adalah bukti sebuah demokrasi.” Benar, tidak pernah diduga sebelumnya, ia yang hanya seorang mantan relawan perang (basiji) yang pada Pemilu empat tahun lalu mampu mengalahkan Hashemi Rafsanjani, seorang mantan presiden dua periode berturut-turut, pernah menjadi ketua parlemen dan juga disebut-sebut sebagai tokoh revolusi Islam Iran yang masih hidup hingga kini. Dan pada Pemilu yang ke-10 tahun ini secara telak mampu mengatasi keroyokan tiga kandidat lainnya yang memiliki jam terbang yang tinggi dalam kancah perpolitikan Iran, Mantan Perdana Menteri (1981-1989) Mir Hossein Musavi, Mantan Ketua Parlemen Republik Islam Iran (2000-2004) Mahdi Karoubi dan Mantan Panglima Pasukan Garda Revolusi Islam Iran (Pasdaran), Mohsen Rezai. &lt;/div&gt;
&lt;div class="fullpost" align="justify"&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="fullpost" align="justify"&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="fullpost" align="justify"&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="fullpost" align="justify"&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="fullpost" align="justify"&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="fullpost" align="justify"&gt;

Sayangnya, Pemilu Iran yang spektakuler dengan melibatkan partisipasi 85% rakyatnya sampai hari ini masih juga berupaya diciderai oleh mereka yang mengklaim diri sedang memperjuangkan tegaknya demokrasi. Sejak penghitungan suara pemilu menunjukkan tanda-tanda kemenangan Ahmadi Nejad, media-media mainstream Barat sudah mulai mengeluarkan koor serupa, curiga adanya kecurangan hasil Pemilu Iran. Dua hari setelah Pemilu (14/6) Associated Press merilis berita “AS menolak klaim kemenangan Ahmadinejad” dengan mengutip pernyataan Wapres Joe Biden dan Menlu Hillary Clinton yang menuduh adanya kecurangan dalam pemilu. Tentu saja kita perlu bertanya, dari mana AS tahu ada kecurangan?. Hampir mustahil memberi penilaian apalagi menuduh telah terjadi kecurangan terhadap pemilu di suatu negara tanpa pengamatan langsung di lapangan. Terlebih lagi Presiden AS, Barrack Obama sendiri mengatakan, “Kami tidak sedang di lokasi dan tidak ada pengawas Internasional berada di sana”. Soal adanya sejumlah daftar pemilih dalam pemilu legislatif Indonesia yang dipaksa golput secara massif saja sampai saat ini belum ada satu pihakpun yang berani menyatakan bahwa kesalahan itu adalah hasil dari upaya kecurangan sistematis yang disengaja. &lt;/div&gt;
&lt;div class="fullpost" align="justify"&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="fullpost" align="justify"&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="fullpost" align="justify"&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="fullpost" align="justify"&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="fullpost" align="justify"&gt;

Hal lain adanya ketidakwajaran dari tuduhan tersebut, hasil pemilu Iran diumumkan hanya selang satu hari dari hari pemilihan, itupun selang hari itu diisi sepenuhnya dengan aktivitas penghitungan suara. Ada satu prinsip dalam pemilu yang mesti diingat: semakin cepat hasil pemilu diketahui, maka semakin kecil pula peluang untuk melakukan kecurangan. Benar-benar sangat luar biasa, dalam waktu yang sangat singkat, Ahmadinejad mampu “mencuri” puluhan juta suara dalam tampilan statistik yang tidak mencurigakan dan berada dalam pengamatan saksi ketiga kandidat lainnya. Meskipun tidak mampu menunjukkan bukti, tuduhan-tuduhan dan klaim dengan mudahnya dilontarkan untuk menutupi kespektakuleran dan keberhasilan pemilu Iran yang dimenangkan kembali Ahmadi Nejad. &lt;/div&gt;
&lt;div class="fullpost" align="justify"&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="fullpost" align="justify"&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="fullpost" align="justify"&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="fullpost" align="justify"&gt;

Tuduhan AS dan media-media Barat semakin menjadi-jadi dan merasa diamini oleh orang dalam Iran, dengan adanya klaim dari kubu kandidat presiden lainnya, Mir Hossein Mousavi dan Mahdi Karoubi bahwa pilpres Iran yang memenangkan kembali Mahmoud Ahmadinejad sarat dengan penipuan dan kecurangan. Sampai saat ini, saya belum mendapat informasi mengenai laporan dan alasan kuat kubu Musavi dan Karoubi sampai mengatakan adanya kecurangan dalam Pemilu. Saya hanya ingin mengajukan sebuah analisa sederhana, bahwa kemenangan Ahmadi Nejad atas rival terberatnya Mir Hossein Mousavi dengan rasio kemengan mutlak 2:1 atau 63% berbanding dengan 34%. Benar-benar sebuah ketidakwajaran dan hanya terjadi di Iran pihak yang kalah telak menyatakan adanya kecurangan. Rahbar Republik Islam Iran Sayyid Ali Khamaeni mengenai hal ini berkata, "Ada sekitar 11 juta suara yang berbeda. Bagaimana satu orang bisa membuat kecurangan sebanyak 11 juta suara?". Kita tentu belum lupa hasil Pilkada Sul Sel yang memenangkan Syahrul Yasin Limpo sebagai gubernur baru, adalah wajar jika kubu Amin Syam sebagai rival terberat menyatakan kecurigaan adanya indikasi kuat terjadinya kecurangan dan manipulasi dalam Pilkada, toh selisih perolehan suara keduanya sangatlah tipis.&lt;/div&gt;
&lt;div class="fullpost" align="justify"&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="fullpost" align="justify"&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="fullpost" align="justify"&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="fullpost" align="justify"&gt;
Di sinilah letak bukti adanya upaya-upaya pencideraan itu. Media-media Barat saban hari memberitakan demonstrasi dari kubu Musavi yang dikatakan mendapat respon brutal dari pihak keamanan Iran. Dari Uni Eropa, keluar pernyataan, “Pemerintah Iran harus memperlakukan para demonstran dengan penuh penghormatan”. Dari Perancis, presiden Sarkozy menyatakan, aksi protes sangat wajar terjadi karena besarnya kecurangan. Sarkozy rupanya tiba-tiba mengidap amnesia, bahwa kemenangan dirinya dalam pilpres Prancis Mei 2007, juga diwarnai dengan kerusuhan besar-besaran yang mengakibatkan rusaknya sekitar 700 mobil dan sejumlah gedung pemerintahan dan tentu saja ada banyak demonstran yang ditahan polisi Perancis. Dina Sulaeman, penulis buku, Ahmadinejad on Palestina (2008) mengajukan pertanyaan, “Lalu, apakah jika aksi-aksi brutal para demonstran itu terjadi di Iran, penyikapan harus berbeda?. Mereka melakukan aksi-aksi brutal, merusak gedung-gedung. Apa yang musti dilakukan polisi menghadapi aksi seperti ini? Diam saja? Apa kalau polisi Prancis boleh menangkapi demonstran yang memrotes Sarkozy, polisi Iran tak boleh?”. Media-media mainstream Barat juga dalam mengajukan pemberitaan mengenai kerusuhan pasca Pemilu melakukan pemanipulasian jumlah massa. Massa dari kubu Mousavi yang dikatakan menolak hasil pemilu selalu dikatakan berjumlah sekitar ratusan ribu orang, sementara fakta di lapangan jumlah mereka tidak pernah mencapai 100 ribu orang. Sementara massa pendukung Ahmadi Nejad yang juga turun ke jalan menyatakan dukungan dan kesetiaan terhadap panji-panji Revolusi Islam dengan jumlah yang lebih besar tidak pernah mendapatkan peliputan yang seimbang. Bahkan BBC tertangkap basah melakukan pemanipulasian berita. Mereka menggunakan foto Ahmadinejad yang sedang pidato dgn massa yang sangat banyak. Foto itu di-zoom, lalu dipotong gambar massa-nya saja, dan diberi caption: massa Mousavi yang sedang protes. Jadi, image yang tergambarpun, massa Mousavi memang sangat banyak. Kalau memang benar rakyat Iran mendukung Mousavi dimana pendukung Mousavi dari kota-kota lain? Mengapa tidak melakukan aksi dukungan serupa?. Bagaimanapun, benar tidaknya kecurangan dalam pemilu Iran harus dibuktikan bukan lewat asumsi-asumsi belaka, apalagi melalui unjuk rasa yang merusak stabilitas negara. Analisa sementara yang bisa diberikan mengapa harus ada pemberitaan negatif yang secara tendensius diarakan kepada Pemilu Iran yang memenangkan Ahmadi Nejad, dari dalam Iran, menolak hasil pemilu karena Ahmadi Nejad pernah berjanji akan membongkar korupsi para mantan pejabat Iran dan dari luar, mereka menolak karena menganggap Ahmadi Nejad adalah ganjalan paling serius bagi proses hegemoni Barat dan ancaman bagi eksistensi Israel.&lt;/div&gt;
&lt;div class="fullpost" align="justify"&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="fullpost" align="justify"&gt;


Wallahu 'alam bishshawwab&lt;/div&gt;&lt;div class="fullpost" align="justify"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="fullpost" align="justify"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="fullpost" align="justify"&gt;&lt;span style="color:#ff0000;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="fullpost" align="justify"&gt;&lt;span style="color:#ff0000;"&gt;Kontributor;&lt;/span&gt; &lt;a href="http://www.islammuhammadi.com/"&gt;http://www.islammuhammadi.com/&lt;/a&gt;, &lt;a href="http://muhsinlabib.wordpress.com/"&gt;http://muhsinlabib.wordpress.com/&lt;/a&gt;, &lt;a href="http://dinasulaeman.wordpress.com/"&gt;http://dinasulaeman.wordpress.com/&lt;/a&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6808511174156263273-7281430893417492917?l=abi-azzahra.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://abi-azzahra.blogspot.com/feeds/7281430893417492917/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=6808511174156263273&amp;postID=7281430893417492917&amp;isPopup=true' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6808511174156263273/posts/default/7281430893417492917'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6808511174156263273/posts/default/7281430893417492917'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://abi-azzahra.blogspot.com/2009/06/pencideraan-sistematis-pemilu-iran.html' title='Pencideraan Sistematis Pemilu Iran'/><author><name>Ismail Amin</name><uri>http://www.blogger.com/profile/00461561157182799656</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://bp0.blogger.com/_b535izL1kDU/R54Ij8cN26I/AAAAAAAAAA8/7WbjvsXb9Tg/S220/Aku.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/_b535izL1kDU/Sj0jbT-WrZI/AAAAAAAAAuA/GHQj1JoZpDo/s72-c/cinta-ahmadinejad.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6808511174156263273.post-6513643015329806731</id><published>2009-06-17T05:11:00.000-07:00</published><updated>2009-06-17T05:58:58.771-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Iranologi'/><title type='text'>Beda Ahmadi dan Musavi</title><content type='html'>&lt;div class="fullpost" align="justify"&gt;Lewat email, sms, dan komentar di Face Book saya ditanya, apa respon saya mengenai kekisruhan yang terjadi di Teheran pasca Pemilihan Presiden Iran yang mencatat Ahmadi Nejad sebagai pemenangnya secara mutlak dengan kurang lebih 24 juta pendukung (63 %) sementara Hussain Musavi berada di urutan kedua dengan sekitar 13 juta pendukung (33%).&lt;/div&gt;&lt;div class="fullpost" align="justify"&gt; &lt;/div&gt;&lt;div class="fullpost" align="justify"&gt; &lt;/div&gt;&lt;div class="fullpost" align="justify"&gt; &lt;/div&gt;&lt;div class="fullpost" align="justify"&gt; &lt;/div&gt;&lt;div class="fullpost" align="justify"&gt; &lt;/div&gt;

&lt;div align="justify"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div class="fullpost" align="justify"&gt;Untuk sementara saya juga sedang menganalisanya (sok mikir ^_^) dan nda mau gegabah memberi jawaban, sebab saya bukan saksi kejadian langsung meskipun berada di Iran (saya di Qom, dan luar biasa damai) untuk sementara saya hanya bisa melampirkan gambar-gambar berikut....&lt;/div&gt;







&lt;p&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5348276711276398658" style="DISPLAY: block; MARGIN: 0px auto 10px; WIDTH: 250px; CURSOR: hand; HEIGHT: 150px; TEXT-ALIGN: center" alt="" src="http://3.bp.blogspot.com/_b535izL1kDU/SjjlVSAfyEI/AAAAAAAAAt4/F-GUDDUt91I/s320/A0514202.jpg" border="0" /&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt; &lt;/p&gt;&lt;p&gt; &lt;/p&gt;&lt;p&gt; &lt;/p&gt;&lt;p align="center"&gt;&lt;strong&gt;
&lt;span style="font-size:85%;color:#ff0000;"&gt;Aksi pendukung Musavi, mereka anak2 muda; kereng2, bapaknya kaya dan sedikit&lt;/span&gt;
&lt;span style="font-size:85%;color:#ff0000;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;strong&gt;&lt;/strong&gt; &lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;strong&gt; &lt;/p&gt;&lt;p align="center"&gt;
&lt;/strong&gt;

&lt;/p&gt;&lt;div align="center"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;strong&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5348276469623604146" style="DISPLAY: block; MARGIN: 0px auto 10px; WIDTH: 250px; CURSOR: hand; HEIGHT: 150px; TEXT-ALIGN: center" alt="" src="http://1.bp.blogspot.com/_b535izL1kDU/SjjlHNx-w7I/AAAAAAAAAtw/KrxGc2IaG-U/s320/A0696573.jpg" border="0" /&gt; &lt;/strong&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="center"&gt; &lt;/div&gt;&lt;div align="center"&gt; &lt;/div&gt;&lt;div align="center"&gt; &lt;/div&gt;&lt;div align="center"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;strong&gt;&lt;span style="color:#cc0000;"&gt;Aksi pendukung Ahmadi Nejad, mereka mahasiswa, pelajar agama, nda &lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="center"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;strong&gt;&lt;span style="color:#cc0000;"&gt;kerenji tapi banyak
&lt;/span&gt;
&lt;/strong&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="center"&gt; &lt;/div&gt;&lt;div align="center"&gt; &lt;/div&gt;&lt;div align="center"&gt; &lt;/div&gt;&lt;div align="center"&gt;
 &lt;/div&gt;&lt;div class="fullpost" align="center"&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5348275423144075122" style="DISPLAY: block; MARGIN: 0px auto 10px; WIDTH: 320px; CURSOR: hand; HEIGHT: 222px; TEXT-ALIGN: center" alt="" src="http://4.bp.blogspot.com/_b535izL1kDU/SjjkKTV0X3I/AAAAAAAAAtg/pO89czeK7Rg/s320/untitled2.bmp" border="0" /&gt;&lt;span style="font-size:85%;color:#ff0000;"&gt;&lt;strong&gt; Tante-tante pendukung Musavi &lt;/strong&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;p&gt;&lt;span style="font-size:85%;color:#ff0000;"&gt;&lt;strong&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/span&gt; &lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;span style="font-size:85%;color:#ff0000;"&gt;&lt;strong&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/span&gt; &lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;span style="font-size:85%;color:#ff0000;"&gt;&lt;strong&gt; &lt;/p&gt;&lt;div class="fullpost" align="center"&gt;
&lt;/div&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/span&gt;&lt;div align="center"&gt;

&lt;/div&gt;&lt;div class="fullpost" align="center"&gt;&lt;/div&gt;&lt;p&gt;&lt;strong&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5348275909701954770" style="DISPLAY: block; MARGIN: 0px auto 10px; WIDTH: 214px; CURSOR: hand; HEIGHT: 320px; TEXT-ALIGN: center" alt="" src="http://1.bp.blogspot.com/_b535izL1kDU/Sjjkmn6QbNI/AAAAAAAAAto/Qhx58g98psU/s320/ibu-pendukung-ahmadinejad.jpg" border="0" /&gt;&lt;/strong&gt;&lt;strong&gt;&lt;span style="font-size:85%;color:#ff0000;"&gt;                                                                      Nenek-nenek pendukung Ahmadi Nejad
&lt;/span&gt;
&lt;/strong&gt;  &lt;/p&gt;&lt;p&gt; &lt;/p&gt;&lt;p&gt; &lt;/p&gt;&lt;p&gt; &lt;/p&gt;&lt;p&gt;
 &lt;/p&gt;&lt;div class="fullpost"&gt;&lt;/div&gt;AS dan Israel prihatin dengan hasil pemilu Iran karena Ahmadi Nejad yang menang, kalau Musavi, mungkin mereka akan berbicara lain....

Wallahu 'alam bishshawwab
&lt;div class="fullpost"&gt;&lt;/div&gt;


&lt;div class="fullpost"&gt;&lt;/div&gt;


&lt;div class="fullpost"&gt;&lt;/div&gt;


&lt;div class="fullpost"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6808511174156263273-6513643015329806731?l=abi-azzahra.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://abi-azzahra.blogspot.com/feeds/6513643015329806731/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=6808511174156263273&amp;postID=6513643015329806731&amp;isPopup=true' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6808511174156263273/posts/default/6513643015329806731'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6808511174156263273/posts/default/6513643015329806731'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://abi-azzahra.blogspot.com/2009/06/beda-ahmadi-dan-musavi.html' title='Beda Ahmadi dan Musavi'/><author><name>Ismail Amin</name><uri>http://www.blogger.com/profile/00461561157182799656</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://bp0.blogger.com/_b535izL1kDU/R54Ij8cN26I/AAAAAAAAAA8/7WbjvsXb9Tg/S220/Aku.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/_b535izL1kDU/SjjlVSAfyEI/AAAAAAAAAt4/F-GUDDUt91I/s72-c/A0514202.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6808511174156263273.post-7255708724759482985</id><published>2009-05-25T11:09:00.000-07:00</published><updated>2009-05-25T11:15:13.997-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Agama'/><title type='text'>Konsep Masyarakat dalam Pandangan Ali Syariati</title><content type='html'>&lt;a href="http://1.bp.blogspot.com/_b535izL1kDU/Shrfd7D1S7I/AAAAAAAAAso/3-1fnfAi9ts/s1600-h/8930fa639d744cf4.jpg"&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5339826013364112306" style="FLOAT: left; MARGIN: 0px 10px 10px 0px; WIDTH: 145px; CURSOR: hand; HEIGHT: 108px" alt="" src="http://1.bp.blogspot.com/_b535izL1kDU/Shrfd7D1S7I/AAAAAAAAAso/3-1fnfAi9ts/s320/8930fa639d744cf4.jpg" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;
&lt;div class="fullpost" align="justify"&gt;Revolusi Islam Iran (1979) selalu menarik untuk dikaji. Theda Skocpol, dalam Social Revolutions in the Modern World, mengkategorikan Revolusi Islam Iran sebagai salah satu revolusi sosial terbesar dunia di samping Revolusi Prancis, Rusia dan Cina. Revolusi Islam Iran bukan hanya lahir dan terledakkan dari ketidakpuasan kelompok elit mullah (religious scholars) terhadap kebijakan Syah Pahlevi yang berusaha memangkas peran agama dalam fungsi sosial politik, namun juga merupakan akumulasi kekecewaan dan ketidakpuasan seluruh komponen bangsa Iran. Eric Rouleau mengatakan, Revolusi Iran merupakan satu-satunya revolusi religius yang bahkan kelompok minoritas pun mendukung dan ikut berperan dalam prosesnya. Karenanya, jika dilakukan pencermatan lebih jauh maka sesungguhnya ada dua ideologi besar yang menggerakan jalannya Revolusi di Iran. Ideologi religius yang diusung para ulama berbasis pendidikan Hauzawi (pesantren) diantaranya oleh Imam Khomeini dan Syahid Murtadha Muthahari dan konstruk ideologi semi religius, yang dibawa oleh kaum intelektual berlatar pendidikan sekuler diantara tokohnya adalah Ali Syariati dan Bani Sadr. Meskipun mempunyai misi yang sama dalam menggulingkan pemerintahan monarki Pahlevi namun tidak jarang kedua kelompok ideologis ini saling berhadap-hadapan dalam merebut pengaruh.
&lt;/div&gt;&lt;div class="fullpost" align="justify"&gt; &lt;/div&gt;&lt;div class="fullpost" align="justify"&gt; &lt;/div&gt;&lt;div class="fullpost" align="justify"&gt;
Mohammad Subhi-Ibrahim dalam salah satu artikelnya (Polaritas Masyarakat dalam Pemikiran Ali Syariati dan Imam Khomeini, Al Huda 2007) menuliskan, bahwa John L. Esposito pernah mengungkapkan, dalam Revolusi Islam Iran kaum Mullah khususnya Imam Khomeini lebih berperan sebagai pemimpin revolusi yang berbekal kekharismaan mampu menyatukan gerakan-gerakan revolusioner yang berbeda-beda namun perumus dan penyedia ideologi revolusinya sendiri adalah dari kaum intelektual, utamanya Ali Syariati. Bahkan menurut Nikki R. Keddie, "Ali Syari’ati-lah yang telah sangat mempersiapkan kaum muda Iran untuk perjuangan revolusioner itu". Tulisan ini secara singkat memaparkan konsep pemikiran sosial Ali Syariati tentang masyarakat dan klasifikasi kelas sosial. &lt;/div&gt;&lt;div class="fullpost" align="justify"&gt; &lt;/div&gt;&lt;div class="fullpost" align="justify"&gt; &lt;/div&gt;&lt;div class="fullpost" align="justify"&gt; &lt;/div&gt;&lt;div class="fullpost" align="justify"&gt; &lt;/div&gt;&lt;div class="fullpost" align="justify"&gt;

&lt;strong&gt;&lt;span style="color:#ff0000;"&gt;Biografi Singkat Ali Syariati&lt;/span&gt;&lt;/strong&gt; &lt;/div&gt;&lt;div class="fullpost" align="justify"&gt; &lt;/div&gt;&lt;div class="fullpost" align="justify"&gt; &lt;/div&gt;&lt;div class="fullpost" align="justify"&gt; &lt;/div&gt;&lt;div class="fullpost" align="justify"&gt;

Ali Syariati yang terlahir tahun 1933 di Mazinan, Iran, dikenal sebagai manusia yang kompleks, hampir berbagai gerakan-gerakan revolusioner di Iran merasa memilikinya. Ide-idenya menjadi sumber inspirasi kelompok Marxisme Iran semisal Hezb-e-Tudeh dan Sazeman-e Mojahedin-e Khalq-e Iran. Ia juga terlibat dalam gerakan perjuangan nasionalis dan bergabung dalam kelompok oposisi pro-Mossadeq, kritikan-kritikannya terhadap ulama-ulama Syiah yang menurutnya konservatif membuat dia dianggap sebagai crypto-sunni dan pro-wahhabi. Namun, sebagai anak dari Muhammad Taqi Shari’ati, seorang ulama besar yang sangat dihormati di Masyhad mengakrabkannya dengan tokoh-tokoh Hauzawi dengan mendirikan Hussainiyah al-Irsyad bersama Sayyid Hussain Nashr , Hashemi Rafsanjani dan Murtadha Mutahhari, meskipun pada akhirnya ketiganya mengundurkan diri dari Dewan Pimpinan karena semangat revolusioner Syariati yang dianggap kelewatan. &lt;/div&gt;&lt;div class="fullpost" align="justify"&gt; &lt;/div&gt;&lt;div class="fullpost" align="justify"&gt; &lt;/div&gt;&lt;div class="fullpost" align="justify"&gt; &lt;/div&gt;&lt;div class="fullpost" align="justify"&gt;
Ali Syariati meraih gelar doktoralnya di Universiti Sorbonne, sembari bergaul dengan Frantz Fanon, Louis Massignon, Jacques Berque dan Jean Paul Sartre. Dalam bidang filsafat ia masuk dalam pemikiran filosof Jerman, seperti Arthur Schopenhauer, Franz Kafka, dan penyair besar Jerman Anatole France. Selama di Perancispun ia akrab dengan pengikut Che Guevara, dan gerakan bawah tanah Kongo. Dengan pergaulan yang demikian luas dengan ideologi yang berwarna-warni maka Ali Syariati termasuk diantara pemikir yang sulit teridentifikasi. Pengagumnya lebih cenderung menggelarinya sebagai Rausyan Fikr, intelektual yang tercerahkan. &lt;/div&gt;&lt;div class="fullpost" align="justify"&gt; &lt;/div&gt;&lt;div class="fullpost" align="justify"&gt; &lt;/div&gt;&lt;div class="fullpost" align="justify"&gt;
 &lt;/div&gt;&lt;div class="fullpost" align="justify"&gt;
&lt;strong&gt;&lt;span style="color:#ff0000;"&gt;Konsep Masyarakat Ali Syariati&lt;/span&gt;&lt;/strong&gt; &lt;/div&gt;&lt;div class="fullpost" align="justify"&gt; &lt;/div&gt;&lt;div class="fullpost" align="justify"&gt; &lt;/div&gt;&lt;div class="fullpost" align="justify"&gt; &lt;/div&gt;&lt;div class="fullpost" align="justify"&gt;

Menurut Syariati, polarisasi masyarakat terdiri atas dua kutub yang dialektis. Dalam konsepnya dia mengistilahkan kutub Habil dan kutub Qabil, mengambil nama dan karakter dua anak Adam as. Syariati menyebut kutub Qabil sebagai kelas penguasa, yang merupakan pemilik kekuasaan, diantaranya politik, ekonomi dan kekuasaan religius. Kekuasaan politik disimbolkan dengan tokoh Fir'aun sebagai lambang penindas, kekuasaan ekonomi dilambangkan oleh tokoh Qarun sebagai lambang kapital dan kapitalisme, dan kekuasaan intelektual-religius dilambangkan oleh tokoh Bal'am sebagai simbol kemunafikan. Ketiga poros kekuasaan ini saling menunjang dan bekerja sama. Fir'aun merestui Qarun melakukan perampokan sistematis dan penguasaan atas pasar. Qarun memberikan jaminan finansial dan mendukung kerja intelektual Bal'am sementara Fir'aun memberikan jaminan politis. Dan Bal'am sendiri menyediakan basis doktrin untuk membenarkan rezim Fir'aun dan penguasaan ekonomi Qarun. Ali Syariati menyebut. ketiga komponen penopang kekuasaan Qabil sebagai trinitarianisme-sosial. Sedangkan kutub Habil adalah representasi kelas yang dikuasai, yang ditindas. Kutub Qabil merupakan penjelmaan kelas rakyat (an-nas) yang tercakup di dalamnya: orang-orang tertindas, yang diekploitir dan kaum lemah. &lt;/div&gt;&lt;div class="fullpost" align="justify"&gt; &lt;/div&gt;&lt;div class="fullpost" align="justify"&gt; &lt;/div&gt;&lt;div class="fullpost" align="justify"&gt; &lt;/div&gt;&lt;div class="fullpost" align="justify"&gt; &lt;/div&gt;&lt;div class="fullpost" align="justify"&gt;
Menariknya, menurut Syariati, Allah dalam konfrontasi kedua kutub masyarakat ini Allah SWT memihak pada kutub rakyat (Habil). Bahkan, Syari’ati berpendapat bahwa dalam beberapa ayat al-Quran Allah bersinonim dengan An-Nas. Misalnya, dalam surah At-Tagabun ayat 17, "Jika kamu meminjamkan kepada Allah pinjaman yang baik…". Syari’ati menjelaskan bahwa Allah yang dimaksud dalam ayat ini adalah an-nas (rakyat), karena Allah sama sekali tidak membutuhkan pinjaman.
&lt;/div&gt;&lt;div class="fullpost" align="justify"&gt; &lt;/div&gt;&lt;div class="fullpost" align="justify"&gt; &lt;/div&gt;&lt;div class="fullpost" align="justify"&gt; &lt;/div&gt;&lt;div class="fullpost" align="justify"&gt;
Ketika disebutkan, "Langit, bumi, diantara keduanya dan di bawah perut bumi adalah kepunyaan Allah", maka dimaknakan bahwa semuanya itu adalah milik rakyat, bukan milik Qarun (perorangan). Selanjutnya, bila dikatakan, "Segala sesuatu akan kembali kepada Allah", maka itu dimaksudkan bahwa keseluruhan manfaat dari kekayaan alam diperuntukkan bagi kemakmuran dan harus kembali kepada rakyat banyak bukan hanya dinikmati kelompok tertentu.
&lt;/div&gt;&lt;div class="fullpost" align="justify"&gt; &lt;/div&gt;&lt;div class="fullpost" align="justify"&gt; &lt;/div&gt;&lt;div class="fullpost" align="justify"&gt;
Menurut Syari’ati, rakyat merupakan wakil-wakil Allah (the representatives of God) sekaligus keluarga-Nya (al-nas iyalu 'Llah). Syari’ati menyebutkan pula adanya fakta bahwa al-Quran dibuka dengan nama Allah dan diakhiri dengan nama rakyat (an-nas). Ka’bah, kiblat umat Islam disebut sebagai rumah Allah (house of God), bukanlah dimaksudkan Allah butuh rumah melainkan rumah itu adalah milik semua orang (rakyat) dan Makah disebut pula al-bayt al-'atiq yang artinya adalah kebebasan.
Tentu saja penyamaan an-Nas dengan Allah hanya dalam wacana sosial bukan wacana aqidah. Dalam ranah teologis tetap tidak bisa disamakan antara Allah dengan An-Nas, namun dalam ranah sosiologis, menurut Syariati, keduanya adalah sinonim. Siapapun bisa tidak sepakat, namun inilah sumbangsih pemikiran Syariati yang mampu menerjemahkan kosa kata agama dalam kosa kata sosiologis. Menurutnya Islam adalah kekuatan yang menjadi pisau tajam yang memprakarsai sebuah perjalanan baru sejarah sosial Islam. Islam tidak semata-mata memuat deretan do'a namun juga perlawanan yang bergelora untuk memberikan manfaat kepada sebanyak-banyaknya manusia. Jean Paul Sartre berkata, "Saya tidak memiliki agama, namun jika harus memilih salah satu, kupilih agamanya Syariati". &lt;/div&gt;&lt;div class="fullpost" align="justify"&gt; &lt;/div&gt;&lt;div class="fullpost" align="justify"&gt; &lt;/div&gt;&lt;div class="fullpost" align="justify"&gt;
Wallahu 'alam bishshawwab. &lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6808511174156263273-7255708724759482985?l=abi-azzahra.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://abi-azzahra.blogspot.com/feeds/7255708724759482985/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=6808511174156263273&amp;postID=7255708724759482985&amp;isPopup=true' title='1 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6808511174156263273/posts/default/7255708724759482985'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6808511174156263273/posts/default/7255708724759482985'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://abi-azzahra.blogspot.com/2009/05/konsep-masyarakat-dalam-pandangan-ali.html' title='Konsep Masyarakat dalam Pandangan Ali Syariati'/><author><name>Ismail Amin</name><uri>http://www.blogger.com/profile/00461561157182799656</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://bp0.blogger.com/_b535izL1kDU/R54Ij8cN26I/AAAAAAAAAA8/7WbjvsXb9Tg/S220/Aku.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/_b535izL1kDU/Shrfd7D1S7I/AAAAAAAAAso/3-1fnfAi9ts/s72-c/8930fa639d744cf4.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6808511174156263273.post-1800724636375895657</id><published>2009-05-18T07:09:00.000-07:00</published><updated>2009-05-18T07:14:50.849-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Agama'/><title type='text'>Syekh Behjat, Santo dari Fuman Telah Pergi</title><content type='html'>&lt;div align="justify"&gt;&lt;a href="http://3.bp.blogspot.com/_b535izL1kDU/ShFsgkD91ZI/AAAAAAAAAsQ/-I8ignzrvjA/s1600-h/untitled.bmp"&gt;&lt;strong&gt;&lt;span style="color:#cc0000;"&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5337166340102673810" style="FLOAT: left; MARGIN: 0px 10px 10px 0px; WIDTH: 223px; CURSOR: hand; HEIGHT: 320px" alt="" src="http://3.bp.blogspot.com/_b535izL1kDU/ShFsgkD91ZI/AAAAAAAAAsQ/-I8ignzrvjA/s320/untitled.bmp" border="0" /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/a&gt;&lt;strong&gt;&lt;span style="color:#cc0000;"&gt;Inna lillah wa inna ilaihi raji’un.&lt;/span&gt;&lt;/strong&gt; &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt; &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt; &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;Telah pergi meninggalkan kita semua seorang sufi, arif, faqih dan ulama terkemuka, Ayatullah Uzhma Syekh Muhammad Taqi Behjat Fumai Najafi.
Kami mengucapkan belasungkawa kepada Rasulullah dan para jejiwa suci penerusnya serta seluruh umat Islam terutama para pecinta dan pengagumnya. &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt; &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt; &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;
Berikut biografi singkat santo dari Fuman ini: &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt; &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt; &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt; &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;
Ia dikenal sebagai salah satu tokoh arif yang zahid dan memiliki spiritualitas yang amat tinggi. Ia menjalani kehidupan zuhud dalam sebuah rumah yang sangat sederhana yang terletak di sebuah lorong kecil. Berkali-kali ia menolak tawaran dari pengikut dan pengagumnya yang memohonnya untuk berpindah ke rumah yang lebih layak. &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt; &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt; &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;
Ayatullah Uzhma Muhammad Taqi Behjat Fumani lahir pada penghujung tahun 1334 di kota Fuman. Ayahnya, Mahmud Karbala’i, adalah tokoh agama yang sangat disegani. Ia menyelesaikan pendidikan dasar di Fuman kemudian berhijrah ke kota Qum. &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt; &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;
Setelah merampungkan pendidikan menengah dan menguasai bahasa dan gramatika Arab, pada tahun 1348 ia melanjutkan studi agama di kota suci Karbala dan menjadi murid sejumlah ulama besar di sana. &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt; &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;
Pada tahun 1352 ia berpindah ke Najaf demi memperdalam studi agama dalam bidang fikih dan ushul fikih di bawah bimbingan Ayatullah Uzhma Muhammad Kazhim Syirazi dan Ayatullah Sayyid Hasan Badkuba’i. Pada tingkat teratas studi, ia berguru kepada Ayatullah Uzhma Syekh Dhiya’uddin Iraqi, Ayatullah Uzhma Muhammad Husain Na’ini, Ayatullah Uzhma Muhammad Husain Gharawi Ishfahani (yang dikenal dengan sebutan Agha Kumpani), Ayatullah Uzhma Sayyid Abul-Hasan Ishfahani, dan terakhir Ayatullah Uzhma Sayyid Abul-Qasim Khu’i.
Pada tahun 1356 ia kembali ke Qum, Iran dan menjadi murid sejumlah ulama besar, antara lain Ayatullah Uzhma Sayyid Hujjat Kuhkamari dan Ayatullah Uzhma Sayyid Husain Burujerdi.
Ia telah mempersembahkan sejumlah karya dalam berbagai bidang, antara lain Tawdhih al-Masa’il dan Hasyiyah ‘alâ Makâsib Syekh Anshari. &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt; &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;
Ia juga telah berhasil mencetak banyak ulama. Salah satunya adalah Ayatullah Muhammad Taqi Misbah Yazdi, guru besar filsafat di hawzah ilmiah Qom saat ini. &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt; &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt; &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt; &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt; &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt; &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt; &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt; &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt; &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt; &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt; &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;Dicopi paste dari &lt;/span&gt;&lt;a href="http://muhsinlabib.wordpress.com/"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;http://muhsinlabib.wordpress.com&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6808511174156263273-1800724636375895657?l=abi-azzahra.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://abi-azzahra.blogspot.com/feeds/1800724636375895657/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=6808511174156263273&amp;postID=1800724636375895657&amp;isPopup=true' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6808511174156263273/posts/default/1800724636375895657'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6808511174156263273/posts/default/1800724636375895657'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://abi-azzahra.blogspot.com/2009/05/syekh-behjat-santo-dari-fuman-telah.html' title='Syekh Behjat, Santo dari Fuman Telah Pergi'/><author><name>Ismail Amin</name><uri>http://www.blogger.com/profile/00461561157182799656</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://bp0.blogger.com/_b535izL1kDU/R54Ij8cN26I/AAAAAAAAAA8/7WbjvsXb9Tg/S220/Aku.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/_b535izL1kDU/ShFsgkD91ZI/AAAAAAAAAsQ/-I8ignzrvjA/s72-c/untitled.bmp' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6808511174156263273.post-1085474849505144514</id><published>2009-05-16T11:23:00.000-07:00</published><updated>2009-05-16T11:33:04.028-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Sosial Budaya'/><title type='text'>Negeri yang Terlahir dari Buku</title><content type='html'>&lt;a href="http://3.bp.blogspot.com/_b535izL1kDU/Sg8F_DTFThI/AAAAAAAAAsI/qsA4frK9q8k/s1600-h/03052009523.jpg"&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5336490664232570386" style="FLOAT: left; MARGIN: 0px 10px 10px 0px; WIDTH: 320px; CURSOR: hand; HEIGHT: 240px" alt="" src="http://3.bp.blogspot.com/_b535izL1kDU/Sg8F_DTFThI/AAAAAAAAAsI/qsA4frK9q8k/s320/03052009523.jpg" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;

&lt;div class="fullpost" align="justify"&gt;
Setahu saya, tidak ada yang lebih membuat seseorang lebih dikenal dan menjadi besar kecuali lewat transkrip-transkrip pemikiran yang dituliskannya pada berlembar-lembar kertas yang kemudian kita menyebutnya buku. Tidak bisa dipungkiri, kehidupan kita bisa jadi lebih mudah dengan ditemukannya alat-alat teknologi yang dikekinian semakin canggih dan beragam, ataupun banyak nyawa-nyawa kritis yang terselamatkan dengan semakin modernnya peralatan medis. Namun adakah yang bisa membendung dan menyembunyikan nama besar seseorang yang terlahir lewat buku?. Bukankah nama-nama penemu dunia justru kalah populer dibanding para penulis buku?. Setiap saya berbicara tentang buku, ingatan saya tidak bisa lepas dari Muhammad Hatta. Orang besar yang dimiliki bangsa ini pernah menulis, “Selama aku bersama buku kalian boleh memenjarakanku di mana saja; sebab dengan buku pikiranku tetap bebas." &lt;/div&gt;

&lt;div class="fullpost" align="justify"&gt;
&lt;/div&gt;

&lt;div class="fullpost" align="justify"&gt;&lt;/div&gt;

&lt;div class="fullpost" align="justify"&gt;
Lewat tulisan yang dimuat dalam buku Memoir yang ditulisnya sendiri, Muhammad Hatta ingin menunjukkan betapa ia sangat mencintai buku. Bentuk cintanya, tidak hanya dengan membacanya, namun juga membuat buku sendiri. Alam Pikiran Yunani adalah bukti konkret betapa ia memiliki kecintaan yang meluap-luap, sekaligus membuktikan bahwa pikirannya benar-benar bebas merdeka meskipun tubuhnya terpenjara. Buku 'Alam Pikiran Yunani' ditulisnya selama mendekam di Digul 1934 dan berlanjut di Pulau Ende pada 1936. Dari penjaralah, "Alam Pikiran Yunani" lahir. &lt;/div&gt;

&lt;div class="fullpost" align="justify"&gt;&lt;/div&gt;

&lt;div class="fullpost" align="justify"&gt;&lt;/div&gt;

&lt;div class="fullpost" align="justify"&gt;&lt;/div&gt;





&lt;div class="fullpost" align="justify"&gt;

Di sini Hatta tidak sendiri. Saya kira setiap pemimpin pergerakan dan orang-orang yang kemudian hari menjadi besar itu tidak pernah bisa jauh dari buku. Buku bagi mereka adalah nyawa. Adalah nafas panjang. Itulah sumber energi yang menggerakkan tubuh dan jiwa mereka. Dengan membaca, bagi orang-orang seperti Soekarno, Hatta, Soetan Syahrir, Muhammad Yamin, Tan Malaka sampai Amir Syarifuddin tidak pernah merasa terpenjara dan perlu merasa takut. Lihat saja fragmen terfakhir dari perjalanan hidup Amir Syarifuddin, perdana menteri kedua dalam sejarah Indonesia setelah Syahrir. Beberapa jam sebelum di ekseskusi mati di Solo –karena terlibat dalam peristiwa Madiun 1948- perwira yang bertugas menjaganya bertanya apa permintaan terakhirnya. Ia menjawab dengan meminta buku. Maka disodorkanlah buku Romeo and Juliet karangan William Shakespeare, dan selanjutnya dikisahkan, Amir menghabiskan detik-detik terakhirnya membaca buku dengan tenang sebelum ditembak mati. &lt;/div&gt;

&lt;div class="fullpost" align="justify"&gt;&lt;/div&gt;

&lt;div class="fullpost" align="justify"&gt;&lt;/div&gt;

&lt;div class="fullpost" align="justify"&gt; &lt;/div&gt;&lt;div class="fullpost" align="justify"&gt; &lt;/div&gt;&lt;div class="fullpost" align="justify"&gt; &lt;/div&gt;&lt;div class="fullpost" align="justify"&gt; &lt;/div&gt;&lt;div class="fullpost" align="justify"&gt; &lt;/div&gt;&lt;div class="fullpost" align="justify"&gt;

Ini hanyalah salah satu fragmen sejarah bangsa yang menunjukkan adanya hubungan yang akrab antara revolusi Indonesia dengan buku. Karenanya tidak berlebihan kalau Zen Rahmat Soegito mengatakan bahwa Indonesia didirikan diantaranya oleh orang-orang pecinta, pembaca dan penulis buku. "Banyak sekali fragmen sejarah yang bisa menggambarkan hal itu", tulisnya.
&lt;/div&gt;

&lt;div class="fullpost" align="justify"&gt;&lt;/div&gt;

&lt;div class="fullpost" align="justify"&gt;&lt;/div&gt;




&lt;div class="fullpost" align="justify"&gt;
Sebagaimana yang dikatakan Hatta, pikiran tidak pernah terpenjara. Begitu pulalah Kartini. Dalam kondisi dipingit di 'sangkar' kadipaten ia belajar autodidak. Majalah atau koran terkenal seperti Maatschappelijk werk in Indie, De Gids, De Hollandsche Lelie, De Locomotief sampai karya Multatuli berjudul Max Havelaar di lahapnya. Dengan bacaan-bacaan ini ia menuliskan karya-karyanya, tidak hanya buku Door Duisternis Tot Licht (Usai Gelap Berpendarlah Terang) sebagaima yang telah dikenal tetapi juga tercatat ada dua buku kebudayaan, yakni Het buwelijk bij de Kodjas (Upacara Perkawinan pada Suku Koja) dan De Batikkunst in Indie en haar Geschiedenis (Kesenian Batik di Hindia Belanda dan Sejarahnya). Buku kedua ini yang membuat ukiran Jepara dikenal di seantero negeri.
Dengan karya-karya itu, maka Kartini bukan hanya pejuang emansipasi yang lebih dikenal dengan kebayanya, tapi juga ibu epistolari –meminjam istilah Muhidin M. Dahlan- yakni ibu penulis.
&lt;/div&gt;




&lt;div class="fullpost" align="justify"&gt;&lt;/div&gt;

&lt;div class="fullpost" align="justify"&gt;
&lt;strong&gt;&lt;span style="color:#ff0000;"&gt;Negeri yang Lahir dari Tinta&lt;/span&gt;&lt;/strong&gt; &lt;/div&gt;

&lt;div class="fullpost" align="justify"&gt;&lt;/div&gt;

&lt;div class="fullpost" align="justify"&gt;&lt;/div&gt;




&lt;div class="fullpost" align="justify"&gt;

Kalau Kartini menulis pergulatan pemikirannya dalam bentuk surat dan dikirimkan ke 12 korespondesinya di Belanda. Sjahrir menulis renungan-renungannya dalam bentuk surat kepada istrinya di Belanda, Maria Duchateau. Surat-surat inilah yang kemudian terbit dalam bentuk buku dengan judul Indonesische Overpeinzingen (dalam edisi Indonesia berjudul Rantau dan Perjuangan). Inilah renungan kebudayaan paling cemerlang yang pernah ditulis oleh seorang anak bangsa. Buku ini menunjukkan keluasan erudisi seorang Sjahrir. Ia mampu meletakkan setiap pokok gagasan dalam konteks alur perkembangan sejarah intelektual dunia. Sjahrir mampu menjelaskan seperti apa “hubungan darah” antara satu filsuf dengan filsuf yang lain, dari Johan Huizinga, Dante, Dostoyevski, Benedotte Croce hingga Nietzche. Selanjutnya, tidak adil kalau saya tidak menyebut nama Tan Malaka sebagai yang termasuk penulis kawakan yang dimiliki bangsa ini. Bahkan bagi saya ia harus berada dalam deretan teratas. Ketangguhannya dalam menulis benar-benar telah teruji. Produktivitas dan staminanya betul-betul tanpa tanding. Penjara, pengasingan, pembuangan dan penyakit akut tidak pernah mampu membuatnya berhenti menulis. Hanya kematian yang bisa menghentikannya menulis. Coba anda bayangkan, di tengah situasi yang begitu berbahaya pada masa kekuasaan Jepang, Tan Malaka masih mampu menerbitkan sebuah buku dahsyat berjudul Madilog. Tan Malaka menulis Madilog dalam situasi yang sangat terbatas, tanpa referensi, seluruh kutipan diambil dari ingatannya belaka, dengan bahan tulis yang terbatas dalam persembunyiaannya, memaksanya menulis Madilog dengan huruf-huruf yang sangat kecil. Madilog berbicara nyaris tentang semua aspek kehidupan, dari mulai filsafat, ekonomi, kebudayaan, sosiologi, sejarah hingga sains modern, yang meliputi dari matematika, kimia, fisika hingga astronomi. Bukunya menununjukkan betapa hebatnya ia sebagai orang asia, sebagai orang timur dan sebagai orang Indonesia . Dan orang ini pula yang dalam pekik perang kemerdekaan, dalam suasana perang mempertahankan kemerdekaan, masih sempat-sempatnya menerbitkan buku yang berjudul Moeslihat. Bahkan dalam pemenjaraan yang tak jelas selama periode 1946-1948, Tan Malaka tetap meneruskan aktivitas intelektualnya. Di penjara itulah Tan Malaka, di antaranya, menulis From Jail to Jail atau Dari Penjara ke Penjara. Hanya peluru tentara republiklah yang kemudian menghentikan aktivitas menulis Tan Malaka. Soekarno sebagai Presiden pertama republik inipun tidak pernah bisa lepas dari kerja-kerja intelektual, membaca dan menulis. Meski negara yang dipimpinnya tengah mengalami kondisi politik dan ekonomi yang porak-poranda ia masih sempat juga menulis dan menerbitkan buku Sarinah, Kewadjiban Wanita Dalam Perdjoangan Republik Indonesia , 1947. &lt;/div&gt;

&lt;div class="fullpost" align="justify"&gt;&lt;/div&gt;

&lt;div class="fullpost" align="justify"&gt;&lt;/div&gt;

&lt;div class="fullpost" align="justify"&gt; &lt;/div&gt;&lt;div class="fullpost" align="justify"&gt;

Karenanya, tidak berlebihan jika menyebut Negara ini dibangun dan diperjuangkan oleh orang-orang yang memiliki kecintaan terhadap buku yang melimpah.
Tradisi cinta buku tidak bolehlah mati. Negeri ini tidak hanya dibangun dari tetesan keringat dan darah tapi juga tinta. Lahir dari buku dan lembaran-lembaran agitasi. Jangan pinggirkan kenyataan itu!!!.
&lt;/div&gt;

&lt;div class="fullpost" align="justify"&gt;&lt;/div&gt;&lt;p&gt; &lt;/p&gt;&lt;p&gt; &lt;/p&gt;&lt;p&gt; &lt;/p&gt;&lt;p&gt; &lt;/p&gt;

&lt;div class="fullpost" align="justify"&gt;
Selamat Hari Buku Nasional, 17 Mei. &lt;/div&gt;&lt;div class="fullpost" align="justify"&gt; &lt;/div&gt;&lt;div class="fullpost" align="justify"&gt; &lt;/div&gt;&lt;div class="fullpost" align="justify"&gt; &lt;/div&gt;&lt;div class="fullpost" align="justify"&gt; &lt;/div&gt;&lt;div class="fullpost" align="justify"&gt;
&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;strong&gt;
&lt;/strong&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:78%;color:#ff0000;"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;strong&gt;Ismail Amin&lt;/strong&gt;&lt;/span&gt;, penikmat buku sedang belajar di  Qom Iran .
&lt;/div&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6808511174156263273-1085474849505144514?l=abi-azzahra.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://abi-azzahra.blogspot.com/feeds/1085474849505144514/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=6808511174156263273&amp;postID=1085474849505144514&amp;isPopup=true' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6808511174156263273/posts/default/1085474849505144514'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6808511174156263273/posts/default/1085474849505144514'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://abi-azzahra.blogspot.com/2009/05/negeri-yang-terlahir-dari-buku.html' title='Negeri yang Terlahir dari Buku'/><author><name>Ismail Amin</name><uri>http://www.blogger.com/profile/00461561157182799656</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://bp0.blogger.com/_b535izL1kDU/R54Ij8cN26I/AAAAAAAAAA8/7WbjvsXb9Tg/S220/Aku.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/_b535izL1kDU/Sg8F_DTFThI/AAAAAAAAAsI/qsA4frK9q8k/s72-c/03052009523.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6808511174156263273.post-4502843163923215044</id><published>2009-05-09T07:24:00.000-07:00</published><updated>2009-05-09T07:41:39.371-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='aktivitas'/><title type='text'>Istrahatlah Sejenak</title><content type='html'>&lt;a href="http://4.bp.blogspot.com/_b535izL1kDU/SgWSxa8DifI/AAAAAAAAAr4/2qF3ebr9DZE/s1600-h/berantas3.JPG"&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5333830711432677874" style="DISPLAY: block; MARGIN: 0px auto 10px; WIDTH: 257px; CURSOR: hand; HEIGHT: 320px; TEXT-ALIGN: center" alt="" src="http://4.bp.blogspot.com/_b535izL1kDU/SgWSxa8DifI/AAAAAAAAAr4/2qF3ebr9DZE/s320/berantas3.JPG" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;
&lt;div class="fullpost"&gt;&lt;span style="color:#ff0000;"&gt;Hidup tak harus selalu berlari, istaratlah sejenak, kita perbaharui keimanan.... &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;span style="color:#ff0000;"&gt;&lt;/span&gt;
&lt;p&gt;&lt;span style="color:#ff0000;"&gt;&lt;span style="font-size:78%;"&gt;*Lagi merayakan hak untuk bermalas-malasan&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div class="fullpost"&gt;
&lt;/div&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6808511174156263273-4502843163923215044?l=abi-azzahra.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://abi-azzahra.blogspot.com/feeds/4502843163923215044/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=6808511174156263273&amp;postID=4502843163923215044&amp;isPopup=true' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6808511174156263273/posts/default/4502843163923215044'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6808511174156263273/posts/default/4502843163923215044'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://abi-azzahra.blogspot.com/2009/05/istrahatlah-sejenak.html' title='Istrahatlah Sejenak'/><author><name>Ismail Amin</name><uri>http://www.blogger.com/profile/00461561157182799656</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://bp0.blogger.com/_b535izL1kDU/R54Ij8cN26I/AAAAAAAAAA8/7WbjvsXb9Tg/S220/Aku.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/_b535izL1kDU/SgWSxa8DifI/AAAAAAAAAr4/2qF3ebr9DZE/s72-c/berantas3.JPG' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6808511174156263273.post-2014659686936915468</id><published>2009-04-21T07:25:00.000-07:00</published><updated>2009-04-21T07:41:46.327-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Sosial Budaya'/><title type='text'>Krisis Pangan atau Krisis Kemanusiaan ?</title><content type='html'>&lt;a href="http://3.bp.blogspot.com/_b535izL1kDU/Se3bAtrFHZI/AAAAAAAAAro/6zesPT7bMQY/s1600-h/6862245-md.jpg"&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5327154739555933586" style="DISPLAY: block; MARGIN: 0px auto 10px; WIDTH: 320px; CURSOR: hand; HEIGHT: 320px; TEXT-ALIGN: center" alt="" src="http://3.bp.blogspot.com/_b535izL1kDU/Se3bAtrFHZI/AAAAAAAAAro/6zesPT7bMQY/s320/6862245-md.jpg" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;
&lt;div&gt;&lt;a href="http://4.bp.blogspot.com/_b535izL1kDU/Se3Y1scW4cI/AAAAAAAAArQ/OQ7DKxg4_X0/s1600-h/6862245-md.jpg"&gt;&lt;/a&gt;

&lt;div class="fullpost" align="justify"&gt;Tidak terpungkiri di abad ini umat manusia mencapai kemajuan yang begitu menakjubkan. Sebuah perubahan revolusioner di bidang ekonomi, sains, ilmu pengetahuan dan teknologi membuat manusia mampu memegang kendali atas alam dan mengelolanya untuk kesejahteraan material yang begitu besar. Namun konsekwensi dari kemudahan hidup yang diperoleh dari kerja-kerja mesin industri juga tidak bisa dikatakan sederhana. Kemajuan itu justru memunculkan beragam polusi, kerusakan lingkungan hidup dan terganggunya keseimbangan ekosistem alam. Munculnya gejala pemanasan global juga disebabkan oleh kecanggihan pemikiran manusia dalam membuat mesin-mesin industri baru. Sejumlah data menujukkan bahwa pemanasan bumi merupakan fenomena di luar prediksi dan telah sampai pada tahap krisis. Pola pencairan es di Antartika merupakan salah satu indikatornya. Sederet tanda-tanda bahaya yang telah terjadi sebelumnya adalah volume es di Antartika pada musim panas 2007 hanya tinggal setengah dari empat tahun sebelumnya. Es di Greenland yang telah mencair mencapai 19 juta ton sementara beting es Wilkins yang menghubungkan pulau es Charcot dan Latedy pecah berkeping-keping yang justru terjadi pada musim dingin. Wilkins adalah pulau es raksasa yang telah berusia 1.500 tahun di kawasan Semenanjung Antartika yang berada di sebelah selatan Amerika Selatan. Luas es yang pecah di kawasan tersebut mencapai 160 kilometer persegi. &lt;/div&gt;

&lt;div class="fullpost" align="justify"&gt;&lt;/div&gt;

&lt;div class="fullpost" align="justify"&gt;&lt;/div&gt;

&lt;div class="fullpost" align="justify"&gt;

&lt;strong&gt;&lt;span style="color:#ff0000;"&gt;Efek Pemanasan Global&lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/div&gt;

&lt;div class="fullpost" align="justify"&gt;&lt;/div&gt;

&lt;div class="fullpost" align="justify"&gt;&lt;/div&gt;

&lt;div class="fullpost" align="justify"&gt;

Diantara biang dari pemanasan global ini adalah penggunaan energi yang tidak terperbarukan -bahan bakar fosil- seperti minyak dan batu bara. Gas karbon yang kita pakai untuk menjalankan mesin kendaraan setiap hari, akan membumbungkan polusi udara berupa CO2, NOx dan Methana, sehingga menimbulkan perusakan lapisan ozon dan menjadikan bumi lebih panas dan iklim menjadi berubah. Dampak tragis perubahan iklim tersebut bisa terlihat dengan munculnya fenomena alam yang sulit diprediksi. Dalam beberapa tahun terakhir, jumlah bencana angin topan, badai tornado, hujan yang disertai banjir besar, di berbagai kawasan dunia makin meningkat tajam. Sementara pada saat yang sama di kawasan lainnya, masa kekeringan justru kian panjang, khususnya di kawasan tropis dan sub-tropis. &lt;/div&gt;

&lt;div class="fullpost" align="justify"&gt;&lt;/div&gt;

&lt;div class="fullpost" align="justify"&gt;&lt;/div&gt;

&lt;div class="fullpost" align="justify"&gt;

Dan yang merasakan efek paling tragis dari perubahan iklim ini adalah warga miskin di negara-negara berkembang. Padahal, penyebab utama munculnya pemanasan global merupakan akibat dari ketamakan negara-negara industri, khususnya AS dan keengganan mereka untuk menaati aturan internasional. Para analis memperkirakan, perubahan iklim itu juga bakal memperlebar jarak kesenjangan sosial dan ekonomi di tingkat global. Situasi semacam itu niscaya berujung pada kian bertambahnya angka kemiskinan yang juga bisa mengancam keamanan dunia. Pemanasan global juga menganggu jalan kerja lahan pertanian untuk memenuhi kebutuhan pangan penduduk bumi yang kian meningkat. Disinyalir, persentase ladang pertanian tadah hujan di dunia, hingga tahun 2020 bakal menurun hingga 50 persen.&lt;/div&gt;

&lt;div class="fullpost" align="justify"&gt;&lt;/div&gt;

&lt;div class="fullpost" align="justify"&gt;&lt;/div&gt;

&lt;div class="fullpost" align="justify"&gt;
&lt;strong&gt;&lt;span style="color:#ff0000;"&gt;
Sumber Utama Krisis Pangan&lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/div&gt;

&lt;div class="fullpost" align="justify"&gt;&lt;/div&gt;

&lt;div class="fullpost" align="justify"&gt;&lt;/div&gt;

&lt;div class="fullpost" align="justify"&gt;

Berbagai macam teori dan solusi dilontarkan untuk mengatasi krisis lingkungan yang semakin parah ini. Salah satunya, penggunaan bahan bakar fosil yang menghasilkan karbon dalam proses pembakarannya bukan lagi dalam tahap mengurangi tapi telah mencapai tahap harus dihentikan, terlebih lagi sebagaimana layaknya bahan bakar yang tak terbaharukan, cadangan bahan bakar fosil semakin menipis. Situasi ini lantas memunculkan primadona baru, yakni biofuel. Permintaan dan popularitas biofuel meningkat drastis akibat kepanikan dunia akan menipisnya bahan bakar fosil. &lt;/div&gt;

&lt;div class="fullpost" align="justify"&gt;&lt;/div&gt;

&lt;div class="fullpost" align="justify"&gt;&lt;/div&gt;

&lt;div class="fullpost" align="justify"&gt;

Biofuel yang dibuat dengan bahan dasar jagung, kanola, tebu, atau sawit tidak menimbulkan kekhawatiran sebab bisa diproduksi dalam jumlah yang tak berbatas untuk memenuhi kebutuhan bahan bakar mesin-mesin kendaraan dan industri. Demam biofuel ini pun menyeret para petani seluruh dunia dalam arus hukum ekonomi: menjual kepada yang memberi untung lebih. Disinilah efek yang lebih dramatis terjadi, petani lebih memilih memproduksi pangan untuk dijual pada produsen biofuel dibanding untuk memenuhi kebutuhan pokok manusia. Akibatnya, bahan pangan pokok untuk dikonsumsi menjadi langka, yang secara alamiah akan mendongkrak naiknya harga bahan pangan pokok di pasaran.&lt;/div&gt;

&lt;div class="fullpost" align="justify"&gt;&lt;/div&gt;

&lt;div class="fullpost" align="justify"&gt;&lt;/div&gt;

&lt;div class="fullpost" align="justify"&gt;

Laporan Dana Internasional untuk Pembangunan Pertanian (IFAD) memperkirakan, kenaikan penderita kelaparan di dunia mencapai 16 juta orang dari setiap satu persen saja kenaikan harga bahan pangan pokok dunia. Dengan laju kenaikan sebesar itu, IFAD memperkirakan terdapat 1,2 miliar orang yang akan mengalami krisis pangan kronis di seluruh dunia pada tahun 2025. Yang lebih menyedihkan lagi, krisis pangan terjadi karena kebutuhan perut hewan ternak justru lebih diprioritaskan dibanding untuk memenuhi kebutuhan perut manusia. Peternakan adalah penggerak utama dari penebangan hutan. Diperkirakan 70% persen bekas hutan di Amazon telah dialih-fungsikan menjadi ladang ternak. Sedangkan dua per tiga hasil pertanian di muka bumi ini dipergunakan untuk peternakan. Sebagai contoh, Eropa mengimpor 70% protein (kedelai, jagung dan gandum) dari pertanian untuk peternakan. Indonesia sendiri pada tahun 2006 mengimpor jagung untuk pakan ternak 1,77 juta ton. Padahal, asal tahu saja, pakan yang selama ini diberikan kepada ternak dapat memenuhi kebutuhan kalori 8,7 miliar orang. Berarti masih ada kelebihan kalori untuk 2,1 miliar orang. Hasil pertanian yang digunakan untuk pakan ternak di negara Amerika saja bisa memberi makan 1,3 miliar manusia. Sementara kenyataan yang terjadi 40.000 manusia mati setiap hari karena kelaparan. Masalah lainnya yakni, inefisiensi air. Sekian triliun galon air diperuntukkan untuk irigasinya saja. Sebagai gambaran sederhana, untuk mendapatkan satu kilogram daging sapi mulai dari pemeliharaan, pemberian pakan ternak, hingga penyembelihan seekor sapi membutuhkan satu juta liter air (Chindy Than, 2008). Lester R. Brown, memaparkan dalam bukunya ”Plan B 3.0 Mobilizing to Save Civilization” (2008) bahwa untuk memproduksi satu ton biji-bijian membutuhkan seribu ton air, maka tidak heran bila 70% persediaan air di dunia digunakan untuk irigasi. Saat yang sama, jutaan manusia menjerit karena kebutuhan air bersih yang tidak terpenuhi. &lt;/div&gt;

&lt;div class="fullpost" align="justify"&gt;&lt;/div&gt;

&lt;div class="fullpost" align="justify"&gt;&lt;/div&gt;

&lt;div class="fullpost" align="justify"&gt;&lt;/div&gt;

&lt;div class="fullpost" align="justify"&gt;

Di dalam salah satu artikelnya Dewi Lestari (2008) memaparkan, di dunia saat ini jumlah seluruh hewan ternak berkaki empat mencapai angka enam miliar. Enam miliar ternak itu tidak dicapai semata-mata oleh alam, manusialah yang secara sengaja mewujudkannya atas nama pemenuhan kebutuhan hidup. Sesama hewan tidak memakan spesiesnya, tapi manusia sibuk memberi makan hewan sampai lupa memberi makan spesiesnya sendiri. Di atas puncak piramida makanan, tak ada lagi predator yang menghabisi kita. Hanya kitalah yang bisa membunuh saudara-saudara kita sendiri. Jangan bayangkan, membunuh saudara kita melulu melalui peluru atau belati, apa bukan termasuk membunuh, bila kita sibuk memberi makan hewan ternak dan membiarkan perut saudara kita keroncongan?. Karenanya bisa dikatakan tumbuhnya pabrik-pabrik industri dan semakin luasnya lahan peternakan bukan untuk memenuhi kebutuhan manusia, tapi nurani kita telah mati. Contoh sederhananya, untuk memproduksi satu kilo daging sapi dibutuhkan enam belas kilo tanaman biji-bijian yang merupakan makanan pokok manusia. Jadi, bisa dibilang, saat kita menkonsumsi satu kilo daging, kita telah mengambil jatah enam belas porsi makan manusia. Atas nama pemenuhan selera, kita lebih memilih mengisi perut ternak dibanding perut saudara kita sendiri. Persoalan terbesar kita bukan krisis pangan, sebab bumi akan selalu mampu memenuhi kebutuhan pangan seluruh penduduk bumi. Allah SWT berfirman,”Dan Dia diciptakan padanya gunung-gunung yang kokoh di atasnya. Dan kemudian Dia berkahi dan Dia tentukan makanan-makanan dalam empat masa, memadai untuk memenuhi kebutuhan mereka yang memerlukannya.” (Qs. Fussilat : 10). Krisis sebenarnya adalah kemanusiaan kita. &lt;/div&gt;

&lt;div class="fullpost" align="justify"&gt;&lt;/div&gt;

&lt;div class="fullpost" align="justify"&gt;


Wallahu 'alam bishshawwab &lt;/div&gt;

&lt;div class="fullpost" align="justify"&gt;&lt;/div&gt;

&lt;div class="fullpost" align="justify"&gt;
Ismail Amin &lt;/div&gt;

&lt;div class="fullpost" align="justify"&gt;

Mahasiswa Mostafa International University Republik Islam Iran

&lt;/div&gt;
&lt;div class="fullpost" align="justify"&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="fullpost" align="justify"&gt;&lt;span style="font-size:78%;color:#ff0000;"&gt;Photo: created by Dadang&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6808511174156263273-2014659686936915468?l=abi-azzahra.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://abi-azzahra.blogspot.com/feeds/2014659686936915468/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=6808511174156263273&amp;postID=2014659686936915468&amp;isPopup=true' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6808511174156263273/posts/default/2014659686936915468'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6808511174156263273/posts/default/2014659686936915468'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://abi-azzahra.blogspot.com/2009/04/krisis-pangan-atau-krisis-kemanusiaan.html' title='Krisis Pangan atau Krisis Kemanusiaan ?'/><author><name>Ismail Amin</name><uri>http://www.blogger.com/profile/00461561157182799656</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://bp0.blogger.com/_b535izL1kDU/R54Ij8cN26I/AAAAAAAAAA8/7WbjvsXb9Tg/S220/Aku.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/_b535izL1kDU/Se3bAtrFHZI/AAAAAAAAAro/6zesPT7bMQY/s72-c/6862245-md.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6808511174156263273.post-2425684992445171684</id><published>2009-04-18T02:47:00.000-07:00</published><updated>2009-04-18T03:20:06.103-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Agama'/><title type='text'>Kunjungan Dua Menteri Agama</title><content type='html'>&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="color:#ffffff;"&gt;Untuk sementara saya tidak mau bercerita banyak dulu, akhir-akhir ini saya lagi benar-benar lagi malas nulis, semalas-malasnya... Jadi afwan kalau 3 postingan terakhir, melulu gambar tanpa banyak bicara. Saya beri kesempatan lebih banyak kepada photo-photo ini bercerita, tentang dirinya sendiri... saya hanya bisa memberi sedikit keterangan, seperlunya...
&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;a href="http://3.bp.blogspot.com/_b535izL1kDU/Semi__NEDhI/AAAAAAAAAqY/kBwjvQxpvVs/s1600-h/Harykoe327.jpg"&gt;&lt;span style="color:#ffffff;"&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5325967254524005906" style="DISPLAY: block; MARGIN: 0px auto 10px; WIDTH: 320px; CURSOR: hand; HEIGHT: 240px; TEXT-ALIGN: center" alt="" src="http://3.bp.blogspot.com/_b535izL1kDU/Semi__NEDhI/AAAAAAAAAqY/kBwjvQxpvVs/s320/Harykoe327.jpg" border="0" /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="color:#ffffff;"&gt; 17 Maret 2009, sehabis menghadiri Konferensi Umat Islam di Teheran, Prof. Dr. Quraish Shihab, mantan &lt;/span&gt;&lt;a class="mw-redirect" title="Menteri Agama Republik Indonesia" href="http://id.wikipedia.org/wiki/Menteri_Agama_Republik_Indonesia"&gt;&lt;span style="color:#ffffff;"&gt;Menteri Agama&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="color:#ffffff;"&gt; pada &lt;/span&gt;&lt;a title="Kabinet Pembangunan VII" href="http://id.wikipedia.org/wiki/Kabinet_Pembangunan_VII"&gt;&lt;span style="color:#ffffff;"&gt;Kabinet Pembangunan VII&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="color:#ffffff;"&gt; (&lt;/span&gt;&lt;a title="1998" href="http://id.wikipedia.org/wiki/1998"&gt;&lt;span style="color:#ffffff;"&gt;1998&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="color:#ffffff;"&gt;) dan menjabat Ketua Umum MUI Pusat sejak 1984 menyempatkan diri bersilaturahmi dengan pelajar Indonesia yang menuntut ilmu di Qom. Beliau sempat mengunjungi Universitas Al Mustafa, perpustakaan kampus dan asrama mahasiswa.
&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5325968464626888626" style="DISPLAY: block; MARGIN: 0px auto 10px; WIDTH: 320px; CURSOR: hand; HEIGHT: 240px; TEXT-ALIGN: center" alt="" src="http://1.bp.blogspot.com/_b535izL1kDU/SemkGbMEr7I/AAAAAAAAAqg/A9F-wAX3BIg/s320/18042009166.jpg" border="0" /&gt;Tanggal 18 April 2009 giliran Bapak Muhammad Maftuh Basyuni, SH yang menjabat sebagai Menteri Agama pada Kabinet Indonesia Bersatu pimpinan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono. Pejabat negara yang menyelesaikan pendidikan sarjananya di Universitas Islam Madinah Arab Saudi pada tahun 1968 ini dalam kunjungannya kepada mahasiswa Indonesia yang berada di Qom memberi nasehat, bahwa pertentangan yang ada di Indonesia antara sesama kaum muslimin bukan pertentangan antar mazhab melainkan antara hawa nafsu. &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="color:#ffffff;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="color:#ffffff;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="color:#ffffff;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="color:#ffffff;"&gt;Bagi keduanya Mazhab Syiah adalah mazhab yang sah dalam Islam dan layak bertumbuh di Indonesia.... Allahu Akbar !!! Mazhab yang tidak layak katanya, adalah mazhab yang ta'adzhub dan merasa benar sendiri... sekali lagi, Allahu Akbar ... !!!&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="color:#ffffff;"&gt;&lt;/span&gt; &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="color:#ffffff;"&gt;&lt;/span&gt; &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="color:#ffffff;"&gt;&lt;/span&gt; &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="color:#ffffff;"&gt;&lt;strong&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="color:#ffffff;"&gt;&lt;strong&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="color:#ff0000;"&gt;&lt;strong&gt;Bagaimana, masih ada yang mau melawan ??? :-)&lt;/strong&gt; &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="color:#ff0000;"&gt;&lt;/span&gt; &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="color:#ff0000;"&gt;&lt;/span&gt; &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-size:78%;color:#ff0000;"&gt;&lt;strong&gt;PS. Gambar Saya dibagian yang terpinggirkan....&lt;/strong&gt; &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="color:#ffffff;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6808511174156263273-2425684992445171684?l=abi-azzahra.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://abi-azzahra.blogspot.com/feeds/2425684992445171684/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=6808511174156263273&amp;postID=2425684992445171684&amp;isPopup=true' title='1 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6808511174156263273/posts/default/2425684992445171684'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6808511174156263273/posts/default/2425684992445171684'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://abi-azzahra.blogspot.com/2009/04/kunjungan-dua-menteri-agama.html' title='Kunjungan Dua Menteri Agama'/><author><name>Ismail Amin</name><uri>http://www.blogger.com/profile/00461561157182799656</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://bp0.blogger.com/_b535izL1kDU/R54Ij8cN26I/AAAAAAAAAA8/7WbjvsXb9Tg/S220/Aku.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/_b535izL1kDU/Semi__NEDhI/AAAAAAAAAqY/kBwjvQxpvVs/s72-c/Harykoe327.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6808511174156263273.post-6854027998399677812</id><published>2009-04-11T06:57:00.000-07:00</published><updated>2009-04-11T07:18:38.378-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='ada-ada saja'/><title type='text'>Pemilu Paling Tolol</title><content type='html'>&lt;a href="http://4.bp.blogspot.com/_b535izL1kDU/SeCkWvRLuTI/AAAAAAAAAqQ/-fGlu3E2Ds0/s1600-h/g97hg1hnocmphk2q0ul.jpg"&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5323435470104541490" style="DISPLAY: block; MARGIN: 0px auto 10px; WIDTH: 320px; CURSOR: hand; HEIGHT: 225px; TEXT-ALIGN: center" alt="" src="http://4.bp.blogspot.com/_b535izL1kDU/SeCkWvRLuTI/AAAAAAAAAqQ/-fGlu3E2Ds0/s320/g97hg1hnocmphk2q0ul.jpg" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;
&lt;div class="fullpost"&gt;Gambar ini saya ambil dari milis Panyingkul, kiriman Lulut Joni Prasojo.&lt;/div&gt;&lt;div class="fullpost"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="fullpost"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="fullpost"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="fullpost"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="fullpost"&gt;Adakah yang lebih romantis, selain berbicara tentang kebenaran? :-)&lt;/div&gt;
&lt;div class="fullpost"&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="fullpost"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6808511174156263273-6854027998399677812?l=abi-azzahra.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://abi-azzahra.blogspot.com/feeds/6854027998399677812/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=6808511174156263273&amp;postID=6854027998399677812&amp;isPopup=true' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6808511174156263273/posts/default/6854027998399677812'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6808511174156263273/posts/default/6854027998399677812'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://abi-azzahra.blogspot.com/2009/04/gambar-ini-saya-ambil-dari-milis.html' title='Pemilu Paling Tolol'/><author><name>Ismail Amin</name><uri>http://www.blogger.com/profile/00461561157182799656</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://bp0.blogger.com/_b535izL1kDU/R54Ij8cN26I/AAAAAAAAAA8/7WbjvsXb9Tg/S220/Aku.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/_b535izL1kDU/SeCkWvRLuTI/AAAAAAAAAqQ/-fGlu3E2Ds0/s72-c/g97hg1hnocmphk2q0ul.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6808511174156263273.post-8656492815117667115</id><published>2009-04-07T22:20:00.000-07:00</published><updated>2009-04-07T22:47:09.907-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='ada-ada saja'/><title type='text'>Sampah-Sampah Republik</title><content type='html'>&lt;a href="http://4.bp.blogspot.com/_b535izL1kDU/Sdw6F7L6cFI/AAAAAAAAAqI/EEkLCg2ROIE/s1600-h/Sampahh2+republik.bmp"&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5322192733106499666" style="DISPLAY: block; MARGIN: 0px auto 10px; WIDTH: 320px; CURSOR: hand; HEIGHT: 214px; TEXT-ALIGN: center" alt="" src="http://4.bp.blogspot.com/_b535izL1kDU/Sdw6F7L6cFI/AAAAAAAAAqI/EEkLCg2ROIE/s320/Sampahh2+republik.bmp" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;
&lt;div&gt;&lt;div class="fullpost"&gt;Gambar ini saya ambil dari situs salah seorang ustadzku... &lt;a href="http://ressay.wordpress.com/2009/04/04/sampah-sampah-republik/"&gt;http://ressay.wordpress.com/2009/04/04/sampah-sampah-republik/&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="fullpost"&gt;Saya cuman ikut-ikutanji, tanggungjawabnya di beliau... ha.....ha..... &lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6808511174156263273-8656492815117667115?l=abi-azzahra.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://abi-azzahra.blogspot.com/feeds/8656492815117667115/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=6808511174156263273&amp;postID=8656492815117667115&amp;isPopup=true' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6808511174156263273/posts/default/8656492815117667115'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6808511174156263273/posts/default/8656492815117667115'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://abi-azzahra.blogspot.com/2009/04/gambar-ini-saya-ambil-dari-situs-salah.html' title='Sampah-Sampah Republik'/><author><name>Ismail Amin</name><uri>http://www.blogger.com/profile/00461561157182799656</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://bp0.blogger.com/_b535izL1kDU/R54Ij8cN26I/AAAAAAAAAA8/7WbjvsXb9Tg/S220/Aku.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/_b535izL1kDU/Sdw6F7L6cFI/AAAAAAAAAqI/EEkLCg2ROIE/s72-c/Sampahh2+republik.bmp' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6808511174156263273.post-7583535550865947764</id><published>2009-03-26T11:02:00.000-07:00</published><updated>2009-03-26T11:23:54.410-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Agama'/><title type='text'>Baiat Bukanlah Pemilihan Pemimpin</title><content type='html'>&lt;a href="http://3.bp.blogspot.com/_b535izL1kDU/ScvHv8KColI/AAAAAAAAApQ/1CeG2SK_5es/s1600-h/700f8948eacc20da.jpg"&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5317563411457024594" style="FLOAT: left; MARGIN: 0px 10px 10px 0px; WIDTH: 117px; CURSOR: hand; HEIGHT: 145px" alt="" src="http://3.bp.blogspot.com/_b535izL1kDU/ScvHv8KColI/AAAAAAAAApQ/1CeG2SK_5es/s320/700f8948eacc20da.jpg" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;

&lt;div class="fullpost" align="justify"&gt;
&lt;span style="color:#ff9900;"&gt;(Tanggapan atas tulisan Adi Wijaya yang berjudul:
Pemilihan Pemimpin dalam Sistem Islam)&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;

&lt;div class="fullpost" align="justify"&gt;&lt;span style="color:#ff9900;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;

&lt;div class="fullpost" align="justify"&gt;
&lt;/div&gt;

&lt;div class="fullpost" align="justify"&gt;Saya mengawali tulisan ini dengan berharap, jangan diartikan bahwa saya berupaya merusak keyakinan mayoritas kaum Muslimin yang telah mengakar. Tanggapan untuk tulisan Adi Wijaya ini berbentuk sejumlah pertanyaan yang telah mengganggu saya sejak lama. &lt;/div&gt;

&lt;div class="fullpost" align="justify"&gt;&lt;/div&gt;

&lt;div class="fullpost" align="justify"&gt;&lt;/div&gt;

&lt;div class="fullpost" align="justify"&gt;&lt;/div&gt;

&lt;div class="fullpost" align="justify"&gt;&lt;/div&gt;

&lt;div class="fullpost" align="justify"&gt;
Diantaranya, kalau keberadaan seorang pemimpin dalam ajaran Islam adalah wajib dan urgen adanya, mengapa Rasulullah SAW tidak sejak awal menetapkan siapa yang akan yang akan memimpin umat yang akan ditinggalkannya?. Atau minimal memberi petunjuk yang jelas mengenai prosedur memilih dan mengangkat pemimpin?. Baiat bukanlah metode pemilihan dan pengangkatan pemimpin atau kepala negara, melainkan pengakuan atas kredibilitas orang yang terpilih sebagai pemimpin dengan memberikan ketaatan dan loyalitas kepadanya. Secara terminologi, baiat diartikan, berjanji untuk taat, bukan metode pemilihan atau pengangkatan. Jika kita merujuk pada empat khalifah awal pasca Rasulullah SAW, setidaknya ada empat metode yang berbeda dalam pengangkatan khalifah. Abu Bakar terpilih dari kesepakatan sebagian kecil kaum muslimin di Saqifah, Umar bin Khattab dibaiat sebagai khalifah selanjutnya sesuai dengan petunjuk dan pilihan 'secara sepihak' oleh Abu Bakar. Sebelum wafat, Umar bin Khattab membentuk dewan pemilihan yang terdiri atas enam sahabat terkemuka, dan dari pembincangan tersebut terpilihlah Usman bin Affan. Ali bin Abi Thalib menjadi khalifah selanjutnya melalui ijma (konsensus) kaum muslimin, tanpa melalui sedikitpun prosedur pemilihan. Sementara Muawiyah bin Abu Sufyan mendapatkan pengakuan sebagai khalifah dengan terlebih dahulu menebar teror dan upaya kudeta berdarah. &lt;/div&gt;

&lt;div class="fullpost" align="justify"&gt;&lt;/div&gt;

&lt;div class="fullpost" align="justify"&gt;&lt;/div&gt;

&lt;div class="fullpost" align="justify"&gt;

Saya benar-benar tidak bisa menerima kenyataan ini, bahwa Rasulullah SAW meninggalkan Daulah yang masih berumur muda dengan tidak sedikitpun petunjuk untuk menjaga kelestarian dan keutuhannya, seakan-akan Rasulullah Saw bersikap pasif terhadap masa depan dan kelanjutan misi dakwah. Rasulullah SAW menyampaikan kepada umatnya, ada tiga hal yang tidak boleh ditunda pelaksanaannya, salah satunya adalah pemakaman jenazah setelah dimandikan. Namun jenazah mulia Rasulullah SAW dibiarkan menunggu selama tiga hari. Ijtihad ataupun ijma sahabat tidak bisa dibenarkan ketika berhadapan dengan nash yang jelas. Dan nashnya sangat jelas bahwa wajib untuk tidak menunda pemakaman, terlebih lagi jika jenazah itu adalah Rasulullah SAW. Ali bin Abi Thalib ra (diantaranya yang disebut Nabi mendapat jaminan surga) baru melalukan pembaiatan atas Abu Bakar setelah 6 bulan berlalu dari pengangkatannya, Husain bin Ali (disebut Nabi sebagai penghulu pemuda surga) justru lebih memilih dibantai dari pada membaiat Yazid sebagai khalifah, lantas dari mana dapat disimpulkan bahwa kaum Muslimin hanya diberi jeda selama dua hari untuk membaiat seorang khalifah?. &lt;/div&gt;

&lt;div class="fullpost" align="justify"&gt;&lt;/div&gt;

&lt;div class="fullpost" align="justify"&gt;&lt;/div&gt;

&lt;div class="fullpost" align="justify"&gt;

Bila kita beranggapan bahwa Nabi telah meninggalkan umat Islam dengan tanpa terlebih dahulu mempersiapkan rancangan dan agenda kerja yang matang serta menetapkan pengganti yang akan yang melanjutkan misi Ilahiah, maka segala keguncangan dan pertikaian berdarah yang terjadi pasca wafat Rasulullah SAW akan menjadi tanggungjawab beliau. Akan timbul keraguan akan profesionalitas dan kredibilitas Muhammad sebagai seorang pemimpin yang akan berefek pada gugatan atas kenabian beliau. Bila kita sisipkan faktor oknum-oknum (kaum munafikin) yang bersebaran di Madinah maka ini akan mempertegas lagi ketidakmungkinan itu. Logiskah Rasulullah SAW meninggalkan umatnya 'begitu saja' sementara Allah SWT berfirman, "Dan diantara orang-orang Arab yang (tinggal) di sekitarmu, ada orang-orang munafik. Dan di antara penduduk Madinah (ada juga orang-orang munafik), mereka keterlaluan dalam kemunafikannya. Engkau (Muhammad) tidak mengetahui mereka, tetapi Kami mengetahuinya…"(Qs. At-Taubah: 101). Tidakkah Rasulullah SAW khawatir akan kerja-kerja licik orang-orang munafik (yang sulit dikenali) yang bisa saja meruntuhkan Daulah yang telah dibangunnya bersama sahabat-sahabat setianya?. Kekhawatiran inilah yang membuat Abu Bakar harus memilih sendiri Umar bin Khattab sebagai penggantinya, begitu juga dengan Umar bin Khattab yang masih sedikit lebih bijak dengan terlebih dahulu membentuk Dewan Syuro. Bahwa Rasulullah SAW tidak menetapkan sendiri penggantinya ataupun tidak sedikitpun memberi petunjuk mengenai metode pengangkatan pemimpin adalah salah satu versi sejarah, yang sayangnya lebih banyak diakui dan diyakini kaum muslimin sebagai realitas sejarah yang tak bisa ditolak. &lt;/div&gt;

&lt;div class="fullpost" align="justify"&gt;&lt;/div&gt;

&lt;div class="fullpost" align="justify"&gt;&lt;/div&gt;

&lt;div class="fullpost" align="justify"&gt;&lt;/div&gt;

&lt;div class="fullpost" align="justify"&gt;
&lt;strong&gt;&lt;span style="color:#ff0000;"&gt;Wasiat yang Diabaikan&lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/div&gt;

&lt;div class="fullpost" align="justify"&gt;&lt;/div&gt;

&lt;div class="fullpost" align="justify"&gt;&lt;/div&gt;

&lt;div class="fullpost" align="justify"&gt;
Dengan renggang waktu teramat singkat -hanya kurang lebih 10 tahun di Madinah- secara psikologis pada dasarnya, kaum muslimin saat itu belum siap ditinggalkan oleh Rasulullah SAW. Tidak heran, jika salah seorang sahabat kawakan ketika mendapat kabar meninggalnya Rasulullah dengan hunusan pedang berteriak, "Rasulullah belum mati! Rasulullah tidak akan mati! Siapa yang mengatakan beliau mati akan saya penggal!". Ya, tentu saja ketidaksiapan ini telah menjadi pertimbangan Rasulullah SAW yang dimasa-masa kritisnya bersabda, ""Berikan padaku selembar kertas dan tinta. Aku tuliskan untuk kalian semua sebuah wasiat yang jika kalian mematuhi isinya, niscaya kalian tidak sesat setelah aku tinggal pergi." (Riwayat Bukhari-Muslim). &lt;/div&gt;

&lt;div class="fullpost" align="justify"&gt;&lt;/div&gt;

&lt;div class="fullpost" align="justify"&gt;&lt;/div&gt;

&lt;div class="fullpost" align="justify"&gt;
Sebenarnya apa yang dilakukan oleh Rasul pada detik-detik yang paling mendebarkan di akhir hidupnya adalah bukti akurat yang menolak mentah-mentah versi sejarah pertama sekaligus merupakan gambaran yang cukup jelas bahwa Rasulullah SAW bukanlah orang yang tidak peduli akan prospek dan nasib dakwah. Sayangnya permintaan Rasulullah untuk menuliskan wasiatnya tidak diindahkan dengan ucapan salah seorang sahabat, "Nabi telah makin parah sakitnya, sedangkan Al-Qur'an ada pada kalian. Cukuplah kitab Allah bagi kita !". Kedua, adanya upaya melupakan wasiat Rasulullah yang disampaikan menjelang wafatnya. Lihat saja, petikan hadits dalam Shahih Muslim bab al-Washiyah, Ibnu Abbas berkata, “Dan beliau (Rasulullah) mewasiatkan menjelang wafatnya,’ Keluarkan kaum musyrikin dari Jazirah Arab dan beri hadiah kepada utusan sebagaimana yang aku lakukan !’ (perawi hadits ini melanjutkan) Dan aku lupa yang ketiga”. Sulit menerima bahwa mereka lupa apalagi ini wasiat nabi yang berkaitan dengan masa depan ummat. Namun demikianlah kenyataannya, dan inilah yang terjadi. Dalam perjalanan selanjutnya, aturan politik dan kepemimpinan dalam Islam terpecah menjadi kepingan-kepingan besar. Sebagian besar umat Islam menyatakan Islam tidak mengurusi persoalan politik, dan sebagiannya lagi justru sibuk menggedor-gedor kesadaran kaum muslimin akan pentingnya politik dan kekhilafaan dalam masyarakat Islam. &lt;/div&gt;

&lt;div class="fullpost" align="justify"&gt;&lt;/div&gt;

&lt;div class="fullpost" align="justify"&gt;&lt;/div&gt;

&lt;div class="fullpost" align="justify"&gt;

Terakhir, saya bertanya, benarkah dalam perspektif syariat Islam kondisi masyarakat -saya menyebutnya konteks sosial- bukanlah dasar untuk menentukan status hukum suatu perkara?. Benarkah realitaslah yang harus diubah agar sesuai dengan syariat Islam, dan bukan sebaliknya?. Dalam Ushul Fiqh ada kaidah yang sangat terkenal, “taghayyur al-ahkam bi taghayyur al-azminati wa al-amkan,” hukum bisa berubah sesuai dengan waktu dan tempat (baca: sesuai dengan kondisinya). Seorang muslim yang tidak mampu sholat sambil berdiri, maka syariat membolehkan untuk duduk, jika masih sulit juga, maka diizinkan baginya sholat sambil berbaring. Daging yang diharamkan bisa menjadi halal ketika diperhadapkan pada konteks tidak ada lagi yang bisa dimakan dan berkaitan dengan kelangsungan hidup. Syariatlah yang menyesuaikan diri dengan realitas, bukan sebaliknya. Ketika belum ada yang layak dibaiat menjadi khalifah maka lahirkanlah dulu calon-calon khalifah. Tidak serta merta kita semua menjadi pendosa hanya karena teks agama mengatakan, baiat adalah kewajiban yang tidak bisa ditawar-tawar lagi. Bukan begitu?. &lt;/div&gt;

&lt;div class="fullpost" align="justify"&gt;&lt;/div&gt;

&lt;div class="fullpost" align="justify"&gt;

Wallahu 'alam bishshawwab &lt;/div&gt;

&lt;div class="fullpost" align="justify"&gt;&lt;/div&gt;

&lt;div class="fullpost" align="justify"&gt;

&lt;strong&gt;Ismail Amin&lt;/strong&gt;&lt;/div&gt;

&lt;p&gt;&lt;strong&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;&lt;strong&gt;Qom, 22 Maret 2009&lt;/strong&gt;&lt;/p&gt;

&lt;div class="fullpost" align="justify"&gt;
NB:&lt;/div&gt;&lt;div align="left"&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div class="fullpost" align="left"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="left"&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div class="fullpost" align="left"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="left"&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div class="fullpost" align="left"&gt;Tulisan di atas juga bisa dibaca di &lt;a href="http://www.tribun-timur.com/read/artikel/19005"&gt;http://www.tribun-timur.com/read/artikel/19005&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="left"&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div class="fullpost" align="left"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="left"&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div class="fullpost" align="left"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="left"&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div class="fullpost" align="justify"&gt;&lt;/div&gt;

&lt;div class="fullpost" align="justify"&gt;&lt;/div&gt;

&lt;div class="fullpost" align="justify"&gt;Tulisan Adi Wijaya di muat di Tribun Timur 20 Maret 2009 selengkapnya di &lt;a href="http://www.tribun-timur.com/read/artikel/17733"&gt;http://www.tribun-timur.com/read/artikel/17733&lt;/a&gt; &lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6808511174156263273-7583535550865947764?l=abi-azzahra.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://abi-azzahra.blogspot.com/feeds/7583535550865947764/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=6808511174156263273&amp;postID=7583535550865947764&amp;isPopup=true' title='1 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6808511174156263273/posts/default/7583535550865947764'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6808511174156263273/posts/default/7583535550865947764'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://abi-azzahra.blogspot.com/2009/03/baiat-bukanlah-pemilihan-pemimpin.html' title='Baiat Bukanlah Pemilihan Pemimpin'/><author><name>Ismail Amin</name><uri>http://www.blogger.com/profile/00461561157182799656</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://bp0.blogger.com/_b535izL1kDU/R54Ij8cN26I/AAAAAAAAAA8/7WbjvsXb9Tg/S220/Aku.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/_b535izL1kDU/ScvHv8KColI/AAAAAAAAApQ/1CeG2SK_5es/s72-c/700f8948eacc20da.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6808511174156263273.post-5754801840578824958</id><published>2009-03-21T01:06:00.000-07:00</published><updated>2009-03-21T01:14:55.732-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Hikmah'/><title type='text'>Mengambil Hikmah dari Negeri Empat Musim</title><content type='html'>&lt;a href="http://1.bp.blogspot.com/_b535izL1kDU/ScSg_DAypQI/AAAAAAAAApA/be6bnTOdQtg/s1600-h/1_275788851l.jpg"&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5315550465204856066" style="FLOAT: left; MARGIN: 0px 10px 10px 0px; WIDTH: 320px; CURSOR: hand; HEIGHT: 240px" alt="" src="http://1.bp.blogspot.com/_b535izL1kDU/ScSg_DAypQI/AAAAAAAAApA/be6bnTOdQtg/s320/1_275788851l.jpg" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;

&lt;div class="fullpost" align="justify"&gt;Sedari dulu saya begitu tertarik dengan salju. Saya gila terhadap bacaan (novel, cerpen, puisi) yang selalu menjadikan salju sebagai latar ceritanya. Sekarang saya tidak perlu lagi berkhayal bisa menyentuh salju. Di Iran, saya bisa melihat pepohonan di taman asrama dilapisi putihnya salju. Ada kekaguman terhadap deretan cemara yang selalu tegar melawan musim. Pohon yang saya lihat di musim panas, gugur, dingin dan semi adalah deretan pohon itu-itu juga. Di musim salju, cemara harus lebih tegar lagi menahan beban tumpukan salju. &lt;/div&gt;

&lt;div class="fullpost" align="justify"&gt;&lt;/div&gt;

&lt;div class="fullpost" align="justify"&gt;&lt;/div&gt;

&lt;div class="fullpost" align="justify"&gt; &lt;/div&gt;&lt;div class="fullpost" align="justify"&gt; &lt;/div&gt;&lt;div class="fullpost" align="justify"&gt; &lt;/div&gt;&lt;div class="fullpost" align="justify"&gt;

Butiran-butiran salju yang tertumpah dari langit lebih berat dari tetes-tetes hujan, namun ia jatuh ke bumi tanpa suara. Kristal-kristal putih itu melayang dengan lembut dan mendarat dengan halus. Namun, pernahkah engkau bayangkan sekiranya butiran-butiran halus salju itu menyentuh kulitmu?. Pernahkah engkau membayangkan bagaimana rasanya hidup di musim salju tanpa mengenakan baju hangat, atau tinggal di rumah yang tidak dilengkapi fasilitas pemanas ruangan?. Pada saat itu salju bukan lagi keindahan, namun tontonan tragedi yang menyayat hati. Teman saya asal Bosnia menceritakan, di musim salju, ketika tumpukan salju disingkirkan dari jalan-jalan kota, tidak sedikit ditemukan mayat-mayat manusia. Mereka adalah para tunawisma yang mencoba bertahan hidup di tengah musim dingin yang menusuk tulang. Ya, dongeng tentang salju tidak melulu menceritakan kebahagiaan sang putri salju, namun juga kegetiran hidup putri penjual korek api, yang mati beku kehabisan api penghangat.&lt;/div&gt;

&lt;div class="fullpost" align="justify"&gt;&lt;/div&gt;

&lt;div class="fullpost" align="justify"&gt;&lt;/div&gt;&lt;p&gt; &lt;/p&gt;&lt;p&gt; &lt;/p&gt;&lt;p&gt; &lt;/p&gt;&lt;p&gt; &lt;/p&gt;

&lt;div class="fullpost" align="justify"&gt;

Bertepatan dengan 20 Maret tahun ini, masyarakat Iran bersuka cita menyambut datangnya musim semi yang juga menandai datangnya tahun baru. Dalam penanggalan Iran hari tahun baru adalah hari pertama di musim semi (disebut Fasl-e Bahor). Sistem penanggalan Iran telah disusun sejak 1725 tahun sebelum Masehi dan terus mengalami penyempurnaan hingga kini. Dimasa kekhalifaan Islam, kalender Iran mengalami penyesuaian dengan kalender Islam dan disebut dengan Kalender Hijriyah Syamsi sebab penentuan tanggal Iran berdasar pada edar bumi terhadap matahari dan disebut Hijriyah karena tahun pertamanya juga dihitung dari hijrahnya Rasulullah saw ke Madinah. Adanya perbedaan jumlah hari dalam setahun dengan kalender Hijriyah Qamari menyebabkan jalannya tahun pada kalender Iran lebih lambat dan tahun ini baru memasuki 1388 HS sementara kalender Hijriyah telah memasuki tahun ke 1429. &lt;/div&gt;

&lt;div class="fullpost" align="justify"&gt;&lt;/div&gt;

&lt;div class="fullpost" align="justify"&gt;&lt;/div&gt;




&lt;div class="fullpost" align="justify"&gt;

Wajar masyarakat Iran menyambut tahun baru mereka dengan luapan kegembiraan. Mereka tidak lagi tersiksa oleh dahsyatnya hawa dingin, tersiksa oleh tumpukan salju di jalan yang mengakibatkan kemacetan berjam-jam. Mereka tidak perlu lagi repot-repot mengenakan pakaian hangat yang tebal setiap keluar rumah, tidak perlu lagi takut terpeleset oleh jalan yang licin, tidak ada lagi aktivitas membersihkan atap rumah dari tumpukan salju yang berton-ton beratnya. Datangnya musim semi benar-benar kesyukuran bagi mereka. &lt;/div&gt;

&lt;div class="fullpost" align="justify"&gt;&lt;/div&gt;

&lt;div class="fullpost" align="justify"&gt; &lt;/div&gt;&lt;div class="fullpost" align="justify"&gt; &lt;/div&gt;&lt;div class="fullpost" align="justify"&gt; &lt;/div&gt;&lt;div class="fullpost" align="justify"&gt;

Letak geografis Iran dan bentangan daratnya yang variatif membuat negara ini memiliki empat musim (semi, panas, gugur dan dingin). Di musim panas cuacanya sangat panas. Pada Juli sampai Agustus suhu mencapai rata-rata 38°C (100°F). Di musim gugur mereka kerepotan dengan hembusan angin gurun yang juga panasnya tidak ketulungan. Dan di musim dingin, mereka harus bisa bertahan dengan suhu udara yang bisa menukik hingga minus. Musim semi adalah saat yang dinanti-nantikan. Di saat itulah mereka bisa keluar rumah sepuasnya, bunga-bunga pun bersemi menampakkan keindahan warnanya. Tradisi menyambut tahun baru (mereka menyebutnya Nouruuz) dimulai sejak dua-tiga minggu sebelum bulan Esfand (bulan terakhir dalam penanggalan Iran) berakhir. Diantara kebiasaan mereka adalah membeli ikan mas kecil dan bibit gandum yang telah tumbuh sekitar 4-7 cm, konon katanya tradisi ini telah berumur 15.000 tahun. Ikan mas hidup yang ditaruh dalam toples melambangkan kelincahan dan hidup yang penuh aktivitas, sedangkan bibit gandum melambangkan produktivitas. Bahwa di tahun baru ini mereka harus lebih aktif dan produktif dalam menghasilkan karya-karya bagi kemanusiaan.
&lt;/div&gt;

&lt;div class="fullpost" align="justify"&gt;&lt;/div&gt;




&lt;div class="fullpost" align="justify"&gt;&lt;/div&gt;

&lt;div class="fullpost" align="justify"&gt;
Namun ada fenomena menarik yang bisa jadi selama ini luput dari pengamatan kita, bahwa negara-negara yang memiliki empat musim lebih maju dibanding negara di daerah tropis. Kita bisa lihat perbandingan taraf hidup dinegara-negara Eropa, Amerika, Jepang, China, Korea, Australia dengan negara-negara yang hanya memiliki dua musim yang tersebar disebagian Asia dan Afrika. Iran pun tidak bisa dipungkiri, saat ini melejit sebagai salah satu negara maju di belahan Timur Tengah. Saya yakin, kondisi alam berpengaruh besar dalam membentuk karakter membangun dalam jiwa-jiwa mereka. Adanya perbedaan musim yang drastis menuntut penduduknya untuk tidak monoton dalam aktivitas hidup. Mereka dituntut untuk tangguh menghadapi kegerahan di musim panas, kekeringan di musim gugur, mengatasi dingin di musim salju, dan tidak terlena di musim semi. Dalam analisis sosio-psikologi adanya perubahan musim yang membutuhkan adaptasi ini akan membentuk karakter bangsa yang kuat dan tangguh dalam mengatasi problematika hidup. Tidak heran, di tengah ketatnya sanksi dan embargo jangka panjang negara-negara Barat dan Amerika Serikat, Iran justru mampu menunjukkan dirinya sebagai negara yang mandiri secara cemerlang. Salah satu keberhasilan negeri ini yang membuat dunia terpana adalah kemajuan dari segi iptek.
&lt;/div&gt;

&lt;div class="fullpost" align="justify"&gt;&lt;/div&gt;

&lt;div class="fullpost" align="justify"&gt;&lt;/div&gt;





&lt;div class="fullpost" align="justify"&gt;
Sejak kemenangan Revolusi Islam pada tahun 1979, Iran telah dihadapkan pada embargo ekonomi Barat. Lewat langkah terselubung, negara-negara Barat berusaha mencegah masuknya perlengkapan dan teknologi cangih ke Iran. Meski demikian, Iran tetap mampu menorehkan beragam prestasi mengagumkan di bidang iptek, tidak hanya dalam hal tekhnologi nuklir, produksi mobil namun juga piawai dalam teknologi antariksa. Dengan keberhasilan meluncurkan roket pembawa satelit "Safir Omid" dan sebuah maket satelit percobaan di orbit bumi, Iran menjadi negara regional pertama yang mandiri tanpa bantuan asing, baik dalam membuat satelit maupun dalam meluncurkan dan mengontrolnya.
&lt;/div&gt;

&lt;div class="fullpost" align="justify"&gt;&lt;/div&gt;

&lt;div class="fullpost" align="justify"&gt;&lt;/div&gt;




&lt;div class="fullpost" align="justify"&gt;
Kalau Iran bisa melakukan ini, kira-kira apa yang menghambat kemajuan di Indonesia?. Ketika melihat salju, saya teringat betapa beruntungnya kita. Kita bisa hidup dengan kontruk bangunan ala kadarnya, hatta dindingnya terbuat dari kardus atau pelepah pohon. Di negeri empat musim, rumah harus dibangun kokoh, lengkap dengan sistem pemanas dan pendingin jika tidak ingin mati diterkam keganasan alam. Sayangnya, anugerah Ilahi ini disia-siakan oleh tangan-tangan kotor yang tahunya hanya menjarah dan menindas. Hasan Aspahani (2004), menolak menyebut Indonesia sebagai negeri dua musim, dalam puisinya "Dongeng Negeri Empat Musim" (2004) dia menyebut, ada empat musim di negeri ini, musim berdusta, musim berjanji, musim berpura-pura dan musim lupa. Anehnya, empat musim itu bisa terjadi dalam waktu yang sama.
&lt;/div&gt;&lt;div class="fullpost" align="justify"&gt; &lt;/div&gt;&lt;div class="fullpost" align="justify"&gt; &lt;/div&gt;&lt;div class="fullpost" align="justify"&gt; &lt;/div&gt;&lt;div class="fullpost" align="justify"&gt; &lt;/div&gt;&lt;div class="fullpost" align="justify"&gt; &lt;/div&gt;&lt;div class="fullpost" align="justify"&gt;
Qom, 20 Maret 2009&lt;/div&gt;

&lt;div class="fullpost" align="justify"&gt;&lt;/div&gt;




&lt;div class="fullpost" align="justify"&gt;Sesaat setelah Iran merayakan &lt;em&gt;Nouruuz&lt;/em&gt; nya
&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6808511174156263273-5754801840578824958?l=abi-azzahra.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://abi-azzahra.blogspot.com/feeds/5754801840578824958/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=6808511174156263273&amp;postID=5754801840578824958&amp;isPopup=true' title='2 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6808511174156263273/posts/default/5754801840578824958'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6808511174156263273/posts/default/5754801840578824958'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://abi-azzahra.blogspot.com/2009/03/mengambil-hikmah-dari-negeri-empat.html' title='Mengambil Hikmah dari Negeri Empat Musim'/><author><name>Ismail Amin</name><uri>http://www.blogger.com/profile/00461561157182799656</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://bp0.blogger.com/_b535izL1kDU/R54Ij8cN26I/AAAAAAAAAA8/7WbjvsXb9Tg/S220/Aku.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/_b535izL1kDU/ScSg_DAypQI/AAAAAAAAApA/be6bnTOdQtg/s72-c/1_275788851l.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>2</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6808511174156263273.post-5276473705305011225</id><published>2009-03-10T09:02:00.000-07:00</published><updated>2009-03-10T09:10:47.336-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='a'/><title type='text'>Benarkah Kita Mencintai Rasulullah ?</title><content type='html'>&lt;div&gt;&lt;a href="http://3.bp.blogspot.com/_b535izL1kDU/SbaQWk3IcfI/AAAAAAAAAn4/GOgJu6tnTig/s1600-h/a52f4222002d11d6.jpg"&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5311591528056517106" style="FLOAT: left; MARGIN: 0px 10px 10px 0px; WIDTH: 125px; CURSOR: hand; HEIGHT: 125px" alt="" src="http://3.bp.blogspot.com/_b535izL1kDU/SbaQWk3IcfI/AAAAAAAAAn4/GOgJu6tnTig/s320/a52f4222002d11d6.jpg" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;

&lt;div class="fullpost" align="justify"&gt;Kita heran mengapa hinaan terhadap Nabi selalu saja muncul. Kita tidak habis pikir mengapa kebencian dan permusuhan selalu mendera pribadi suci beliau. Seseorang bisa saja memendam kebencian yang sangat kepada Rasulullah SAW sampai harus menggambarkan kehidupan beliau secara tidak senonoh pada lembaran-lembaran komik, website, buku atau apapun nama dan bentuknya. Namun kebencian bukanlah akhir segalanya, benci dan cinta adalah perasaan yang sulit untuk dipetakan pada hati manusia. Perjalanannya sebagaimana iman, sangat fluktuatif dan tidak linear. Boleh jadi saat ini kau membenci sesuatu namun pada kali yang lain kau justru sangat mencintainya. Imam Ali ra pernah berkata, "Seseorang cenderung memusuhi yang tidak diketahuinya." Ya, bisa jadi orang yang menggambarkan Rasulullah sebagai seseorang yang amoral karena belum tahu apa-apa tentang pribadi beliau SAW. Saya pribadi berharap, mereka tidak berhenti pada kebencian yang sangat pada Rasulullah, sebab kebencian hanyalah salah satu etafe dari rute perjalanan manusia yang justru bisa menghantarkan seseorang pada tingkat iman yang menakjubkan. Kisah nyata dari seorang Umar bin Khattab memberi kita pelajaran yang berharga. Ia tidak hanya membenci Rasul tetapi juga selalu berusaha membunuhnya. Dengan gigih ia menghalangi-halangi orang yang menambatkan imannya pada nilai-nilai moral yang diajarkan sang Nabi. Tetapi perjalanan manusia memang sulit ditebak, justru ketika Umar mengenal Muhammad lebih dekat, ia mengalami lompatan iman -dalam istilah Kierkegard leap of faith- yang begitu menakjubkan. Pada gilirannya, Umar ra justru menjadi sahabat dekat Nabi dan menjadi pembela Islam yang paling keras, sampai mendapat julukan, al-Waqqaf 'inda Kitabillah. Umar tidak sendiri, banyak orang-orang yang sebelumnya begitu keras permusuhannya, namun ketika lebih mengenal beliau, justeru menjadi sahabat-sahabat nabi yang keras pembelaannya terhadap Nabi.&lt;/div&gt;

&lt;div class="fullpost" align="justify"&gt;&lt;/div&gt;

&lt;div class="fullpost" align="justify"&gt;&lt;/div&gt;

&lt;div class="fullpost" align="justify"&gt;&lt;/div&gt;

&lt;div class="fullpost" align="justify"&gt;&lt;/div&gt;

&lt;div class="fullpost" align="justify"&gt;

Setiap Nabi mendapat penghinaan, kita hanya bisa geram. Kita marah, kita turun ke jalan, kita membakar dan melempari apa saja untuk menunjukkan pembelaan terhadap kekasih kita. Sebagai muslim yang mengaku mencintainya kita meneriakkan suara yang sama, tidak ada kata maaf bagi yang telah melecehkan nabi. Kita mungkin masih ingat dengan Imam Khomeini yang tanpa ampun mengeluarkan fatwa mati bagi Salman Rusdie yang menyebut wahyu yang dibawa nabi tidak lain hanyalah ayat-ayat setan. Apa saja bisa kita lakukan sebagai bentuk ekspresi penolakan dan kegeraman nama baik nabi kita diinjak-injak. Namun tidakkah kita tertarik untuk lebih melihat kedalam diri kita?. Tidakkah kita merasa perlu bertanya pada diri sendiri, "Tuluskah cinta kita kepada nabi?". Sejauh mana usaha kita memperkenalkan kemuliaan dan keagungan akhlak nabi kepada mereka?. Daripada meledakkan kemarahan dimana-mana, bukankah lebih baik kita memperkenalkan kepribadian Muhammad nabi Islam yang Karen Armstrong menyebutnya “Seorang manusia yang kompleks dan penuh kasih,” dan Michael H. Hart yang mendudukkannya pada posisi terhormat sebagai tokoh yang paling populer dan berpengaruh sepanjang sejarah. Terlalu banyak pujian dan sanjungan atasnya, sehingga Abdul Wahid Khan harus membukukan kekaguman dan penghormatan intelektual non muslim kepada Rasulullah dalam bukunya, "Rasulullah di Mata Sarjana Barat". Bahkan Allah SWT Pencipta alam semesta beserta para malaikat-Nya pun bershalawat atasnya (Qs. Al-Ahzab : 56).&lt;/div&gt;

&lt;div class="fullpost" align="justify"&gt;&lt;/div&gt;

&lt;div class="fullpost" align="justify"&gt;&lt;/div&gt;

&lt;div class="fullpost" align="justify"&gt;

Seandainya Rasulullah ada disekitar kita, dan melihat betapa merebaknya penghinaan atasnya beliau mungkin akan melakukan hal yang sama ketika penduduk Thaif melemparinya dengan batu. Jibril yang sedih melihat itu menawarkan sesuatu pada Sang Nabi, “Bila Kau mau, Kekasih Allah, aku bisa membalikkan bumi dan menimpakan gunung kepada mereka.” Lalu Muhammad menjawab, “Tidak! Sesungguhnya mereka hanya belum tahu.” Atau sebagaimana Abdullah bin Ubay yang meminta izin untuk membunuh ayah kandungnya sendiri karena telah melecehkan nabi, Nabi dengan penuh kasih menjawab, "Jangan, tetaplah berbuat baik kepada ayahmu." (Sirah al-Halabiyyah 2:307).
&lt;/div&gt;

&lt;div class="fullpost" align="justify"&gt;&lt;/div&gt;

&lt;div class="fullpost" align="justify"&gt;&lt;/div&gt;

&lt;div class="fullpost" align="justify"&gt;&lt;/div&gt;

&lt;div class="fullpost" align="justify"&gt;
Di mata Rasul, mereka hanya belum tahu sehingga kebencian merambati hatinya. Tidakkah kita melihat sisi lain dari penghinaan nabi yang tiada hentinya dan semakin menjadi-jadi. Bila mereka begitu rajin dan semangat mengolok-olok nabi kita yang mulia, seberapa rajinkah kita memuliakan dan mengagungkannya?. Seberapa banggakah kita menyenandungkan shalawat atasnya? Bergetarkah hati kita ketika namanya disebut dalam senandung suara azan?. Seberapa cintakah kita mengamalkan sunnah beliau dalam kehidupan kita?. Yang kita lakukan justru sebaliknya, dengan dalih bid'ah, kita klaim mereka yang mengadakan maulid nabi sebagai orang sesat padahal tidak seorangpun muslim yang menyebut maulid hukumnya wajib atau sunnah sehingga tidaklah termasuk mengada-adakan hukum baru. Dengan dalih syirik kita menggebuki dengan pentungan mereka yang berdesak-desakan untuk mencium mihrab nabi, padahal semuapun bersaksi bahwa Rasulullah adalah juga hamba Allah. Kita haramkan Barazanji karena kita anggap terlalu mengkultuskan nabi, padahal dalam puisi dan syair, cinta sulit dilukiskan tanpa hiperbola dan metafora. Hiperbola bukanlah kedustaan dan metafora bukanlah kesyirikan. Setiap usaha memperkenalkan Ahlul Bait Nabi kita klaim sebagai penyebar aliran sesat. &lt;/div&gt;

&lt;div class="fullpost" align="justify"&gt;&lt;/div&gt;

&lt;div class="fullpost" align="justify"&gt;&lt;strong&gt;&lt;span style="color:#ff0000;"&gt;Kontroversial Maulid&lt;/span&gt;&lt;/strong&gt; &lt;/div&gt;&lt;div class="fullpost" align="justify"&gt; &lt;/div&gt;&lt;div class="fullpost" align="justify"&gt; &lt;/div&gt;&lt;div class="fullpost" align="justify"&gt; &lt;/div&gt;&lt;div class="fullpost" align="justify"&gt; &lt;/div&gt;&lt;div class="fullpost" align="justify"&gt;
&lt;a href="http://1.bp.blogspot.com/_b535izL1kDU/SbaQvhOmqqI/AAAAAAAAAoA/wd8cAAHezn0/s1600-h/ef71aa9601af4f7c.jpg"&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5311591956577954466" style="FLOAT: left; MARGIN: 0px 10px 10px 0px; WIDTH: 140px; CURSOR: hand; HEIGHT: 95px" alt="" src="http://1.bp.blogspot.com/_b535izL1kDU/SbaQvhOmqqI/AAAAAAAAAoA/wd8cAAHezn0/s320/ef71aa9601af4f7c.jpg" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;Entah dengan alasan apa Makam Nabi, keluarga dan sahabat-sahabatnya kita jaga ketat layaknya akan diserang pasukan Abrahah. Sementara sewaktu Nabi dan sahabat-sahabatnya masih hidup mereka tidak membutuhkan kavaleri untuk pengawalan dan penjagaan. Mengapa kita melakukan yang tidak pernah dilakukan oleh Rasulullah dan juga tidak oleh keempat khalifah setelahnya? Bukankah dengan dalih yang sama, karena tidak pernah dilakukan Rasulullah kita justru mengharamkan peringatan maulid?. Kalau dikatakan makam Nabi dan pemakaman Baqi patut mendapat penjagaan ketat agar tidak dijadikan lokasi 'penyembahan berhala' oleh para peziarah, -padahal seharusnya sahabat-sahabat nabi yang lebih layak memiliki kekhawatiran itu- lantas mengapa tidak menjadikan alasan itu untuk membenarkan pengadaan peringatan maulid, bahwa peringatan ceremonial semacam maulid justru sangat dibutuhkan umat akhir-akhir ini, sebagai waktu dan tempat untuk membincangkan keagungan dan kemuliaan nabi Muhammad SAW, untuk menyiarkan banyak dari sunnah-sunnah nabi yang terabaikan, untuk lebih memperkenalkan kemulian akhlak Rasulullah kepada mereka yang memendam dendam dan kebencian karena ketidak tahuan. Saya rasa kita punya kaidah penetapan hukum untuk itu, bahwa setiap yang menjadi perantara pelaksanaan amalan yang wajib maka wajib pula pelaksanaannya. Sekedar berwudhu hukumnya sunnah, namun menjadi wajib jika berkaitan dengan pelaksanaan shalat. Mengenang apapun yang berkenaan dengan Rasulullah menjadi wajib hukumnya karena menjadi syarat untuk menimbulkan kecintaan kepada Rasulullah SAW yang merupakan kewajiban bagi kaum muslimin. &lt;/div&gt;

&lt;div class="fullpost" align="justify"&gt;&lt;/div&gt;

&lt;div class="fullpost" align="justify"&gt;&lt;/div&gt;

&lt;div class="fullpost" align="justify"&gt;

Hari kelahiran Nabi sesungguhnya termasuk hari-hari Allah tentangnya Allah berfirman: "Keluarkanlah kaummu dari kegelapan kepada cahaya terang benderang dan ingatkanlah mereka kepada hari-hari Allah." (Qs. 14:5). &lt;/div&gt;

&lt;div class="fullpost" align="justify"&gt;&lt;/div&gt;

&lt;div class="fullpost" align="justify"&gt;&lt;/div&gt;

&lt;div class="fullpost" align="justify"&gt;&lt;/div&gt;

&lt;div class="fullpost" align="justify"&gt;
Salam 'alaika ya Rasulallah….&lt;/div&gt;

&lt;div class="fullpost" align="justify"&gt;&lt;/div&gt;

&lt;div class="fullpost" align="justify"&gt;&lt;/div&gt;

&lt;div class="fullpost" align="justify"&gt;
Wallahu 'alam bishshawwab






















&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6808511174156263273-5276473705305011225?l=abi-azzahra.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://abi-azzahra.blogspot.com/feeds/5276473705305011225/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=6808511174156263273&amp;postID=5276473705305011225&amp;isPopup=true' title='1 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6808511174156263273/posts/default/5276473705305011225'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6808511174156263273/posts/default/5276473705305011225'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://abi-azzahra.blogspot.com/2009/03/benarkah-kita-mencintai-rasulullah.html' title='Benarkah Kita Mencintai Rasulullah ?'/><author><name>Ismail Amin</name><uri>http://www.blogger.com/profile/00461561157182799656</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://bp0.blogger.com/_b535izL1kDU/R54Ij8cN26I/AAAAAAAAAA8/7WbjvsXb9Tg/S220/Aku.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/_b535izL1kDU/SbaQWk3IcfI/AAAAAAAAAn4/GOgJu6tnTig/s72-c/a52f4222002d11d6.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6808511174156263273.post-6419734107633598193</id><published>2009-03-04T09:21:00.000-08:00</published><updated>2009-03-04T09:38:53.829-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Agama'/><title type='text'>Taklid Buta, Racun Beragama</title><content type='html'>&lt;a href="http://4.bp.blogspot.com/_b535izL1kDU/Sa68nWm28gI/AAAAAAAAAl0/CYvsNQZO8cs/s1600-h/3df06cad5a3ea372.jpg"&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5309388394985878018" style="FLOAT: left; MARGIN: 0px 10px 10px 0px; WIDTH: 145px; CURSOR: hand; HEIGHT: 107px" alt="" src="http://4.bp.blogspot.com/_b535izL1kDU/Sa68nWm28gI/AAAAAAAAAl0/CYvsNQZO8cs/s320/3df06cad5a3ea372.jpg" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;
&lt;div class="fullpost" align="justify"&gt;Sebagai muslim, kita percaya, kelak mata, telinga dan hati akan dimintai pertanggungjawaban di hadapan mahkamah-Nya. Tidak ada sesuatupun yang meleset dari perhitungan-Nya. Dia yang Maha Besar berfirman, "Setiap orang bertanggungjawab atas apa yang telah dilakukannya." (Qs. 74: 38). Karena diri kita sendirilah yang bertanggungjawab, maka sebuah keniscayaan untuk tidak sekedar ikut-ikutan tentang sesuatu. Sikap keberagamaan yang sejati adalah berani mengkritisi dan bersikap cerdas terhadap ajaran-ajaran agama yang disampaikan lewat para ulama. Apakah benar apa yang disampaikan ulama tersebut adalah bagian dari agama atau bukan?. Dalam Islam, ummat dilarang untuk ikut-ikutan tanpa pengkajian yang mendalam. Salah satu akar kata dari Islam adalah taslim yang berarti penyerahan sepenuhnya. Dan yang dimaksud, tentu saja penyerahan terhadap kebenaran. Dalam istilah syariat sikap ikut-ikutan tanpa daya kritis disebut taklid buta. Telah banyak ilmu yang telah kita dapatkan, baik di bangku pendidikan formal, lewat pengalaman atau ilmu yang kita gali dan kaji sendiri lewat media-media yang menawarkan pengetahuan, informasi dan wawasan yang beragam. Namun seberapa kritiskah kita terhadap semua itu?. Taklid buta memang harus kita hindari karena tidak sesuai dengan semangat zaman. Namun ada kalanya, ada banyak alasan dan kepentingan yang memaksa kita untuk tetap bertaklid buta, meskipun kita sadari sendiri, yang kita pertahankan sebenarnya sangat rapuh dan memang layak untuk dicampakkan. Taklid buta memiliki prolog, diantaranya berpikir keliru.&lt;/div&gt;
&lt;div class="fullpost" align="justify"&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="fullpost" align="justify"&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="fullpost" align="justify"&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="fullpost" align="justify"&gt;
&lt;strong&gt;&lt;span style="color:#ff0000;"&gt;Penyebab Berpikir Keliru&lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="fullpost" align="justify"&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="fullpost" align="justify"&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="fullpost" align="justify"&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="fullpost" align="justify"&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="fullpost" align="justify"&gt;
Banyak hal yang membuat kita terkadang berpikir keliru. Diantaranya, bersandar pada prasangkaan bukan pada pengetahuan yang pasti. Kita lebih sering mendengar berita dan informasi yang masih taraf 'kayaknya', masih berupa gosip dan kabar burung, namun kita telah meyakininya sebagai kabar pasti. Allah SWT berfirman, "Dan jika kamu mengikuti kebanyakan orang di bumi ini, niscaya mereka akan menyesatkanmu dari jalan Allah. Yang mereka ikuti hanya persangkaan belaka dan mereka hanyalah berbuat kebohongan." (Qs. Al-An'am: 116). Ayat ini menegaskan, kebanyakan dari informasi yang berserakan adalah dari mereka yang hanya mengikutkan persangkaannya saja dan berbuat kebohongan. Hitler menulis dalam bukunya Mein Kamf, kebohongan yang dilakukan berulang dan sesering mungkin akan menjadi kebenaran suatu waktu. Yang dengan kebohongan-kebohongan inilah, penguasa menciptakan sejarahnya. Holocaust, yang menurut Ahmadi Nejad hanyalah mitos, namun bagi rakyat Eropa adalah kenyataan sejarah yang tidak bisa diragukan. Mereka bisa ragu terhadap keberadaan Tuhan, namun meragukan Holocaust adalah kejahatan. Fir'aun menjajah Bani Israel secara fisik dan pemikiran, berabad-abad lamanya, dengan mengatakan, "Aku adalah tuhanmu yang tertinggi." Dan tak ada yang berani menentangnya, sebab telah dijadikan keyakinan yang mutlak kebenarannya. &lt;/div&gt;
&lt;div class="fullpost" align="justify"&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="fullpost" align="justify"&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="fullpost" align="justify"&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="fullpost" align="justify"&gt;
Penyebab lainnya berpikir keliru, adalah berpikir tradisional dan terlalu mengagungkan masa lalu. Seseorang cenderung mengagung-agungkan masa lalu, terlebih lagi masa lalu itu menyisakan cerita kegemilangan dan hikayat perjuangan yang mengagumkan. "Dan apabila dikatakan kepada mereka, "Ikutilah apa yang telah diturunkan Allah," mereka menjawab, "(Tidak!) Kami mengikuti apa yang kami dapati pada nenek moyang kami (melakukannya)". Padahal, nenek moyang mereka itu tidak mengetahui apapun, dan tidak mendapat petunjuk." (Qs. Al-Baqarah: 170). Ayat ini menceritakan tentang mereka yang merasa cukup untuk melakukan yang dilakukan oleh nenek moyang mereka. Ketika ada yang menyampaikan kebenaran, merekapun menolaknya dengan alasan menjaga tradisi keilmuan dan budaya nenek moyang. Sehingga Al-Qur'an menegaskan, hatta nenek moyang mereka kolot dan tidak mendapat petunjuk, mereka tetap mengikutinya. &lt;/div&gt;
&lt;div class="fullpost" align="justify"&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="fullpost" align="justify"&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="fullpost" align="justify"&gt;
Kecenderungan manusia adalah cepat meyakini gagasan yang diklaim brialian dan mengagumi tokoh penggagasnya. Kekaguman terhadap seorang tokoh yang berlebihan juga dapat menjebak seseorang berpikir keliru. Yang ada adalah praktek taklid buta yang sangat dikecam oleh agama, sebab setiap orang kelak secara pribadi akan dimintai pertanggungjawaban. Dalam Al-Qur'an tertulis ayat, "Dan mereka berkata, "Ya Tuhan kami, sesungguhnya kami telah menaati para pemimpin dan para pembesar kami, lalu mereka menyesatkan kami dari jalan yang benar." (Qs. Al-Ahzab: 67). Disini kita mesti membedakan antara Islam dengan ulama sebagai pembesar Islam. Ulama memang pengikut Islam yang taat dan mengajarkan Islam, namun mereka tidak identik dengan Islam dan menjadi bagian dari Islam. Kaum muslimin adalah mereka yang mengikuti ajaran Islam dan mengimaninya. Umat Islam bukanlah Islam itu sendiri. Sungguh berbeda antara akidah dengan pemeluk akidah, antara sahabat Nabi dan Nabi itu sendiri. Islam yang memiliki kebenaran mutlak di satu sisi dan pengikut yang memiliki pemahaman tentang Islam yang tidak mutlak kebenarannya berada di sisi lain. Setiap dari ulama memiliki pemahaman yang berbeda tentang syariat Islam bergantung pada tingkat kemampuan dan kadar keilmuan masing-masing, yang sangat ditentukan oleh besarnya keimanan dan kemampuan menanggalkan kepentingan hawa nafsu. Realitas menyodorkan kenyataan antara ulama yang satu dengan yang lainnya tidak satu dalam pemahaman mengenai apa yang disampaikan oleh Rasulullah atau mengenai ayat yang terdapat dalam Al-Qur'an.&lt;/div&gt;
&lt;div class="fullpost" align="justify"&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="fullpost" align="justify"&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="fullpost" align="justify"&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="fullpost" align="justify"&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="fullpost" align="justify"&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="fullpost" align="justify"&gt;
&lt;strong&gt;&lt;span style="color:#ff0000;"&gt;Dialog sebagai Tradisi Intelektual&lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="fullpost" align="justify"&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="fullpost" align="justify"&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="fullpost" align="justify"&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="fullpost" align="justify"&gt;
Islam (Al-Qur'an dan Sunnah) berada pada satu sisi, dan pemahaman ulama mengenai keduanya pada sisi lain. Karenanya, berbeda pemahaman dengan seorang ulama tidaklah berarti berbeda dengan Islam yang sebenarnya. Apabila seseorang mampu memahami sebuah nash dengan pemahaman tertentu, sementara yang lain memahaminya dengan pemahaman yang berbeda, maka berarti ada tugas lain yang menunggu. Setiap dari dua pihak yang memahami berbeda dari sebuah nash harus berulang kali berupaya kembali memahami kandungan nash tersebut dengan mempertimbangkan pemahaman mereka yang berbeda. Bukan malah menganggap pemahamannyalah yang paling sesuai dengan syariat. Inilah yang sesungguhnya semestinya dilakukan kaum muslimin, bersama-sama melakukan pengkajian terus menerus sampai memperoleh kesepakatan yang satu, sebab nash sesungguhnya hanya mempunyai maksud syar'i yang tunggal yang merupakan maksud Ilahi. Secara sepihak mengklaim diri pemahamannyalah yang paling benar sembari mengutuk dan mencela pemahaman yang lain berarti menyimpang dari ketentuan ajaran Islam. Yang perlu ditadisikan adalah dialog dan keterbukaan menerima pendapat yang berbeda. Furqon Hidayat (2007) menulis, "Dalam sejarah, dialog sebagai tradisi tidak pernah hilang dari kultur intelektual. Dialog menjadi aliran darah yang memompa jantung peradaban." Dari rahim dialog lahirlah philosophia, pencinta kebijaksanaan. Socrates telah memulainya dengan dialog-dialognya yang berani dan mencerahkan melawan hegemoni Sophist.
Dalam arena keagamaan, taklid buta adalah racun yang mematikan hati penganutnya, sedangkan dialog, menghidupkannya. Karenanya perlu ada keberanian untuk melakukan pengembaraan intelektual, melepas semua ikatan-ikatan dogma yang membelenggu dan mengubur tradisi klaim yang beku, kita mulai dengan dialog, diskusi, debat atau apapun namanya. Imam Ali bin Abi Thalib as. mengatakan: "Benturkan pandangan kalian satu sama lain, niscaya kalian temukan kebenaran". Ada semangat besar dalam mencari kebenaran yang terkandung dalam hikmah Imam Ali as ini. Bukan hanya sekedar berdiskusi, berdialog, bertukar pikiran namun juga kalau perlu saling berdebat, saling membenturkan pandangan, sealot dan sekeras mungkin. Imam Ali as melanjutkan pesannya, "Siapa yang bertabrakan dengan kebenaran akan terpental." Mari saling menghantamkan pandangan, kita lihat siapa yang terpental. &lt;/div&gt;
&lt;div class="fullpost" align="justify"&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="fullpost" align="justify"&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="fullpost" align="justify"&gt;
Wallahu'alam bishshawwab&lt;/div&gt;
&lt;div class="fullpost" align="justify"&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="fullpost" align="justify"&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="fullpost" align="justify"&gt;
Qom, 15 Februari 2009&lt;/div&gt;
&lt;div class="fullpost" align="justify"&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="fullpost" align="justify"&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="fullpost" align="justify"&gt;

&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6808511174156263273-6419734107633598193?l=abi-azzahra.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://abi-azzahra.blogspot.com/feeds/6419734107633598193/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=6808511174156263273&amp;postID=6419734107633598193&amp;isPopup=true' title='1 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6808511174156263273/posts/default/6419734107633598193'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6808511174156263273/posts/default/6419734107633598193'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://abi-azzahra.blogspot.com/2009/03/taklid-buta-racun-beragama.html' title='Taklid Buta, Racun Beragama'/><author><name>Ismail Amin</name><uri>http://www.blogger.com/profile/00461561157182799656</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://bp0.blogger.com/_b535izL1kDU/R54Ij8cN26I/AAAAAAAAAA8/7WbjvsXb9Tg/S220/Aku.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/_b535izL1kDU/Sa68nWm28gI/AAAAAAAAAl0/CYvsNQZO8cs/s72-c/3df06cad5a3ea372.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6808511174156263273.post-8167072607717441182</id><published>2009-02-13T05:04:00.001-08:00</published><updated>2009-02-13T05:42:08.281-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Agama'/><title type='text'>Sahabat Rasulullah saww Menurut Al-Qur'an dan As-Sunnah (1)</title><content type='html'>&lt;a href="http://4.bp.blogspot.com/_b535izL1kDU/SZVw_Q_TSlI/AAAAAAAAAlM/HoRUqxUELFI/s1600-h/095174242f6eb0f8.jpg"&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5302268368493169234" style="FLOAT: left; MARGIN: 0px 10px 10px 0px; WIDTH: 130px; CURSOR: hand; HEIGHT: 119px" alt="" src="http://4.bp.blogspot.com/_b535izL1kDU/SZVw_Q_TSlI/AAAAAAAAAlM/HoRUqxUELFI/s320/095174242f6eb0f8.jpg" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;
&lt;div class="fullpost" align="justify"&gt;&lt;span style="color:#ffff66;"&gt;-Tanggapan atas Tulisan Rahmat A. Rahman yang berjudul : Sahabat Rasulullah SAW dalam Pandangan Ahlus Sunnah wal Jama'ah-&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="fullpost" align="justify"&gt;&lt;span style="color:#ffff66;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="fullpost" align="justify"&gt;&lt;span style="color:#ffff66;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="fullpost" align="justify"&gt;&lt;span style="color:#ffff66;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="fullpost" align="justify"&gt;
&lt;span style="color:#ffff66;"&gt;-Bagian Pertama dari Dua Tulisan-&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="fullpost" align="justify"&gt;&lt;span style="color:#ffff66;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="fullpost" align="justify"&gt;&lt;span style="color:#ffff66;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="fullpost" align="justify"&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="fullpost" align="justify"&gt;
Aturan-aturan Ilahi dalam Islam merupakan aturan yang universal dan hakiki. Segala aspek yang terdapat di dalamnya adalah tuntunan yang sempurna. Aturan tersebut dibuat dan dipersiapkan secara lengkap dan ditetapkan khusus untuk membimbing manusia guna menyempurnakan kemanusiaannya dan mencapai etape kebahagiaan di dunia dan akhirat. Tuntunan Islam yang dibentuk dengan tabiat dan hukum Ilahi itu berdiri pada pondasi kepastian mutlak dan keyakinan menyeluruh, berbeda dengan hukum buatan manusia yang dibuat berdasarkan pada prasangkaan, dugaan-dugaan dan pemikiran yang sifatnya sementara. Aturan Ilahi tidak sekedar terdiri dari teks-teks suci dan teori semata, melainkan dapat diterapkan dalam kehidupan sehari-hari secara menyeluruh. Artinya, aturan Ilahi yang pada dasarnya adalah untaian kalimat yang menderetkan aturan-aturan main kehidupan sesungguhnya memiliki kekuatan untuk mengubah potensi diri manusia menjadi gerakan perilaku yang pasti. &lt;/div&gt;
&lt;div class="fullpost" align="justify"&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="fullpost" align="justify"&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="fullpost" align="justify"&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="fullpost" align="justify"&gt;
Gambaran ringkasnya ada pada pribadi Muhammad saww yang mampu mengaktualisasikan aturan Ilahiah ini dalam seluruh hembusan nafas dan perilakunya. Muhammad saww diutus sebagai nabi untuk membimbing umat manusia melalui dakwah sedimikian rupa dengan menerapkan aturan Ilahi tersebut, sehingga dapat membentuk umat terbaik dan mampu menyelenggarakan daulah yang agung dalam sejarah kebudayaan manusia. Sungguhpun demikian, perjalanan sejarah umat Islam yang masih belia dan baru terbentuk mengalami pergolakan politik pada permulaan langkahnya, persis menjelang wafatnya Rasulullah saww. Sebagian muslimin telah berupaya untuk menjaga tatanan Daulah Islamiyah warisan Rasulullah yang berkeadilan, namun seolah telah menjadi nasib, pergolakan politik pada generasi awal kaum muslimin menimbulkan pertikaian yang susul menyusul, berlanjut terus mewarnai perjalanan sejarah umat manusia. Efek dramatis akibat pertikaian-pertikaian ini pun tak terhindarkan, umat Islam kemudian terpecah menjadi kepingan-kepingan besar. Pertanyaan-pertanyaan yang harus kita jawab, mengapa terjadi perpecahan? Mengapa perpecahan ini terus berlangsung dan menimbulkan prahara yang tak berkesudahan di tubuh kaum muslimin? Mengapa perpecahan ini mengakibatkan penerapan ajaran Islam keluar dari makna dan gambaran aslinya, dan kita sebagai generasi dimasa ini tidak mampu mengaplikasiakan aturan-aturan Ilahiah tersebut secara menyeluruh bahkan seakan tercerabut dari kehidupan nyata? &lt;/div&gt;
&lt;div class="fullpost" align="justify"&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="fullpost" align="justify"&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="fullpost" align="justify"&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="fullpost" align="justify"&gt;
Secara logika, mustahil penyebab semua ini bersumber dari aturan Islam, sebab ajaran Islam bersumber dari Allah SWT sang Pencipta dengan segala sempurna. Menurut saya ada dua hal yang bisa jadi menjadi penyebab semua ini, pertama, adanya keberanian dari penguasa-penguasa yang menorehkan tinta berwarna selain Islam dengan membuat aturan-aturan politik yang lain dan menyebutnya dengan aturan politik Islam dan kedua adanya sekelompok orang yang mengklaim diri sebagai ulama yang berusaha keras mengambil alih pikiran umat dengan memberikan pemahaman bahwa apa yang mereka pahami tentang Islam adalah pemahaman Islam yang sebenarnya. Kedua kelompok inilah yang berusaha keras meyakinkan umat Islam bahwa sejarah perpolitikan Islam sejak Rasulullah wafat hingga runtuhnya kekhalifaan Turki Usmaniyah adalah juga aturan politik Islam yang diturunkan oleh Allah untuk membimbing gerak umat manusia. Upaya mereka untuk meyakinkan kaum muslimin itu dilakukan dengan sungguh-sungguh, padahal sesungguhnya tindakan pencampuradukan, mereka telah mendahulukan tabi' (orang yang mengikuti) dari pada matbu' (orang yang harus diikuti), mereka menjadikan orang-orang yang sebenarnya juga adalah pengikut (baca : sahabat nabi) sebagai sebaik-baiknya tauladan, sementara Nabi yang seharusnya menjadi pusat tauladan dalam segala hal sebagai pihak yang terabaikan. &lt;/div&gt;
&lt;div class="fullpost" align="justify"&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="fullpost" align="justify"&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="fullpost" align="justify"&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="fullpost" align="justify"&gt;
Melalui pembahasan yang sederhana ini saya berusaha menjelaskan apa-apa yang telah diturunkan Allah dan apa-apa yang telah menjadi sunnah nabi-Nya yang saya khususkan mengenai sahabat-sahabat nabi. Apa yang terjadi setelah Rasulullah wafat hingga tercerabutnya banyak aturan Islam dalam pola kehidupan keseharian nyata umat Islam bukan disebabkan oleh adanya ketimpangan pada ajaran Islam atau salahnya aturan Ilahi, namun penyebab utamanya dari umat Islam sendiri yang telah berani mengganti nikmat -hukum- Allah dengan hawa nafsu mereka. Dari sinilah tersembunyi benih-benih malapetaka itu. Jadi marilah kita mengkajinya, melihat masa kini dengan kacamata masa lalu (al-fahm al turatsy li al-ashr). &lt;/div&gt;
&lt;div class="fullpost" align="justify"&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="fullpost" align="justify"&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="fullpost" align="justify"&gt;
"Yang demikian itu karena sesungguhnya Allah tidak akan mengubah suatu nikmat yang telah diberikan-Nya kepada suatu kaum, hingga kaum itu mengubah yang ada pada diri mereka sendiri. Sungguh, Allah Maha Mendengar, Maha Mengetahui." (Qs. Al-Anfal : 53). &lt;/div&gt;
&lt;div class="fullpost" align="justify"&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="fullpost" align="justify"&gt;
&lt;strong&gt;&lt;span style="color:#ff0000;"&gt;Defenisi Ash-Shuhbah dan Ash-Shahabah&lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="fullpost" align="justify"&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="fullpost" align="justify"&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="fullpost" align="justify"&gt;
Dalam kamus-kamus bahasa dituliskan, al-ashhab, ash-shahabah, shahaba, yashhubu, shuhbatan, shahabatan, shahibun artinya, teman bergaul, sahabat, teman duduk, pengikut, penolong. Ash-shahib artinya kawan bergaul, pemberi kritik, teman duduk, pengikut, teman atau orang yang melakukan dan menjaga sesuatu. Kita juga dapat menyatakan seperti dalam frasa ishthahaba al-qaum, artinya mereka saling bersahabat satu sama lain, atau ishthahaba al-bair, artinya menyelamatkan unta. Jika kita membaca Al-Qur'an maka kita akan menemukan kata yang berbunyi: tushahibni, shahibahuma, shahibahu, shahibatahu, ashhab, ashhabun. Kata-kata ini dapat ditemui dalam Al-Qur'an berulang-ulang sebanyak 97 kali, namun kita tidak menemukan lafadzh shahabah dan shuhbah dalam Al-Qur'an. Dengan menelaah kalimat yang ada dalam Al-Qur'an, kita dapat mengetahui bahwa kalimat-kalimat tersebut dapat memberikan makna dengan tashrif (maksud) yang berbeda-beda. Kata ash-shuhbah, mempunyai banyak makna, dan bentuknya bisa memiliki arti positif atau negatif. &lt;/div&gt;
&lt;div class="fullpost" align="justify"&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="fullpost" align="justify"&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="fullpost" align="justify"&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="fullpost" align="justify"&gt;
Kata ash-shuhbah (persahabatan) dapat diterapkan pada hubungan antara seorang mukmin dengan mukmin lainnya, antara seorang anak dengan kedua orangtuanya yang berbeda keyakinan (Qs. Luqman:15), antara dua orang yang bersama-sama melakukan perjalanan (Qs. An-Nisa:36), antara tabi' (pengikut) dengan matbu' (orang yang diikuti) (Qs. At-Taubah: 40), antara seorang mukmin dengan orang kafir (Qs. Al-Kahfi: 34 dan 37), antara orang kafir dengan orang kafir lainnya (Qs. Al-Qamar: 29), antara seorang nabi dengan kaumnya yang kafir (Qs. An-Najm: 2). Jadi secara bahasa kata ash-shuhbah memiliki makna yang sangat umum yang artinya bisa positif namun juga bisa negatif. &lt;/div&gt;
&lt;div class="fullpost" align="justify"&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="fullpost" align="justify"&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="fullpost" align="justify"&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="fullpost" align="justify"&gt;
Ibnu Hajar al-Asqalani dalam kitabnya Al-Ishabah fi Tamyiz ash-Shahabah mendefinisikan Ash-Shabi (sahabat) ialah orang yang bertemu dengan Rasulullah saww, beriman kepada beliau dan meninggal dalam keadaan Islam. Defenisi ini dibuat berdasarkan pendapat yang paling shahih menurut para muhaqqiq, seperti Bukhari, Ahmad bin Hanbal serta orang-orang yang ikut dengan mereka. Kalau kita sepakat dengan definisi ini maka dapat ditelusuri siapa saja yang bisa disebut sebagai sahabat. Yakni orang yang bertemu dengan nabi Muhammad saww, baik bertemu pada saat majelis, melalui obrolan atau sekedar melihat saja. &lt;/div&gt;
&lt;div class="fullpost" align="justify"&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="fullpost" align="justify"&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="fullpost" align="justify"&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="fullpost" align="justify"&gt;
Defenisi ini tidak lolos dari kritik. Menurut Ibnu Hajar, seorang sahabat adalah yang beriman kepada Muhammad saww dan mengaku bahwa beliau adalah seorang nabi. Maka untuk memastikan seseorang sahabat nabi atau bukan maka kita harus benar-benar memastikan hakikat keimanan seseorang terhadap Rasulullah saww. Ini mustahil sebab masalah keimanan yang merupakan isi hati yang paling dalam dan rumit berada di luar jangkauan kemampuan manusia. Yang bisa dihukumi adalah apa yang menjadi sisi dzahiriah seseorang, misalnya dengan ucapan "Saya beriman" atau menampakkan keimanan kepada nabi saww. Ini musykilah pertama dalam menentukan seseorang sahabat nabi atau bukan. &lt;/div&gt;
&lt;div class="fullpost" align="justify"&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="fullpost" align="justify"&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="fullpost" align="justify"&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="fullpost" align="justify"&gt;
Dengan defenisi ini pula, maka tidak ada jumlah yang jelas berapa banyak yang terkategorikan sahabat nabi. Dakwah nabi, daulah, peperangan beliau, baiat umat manusia kepadanya, haji, umrah, fathu Makkah, haji wada dan kekuasaan Daulah Islamiyah beliau yang menguasai jazirah Arab seluruhnya, telah memberikan kesempatan kepada umat Islam kala itu untuk bertemu dengan Rasulullah. Terlebih lagi pemerintahan Islam yang dipimpin Rasulullah telah menghapuskan jarak dan berbagai bentuk perbedaan antara penguasa dengan rakyatnya. Rasulullah saww seringkali berjalan sendiri tanpa pengawalan ketika mencari berbagai keperluannya sendiri, sehingga masyarakat dalam pemerintahan Islam itu dapat melihat, berbicara dengannya dan menghadiri majelisnya. Karenanya dengan defenisi yang telah disebutkan, masyarakat pada Daulah Islamiyah yang dipimpin Rasulullah saww bisa disebut sahabat, sebab mereka bisa dengan sangat mudah untuk sekedar bertemu atau melihat Rasulullah saww. Lalu dengan dasar apa, Imam Abu Zur’ah Ar Raaziy, seorang ulama hadits terkemuka, menyebutkan total jumlah sahabat Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam 114 ribu orang, sementara seseorang sudah bisa termasuk sahabat nabi meskipun tidak meriwayatkan hadits?. Dalam peristiwa Haji Wada' saja, sebagaimana yang tertulis dalam Kitab Tadzkirah, Sibth Ibnu Al-Jauzi kaum muslimin yang bersama Rasulullah jumlahnya 120 ribu orang. Kalau jumlah yang diajukan Ibnu Al-Jauzi itu benar, maka menurut Abu Zur'ah Ar Raaziy ada sekitar 6 ribu orang yang bukan sahabat dalam pelaksanaan haji Wada bersama Rasulullah saww. Ini hanya contoh kecil adanya ketidaksepakatan antara ulama tentang sahabat nabi. &lt;/div&gt;
&lt;div class="fullpost" align="justify"&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="fullpost" align="justify"&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="fullpost" align="justify"&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="fullpost" align="justify"&gt;
Namun anehnya, kelompok Ahlussunnah bersepakat bahwa seluruh sahabat adalah orang yang adil. Menurut Ibnu Hajar al-Asqalani, tidak ada yang berselisih pendapat tentang hal ini kecuali segelintir ahli bid'ah, maka wajib bagi muslimin untuk meyakini sikap sahabat tersebut karena telah ditetapkan bahwa, seluruh sahabat adalah ahli surga, tak seorangpun dari mereka yang akan masuk neraka (Rujuk dalam kitab Al-Ishabah fi Tamyiz ash-Shahabah karya Ibnu Hajar). Imam al-Hafizh Adz-Dzahabi rahimahullah berkata dalam kitabnya al-Kabair hal. 352-353: “Barangsiapa yang mencaci dan menghina mereka (para shahabat), maka sungguh ia telah keluar dari agama Islam dan merusak kaum muslimin". Disinilah penggugatan saya terhadap ulama-ulama Ahlussunnah yang sangat berani menetapkan hukum kekafiran terhadap sesuatu yang belum jelas dan masih debatable, terlebih lagi tidak mendapatkan penetapan dari Rasulullah saww sebagai utusan Allah yang lebih berhak memberikan penetapan hukum. &lt;/div&gt;
&lt;div class="fullpost" align="justify"&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="fullpost" align="justify"&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="fullpost" align="justify"&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="fullpost" align="justify"&gt;
&lt;strong&gt;&lt;span style="color:#ff0000;"&gt;Pertama&lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;, Rasulullah saww tidak pernah memberikan pendefinisian dan penentuan siapakah yang termasuk sahabat beliau. Yang menentukan defenisi adalah ulama-ulama Ahlus Sunnah seperti misalnya Ibnu Hajar al-Asqalani yang pendefinisian yang diajukannya dikatakan sebagai definisi yang paling kuat dan diterima ulama-ulama lainnya. Saya menyebutnya ini adalah bid'ah, menetapkan sesuatu yang tidak pernah ditetapkan oleh Rasulullah saww. &lt;/div&gt;
&lt;div class="fullpost" align="justify"&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="fullpost" align="justify"&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="fullpost" align="justify"&gt;
&lt;strong&gt;&lt;span style="color:#ff0000;"&gt;Kedua,&lt;/span&gt;&lt;/strong&gt; dengan definisi –yang bid'ah- ini mereka (ulama Ahlus Sunnah) bersepakat untuk mengkafirkan mereka yang mencela dan menghina orang-orang yang dikategorikan sahabat menurut mereka, sementara sekali lagi, tidak ada teks hadist yang jelas memberikan penghukuman sebagaimana penetapan mereka. Saya menyebut mereka, sangat berani mengambil kedudukan Rasulullah dalam penetapan hukum. &lt;/div&gt;
&lt;div class="fullpost" align="justify"&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="fullpost" align="justify"&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="fullpost" align="justify"&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="fullpost" align="justify"&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="fullpost" align="justify"&gt;
&lt;strong&gt;&lt;span style="color:#ff0000;"&gt;Ketiga,&lt;/span&gt;&lt;/strong&gt; pernyataan mereka bahwa para sahabat adil tanpa kecuali dan menyelisihi pendapat mereka kafir adalah pernyataan tanpa dasar, sebab yang berhak sepenuhnya menilai keadilan para sahabat hanyalah Allah SWT. Secara logika, faktual dan hukum syara', para sahabat tidaklah berada pada satu derajat yang sama. Diantara mereka ada dalam golongan yang shadiq yang tingkat keshadiqannya juga beragam, mereka adalah sahabat-sahabat yang mendapat keridhaan Allah SWT. Diantara mereka juga ada yang lemah imannya, iman belum menghujam kuat di hati-hati mereka dan tidak sedikit pula diantara mereka yang munafik, dengan tingkat kemunafikan yang berbeda-beda pula. Karenanya, hanya Allah SWT yang mengetahui apa yang ada dalam hati-hati mereka hanya Dia yang mampu memastikan keislaman dan keimanan seseorang. Ahlus Sunnah mengklaim pemahaman mereka terhadap Islamlah yang paling benar, dan yang menyelisihi pemahaman mereka disebut kafir atau minimal disebut ahli bid'ah. Ini jelas sesuatu yang sangat menyimpang dari hukum Islam. Sebab Islam sebagai sebuah ajaran Ilahi adalah satu hal sementara pemahaman kita tentang Islam tersebut adalah hal lain. Misalnya saya berbeda dengan seseorang dalam memahami Islam, tidak serta mereka pemahaman saya satu-satunya yang benar dan siapapun harus menjadikan saya sebagai sumber rujukan sementara yang tidak sependapat dengan saya otomatis kafir dan keluar dari Islam. Pandangan sempit yang menyebutkan hanya pendapat merekalah yang sesuai dengan agama diiringi dengan tuduhan kepada siapa saja yang menyelisihi mereka sama dengan kafir sangat patut untuk disangsikan. Sebab, tentu saja, menafsirkan Islam bukanlah hak prerogatif mereka, karena jelas pendapat mereka (ulama Ahlus Sunnah) adalah satu hal dan Islam adalah hal yang lain. Sayangnya, tak hanya sekedar mengklaim diri sebagai satu-satunya kebenaran namun juga menghalangi orang-orang untuk melakukan pencarian hakikat kebenaran syariat. &lt;/div&gt;
&lt;div class="fullpost" align="justify"&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="fullpost" align="justify"&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="fullpost" align="justify"&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="fullpost" align="justify"&gt;
Selanjutnya, kita lihat hadits-hadits yang katanya membenarkan penghukuman mereka. Rahmat A. Rahman telah cukup membantu dengan mengajukan kepada kita diantara hadits-hadits tersebut, mari kita kaji.&lt;/div&gt;
&lt;div class="fullpost" align="justify"&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="fullpost" align="justify"&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="fullpost" align="justify"&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="fullpost" align="justify"&gt;
&lt;strong&gt;&lt;span style="color:#ff0000;"&gt;Hadits Pertama:&lt;/span&gt;&lt;/strong&gt; &lt;/div&gt;
&lt;div class="fullpost" align="justify"&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="fullpost" align="justify"&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="fullpost" align="justify"&gt;
Dari Abu Sa'id ia berkata: Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda: "Jangan kalian mencela seorang-pun dari sahabatku. Sungguh jika salah seorang diantara kalian berinfaq sebesar gunung uhud emas, maka itu belum menyamai segenggam (dari infaq) mereka dan tidak pula setengahnya". HR. al-Bukhari, no: 3673, Muslim, no: 2541&lt;/div&gt;
&lt;div class="fullpost" align="justify"&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="fullpost" align="justify"&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="fullpost" align="justify"&gt;
Ibnu Umar radhiallahu anhuma berkata: "Jangan kalian memaki sahabat-sahabat Muhammad shallallahu alaihi wasallam, sungguh keberadaan mereka sesaat (di sisi Nabi shallallahu alaihi wasallam) lebih baik dari pada amal ibadah kalian selama empat puluh tahun". Riwayat Ahmad dalam Fadhailus Shahabah, I/57, Ibnu Majah no: 158, Ibnu Abi Ashim, II/484. Dihasankan oleh Syaikh al-Albani dalam Shahih Ibnu Majah, I/32. &lt;/div&gt;
&lt;div class="fullpost" align="justify"&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="fullpost" align="justify"&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="fullpost" align="justify"&gt;
Hadits diatas justru tidak membenarkan penetapan mereka bahwa yang menghina dan mencela sahabat nabi telah kafir dan keluar dari Islam. Hadits di atas hanya menunjukkan bahwa adanya larangan untuk mencela sahabat nabi karena keutamaan mereka, bahwa amalan mereka tidak bisa disamai oleh 'kalian' yang disebut Rasulullah saww tersebut. Al-Qur'an menyatakan bahwa amalan-amalan orang kafir itu sia-sia, tertolak karena kekafiran mereka (baca diantaranya, Qs. Hud: 16). Sementara hadits di atas amalan si "kalian" itu tidaklah sia-sia hanya saja tidak atau belum menyemai segenggam dari infaq para sahabat dan tidak pula setengahnya dan lebih baik dari amal ibadah si "kalian" selama empat puluh tahun. Kalau pencelaan terhadap sahabat nabi menyebabkan kekafiran, adalah sebuah keniscayaan Rasulullah saww untuk menyebutkan dan menyampaikan secara terang dan jelas, sebab sangat berkaitan dengan keimanan dan keselamatan seorang muslim. Rasulullah saww adalah yang paling besar keinginan untuk melihat umatnya selamat dunia dan akhirat. Hadits di atas tidak memberikan keterangan yang jelas dan terang, bahwa yang mencela sahabat nabi kafir dan keluar dari Islam. &lt;/div&gt;
&lt;div class="fullpost" align="justify"&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="fullpost" align="justify"&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="fullpost" align="justify"&gt;
Persoalan selanjutnya, kita patut mengajukan pertanyaan, siapa yang dikatakan Rasulullah 'kalian' pada hadits di atas. Kalau kita mengamati secara cermat, maka "kalian" pada teks di atas tentu bukanlah sahabat nabi, melainkan orang selain mereka, karenanya dilarang untuk mencela sahabat. Lalu -dengan definisi Ibnu Hajar- adakah orang yang bertemu dengan Rasulullah saww, beriman terhadap beliau dimasanya namun tidak termasuk sahabat beliau?, jawabnya tentu saja tidak ada, sebagaimana telah dijelaskan sebelumnya. Kalau dikatakan bahwa "kalian" yang dimaksud adalah orang-orang kafir, maka teks berikut, "Sungguh jika salah seorang diantara kalian berinfaq sebesar gunung Uhud emas dan itu belum menyamai segenggam (dari infaq) mereka dan tidak pula setengahnya" adalah ucapan sia-sia, sebab buat apa Rasulullah mengucapkannya sementara sudah jelas bagi siapapun bahwa amalan orang-orang kafir tertolak, sia-sia dan tidak bisa diperbandingkan dengan amalan orang-orang yang beriman dan tidak mungkin Rasulullah mengucapkan teks tersebut. &lt;/div&gt;
&lt;div class="fullpost" align="justify"&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="fullpost" align="justify"&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="fullpost" align="justify"&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="fullpost" align="justify"&gt;
Kalaupun benar hadits diatas adalah hadits yang shahih dan benar-benar berasal dari Rasulullah saww, maka ada dua kemungkinan. Pertama, tidak semua orang yang bersama dan yang beriman kepada Rasulullah saww dimasanya adalah sahabat nabi, sebab si "kalian" diatas bukanlah sahabat nabi. Dengan hadits ini defenisi sahabat oleh Ibnu Hajar tertolak dengan sendirinya. Kemungkinan kedua, dengan sepakat pada pendefinisian Ibnu Hajar, maka 'kalian' yang dimaksud adalah sahabat nabi. Maka secara harfiah hadits diatas juga bisa dikatakan,"Janganlah kalian (sahabat) mencela seorangpun dari sahabatku (diri kalian sendiri)" yakni, hadits diatas adalah larangan yang ditujukan kepada sahabat-sahabat nabi untuk jangan mencela diri mereka sendiri. Kalau disuruh memilih –sebab hadits diatas dikatakan pasti shahih sebab diriwayatkan Bukhari-Muslim- saya memilih kemungkinan pertama, sebab kemungkinan kedua sangat tidak jelas dan tidak mengandung makna apa-apa, apalagi jika dikaitkan dengan pahala infaq. Kemungkinan pertama berbunyi, tidak semua orang yang bersama dengan Rasulullah dimasanya bisa disebut sebagai sahabat nabi. Sahabat nabi adalah orang-orang yang benar-benar telah teruji keimanannya dan mampu menunjukkan kesetiaannya kepada Islam sampai akhir hayatnya. Karenanya, kalaupun hadits ini benar-benar shahih, maka pesan Rasulullah saww ini ditujukan kepada orang-orang yang baru masuk Islam setelah kondisi aman dan tidak terjadi peperangan lagi, misalnya setelah Fathul Makah, ataupun kepada orang-orang Islam yang tidak pernah ikut bersama Rasulullah dalam hijrah dan jihad, karenanya Rasulullah membedakan umat Islam saat itu, ada yang termasuk sahabatnya yakni golongan yang pertama masuk Islam, berhijrah dan berjihad bersama Rasulullah dan juga ada yang tidak termasuk dalam kategori sahabat nabi. Hal ini bisa kita pahami dari ayat berikut, "Orang-orang yang beriman dan berhijrah serta berjihad di jalan Allah, dengan harta dan jiwa mereka, adalah lebih tinggi derajatnya di sisi Allah. Mereka itulah orang-orang yang memperoleh kemenangan." (Qs. At-Taubah: 19-20) atau pada ayat berikut, "Tidak sama di antara kamu orang yang menafkahkan (hartanya) dan berperang sebelum penaklukan (Mekah). Mereka lebih tingi derajatnya daripada orang-orang yang menafkahkan (hartanya) dan berperang sesudah itu. Allah menjanjikan kepada masing-masing mereka (balasan) yang lebih baik. dan Allah mengetahui apa yang kamu kerjakan". (Qs: al-Hadid : 10). Ayat kedua ini jika kita kaitkan dengan hadits Rasulullah saww di atas maka ini menunjukkan adanya perbedaan diantara mereka yang menafkahkan hartanya dan berperang sebelum penaklukkan Mekah (disebut sahabat oleh nabi) dan mereka yang menafkahkan harta dan berperang setelah Fathul Makah (disebut 'kalian' oleh Nabi saww). Karenanya wajar, jika Rasulullah mengatakan kepada si 'kalian' yakni yang menafkahkan hartanya setelah peristiwa Fathul Makah (meskipun bertemu langsung dan beriman kepada Rasulullah namun Rasul tidak menyebutnya sebagai sahabatnya) tidak akan mencapai pahala sahabat-sahabat nabi yakni yang menafkahan hartanya sebelum penaklukan kota Makah. &lt;/div&gt;
&lt;div class="fullpost" align="justify"&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="fullpost" align="justify"&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="fullpost" align="justify"&gt;
Riwayat kedua diatas yang berasal dari Ibnu Umar ra, bisa sedikit kita terima bahwa "kalian" yang dimaksud Ibnu Umar ra memang bukan yang termasuk sahabat nabi, sebab dimasa Ibnu Umar ra (yakni masa sepeninggal Rasulullah saww) terdapat orang-orang Islam yang tidak sempat bertemu dengan Rasulullah saww. Namun saya kembali bertanya, apakah riwayat dari Ibnu Umar ra di atas termasuk hadits yang kita wajib berpegangan dan berpedoman padanya?. Dalam teks riwayat di atas, Ibnu Umar ra sama sekali tidak menyampaikan bahwa apa yang dikatakannya tersebut berasal dari Rasulullah saww, jadi yang mendengarkannya bisa langsung berpendapat bahwa ini adalah pendapat pribadi Ibnu Umar ra. Pertanyaannya, dengan kapasitas apa Ibnu Umar ra bisa menetapkan hukum, bahwa keberadaan sahabat sesaat lebih baik dari amal ibadah si 'kalian' selama empat puluh tahun?. Meskipun Ibnu Umar ra termasuk sahabat nabi lalu apakah beliau berhak menetapkan sesuatu tanpa petunjuk wahyu dan penetapan Rasulullah saww?. Kalaupun pernah ditetapkan Rasulullah seharusnya beliau menyertakan nama Rasulullah ketika menyampaikan riwayat di atas bahwa beliau mendengarnya dari Rasulullah saww. Riwayat di atas dalam ilmu hadits dikategorikan sebagai riwayat yang mursal. &lt;/div&gt;
&lt;div class="fullpost" align="justify"&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="fullpost" align="justify"&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="fullpost" align="justify"&gt;
&lt;strong&gt;&lt;span style="color:#ff0000;"&gt;Hadits Kedua:&lt;/span&gt;&lt;/strong&gt; &lt;/div&gt;
&lt;div class="fullpost" align="justify"&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="fullpost" align="justify"&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="fullpost" align="justify"&gt;
Dari Uwaim bin Sa'idah radhiallahu anhu, Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda: "Sesungguhnya Allah Ta'ala telah memilih diriku, lalu memilih untukku para sahabat dan menjadikan mereka sebagai pendamping dan penolong. Maka siapa yang mencela mereka, atasnya laknat dari Allah, para malaikat dan seluruh manusia. Allah Ta'ala tidak akan menerima amal darinya pada hari kiamat, baik yang wajib maupun yang sunnah". HR. Al-Hakim dalam al-Mustadrak, beliau berkata: Sanadnya Shahih, dan disepakati oleh az-Dzahabi, III/632. Akan tetapi didhaifkan oleh Syaikh al-Albani dalam as-Silsilah ad-Dhaifah, no: 3157&lt;/div&gt;
&lt;div class="fullpost" align="justify"&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="fullpost" align="justify"&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="fullpost" align="justify"&gt;
&lt;strong&gt;&lt;span style="color:#ff0000;"&gt;Hadits Ketiga:&lt;/span&gt;&lt;/strong&gt; &lt;/div&gt;
&lt;div class="fullpost" align="justify"&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="fullpost" align="justify"&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="fullpost" align="justify"&gt;
Dari Abdullah bin Mughaffal radhiallahu anhu, ia berkata, Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda: "Berhati-hatilah tentang sahabatku, jangan kalian jadikan mereka bahan ejekan sepeninggalanku. Siapa yang mencintai mereka, maka dengan cintaku aku mencintainya. Dan siapa yang membenci mereka maka dengan kebencianku akupun membenci mereka. Siapa yang menyakiti mereka maka sungguh ia telah menyakiti aku. Siapa yang menyakiti aku maka ia telah menyakiti Allah. Dan siapa yang menyakiti Allah, maka pasti Ia akan menyiksanya". (HR. at-Tirmidzi, beliau berkata: Hadits ini Hasan. Akan tetapi Syaikh al-Albani menyatakan dha'if dalam Dha'if at-Tirmidzi no: 808.)&lt;/div&gt;
&lt;div class="fullpost" align="justify"&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="fullpost" align="justify"&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="fullpost" align="justify"&gt;
Hadits kedua dan ketiga di atas, dengan adanya penjelasan dari pakar hadits terkemuka, Syaikh Al-Albani bahwa kedua hadits tersebut sanadnya dhaif, maka tidak memberi pengaruh apa-apa dalam penetapan hukum. Karenanya, sangat disayangkan ulama-ulama Ahlus Sunnah menetapkan hukum kekafiran kepada orang-orang yang mencela dan menghina sahabat nabi berlandaskan kepada hadits-hadits yang riwayatnya lemah atau dhaif. &lt;/div&gt;
&lt;div class="fullpost" align="justify"&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="fullpost" align="justify"&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="fullpost" align="justify"&gt;
&lt;strong&gt;&lt;span style="color:#ff0000;"&gt;Kedudukan Sahabat dalam Al-Qur'an&lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="fullpost" align="justify"&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="fullpost" align="justify"&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="fullpost" align="justify"&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="fullpost" align="justify"&gt;
Al-Qur'an adalah sumber referensi yang diyakini autensitasnya oleh seluruh kaum muslimin sebagai rujukan dalam penetapan hukum. Al-Qur'an menyebut dirinya diantaranya sebagai pengingat -al-Dzikr- (Qs. Al-Hijr: 9), pembeda –al-Furqan- (Qs. Ali-Imran: 4) dan penjelas –al-Bayan- (Qs. Al-Baqarah: 185). Karenanya dalam penetapan hukum kita harus lebih dahulu melihat bagaimana pandangan Al-Qur'an tentang suatu hal. Al-Qur'an memuat firman-firman Allah SWT yang suci yang membicarakan banyak hal, tentang para sahabat Rasulullah saww Allah SWT pun tidak luput menceritakannya dalam Al-Qur'an. Al-Qur'an misalnya menceritakan tentang As-Sabiquna al-Awwalun, pelopor-pelopor pertama dari para Muhajirin dan Anshar (Qs. At-Taubah: 100), Al-Mubayyi'una tahta asy-Syajarah (Qs. Al-Fath: 18), Al-Muhajirun yang diusir dari rumahnya dan dipisahkan hartanya (Qs. Al-Hasyr: 8-10), Ashhabul Fath (Qs. Al-Fath: 29) dan lain-lain yang mendapat kemuliaan dan keridhaan Allah SWT. Namun Allah SWT juga tidak luput untuk menceritakan kelakuan sahabat-sahabat nabi yang sebaliknya. Allah SWT berfirman, "(Kedudukan) mereka itu bertingkat-tingkat di sisi Allah dan Allah melihat apa yang mereka kerjakan.” (Qs. Ali-Imran: 163)&lt;/div&gt;
&lt;div class="fullpost" align="justify"&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="fullpost" align="justify"&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="fullpost" align="justify"&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="fullpost" align="justify"&gt;
&lt;strong&gt;&lt;span style="color:#ff0000;"&gt;Ayat Pertama:&lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="fullpost" align="justify"&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="fullpost" align="justify"&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="fullpost" align="justify"&gt;
"Dan diantara orang-orang Arab yang (tinggal) di sekitarmu, ada orang-orang munafik. Dan di antara penduduk Madinah (ada juga orang-orang munafik), mereka keterlaluan dalam kemunafikannya. Engkau (Muhammad) tidak mengetahui mereka, tetapi Kami mengetahuinya. Nanti mereka akan Kami siksa dua kali, kemudian mereka akan dikembalikan kepada azab yang besar." (Qs. At-Taubah: 101). &lt;/div&gt;
&lt;div class="fullpost" align="justify"&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="fullpost" align="justify"&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="fullpost" align="justify"&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="fullpost" align="justify"&gt;
Tim penerjemah Depag RI menerjemahkan al-a'rab sebagai orang-orang Arab Badui, sementara Arab Badui adalah mereka yang tinggal dipebukitan dipinggiran kota Makah dan kehidupannya sangat sederhana dan terbelakang, sementara ayat di atas tertulis jelas adalah orang yang tinggal di sekitar nabi, dan Nabi tinggal dijantung kota Madinah. Orang desa yang bermigrasi kekota dan bermukim disana, tidak bisa lagi disebut sebagai orang desa. Orang-orang Arab Badui juga sangat dikenal dengan kesederhanaan pola pemikirannya, mereka sangat lugu, polos dan jujur. Kisah yang paling masyhur tentang salah seorang Arab Badui adalah yang mengencingi Masjid Nabi, ketika sahabat-sahabat nabi hendak memukulinya, nabi justru menjelaskan dengan lembut bahwa yang dilakukannya adalah kesalahan. Ayat di atas menceritakan keberadaan orang-orang munafik yang berada disekitar nabi, yang mereka keterlaluan dalam kemunafikannya, artinya sesungguhnya mereka orang-orang yang cerdas dan sangat lihai menampakkan apa yang tersembunyi di hati-hati mereka, karenanya tidaklah benar jika dinisbahkan kepada orang-orang Arab Badui yang pikirannya sederhana. Artinya orang-orang yang dikatakan munafik itu, mereka menampakkan secara dzahir bahwa mereka juga termasuk orang-orang beriman, melakukan amalan sebagaimana amalan kaum muslimin pada umumnya, mereka shalat berjamaah bersama Rasulullah, berjihad, berzakat dan sebagainya. Saking kerasnya mereka dalam kemunafikannya tidak ada yang mengetahui bahwa mereka sebenarnya orang-orang munafik sebab secara dzahir mereka menampakkan keshalihan hatta –sebagaimana dijelaskan ayat di atas- Rasulullah saww sendiri tidak mengetahui mereka. Karenanya wajar jika kemudian orang-orang mengenali mereka sebagai sahabat-sahabat nabi, bahkan bisa jadi oleh ulama-ulama Ahlus Sunnah termasuk golongan sahabat nabi yang terkemuka. &lt;/div&gt;
&lt;div class="fullpost" align="justify"&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="fullpost" align="justify"&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="fullpost" align="justify"&gt;
&lt;strong&gt;&lt;span style="color:#ff0000;"&gt;Ayat Kedua&lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="fullpost" align="justify"&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="fullpost" align="justify"&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="fullpost" align="justify"&gt;
Dalam Surah Al-Munafiqun ayat 1 sampai 8. Diceritakan bahwa orang-orang munafik datang dan berkata kepada Rasulullah saww, "Kami mengakui bahwa engkau adalah Rasul Allah." Mereka menjadikan sumpah-sumpah mereka sebagai perisai. Karena orang-orang munafik ini menampakkan keimanan maka sekali lagi mereka dikenal dan diakui termasuk orang-orang beriman dan sahabat-sahabat nabi. Allah SWT berfirman, "Dan apabila engkau melihat mereka, tubuh mereka mengagumkanmu. Dan jika mereka berkata, engkau mendengarkan tutur katanya." (Qs. Al-Munafiqun: 4). Maksud dari "tubuh mereka mengagumkanmu" adalah amalan-amalan dzahir mereka. Mereka tampak benar-benar shalih dan ahli ibadah, ada bekas sujud di dahinya, rambut mereka kusut karena ibadah dan sebagainya, sehingga tubuh-tubuh mereka benar-benar sangat mengagumkan, padahal sebenarnya mereka sebagaimana firman Allah SWT adalah musuh yang sebenarnya. &lt;/div&gt;
&lt;div class="fullpost" align="justify"&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="fullpost" align="justify"&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="fullpost" align="justify"&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="fullpost" align="justify"&gt;
Karenanya saya tegaskan berkenaan dengan surah Al-Munafiqun ini atau surah At-Taubah ayat 101 di atas, dengan defenisi sahabat dari Ibnu Hajar sangat besar kemungkinannya mereka yang sebenarnya orang-orang munafik yang Allah SWT meminta kita untuk waspada kepada mereka dikategorikan oleh ulama-ulama Ahlus Sunnah sebagai sahabat-sahabat Rasulullah saww, sebab jangankan mereka (ulama-ulama Ahlus Sunnah) Rasulullah sendiri tidak mengetahui kemunafikan mereka. Yang kemudian ulama-ulama Ahlus Sunnah ini bersepakat jika ada yang mencela yang dalam kategori mereka sebagai sahabat nabi maka akan dikenai hukum, kafir dan keluar dari Islam dan halal darahnya untuk ditumpahkan. Benar-benar merindingkan bulu roma, untuk sesuatu yang sangat tidak jelas hakikatnya mereka bersepakat tanpa keraguan untuk mengeluarkan istinbath hukum. Tidakkah mereka membaca firman Allah SWT, "Mengapa engkau memberi izin kepada mereka (untuk tidak pergi berperang), sebelum jelas bagimu orang-orang yang benar-benar (berhalangan) dan sebelum engkau mengetahui orang-orang yang berdusta?" (Qs. At-Taubah: 43). Kalau kepada nabi-Nya sendiri Allah SWT bertanya mengapa ada penetapan hukum sebelum jelas bagi nabi Muhammad saww mana diantara yang meminta izin untuk tidak pergi berjihad orang-orang yang benar-benar berhalangan dan orang-orang yang berdusta, maka bagaimana mereka ulama-ulama Ahlus Sunnah bisa menetapkan hukum atas sesuatu yang bagi mereka belum jelas mana diantara sahabat-sahabat nabi yang benar-benar beriman dan mana diantara mereka yang munafik dan mati dengan membawa selubung kemunafikannya itu. &lt;/div&gt;
&lt;div class="fullpost" align="justify"&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="fullpost" align="justify"&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="fullpost" align="justify"&gt;
&lt;strong&gt;&lt;span style="color:#ff0000;"&gt;Ayat Ketiga&lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="fullpost" align="justify"&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="fullpost" align="justify"&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="fullpost" align="justify"&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="fullpost" align="justify"&gt;
"Jika (mereka berangkat bersamamu), niscaya mereka tidak akan menambah (kekuatan)mu, malah hanya akan membuat kekacauan, dan mereka tentu bergegas maju kedepan di celah-celah barisanmu untuk mengadakan kekacauan (dibarisanmu); sedang diantara kamu ada orang-orang yang sangat suka mendengarkan (perkataan) mereka. Allah mengetahui orang-orang yang dzalim." (Qs. At-Taubah: 47). &lt;/div&gt;
&lt;div class="fullpost" align="justify"&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="fullpost" align="justify"&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="fullpost" align="justify"&gt;
Ayat di atas menceritakan tentang keberadaan orang-orang yang ikut bersama nabi berjihad namun sesungguhnya hanya membuat kekacauan, mereka tidak menambah kekuatan kaum muslimin sebab mereka pada dasarnya ikut berjihad bukan untuk memerangi orang-orang kafir, mereka hanya berlarian kesana-kemari ditengah barisan kaum muslimin, tanpa membunuh seorangpun musuh. Dan sekali lagi, bisa jadi karena mereka ikut berjihad bersama Rasulullah saww dan berada ditengah-tengah barisan kaum muslimin, ulama-ulama Ahlus Sunnah mengkategorikannya sebagai sahabat-sahabat nabi, sebab jangankan mereka (ulama-ulama Ahlus Sunnah) diantara sahabat-sahabat nabi sendiri (yang sebenar-benarnya sahabat) sebagaimana firman Allah SWT di atas, suka mendengarkan perkataan mereka sebab menganggap mereka juga adalah orang-orang yang setia dan berjihad demi keagungan Islam dan kaum muslimin, padahal mereka hanyalah orang-orang yang mengadakan kekacauan pada barisan kaum muslimin, yang kerjaannya dimedan jihad hanya berlarian kesana kemari. Tim Penerjemah Depag RI menerjemahkan اوضعوا dengan "bergegas maju kedepan", dalam kamus bahasa Arab Al-Munjid diartikan berjalan dengan cepat (berlarian) kesana kemari. &lt;/div&gt;
&lt;div class="fullpost" align="justify"&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="fullpost" align="justify"&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="fullpost" align="justify"&gt;
&lt;strong&gt;&lt;span style="color:#ff0000;"&gt;Ayat Keempat&lt;/span&gt;&lt;/strong&gt; &lt;/div&gt;
&lt;div class="fullpost" align="justify"&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="fullpost" align="justify"&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="fullpost" align="justify"&gt;
"Dan ada pula yang lain, yang mengakui dosa-dosa mereka, mereka mencampuradukkan pekerjaan yang baik dengan pekerjaan lain yang buruk. Mudah-mudahan Allah menerima tobat mereka. Sesungguhnya Allah Maha pengampun lagi Maha Penyayang." (Qs. At-Taubah: 102).
Ayat ini menceritakan sisi kemanusiaan sahabat-sahabat nabi yang tidak ubahnya dengan kita kaum muslimin di masa kekinian. Diantara mereka juga ada yang shaleh disuatu waktu, dan kembali sesat diwaktu yang lain. Karenanya meskipun dengan keagungan dan keutamaan mereka yang tinggi di sisi Allah dan Rasul-Nya, kita tetap hatus kritis terhadap mereka, memuji disaat mereka lagi shalih-shalihnya dan berlepas diri dari mereka saat mereka melakukan penyimpangan terhadap sunnah nabi. &lt;/div&gt;
&lt;div class="fullpost" align="justify"&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="fullpost" align="justify"&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="fullpost" align="justify"&gt;
&lt;strong&gt;&lt;span style="color:#ff0000;"&gt;Ayat Kelima&lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="fullpost" align="justify"&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="fullpost" align="justify"&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="fullpost" align="justify"&gt;
"Kemudian, setelah kamu ditimpa kesedihan, Dia menurunkan rasa aman kepadamu (berupa) kantuk yang meliputi segolongan dari kamu, sedangkan segolongan lagi telah dicemaskan oleh diri mereka sendiri; mereka menyangka yang tidak benar terhadap Allah seperti sangkaan jahiliyah. Mereka berkata, "Adakah sesuatu yang kita perbuat dalam urusan ini?" Katakanlah (Muhammad), "Sesungguhnya segala urusan itu di tangan Allah." Mereka menyembunyikan yang di dalam hatinya apa yang tidak mereka terangkan kepadamu." (Qs. Ali-Imran: 154).
Tim Penerjemah Depag RI menafsirkan golongan yang satu sebagai golongan Islam yang kuat keyakinannya, sedangkan golongan yang kedua adalah orang Islam yang masih ragu-ragu. Karenanya jelas, ayat ini menjelaskan keimanan sahabat-sahabat nabi juga bertingkat-tingkat, ada yang telah kuat keimanannya dan masih ada juga diantara mereka yang masih diliputi keraguan meski mereka tumbuh langsung di bawah naungan tarbiyah Rasulullah, melihat langsung mukjizat dan ayat-ayat Allah diturunkan kepada Rasulullah saww. Karenanya, minimal bagi saya, menyamaratakan kedudukan keimanan sahabat-sahabat nabi adalah salah besar. Rahmat A. Rahman menulis pada artikelnya, "Merekalah generasi yang tumbuh langsung di bawah naungan tarbiyah Rasulullah saw. Menyaksikan dan mendengar segala yang berkaitan dengan agama ini langsung dari beliau saw. Karenanya, mereka ibarat menara benderang dalam hal pemahaman akan kebenaran, kelurusan aqidah, kesungguhan ibadah, kemuliaan akhlak dan kesahajaan hidup. Dan semua ini tergores apik dalam tinta emas sajarah peradaban umat. Hingga tidak heran kalau kemudian mereka ditahbis sebagai tonggak penegak kelangsungan ajaran Islam.". Ayat di atas menunjukkan realitas lain, sebab diantara sahabat nabi ada juga yang mencampuradukkan antara kebenaran dan kebatilan, antara keshalihan dan kebejatan, dan diantara mereka juga masih ada yang memiliki keyakinan kepada Allah SWT sebagaimana prasangkaan orang jahiliah. Karenanya bagaimana bisa ditetapkan secara keseluruhan bahwa mereka tanpa kecuali adalah "ibarat menara benderang dalam hal pemahaman akan kebenaran, kelurusan aqidah, kesungguhan ibadah, kemuliaan akhlak dan kesahajaan hidup".&lt;/div&gt;
&lt;div class="fullpost" align="justify"&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="fullpost" align="justify"&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="fullpost" align="justify"&gt;
&lt;strong&gt;&lt;span style="color:#ff0000;"&gt;Ayat Keenam&lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="fullpost" align="justify"&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="fullpost" align="justify"&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="fullpost" align="justify"&gt;
"(Ingatlah) ketika kamu lari dan tidak menoleh kepada siapapun, sedang Rasul (Muhammad) yang berada diantara (kawan-kawan)mu yang lain memanggil kamu (kelompok yang lari), karena itu Allah menimpakan kepadamu kesedihan demi kesedihan, agar kamu tidak bersedih hati lagi terhadap apa yang luput darimu dan terhadap apa yang menimpamu. Dan Allah Maha Teliti apa yang kamu kerjakan." (Qs. Ali-Imran: 153). &lt;/div&gt;
&lt;div class="fullpost" align="justify"&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="fullpost" align="justify"&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="fullpost" align="justify"&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="fullpost" align="justify"&gt;
Ayat ini turun di Uhud, tatkala perang berkecamuk antara kaum muslimin yang dipimpin oleh Rasulullah saww sendiri dengan kaum musyrikin Mekah. Dalam kedahsyatan perang, sebagian sahabat melarikan diri dan tidak lagi menoleh kebelakang meskipun Rasulullah memanggil mereka untuk kembali. Ketidak patuhan mereka terhadap perintah Rasulullah saww menyebabkan kaum muslimin mengalami kekalahan dalam perang ini, sampai Rasulullah saww sendiri penuh luka dan giginya patah (Ibnu Hisyam menuliskan dalam sirahnya siapa saja diantara sahabat yang melarikan diri dalam perang tersebut). Meskipun pada ayat berikutnya (ayat 155 pada surah yang sama) Allah SWT memberikan ampunan dan memaafkan mereka yang lari dan meninggalkan Rasulullah saww, namun ini hanya bisa dipahami bahwa dosa yang diampuni hanyalah dosa larinya mereka pada perang Uhud ini, sebab sesungguhnya kesalahan serupa kembali mereka lakukan pada perang Hunain. Allah SWT berfirman, "Sungguh Allah telah menolong kamu (mukminin) di banyak medan perang, dan (ingatlah) perang Hunain, ketika jumlahmu yang besar itu membanggakan kamu, tetapi (jumlah yang banyak itu) sama sekali tidak berguna bagimu, dan bumi yang luas itu terasa sempit bagimu, kemudian kamu berbalik kebelakang dan lari tunggang langgang." (Qs. At-Taubah : 25). Ayat ini turun berkenaan dengan beberapa sahabat yang pada perang Hunain berbalik kebelakang dan lari tunggang langgang, dan diantara mereka sebagaimana yang ditulis al-Hakim dalam al-Mustadraknya III hal 37 adalah sahabat Abu Bakar (yang dikenal sebagai sahabat paling utama nabi) dan Umar bin Khattab (yang dikenal sebagai pahlawan Islam yang gagah berani). Allah SWT melanjutkan firman-Nya pada ayat ke 27 pada surah yang sama, "Setelah itu Allah menerima taubat orang yang Dia kehendaki. Allah Maha Pengampun, Maha Penyayang." Ayat ini memberi penegasan bahwa meskipun yang lari tunggang langgang dari perang Hunain bertaubat, namun belum tentu diterima, sebab Allah hanya menerima taubat orang yang Dia kehendaki. &lt;/div&gt;
&lt;div class="fullpost" align="justify"&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="fullpost" align="justify"&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="fullpost" align="justify"&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="fullpost" align="justify"&gt;
Allah SWT berfirman, "Barang siapa menaati Rasul, maka sesungguhnya dia telah menaati Allah. Dan barang siapa berpaling (dari ketaatan itu), maka (ketahuilah) Kami tidak mengutusmu (Muhammad) untuk menjadi pemelihara mereka." (Qs. An-Nisa': 80). &lt;/div&gt;
&lt;div class="fullpost" align="justify"&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="fullpost" align="justify"&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="fullpost" align="justify"&gt;
&lt;strong&gt;&lt;span style="color:#ff0000;"&gt;Ayat Ketujuh&lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="fullpost" align="justify"&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="fullpost" align="justify"&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="fullpost" align="justify"&gt;
"Wahai orang-orang yang beriman! Bersiap siagalah kamu dan majulah (ke medan pertempuran) secara berkelompok atau majulah bersama-sama (serentak). Dan sesungguhnya di antara kamu pasti ada orang yang sangat enggan (ke medan pertempuran). Lalu jika kamu ditimpa musibah dia berkata, "Sungguh, Allah telah memberikan nikmat kepadaku, karena aku tidak ikut berperang bersama mereka." (Qs. An-Nisa': 71-72). &lt;/div&gt;
&lt;div class="fullpost" align="justify"&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="fullpost" align="justify"&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="fullpost" align="justify"&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="fullpost" align="justify"&gt;
Ayat di atas tidak ada keraguan lagi menceritakan tentang adanya sahabat yang sangat enggan untuk terjun dan maju ke medan pertempuran. Mukhatib (pendengar) dari firman di atas adalah orang-orang beriman di zaman Rasulullah yang artinya dengan menggunakan defenisi Ibnu Hajar, maka ayat di atas ditujukan kepada sahabat-sahabat nabi. 'Sayangnya', secara terus terang Allah SWT menyampaikan bahwa di antara mereka (sahabat nabi) ada yang enggan menuju medan pertempuran. Ayat ini dan ayat ke enam di atas yang menceritakan adanya sahabat yang lari tunggang langgang dari medan jihad, bertentangan dengan pendapat Rahmat A. Rahman ketika menulis tentang sahabat, "Merekalah para pahlawan yang selalu tegar di garda terdepan membela dan menyebarkan agama ini. Melalui tetes keringat dan darah mereka syariat ini abadi. Dan sejarah membuktikan, bahwa ketulusan dan keikhlasan hati mereka mengemban amanah Rasulullah saw itu, menjadikan mereka generasi teladan sepanjang sejarah umat manusia." Dalam surah An-Nisa' ayat 77 diceritakan ada di kalangan mereka yang 'sok jagoan', meminta izin untuk berperang sebelum ada perintah berperang, namun ketika ada pewajiban perang, mereka justru takut kepada musuh seperti takutnya kepada Allah bahkan lebih takut dari itu. Mereka berkata, "Ya Tuhan kami, mengapa Engkau wajibkan berperang kepada kami? Mengapa tidak engkau tunda (kewajiban berperang) kepada kami beberapa waktu lagi?". &lt;/div&gt;
&lt;div class="fullpost" align="justify"&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="fullpost" align="justify"&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="fullpost" align="justify"&gt;
Pada surah At-Taubah ayat 38 Allah SWT memberi jawaban atas pertanyaan mereka, "Wahai orang-orang yang beriman, (maa lakum) mengapa kamu ini?, bila dikatakan kepada kamu, "Berangkatlah (untuk berperang) di jalan Allah", kamu merasa berat dan ingin tinggal di tempatmu? Apakah kamu lebih menyenangi kehidupan di dunia daripada kehidupan di akhirat? Padahal kenikmatan hidup di dunia ini (dibandingkan dengan kehidupan) di akhirat hanyalah sedikit." &lt;/div&gt;
&lt;div class="fullpost" align="justify"&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="fullpost" align="justify"&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="fullpost" align="justify"&gt;
Ya, Al-Qur'an mengatakan lain, bahwa pendapat Rahmat A. Rahman tentang sahabat terlalu mengada-ada. &lt;/div&gt;
&lt;div class="fullpost" align="justify"&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="fullpost" align="justify"&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="fullpost" align="justify"&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="fullpost" align="justify"&gt;
&lt;strong&gt;&lt;span style="color:#ff0000;"&gt;Ayat Kedelapan&lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="fullpost" align="justify"&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="fullpost" align="justify"&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="fullpost" align="justify"&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="fullpost" align="justify"&gt;
"Dan apabila mereka melihat perdagangan dan permainan, mereka segera menuju kepadanya dan mereka tinggalkan engkau (Muhammad) sedang berdiri (berkhutbah). Katakanlah, "Apa yang ada di sisi Allah lebih baik daripada permainan dan perdagangan," dan Allah pemberi rezeki yang terbaik." (Qs. Al-Jumuah: 11)
Ya Allah, ampunilah dosa-dosa kami dan dosa-dosa orang-orang yang beriman sebelum kami. Saya tidak ingin banyak bercerita tentang ayat ini. Ketika Rasulullah berdiri di mimbar dan sedang berkhutbah, sebagian dari mereka meninggalkan Rasulullah dan lebih memilih berdagang dan bermain-main. Dengan melihat dua ayat sebelumnya pada surah yang sama, maka 'mereka' yang dimaksud adalah orang-orang beriman, yang tentu saja termasuk sahabat menurut Ibnu Hajar. Lihat lebih jelasnya penjelasan Imam Suyuthi dalam kitab Ad-Durrul Mantsur, hlm 220, 223. &lt;/div&gt;
&lt;div class="fullpost" align="justify"&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="fullpost" align="justify"&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="fullpost" align="justify"&gt;
&lt;strong&gt;&lt;span style="color:#ff0000;"&gt;Ayat Kesembilan&lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="fullpost" align="justify"&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="fullpost" align="justify"&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="fullpost" align="justify"&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="fullpost" align="justify"&gt;
"Bahwa orang-orang yang berjanji setia kepadamu (Muhammad), sesungguhnya mereka hanya berjanji setia kepada Allah. Tangan Allah di atas tangan-tangan mereka, maka barangsiapa melanggar janji, maka sesungguhnya dia melanggar atas (janji) sendiri; dan barangsiapa menepati janjinya kepada Allah, maka Dia akan memberinya pahala yang besar." (Qs. Al-Fath: 10). &lt;/div&gt;
&lt;div class="fullpost" align="justify"&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="fullpost" align="justify"&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="fullpost" align="justify"&gt;
Sayang, ayat ini tidak menjadi perhatian Rahmat A. Rahman ketika memberi penjelasan ayat ke 18 surah Al-Fath yang berbunyi, "Sesungguhnya Allah Telah ridha terhadap orang-orang mukmin ketika mereka berjanji setia kepadamu di bawah pohon, Maka Allah mengetahui apa yang ada dalam hati mereka lalu menurunkan ketenangan atas mereka dan memberi balasan kepada mereka dengan kemenangan yang dekat (waktunya)". (Qs: al-Fath : 18).&lt;/div&gt;
&lt;div class="fullpost" align="justify"&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="fullpost" align="justify"&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="fullpost" align="justify"&gt;
Rahmat A. Rahman menulis, "Ayat ini merupakan dalil yang jelas akan persaksian Allah Ta'ala dan tazkiyah atas para sahabat. Dan ini merupakan bentuk persaksian terhadap apa yang ada dalam hati mereka, sebab Allah-lah yang Maha Mengetahui apa yang terkandung di dalamnya. Dari sini lahirlah keridhaan-Nya atas mereka. Dan siapa yang Allah Ta'ala telah ridha padanya, mustahil mati dalam keadaan kufur. Sebab ukuran utamanya adalah kematian dalam keadaan Islam. Disamping keridhaan itu tidak mungkin terwujud melainkan jika kematian mereka berada di atas agama Islam." &lt;/div&gt;
&lt;div class="fullpost" align="justify"&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="fullpost" align="justify"&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="fullpost" align="justify"&gt;
Pertanyaannya, dari manakah Rahmat A. Rahman menetapkan bahwa "siapa yang Allah Ta'ala telah ridha padanya, mustahil mati dalam keadaan kufur. Sebab ukuran utamanya adalah kematian dalam keadaan Islam", sementara Allah SWT dan Rasul-Nya sendiri tidak menetapkan itu?. Kehidupan setiap manusia diciptakan sebagai sarana untuk menguji mereka. Allah SWT berfirman, "Yang menciptakan mati dan hidup untuk menguji kamu, siapa diantara kamu yang lebih baik amalnya. Dan Dia Maha Perkasa, Maha Pengampun." (Qs. Al-Mulk: 2). Proses ujian Allah SWT kepada setiap manusia dimulai ketika akalnya telah mampu membedakan antara yang baik dengan yang batil, dan proses ujian ini terus berkelanjutan dan berakhir dengan kematian. Seorang hamba harus selalu berada dalam ketaatan sampai ajal menjemputnya. Ketika seseorang secara sadar merusak ketaatan itu dan tidak ada upaya untuk kembali pada ketaatan maka akan membuatnya keluar dari Islam dan akan mendatangkan murka-Nya. Keridhaan atau kemurkaan Allah itu terletak pada setiap amal perbuatan manusia, dan pada ayat di atas keridhaan itu hanya diberikan atas mereka ketika berjanji setia kepada nabi Muhammad saww. Seorang yang taat akan mendapatkan keridhaan Allah SWT dan akan selalu mendapatkan keridhaan dengan syarat ketaatan tersebut, namun kemudian seandainya sehari sebelum ajalnya dia kafir kepada Allah dan tidak bertaubat sampai ajal menjemputnya maka sia-sialah segala ketaatannya terdahulu dan mati dengan membawa kemurkaan dari Allah SWT. &lt;/div&gt;
&lt;div class="fullpost" align="justify"&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="fullpost" align="justify"&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="fullpost" align="justify"&gt;
Kalau dikatakan, keridhaan Allah atas sahabat yang berjanji setia di bawah pohon berarti mereka mustahil mati dalam keadaan kufur, maka sama halnya telah berarti proses ujian buat mereka. Dengan mengucapkan janji setia kepada Rasul, mereka tidak perlu lagi diuji dalam kehidupan mereka. Jelas ini bertentangan dengan hikmah penciptaan manusia. Allah SWT berfirman, "Apakah manusia mengira bahwa mereka akan dibiarkan hanya dengan mengatakan, "Kami telah beriman," dan mereka tidak diuji?. Dan sungguh Kami telah menguji orang-orang sebelum mereka, maka Allah pasti mengetahui orang-orang yang benar dan pasti mengetahui orang-orang yang dusta." (Qs. Al-Ankabut: 2-3). Mereka yang berjanji setia dengan Rasulullah saww di bawah pohon juga tersentil dengan ayat ini. Tidaklah cukup bagi mereka sekedar menyatakan bahwa mereka setia sebelum kesetiaan mereka itu diuji. Keridhaan Allah SWT atas mereka karena kejujuran dan kemantapan iman mereka ketika mengucapkan janji, sebab Allah Maha Mengetahui sisi-sisi terdalam lubuk hati manusia. Keridhaan Allah yang mereka dapatkan bukanlah sebagai jaminan kepastian bahwa mereka akan selalu setia dengan janji mereka dan tidak sekalipun waktu melakukan pelanggaran atas janji yang telah mereka sematkan atas nabi Muhammad saww. Hal ini bisa kita pahami ketika kita merujuk pada ayat lain dalam Kitab Suci Al-Qur'an. &lt;/div&gt;
&lt;div class="fullpost" align="justify"&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="fullpost" align="justify"&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="fullpost" align="justify"&gt;
Allah SWT berfirman, "Bahwa orang-orang yang berjanji setia kepadamu (Muhammad), sesungguhnya mereka hanya berjanji setia kepada Allah. Tangan Allah di atas tangan-tangan mereka, maka barangsiapa melanggar janji, maka sesungguhnya dia melanggar atas (janji) sendiri; dan barangsiapa menepati janjinya kepada Allah, maka Dia akan memberinya pahala yang besar." (Qs. Al-Fath: 10). &lt;/div&gt;
&lt;div class="fullpost" align="justify"&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="fullpost" align="justify"&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="fullpost" align="justify"&gt;
Ayat di atas secara terang dan jelas mengatakan, bahwa saking ridhanya Allah kepada mereka yang berjanji setia kepada nabi Muhammad saww, Tangan Allah di atas tangan-tangan mereka. Namun sekali lagi, keridhaan dan Tangan Allah di atas tangan-tangan mereka bukanlah jaminan mereka tetap setia pada janji mereka apalagi memastikan bahwa mereka tidak akan mati dalam keadaan kufur, sebab itu Allah SWT melanjutkan firman-Nya, "….maka barangsiapa melanggar janji, maka sesungguhnya dia melanggar atas (janji) sendiri; dan barangsiapa menepati janjinya kepada Allah, maka Dia akan memberinya pahala yang besar." &lt;/div&gt;
&lt;div class="fullpost" align="justify"&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="fullpost" align="justify"&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="fullpost" align="justify"&gt;
Dalam ayat lain Allah SWT berfirman, "Maka adakah orang yang mengikuti keridhaan Allah sama dengan orang yang kembali membawa kemurkaan dari Allah dan tempatnya di neraka Jahannam? Itulah seburuk-buruk tempat kembali." (Qs. Ali-Imran: 162). Ayat ini lebih jelas lagi memberi keterangan dari pada ayat sebelumnya, bahwa orang yang sebelumnya mendapatkan keridhaan Allah ketika melanggar janjinya akan kembali membawa kemurkaan dari Allah SWT dan tempatnya di neraka Jahannam. Di akhir ayat 55 surah An-Nur tertulis, "…Tetapi barangsiapa kafir setelah (janji) itu, maka mereka itulah orang-orang yang fasik." (Qs. An-Nur: 55). &lt;/div&gt;
&lt;div class="fullpost" align="justify"&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="fullpost" align="justify"&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="fullpost" align="justify"&gt;
Di bagian lain Al-Qur'an Allah SWT berfirman, "Bagaimana Allah akan memberi petunjuk kepada suatu kaum yang kafir setelah mereka beriman, serta mengakui bahwa Rasul (Muhammad) itu benar-benar (rasul), dan bukti-bukti yang jelas telah sampai kepada mereka? Allah tidak memberi petunjuk kepada orang dzalim. Mereka itu balasannya ialah ditimpa laknat Allah, para malaikat dan manusia seluruhnya." (Qs. Ali-Imran: 86-87). &lt;/div&gt;
&lt;div class="fullpost" align="justify"&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="fullpost" align="justify"&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="fullpost" align="justify"&gt;
Ayat di atas saya kira sudah cukup meyakinkan kita, bahwa keridhaan yang didapatkan sahabat-sahabat yang berjanji setia di bawah pohon bukanlah keridhaan yang meniscayakan mereka akan selalu setia pada janji mereka, tetap ada kemungkinan suatu waktu mereka berbelot dan menjadi musuh-musuh Islam selanjutnya. Berkenaan dengan sabda Rasulullah saww, "Tidak akan masuk neraka dengan izin Allah seorang-pun yang ikut berbai'at di bawah (pohon)". (HR. Muslim, no. 2496) tetap tidak menunjukkan keniscayaan mutlak, sebab dengan izin Allah hanya bisa dipahami, selagi mereka tetap setia dalam ketaatan kepada Allah dan Rasul-Nya. Dalam ajaran Islam seseorang yang masuk Islam yang kemudian hari dia kembali kepada kekafiran dan keluar dari Islam maka dihukumi seakan-akan dia tidak pernah masuk Islam, amalan ibadahnya sewaktu menjadi muslim menjadi sia-sia. Begitupun halnya mereka yang berbaiat, yang kemudian hari mencabut baiatnya atau melakukan perbuatan yang menggugurkan baiatnya maka dia terhukumi seakan-akan tidak pernah ikut berbaiat, dan baiatnya tidak bisa menjadi hujjah baginya kelak. &lt;/div&gt;
&lt;div class="fullpost" align="justify"&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="fullpost" align="justify"&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="fullpost" align="justify"&gt;
Demikianlah, masih banyak lagi ayat-ayat yang berkenaan dengan sahabat-sahabat nabi dalam Al-Qur'an yang tidak hanya menceritakan keagungan dan kecemerlangan mereka, namun juga secara terus terang menjelaskan bahwa diantara mereka, ada yang lemah imannya, ada yang lari tunggang langgang dari peperangan, enggan ikut berjihad, ada yang mengingkari janjinya dan sebagainya sebagaimana telah dijelaskan sebelumnya. Karenanya penetapan bahwa seluruh yang dikategorikan sahabat –dengan defenisi Ibnu Hajar- adalah adil dan masuk surga tanpa terkecuali sangat menyimpang dari ajaran-ajaran suci Al-Qur'an. Kedudukan mereka tidaklah berada pada titik derajat yang sama melainkan bertingkat-tingkat, dan kita harus secara jujur mengakui itu. Jangankan para sahabat, diantara Rasul-Rasul Allah saja yang tidak ada lagi keraguan atas keimanan mereka di sisi Allah derajat dan kedudukan mereka satu sama lain tidaklah sama. Allah SWT berfirman, "Rasul-rasul itu Kami lebihkan sebagian mereka dari sebagian yang lain. Di antara mereka ada yang (langsung) Allah berfirman dengannya dan sebagian lagi ada yang ditinggikan-Nya beberapa derajat." (Qs. Al-Baqarah: 253). Lalu dari manakah ulama-ulama Ahlus Sunnah itu mengambil keputusan?. Apakah sama keimanan Abu Bakar ra dan Imam Ali as sebagai golongan yang pertama masuk Islam dengan Abu Sufyan dan Muawiyah yang masuk Islam karena kekalahan dan tidak lagi punya pilihan lain?. Apakah sama keimanan sahabat-sahabat yang mengantongi curicullum vitae keagungan jihad bersama Rasulullah di perang Badar, Uhud, Hunain dengan mereka yang masuk Islam setelah Fathul Makah?. Apakah sama mereka yang bersungguh-sungguh berjihad di medan perang demi keagungan Islam dan kaum muslimin dengan mereka yang lari tunggang langgang dari peperangan atau yang sekedar berlarian kesana kemari di tengah-tengah barisan?. Nalar kita dan syariat Islam menegaskan mereka tidaklah sama. Allah SWT berfirman, "(Kedudukan) mereka itu bertingkat-tingkat di sisi Allah dan Allah melihat apa yang mereka kerjakan.” (Qs. Ali-Imran: 163). &lt;/div&gt;
&lt;div class="fullpost" align="justify"&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="fullpost" align="justify"&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="fullpost" align="justify"&gt;
Selanjutnya, jika ada yang mengelak dari kenyataan ini dan berkilah ayat-ayat yag telah saya ajukan berkenaan dengan orang-orang munafik dan bukan untuk para sahabat. Saya mengajukan dua poin penekanan.&lt;/div&gt;
&lt;div class="fullpost" align="justify"&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="fullpost" align="justify"&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="fullpost" align="justify"&gt;
Pertama, sebagian dari ayat-ayat yang telah dikemukakan dimulai dengan seruan "Wahai orang-orang beriman..." yang artinya ditujukan kepada orang yang beriman saat itu. Dengan defenisi Ibnu Hajar maka tentu saja mereka terkategorikan sebagai sahabat-sahabat nabi.
Kedua, dari mana ulama Ahlus Sunnah bisa memastikan yang mana termasuk sahabat dan yang mana diantara mereka yang munafik?, sementara ayat-ayat sendiri menyebutkan Rasulullah saww dan dikalangan sahabat sendiri tidak mengetahui siapa diantara mereka yang munafik dan yang menyembunyikan kekufuran di hatinya. Untuk dizaman mereka saja, orang-orang munafik itu dikenal sebagai sahabat-sahabat nabi oleh yang lainnya, apalagi untuk zaman sesudahnya. Karenanya sangat besar kemungkinannya, mereka yang sebenarnya munafik dan seharusnya mendapatkan laknat Allah, malaikat dan manusia seluruhnya namun oleh ulama-ulama Ahlus Sunnah dikategorikan sebagai sahabat nabi yang dianggap layak mendapatkan pengagungan dan penghormatan dan kekufuran bagi yang mencela dan menghina mereka. &lt;/div&gt;
&lt;div class="fullpost" align="justify"&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="fullpost" align="justify"&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="fullpost" align="justify"&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="fullpost" align="justify"&gt;
Untuk itu dalam hal ini perlu kerja tahqiq yang ekstra untuk menyeleksi diantara mereka siapakah yang mu'min sejati dan siapa yang sekedar berpura-pura dan mati tetap di dalam kedustaannya itu. Sejarah mempersembahkan perjalanan kehidupan mereka, kita bisa melakukan pengkajian dan menelusurinya dari situ. Menutup jalan penelitian atas mereka, dengan alasan mereka para sahabat nabi adalah orang-orang yang adil tanpa terkecuali dan meragukan keadilan salah seorang dari mereka adalah kekufuran, kefasiqan, kemunafikan dan bid'ah tentu saja sangat tidak Islami. Ajaran para nabi, dari nabi Adam as sampai nabi Muhammad saww, bertujuan membebaskan manusia dari taqlid buta, kebodohan, keterbelakangan, takhayul, perilaku tidak etis dan pola berpikir yang keliru. Islam sama sekali tidak kompromi dengan pemikiran yang stagnan dan taqlid buta, ikut-ikutan tanpa kitab yang menerangi dan hujjah yang kuat. Justru dengan penjelasan-penjelasan yang beragam, Islam mendorong untuk mencari ilmu, mengembangkan pemikiran, melakukan gugatan-gugatan dan ktitis terhadap budaya dan pemikiran orang-orang terdahulu. Dalam lingkungan ilmiah, harus ada izin bagi tiap orang untuk mengatakan pikirannya, mengizinkan setiap orang untuk berbicara sehingga kebenaran pada akhirnya bisa diungkapkan. &lt;/div&gt;
&lt;div class="fullpost" align="justify"&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="fullpost" align="justify"&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="fullpost" align="justify"&gt;Adakah yang lebih puitis selain berbicara tentang kebenaran?&lt;/div&gt;
&lt;div class="fullpost" align="justify"&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="fullpost" align="justify"&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="fullpost" align="justify"&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="fullpost" align="justify"&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="fullpost" align="justify"&gt;
Bukan begitu?.&lt;/div&gt;
&lt;div class="fullpost" align="justify"&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="fullpost" align="justify"&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="fullpost" align="justify"&gt;
(Bersambung)&lt;/div&gt;
&lt;div class="fullpost" align="justify"&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="fullpost" align="justify"&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="fullpost" align="justify"&gt;
&lt;span style="color:#ff0000;"&gt;Ismail Amin&lt;/span&gt; &lt;/div&gt;
&lt;div class="fullpost" align="justify"&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="fullpost" align="justify"&gt;Mahasiswa Mostafa International University Republik Islam Iran

&lt;/div&gt;&lt;div class="fullpost" align="justify"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="fullpost" align="justify"&gt;Tulisan Rahmat A. Rahman bisa dibaca di www.wahdah.or.i&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6808511174156263273-8167072607717441182?l=abi-azzahra.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://abi-azzahra.blogspot.com/feeds/8167072607717441182/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=6808511174156263273&amp;postID=8167072607717441182&amp;isPopup=true' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6808511174156263273/posts/default/8167072607717441182'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6808511174156263273/posts/default/8167072607717441182'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://abi-azzahra.blogspot.com/2009/02/sahabat-rasulullah-saww-menurut-al_13.html' title='Sahabat Rasulullah saww Menurut Al-Qur&apos;an dan As-Sunnah (1)'/><author><name>Ismail Amin</name><uri>http://www.blogger.com/profile/00461561157182799656</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://bp0.blogger.com/_b535izL1kDU/R54Ij8cN26I/AAAAAAAAAA8/7WbjvsXb9Tg/S220/Aku.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/_b535izL1kDU/SZVw_Q_TSlI/AAAAAAAAAlM/HoRUqxUELFI/s72-c/095174242f6eb0f8.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6808511174156263273.post-2115927326479047399</id><published>2009-02-13T04:45:00.000-08:00</published><updated>2009-02-13T05:14:20.453-08:00</updated><title type='text'>Sahabat Rasulullah saww Menurut Al-Qur'an dan As-Sunnah (2)</title><content type='html'>&lt;a href="http://4.bp.blogspot.com/_b535izL1kDU/SZVyCsHGUtI/AAAAAAAAAlc/ulWbspghGT4/s1600-h/d9b3a807158e41ec.jpg"&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5302269526824866514" style="FLOAT: left; MARGIN: 0px 10px 10px 0px; WIDTH: 145px; CURSOR: hand; HEIGHT: 108px" alt="" src="http://4.bp.blogspot.com/_b535izL1kDU/SZVyCsHGUtI/AAAAAAAAAlc/ulWbspghGT4/s320/d9b3a807158e41ec.jpg" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;
&lt;div&gt;&lt;a href="http://3.bp.blogspot.com/_b535izL1kDU/SZVuYAHT0UI/AAAAAAAAAlE/qcGO5nEupPo/s1600-h/095174242f6eb0f8.jpg"&gt;&lt;/a&gt;

&lt;div class="fullpost" align="justify"&gt;&lt;span style="color:#ffff33;"&gt;-Tanggapan atas Tulisan Rahmat A. Rahman yang berjudul : Sahabat Rasulullah SAW dalam Pandangan Ahlus Sunnah wal Jama'ah-&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;

&lt;div class="fullpost" align="justify"&gt;&lt;span style="color:#ffff33;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;

&lt;div class="fullpost" align="justify"&gt;
&lt;em&gt;&lt;span style="color:#ffff33;"&gt;-Bagian Terakhir dari Dua Tulisan-&lt;/span&gt;&lt;/em&gt;&lt;/div&gt;

&lt;div class="fullpost" align="justify"&gt;&lt;/div&gt;

&lt;div class="fullpost" align="justify"&gt;&lt;/div&gt;

&lt;div class="fullpost" align="justify"&gt;

&lt;strong&gt;&lt;span style="color:#ff0000;"&gt;Sahabat dalam Sunnah Nabawiyah&lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/div&gt;

&lt;p&gt;&lt;strong&gt;&lt;span style="color:#ff0000;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;&lt;strong&gt;&lt;span style="color:#ff0000;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;&lt;strong&gt;&lt;span style="color:#ff0000;"&gt;&lt;/p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;
&lt;strong&gt;&lt;span style="color:#ff0000;"&gt;
&lt;div class="fullpost" align="justify"&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="fullpost" align="justify"&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="fullpost" align="justify"&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="fullpost" align="justify"&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="fullpost" align="justify"&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="fullpost" align="justify"&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="fullpost" align="justify"&gt;
&lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/div&gt;&lt;em&gt;Balonku Ada Lima &lt;/em&gt;

&lt;div class="fullpost" align="justify"&gt;&lt;em&gt;Rupa-rupa warnanya &lt;/em&gt;&lt;/div&gt;

&lt;div class="fullpost" align="justify"&gt;&lt;em&gt;Merah, kuning, kelabu, merah muda dan biru &lt;/em&gt;&lt;/div&gt;

&lt;div class="fullpost" align="justify"&gt;&lt;em&gt;Meletus balon hijau, duarrr... &lt;/em&gt;&lt;/div&gt;

&lt;div class="fullpost" align="justify"&gt;&lt;em&gt;Hatiku sangat kacau &lt;/em&gt;&lt;/div&gt;

&lt;div class="fullpost" align="justify"&gt;&lt;em&gt;Balonku tinggal empat &lt;/em&gt;&lt;/div&gt;

&lt;div class="fullpost" align="justify"&gt;&lt;em&gt;Kupegang Erat-erat&lt;/em&gt;&lt;/div&gt;

&lt;div class="fullpost" align="justify"&gt;&lt;/div&gt;

&lt;div class="fullpost" align="justify"&gt;&lt;/div&gt;

&lt;div class="fullpost" align="justify"&gt;&lt;/div&gt;

&lt;div class="fullpost" align="justify"&gt;&lt;/div&gt;

&lt;div class="fullpost" align="justify"&gt;&lt;/div&gt;

&lt;div class="fullpost" align="justify"&gt;
Lagu ini akan menghantar kita melanjutkan pembahasan. Lagu kanak-kanak ini tak lekang oleh zaman, masih tetap popular hingga kini. Seolah-olah telah menjadi ketentuan umum, wajib mengajarkan lagu ini kepada generasi yang sedang bertumbuh. Saya juga termasuk dalam generasi yang wajib menghafalnya. Namun, sadarkah kita ada yang tidak beres pada matan syair lagu ini?. Teks lagu menyebutkan si aku memiliki 5 balon: merah, kuning, kelabu, merah muda dan biru. Kemudian meletus balon hijau, yang membuat hati si aku menjadi sangat kacau dan balonnya yang tinggal empat dipegangnya erat-erat. Pertanyaannya, balon hijau itu milik siapa? Sementara si aku memiliki 5 balon yang warnanya tidak ada yang hijau, melainkan merah, kuning, kelabu, merah muda dan biru? Lalu mengapa pula balon hijau yang meletus membuat balon si aku tinggal empat? Sebenarnya balon si aku ada berapa, lima atau enam?. &lt;/div&gt;

&lt;div class="fullpost" align="justify"&gt;&lt;/div&gt;

&lt;div class="fullpost" align="justify"&gt;&lt;/div&gt;

&lt;div class="fullpost" align="justify"&gt;&lt;/div&gt;

&lt;div class="fullpost" align="justify"&gt;
Bisa jadi si pengarang lagu –yang entah siapa- punya kepentingan memperindah liri lagu dengan memilih kata-kata yang bersuku akhir sama, meskipun itu harus memanipulasi jumlah angka. Dan kitapun tanpa sikap kritis menyanyikan lagu ini dari waktu ke waktu dan mewariskannya pada generasi selanjutnya dan merekapun turut ikut-ikutan menyanyikannya. Dalam istilah syariat sikap ikut-ikutan tanpa daya kritis disebut taklid buta. &lt;/div&gt;

&lt;div class="fullpost" align="justify"&gt;&lt;/div&gt;

&lt;div class="fullpost" align="justify"&gt;&lt;/div&gt;

&lt;div class="fullpost" align="justify"&gt;&lt;/div&gt;

&lt;div class="fullpost" align="justify"&gt;
Telah banyak ilmu yang telah kita dapatkan, baik dibangku pendidikan formal, lewat pengalaman atau ilmu yang kita gali dan kaji sendiri lewat media-media yang menawarkan pengetahuan, informasi dan wawasan yang beragam. Namun seberapa kritiskah kita terhadap semua itu?. Taklid buta memang harus kita hindari karena tidak sesuai dengan semangat zaman. Namun ada kalanya sesuatu yang telah menjadi tradisi yang mendarah daging sulit untuk kita tentang. Terkadang ada sekian banyak alasan dan kepentingan yang memaksa kita untuk tetap bertaklid buta, meskipun kita sadari sendiri, yang kita pertahankan sebenarnya itu sangat rapuh dan memang layak untuk dicampakkan. Sebut saja salah satunya konsep yang dipertahankan mayoritas ulama-ulama Ahlus Sunnah selama berabad-abad, ash-shahabiy kulluhum ‘udul, bahwa seluruh sahabat nabi adil tanpa terkecuali. Konsep ini berusaha mereka cangkokkan secara paksa dari masa ke masa dalam pikiran setiap muslim, yang mereka bungkus dengan berbagai macam manipulasi dan menyebutnya metode-metode ilmiah dan syar'i. &lt;/div&gt;

&lt;div class="fullpost" align="justify"&gt;&lt;/div&gt;

&lt;div class="fullpost" align="justify"&gt;&lt;/div&gt;

&lt;div class="fullpost" align="justify"&gt;&lt;/div&gt;

&lt;div class="fullpost" align="justify"&gt;
Pembahasan kita adalah menguji secara ilmiah konsep ash-shahabiy kulluhum ‘udul, bahwa semua sahabat itu baik dan adil, posisi saya menggugat konsep itu. Penggugatan yang saya lakukan bukan berarti saya sedang berusaha menjatuhkan kredibilitas dan merendahkan para sahabat, tetapi mengajak untuk kita mengkaji kembali jejak-jejak perjalanan mereka dan memposisikan mereka sebagaimana mestinya. Sahabat yang setia terhadap perjuangan Islam kita hormati dan muliakan sebagaimana Allah telah memberikan keridhaan kepada mereka dan memberikan penyikapan yang sepantasnya terhadap sahabat yang dalam rekaman sejarah terbukti telah melakukan penyimpangan. Allah SWT pun menjelaskan bahwa kedudukan mereka bertingkat-tingkat dan tidak pantas untuk menyamakan kedudukan mereka semuanya.
Pembahasan sebelumnya, saya telah memaparkan sahabat-sahabat Nabi dalam tinjauan ayat-ayat Al-Qur'an. Sekarang akan saya ketengahkan sahabat-sahabat dalam Sunnah Nabawiyah. Saya hanya akan menukil dari kitab-kitab yang juga diakui oleh ulama-ulama Ahlus Sunnah keshahihan dan kemutawatiran sanadnya. &lt;/div&gt;

&lt;div class="fullpost" align="justify"&gt;&lt;/div&gt;

&lt;div class="fullpost" align="justify"&gt;&lt;/div&gt;

&lt;div class="fullpost" align="justify"&gt;
&lt;strong&gt;&lt;span style="color:#ff0000;"&gt;Hadits Riwayat Bukhari&lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/div&gt;

&lt;p&gt;&lt;strong&gt;&lt;span style="color:#ff0000;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;&lt;strong&gt;&lt;span style="color:#ff0000;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;&lt;strong&gt;&lt;span style="color:#ff0000;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/p&gt;

&lt;div class="fullpost" align="justify"&gt;
Syaikhul hadits Imam Bukhari menulis dalam kitab Shahihnya pada bab fi al-Haudh. Diriwayatkan dari Abu Hurairah bahwa Nabi saw bersabda: &lt;/div&gt;

&lt;div class="fullpost" align="justify"&gt;&lt;/div&gt;

&lt;div class="fullpost" align="justify"&gt;&lt;/div&gt;

&lt;div class="fullpost" align="justify"&gt;
"Tatkala aku sedang berdiri, muncullah serombongan orang yang kukenal dan muncul pula seorang laki-laki diantara diriku dan rombongan itu. Lelaki itu berkata, "Halumma (Ayo)!" Aku bertanya, "Kemana?" Ia menjawab, "Ke neraka, demi Allah!" Aku bertanya, "Ada apa dengan mereka?" Ia menjawab: "Mereka berbalik (irtaddu) setelah engkau wafat."&lt;/div&gt;

&lt;div class="fullpost" align="justify"&gt;&lt;/div&gt;

&lt;div class="fullpost" align="justify"&gt;&lt;/div&gt;

&lt;div class="fullpost" align="justify"&gt;
Dari Ibn Musayyab bahwa Nabi (Saw.) bersabda: Sebagian dari sahabatku mendatangiku di Haudh, dan kemudian mereka dipisahkan dari Haudh. Maka aku berkata: Ya Rabbi! Mereka adalah para sahabatku (ashabi), dan mendapat jawaban: Sesungguhnya engkau tidak mengetahui apa yang telah mereka lakukan selepasmu. Sesungguhnya mereka telah berbalik mengingkari sepeninggalmu (inna-hum irtaddu ba ‘da-ka ‘ala Adbari-ka l-Qahqariyy)&lt;/div&gt;

&lt;div class="fullpost" align="justify"&gt;&lt;/div&gt;

&lt;div class="fullpost" align="justify"&gt;&lt;/div&gt;

&lt;div class="fullpost" align="justify"&gt;
Dari Abdullah bahwa Nabi saww bersabda, "Aku akan mendahului kamu di Haudh dan sebagian dari kamu akan dibawa di hadapanku. Kemudian mereka akan dipisahkan jauh dariku. Aku akan bersabda: wahai Tuhanku! Mereka itu adalah para sahabatku (ashabi).Maka dijawab: Sesungguhnya engkau tidak mengetahui apa yang dilakukan oleh mereka selepas engkau meninggalkan mereka (inna-ka la tadri ma ahdatsu ba‘da-ka)."&lt;/div&gt;

&lt;div class="fullpost" align="justify"&gt;&lt;/div&gt;

&lt;div class="fullpost" align="justify"&gt;&lt;/div&gt;

&lt;div class="fullpost" align="justify"&gt;&lt;/div&gt;

&lt;div class="fullpost" align="justify"&gt;
Dan beberapa hadits lagi dengan kata-kata serupa yang diriwayatkan dengan jalur sanad yang berbeda, juga pada bab yang sama. Sedangkan pada bab Ghaswah Hudaibiyah, Bukhari meriwayatkan dari al-'Ala bin Musayyib dari ayahnya yang berkata, "Aku bertemu al-Barra bin 'Azib dan aku berseru, "Selamat bagi anda, anda beruntung menjadi sahabat nabi dan anda telah membaiat rasul di bawah pohon, bai'ah tahta syajarah!". Ia menjawab, "Wahai saudaraku, engkau tidak tahu, apa yang kami lakukan sesudah Rasul wafat!". &lt;/div&gt;

&lt;div class="fullpost" align="justify"&gt;&lt;/div&gt;

&lt;div class="fullpost" align="justify"&gt;&lt;/div&gt;

&lt;div class="fullpost" align="justify"&gt;&lt;/div&gt;

&lt;div class="fullpost" align="justify"&gt;
Dalam bab yang sama, kembali Bukhari meriwayatkan dari Ibnu Abbas ra dari Rasulullah saw, "Dan sejumlah sahabat mengambil jalan kiri dan aku berseru, "Sahabatku-sahabatku!" dan terdengar jawaban dengan kata-kata, "Mereka tidak pernah berhenti berbalik ingkar sejak berpisah denganmu." &lt;/div&gt;

&lt;div class="fullpost" align="justify"&gt;&lt;/div&gt;

&lt;div class="fullpost" align="justify"&gt;&lt;/div&gt;

&lt;div class="fullpost" align="justify"&gt;
Yang dimaksud Rasulullah saw jalan kiri pada hadits di atas bisa kita temukan pada Surah Al-Waqiah ayat 41-44. Allah SWT berfirman, "…dan golongan kiri, alangkah sengsaranya golongan kiri itu. (Mereka) dalam siksaan angin yang sangat panas dan air yang mendidih, dan naungan asap yang hitam, tidak sejuk dan tidak menyenangkan." &lt;/div&gt;

&lt;div class="fullpost" align="justify"&gt;&lt;/div&gt;

&lt;div class="fullpost" align="justify"&gt;
&lt;strong&gt;&lt;span style="color:#ff0000;"&gt;Hadits Riwayat Muslim&lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/div&gt;

&lt;div class="fullpost" align="justify"&gt;&lt;/div&gt;

&lt;div class="fullpost" align="justify"&gt;&lt;/div&gt;

&lt;div class="fullpost" align="justify"&gt;&lt;/div&gt;

&lt;div class="fullpost" align="justify"&gt;
Imam Muslim meriwayatkan dalam shahihnya, kitab Fadhail.
Dari Abi Hazim berkata: Aku telah mendengar Sahlan berkata: Aku telah mendengar Nabi saww bersabda: "Aku akan mendahului kamu di Haudh. Siapa yang melaluinya, dia akan meminumnya. Dan siapa yang meminumnya, dia tidak akan dahaga selama-lamanya. Akan datang kepadaku beberapa orang yang aku mengenali mereka dan mereka mengenaliku (para sahabatku). Kemudian dipisahkan di antaraku dan mereka. Abu Hazim berkata: Nu‘man bin Abi ‘Iyasy telah mendengarnya dan aku telah memberitahu mereka tentang Hadis ini. Maka dia berkata: Adakah anda telah mendengar Sahlan berkata sedemikian? Dia berkata: Ya."
&lt;/div&gt;

&lt;div class="fullpost" align="justify"&gt;&lt;/div&gt;

&lt;div class="fullpost" align="justify"&gt;&lt;/div&gt;

&lt;div class="fullpost" align="justify"&gt;Perawi berkata: "Aku bersaksi bahwa aku telah mendengar Abu Sa‘id al-Khudri berkata Rasulullah bersabda: "Sesungguhnya mereka itu adalah dariku (inna-hum min-ni). Dan dijawab: "Sesungguhnya engkau tidak mengetahui apa yang dilakukan oleh mereka selepas engkau meninggalkan mereka (inna-ka la tadri ma ahdatsu ba‘da-ka). Maka aku (Nabi saw) bersabda, "Jauh! Jauh! (dari rahmat Allah)/ke Neraka mereka yang telah mengubah/menukarkan (hukum Tuhanku dan Sunnahku) selepasku (Suhqan suhqan li-man baddala ba‘di).&lt;/div&gt;

&lt;div class="fullpost" align="justify"&gt;&lt;/div&gt;

&lt;div class="fullpost" align="justify"&gt;&lt;/div&gt;

&lt;div class="fullpost" align="justify"&gt;&lt;/div&gt;

&lt;div class="fullpost" align="justify"&gt;
Perawi berkata: Asma‘ binti Abu Bakar berkata: Rasulullah saww bersabda: "Sesungguhnya aku akan berada di Haudh sehingga aku melihat mereka yang datang kepadaku dikalangan kamu (man yaridu ‘alayya min-kum). Dan mereka akan ditarik dengan pantas (dariku), maka aku akan bersabda: "Wahai Tuhanku! Mereka itu dari (sahabat)ku dan dari umatku. Dijawab: "Tidakkah engkau tahu apa yang dilakukan oleh mereka selepas engkau meninggalkan mereka (amma sya‘arta ma ‘amilu ba‘da-ka)? Demi Allah, mereka senantiasa berbalik ke belakang (kembali kepada kekafiran) selepas engkau meninggalkan mereka (Wa Llahi! Ma barihu ba‘da-ka yarji‘un ‘ala a‘qabi-him) Dia berkata: Ibn Abi Mulaikah berkata: “ Wahai Tuhanku! Sesungguhnya kami memohon perlindungan dari Mu supaya kami tidak berbalik ke belakang (kembali kepada kekafiran) atau kami difitnahkan tentang agama kami”&lt;/div&gt;

&lt;div class="fullpost" align="justify"&gt;&lt;/div&gt;

&lt;div class="fullpost" align="justify"&gt;&lt;/div&gt;

&lt;div class="fullpost" align="justify"&gt;
Dari Abdillah, Rasulullah (Saw.) bersabda: Aku akan mendahului kamu di Haudh. Dan aku akan bertelaga dengan mereka (aqwaman). Kemudian aku akan menguasai mereka. Maka aku bersabda: Wahai Tuhanku! Mereka itu adalah para sahabatku. Mereka itu adalah para sahabatku (Ya Rabb! Ashabi, ashabi). Lantas dijawab: Sesungguhnya engkau tidak mengetahui apa yang dilakukan oleh mereka selepas engkau meninggalkan mereka (inna-ka la tadri ma ahdatsu ba‘da-ka)"&lt;/div&gt;

&lt;div class="fullpost" align="justify"&gt;&lt;/div&gt;

&lt;div class="fullpost" align="justify"&gt;&lt;/div&gt;

&lt;div class="fullpost" align="justify"&gt;&lt;/div&gt;

&lt;div class="fullpost" align="justify"&gt;
Dari Anas bin Malik bahwa Nabi (Saw.) bersabda: "Akan datang kepadaku di Haudh beberapa lelaki (rijalun) dari mereka yang telah bersahabat denganku (mimman sahabani) sehingga aku melihat mereka diangkat kepadaku. Kemudian mereka dipisahkan dariku. Maka aku bersabda: "Ya Rabbi! Mereka adalah para sahabatku. Mereka adalah para sahabatku (Usaihabi) Akan dijawab kepadaku: Sesungguhnya engkau tidak mengetahui apa yang dilakukan oleh mereka selepas engkau meninggalkan mereka (inna-ka la tadri ma ahdatsu ba‘da-ka)."&lt;/div&gt;

&lt;div class="fullpost" align="justify"&gt;&lt;/div&gt;

&lt;div class="fullpost" align="justify"&gt;&lt;/div&gt;

&lt;div class="fullpost" align="justify"&gt;&lt;/div&gt;

&lt;div class="fullpost" align="justify"&gt;
Hadits-hadits yang terdapat dalam kitab shahih Bukhari dan Muslim di atas dengan jelas menunjukkan bahwa orang-orang yang dikenal oleh Rasulullah sebagai sahabatnya ternyata sepeninggal beliau banyak yang berbalik dan kembali kepada kekafiran. Hal ini sejalan dengan firman Allah SWT, "Dan Muhammad hanyalah seorang Rasul, sungguh telah berlalu sebelumnya beberapa orang Rasul apakah jika dia wafat atau dibunuh kamu berbalik ke belakang (murtad)? Barang siapa yang berbalik ke belakang (murtad), maka ia tidak akan merugikan Allah sedikitpun dan Allah akan memberi balasan kepada orang yang bersyukur.” (Qs. Ali Imran: 144). Allah SWT menegaskan, bahwa orang-orang yang murtad dan kembali kepada kekafiran sepeninggal Rasulullah tidak akan menimbulkan sedikitpun kerugian pada agama Allah dan Allah akan memberi balasan kepada mereka yang bersyukur. Pertanyaannya siapakah mereka yang bersyukur itu? Dan mengapa Allah menggunakan frasa 'orang yang bersyukur' bukan menyebut orang-orang bertakwa, beriman, setia dan sebutan lainnya yang bisa dinilai lebih cocok dengan padanan kata-kata sebelumnya. Frasa 'orang yang bersyukur' tidaklah dipilih Allah SWT tanpa alasan atau secara kebetulan belaka, melainkan untuk menunjukkan realitas bahwa mereka yang tetap pada keimanannya dan tidak berbalik ke belakang (murtad) jumlahnya sedikit, tidaklah banyak. Kita bisa merujuk pada ayat-ayat lain dalam Al-Qur'an, setiap Allah SWT menyebut orang-orang yang bersyukur selalu disertakan bahwa jumlah mereka sedikit. Seperti misalnya, Allah SWT berfirman, "Sesunggguhnya Allah memberikan karunia kepada manusia, tetapi kebanyakan manusia tidak bersyukur." (Qs. Al-Baqarah: 243). Pada ayat yang lain, "Dan Engkau tidak akan mendapati kebanyakan mereka bersyukur." (Qs. Al-A'raf: 17). Juga pada surah Saba': 13: ”Dan sedikit sekali dari hamba-hambaku yang bersyukur.” Baca juga pada Al-Qur'an surah Al-Mu'min: 61 dan surah Al-Mulk: 23. &lt;/div&gt;

&lt;div class="fullpost" align="justify"&gt;&lt;/div&gt;

&lt;div class="fullpost" align="justify"&gt;&lt;/div&gt;

&lt;div class="fullpost" align="justify"&gt;&lt;/div&gt;

&lt;div class="fullpost" align="justify"&gt;
Allah SWT berfirman, "Barang siapa menaati Rasul, maka sesungguhnya dia telah menaati Allah. Dan barang siapa berpaling (dari ketaatan itu), maka (ketahuilah) Kami tidak mengutusmu (Muhammad) untuk menjadi pemelihara mereka." (Qs. An-Nisa': 80). &lt;/div&gt;

&lt;div class="fullpost" align="justify"&gt;&lt;/div&gt;

&lt;div class="fullpost" align="justify"&gt;&lt;/div&gt;

&lt;div class="fullpost" align="justify"&gt;&lt;/div&gt;

&lt;div class="fullpost" align="justify"&gt;
Karena hadits-hadits di atas diriwayatkan oleh Bukhari – Muslim sehingga tidak bisa dilemahkan dari segi sanad sebagaimana kebiasaan sebagian ulama-ulama Ahlus Sunnah yang terkadang seenaknya menyebut sebuah hadits palsu atau dhaif karena tidak sesuai dengan pemahaman mereka, maka mereka mencoba menakwilkan maknanya. Saya pernah membaca sebuah postingan artikel -ditulis oleh Dr. Huda Muhsin- yang menukilkan pendapat seorang ulama tentang hadits-hadits di atas dan menyebut bahwa yang berbalik ke belakang dan murtad yang dimaksud pada riwayat tersebut bukanlah sahabat-sahabat nabi melainkan orang-orang munafik. Pada matan hadits sangat jelas, Rasulullah saww menyebut mereka ashabi (sahabatku) sehingga tidak bisa ditakwilkan atau diselewengkan maknanya. Apakah ulama-ulama Ahlus Sunnah lebih mengenal siapa saja yang termasuk sahabat nabi dibanding Rasulullah saww sendiri?. Hadits di atas juga menyebutkan, mereka tidak sekedar murtad dan mengingkari janji namun juga mengubah hukum dan sunnah nabi, sehingga Rasulullah saww berujar, "Suhqan suhqan li-man baddala ba‘di, Jauh! Jauh! (dari rahmat Allah) yang mengubah (sunnah) selepasku". &lt;/div&gt;

&lt;div class="fullpost" align="justify"&gt;&lt;/div&gt;

&lt;div class="fullpost" align="justify"&gt;&lt;/div&gt;

&lt;div class="fullpost" align="justify"&gt;
Setelah tahu kenyataan ini, bahwa banyak diantara mereka yang disebut nabi sebagai sahabatnya sepeninggal beliau justru berbalik kebelakang dan kembali murtad, saya jadi tidak bisa tenang dan dirundung gelisah yang berkepanjangan. Jangan sampai Islam yang kita peluk saat ini justru berasal dari mereka yang murtad itu ataupun dari mereka yang keterlaluan dengan kemunafikannya bahkan sampai mengubah-ubah hukum Allah. Sementara Islam yang diwariskan oleh sahabat-sahabat nabi yang setia terhadap aqidah dan perjuangan Islam diabaikan dan tersingkir secara sosial. Karenanya perlu ada keberanian untuk melakukan pengembaraan intelektual, melepas semua ikatan-ikatan dogma yang membelenggu dan mengubur tradisi klaim yang beku. Imam Ali bin Abi Thalib as. mengatakan: "Benturkan pandangan kalian satu sama lain, niscaya kalian temukan kebenaran". Ada semangat besar dalam mencari kebenaran yang terkandung dalam hikmah Imam Ali as ini. Bukan hanya sekedar berdiskusi, berdialog, bertukar pikiran namun juga kalau perlu saling berdebat, saling membenturkan pandangan, sealot dan sekeras mungkin. Imam Ali as melanjutkan pesannya, "Siapa yang bertabrakan dengan kebenaran akan terpental." Mari saling menghantamkan pandangan, kita lihat siapa yang terpental. &lt;/div&gt;

&lt;div class="fullpost" align="justify"&gt;&lt;/div&gt;

&lt;div class="fullpost" align="justify"&gt;&lt;/div&gt;

&lt;div class="fullpost" align="justify"&gt;
&lt;strong&gt;&lt;span style="color:#ff0000;"&gt;Antara Sahabat dan Keutuhan Syariat&lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/div&gt;

&lt;p&gt;&lt;strong&gt;&lt;span style="color:#ff0000;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;&lt;strong&gt;&lt;span style="color:#ff0000;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;&lt;strong&gt;&lt;span style="color:#ff0000;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/p&gt;

&lt;div class="fullpost" align="justify"&gt;
Di antara alasan ulama Ahlus Sunnah menyematkan sebutan kafir, fasiq, munafik dan ahli bid'ah kepada mereka yang melakukan penghinaan dan meragukan kredibilitas salah seorang di antara sahabat adalah menyatakan bahwa sahabat yang merupakan penyampai Al-Qur'an dan Sunnah mengandung konsekwensi celaan terhadap keduanya (Al-Qur'an dan Sunnah). Semua golongan Islam apapun mazhabnya (termasuk Syiah) sepakat, yang melakukan celaan kepada Al-Qur'an dan Sunnah adalah kafir dan keluar dari Islam. Lebih lanjut, Rahmat A. Rahman mengajukan argumentasi, "Upaya mendiskreditkan dan menuding Sahabat akan mengakibatkan kita memotong jalur sampainya agama Islam ini kepada generasi setelah mereka termasuk kita. Jika demikian, dari mana sumber kita mengambil agama ini? Al Qur’an pun sampai kepada kita melalui periwayatan sahabat Nabi–Radliyallahuanhum."&lt;/div&gt;

&lt;div class="fullpost" align="justify"&gt;&lt;/div&gt;

&lt;div class="fullpost" align="justify"&gt;&lt;/div&gt;

&lt;div class="fullpost" align="justify"&gt;
Kita bisa menemukan kelemahan pendapat di atas dari berbagai sisi.
Pertama, telah dijelaskan pada pembahasan-pembahasan sebelumnya bahwa kedudukan sahabat bertingkat-tingkat dan tidaklah sebagaimana yang diklaim Ahlus Sunnah bahwa semuanya adil tanpa terkecuali. Karenanya, kita bisa mengkategorikan sahabat menjadi dua kelompok besar. Yang pertama adalah sahabat istimewa. Mereka adalah orang-orang pilihan yang memiliki keteguhan iman, kekuatan tekad dan senantiasa bersabar terhadap berbagai ujian dan celaan orang-orang kafir sehingga Allah SWT memberikan kemenangan besar kepada mereka. Mereka senantiasa berpegang teguh kepada Allah, menepati janji kesetiaan yang telah disematkan kepada Nabiullah saww, menampakkan kesetiaan dan meninggal tetap dalam kesetiaannya itu. Mereka adalah orang-orang yang lurus secara ijma dan tak ada satupun golongan Islam yang menentang ini. Dan yang kedua, adalah kelompok sahabat yang menyatakan keimanannya kepada Allah dan Rasul-Nya namun memiliki berbagai macam watak yang hanya Allah SWT yang mengetahuinya. Diantara mereka ada yang lemah imannya, mencampur adukkan antara yang hak dan yang batil, yang enggan berjihad dan bersedekah, bahkan tidak sedikit di kalangan mereka yang munafik. Kelompok kedua ini karena menyatakan keimanannya, turut berjihad meskipun dengan perasaan berat, ikut shalat meskipun dengan rasa malas dan turut bersedekah meskipun sebenarnya sangat kikir menafkahkan hartanya turut dikategorikan sahabat oleh ulama Ahlus Sunnah berdasarkan defenisi yang diajukan Ibnu Hajar. Kalau kelompok Ahlus Sunnah mengatakan, bahwa yang mereka maksud semua sahabat adil adalah kelompok yang pertama -yakni sahabat istimewa- sedangkan kelompok yang kedua tidak dikategorikan sebagai sahabat nabi, mereka harus menyatakan kesediaan untuk medekonstruksi defenisi sahabat. Yang bisa jadi berbunyi, sahabat adalah mereka yang bertemu dan menampakkan keimanannya kepada Rasulullah saww, setia terhadap janji kesetiaan dan dalam perjalanan hidupnya yang dilaporkan sejarah sepeninggal Rasulullah teruji kesetiaannya, tidak melakukan penyimpangan terhadap Al-Qur'an dan sunnah dengan mengubah hukum-hukum Allah dan meninggal dalam keadaan tetap setia kepada Islam. Dalam hal ini kita bersepakat. Bukan defenisi yang menghina akal sehat, fitrah dan hukum syar'i, bahwa meskipun sekedar melihat, berjumpa dengan Rasulullah baik lama maupun sebentar, tanpa harus pernah bermajelis dengan Rasulullah, meriwayatkan hadits atau tidak, turut berjihad atau tidak maka semuanya dikategorikan sahabat nabi yang kemudian mereka semuanya dihukumi orang-orang yang adil tanpa terkecuali. Imbas dari defenisi yang sangat longgar ini, mengakibatkan orang memerangi keluarga Nabi saww ataupun yang telah dilaknat dan diusir Nabi saww dari Madinah atau mereka yang melakukan penyimpangan terhadap sunnah tetap mendapat kehormatan sebagai sahabat Nabi saww. &lt;/div&gt;

&lt;div class="fullpost" align="justify"&gt;&lt;/div&gt;

&lt;div class="fullpost" align="justify"&gt;&lt;/div&gt;

&lt;div class="fullpost" align="justify"&gt;&lt;/div&gt;

&lt;div class="fullpost" align="justify"&gt;&lt;/div&gt;

&lt;div class="fullpost" align="justify"&gt;
Mengetahui dimana di antara sahabat nabi yang teruji kesetiaannya sangat penting. Di tangan mereka ajaran Islam teraplikasikan, karena merekalah generasi pertama yang melaksanakan titah langsung Rasulullah saww. Bersama Rasulullah mereka berhijrah, berjuang dan berjihad untuk menegakkan Daulah Islamiyah dan mempersiapkan masyarakat yang melaksanakan syariat Islam dengan baik. Keridhaan mereka seharusnya menjadi keridhaan kita, kebencian mereka seyogyanya juga menjadi kebencian kita. Mengetahui mereka yang teruji kesetiaannya juga dapat membantu kita melakukan penelaahan dan penyelusuran kembali akar permasalahan timbulnya pergolakan dalam Daulah Islamiyah yang terjadi justru pada generasi awal Islam. Dengan demikian kita dapat menentukan dan memilah kepada siapa kita bersandar. Menyatakan dua kelompok besar yang bertikai sepeninggal Rasulllah saww antara kelompok Muawiyah dan Imam Ali bin Abi Thalib as sebagai dua-duanya kelompok sahabat yang seluruhnya adil sangat membingungkan dan mengacaukan syariat, sebab ini berarti mencampur adukkan antara yang hak dan yang batil. Konsep afdhaliah insan (keistimewaan dalam manusia) merupakan hal penting untuk mengetahui siapa yang lebih utama dan yang lebih layak untuk diikuti. &lt;/div&gt;

&lt;div class="fullpost" align="justify"&gt;&lt;/div&gt;

&lt;div class="fullpost" align="justify"&gt;&lt;/div&gt;

&lt;div class="fullpost" align="justify"&gt;&lt;/div&gt;

&lt;div class="fullpost" align="justify"&gt;
Pada bagian ini jelas. Kalau kelompok Ahlus Sunnah berada pada titik ekstrim, "Semua sahabat adil tanpa terkecuali", kita tidak berada pada titik ekstrim yang lain yang menyatakan "Semua sahabat murtad/munafik tanpa terkecuali". Islam yang benar terletak di antara kedua titik ekstrim ini. Yakni bahwa ada sahabat yang setia, yang kita agungkan, muliakan, do'akan dan berusaha meneladani mereka pada sisi perjuangan dan semangat keislaman mereka dan dengan perantaraan merekalah kita mengambil agama ini. Selain itu, ada juga sahabat yang kita berlepas diri dari mereka karena penyimpangan-penyimpangan yang mereka lakukan, baik ketika Rasulullah saww masih hidup maupun sepeninggal beliau. Karenanya melakukan pengkajian atas mereka, sampai pada tahap melakukan kritikan dan celaan terhadap sahabat yang terbukti melakukan penyimpangan dengan tujuan kaum muslimin terhindar dari perilaku serupa dan tidak menjadikan mereka suri tauladan, tidaklah berarti melakukan celaan terhadap Al-Qur'an dan Sunnah. &lt;/div&gt;

&lt;div class="fullpost" align="justify"&gt;&lt;/div&gt;

&lt;div class="fullpost" align="justify"&gt;&lt;/div&gt;

&lt;div class="fullpost" align="justify"&gt;&lt;/div&gt;

&lt;div class="fullpost" align="justify"&gt;
Kedua, Al-Qur'an adalah adz-dzikru (pemberi peringatan), dan sunnah adalah penjelasan dan pelaksanaan dari ajaran Al-Qur'an yang dijelaskan, ditaqrir dan dicontohkan oleh Rasulullah saww. Allah SWT telah menjanjikan dan menjamin keutuhan Al-Qur'an sepanjang sejarah dan zaman. Allah SWT berfirman, "Sungguh, Kamilah yang menurunkannya (Al-Qur'an) dan Kamilah yang menjaganya." (Qs. Al-Hijr: 9). Menjaga keutuhan Al-Qur'an adalah jaminan dari Allah SWT dan sama sekali tidak ada hubungannya dengan sahabat. Islam akan tetap terjaga dan tegak, sekalipun tidak ada yang menjadi saksi dari sahabat Rasulullah sebab Allah lah yang langsung menjadi saksi dan memberikan jaminan atas keutuhan ajaran Islam. Rasulullah saww tidak akan wafat sebelum Allah menyempurnakan ajaran Islam. Allah SWT berfirman, "Wahai Rasul! Sampaikanlah apa yang diturunkan Tuhanmu kepadamu. Jika tidak engkau lakukan (apa yang diperintahkan itu) berarti engkau tidak menyampaikan amanah-Nya. Dan Allah memelihara engkau dari (gangguan) manusia. Sungguh Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang kafir." (Qs. Al-Maidah: 67). Tim penerjemah Depag RI memberi catatan kaki mengenai ayat ini, bahwa tidak seorangpun yang dapat membunuh Nabi Muhammad saww. Artinya sebelum Rasulullah saww menyampaikan seluruh syariat yang menjadi amanah dari Allah SWT, beliau akan selalu berada dalam pemeliharaan Allah SWT. Tidak ada yang bisa mencelakakan, menganggu atau sampai membunuh. Rasulullah saww tidak akan meninggal sebelum Allah menyempurnakan agama Islam. Pernyataan bahwa tanpa peran serta sahabat (generasi pertama umat Islam), Islam tidak akan sampai pada kita, salah besar. Sekiranya di zaman Rasulullah abad ke 6 Masehi sampai saat ini tidak ada seorangpun yang menjadi pengikut dan sahabatnya, maka Rasulullah saww sendiri yang langsung menyampaikan agama Islam kepada generasi kita. Dengan kekuasaan-Nya Allah SWT mudah membuat nabi Muhammad saww sebagai utusan-Nya berumur panjang sampai hari ini, sebagaimana Allah SWT memperpanjang usia nabi Nuh as yang berdakwah 950 tahun lamanya. Tegaknya ajaran Islam sama sekali tidak bergantung pada sahabat, ada tidaknya pengikut dan sahabat Nabi, Islam sebagai sebuah ajaran akan tetap ada. Allah SWT menegaskan dengan firman-Nya,"Maka berperanglah engkau (Muhammad) di jalan Allah, engkau tidaklah dibebani melainkan atas dirimu sendiri." (Qs. An-Nisa': 84). Tim penerjemah Depag RI memberi catatan atas ayat ini, "Perintah berperang itu harus dilakukan oleh Nabi Muhammad saww karena yang dibebani adalah dirinya sendiri. Ayat ini berhubungan dengan keengganan sebagian besar orang Madinah untuk ikut berperang bersama Nabi ke Badar. Maka turunlah ayat yang memerintahkan agar nabi Muhammad saww pergi berperang walaupun sendiri saja."&lt;/div&gt;

&lt;div class="fullpost" align="justify"&gt;&lt;/div&gt;

&lt;div class="fullpost" align="justify"&gt;&lt;/div&gt;

&lt;div class="fullpost" align="justify"&gt;&lt;/div&gt;

&lt;div class="fullpost" align="justify"&gt;
Masih ada keraguan tentang hal ini?. Islam sebagai sebuah ajaran sama sekali tidak memiliki keterkaitan dengan sahabat sebagai pengikut ajaran. Islam adalah akidah Ilahi yang dikehendaki Allah sebagai agama samawi terakhir dan menjadi agama bagi mereka yang taat. Islam berdiri kukuh dengan Al-Qur'an dan Rasulullah (utusan-Nya) dan tidak bergantung pada selainnya. Para sahabat yang mulia mengikuti dakwah Rasulullah saww, menganut Islam dan membantu Rasulullah dalam Daulah Islamiyah yang beliau pimpin. Mereka memang pengikut Islam dan sahabat nabi namun tidak identik dengan Islam atau menjadi bagian dari Islam. Kaum muslimin adalah mereka yang mengikuti ajaran Islam dan mengimaninya. Umat Islam bukanlah Islam itu sendiri. Sungguh berbeda antara akidah dengan pemeluk akidah, antara sahabat Nabi dan Nabi itu sendiri. Tidak bisa disamakan karena keduanya secara dzatiyah berbeda. Al-Qur'an mendapat jaminan langsung dari Allah akan keutuhan dan terjaganya dari penyelewengan. Tidak ada yang mampu menambah atau mengurangi satupun hurufnya, karena Al-Qur'an adalah kalamullah. Pernyataan bahwa seluruh sahabat adil sama sekali tidak menambah kekukuhan kitabullah yang memang telah kukuh, atau menambah penjagaan Al-Qur'an karena memang telah terjaga oleh Allah SWT. Begitupun dengan pernyataan semua sahabat murtad dan berbalik kafir sepeninggal Rasulullah saww tidak serta merta menjadikan Al-Qur'an tercoreng derajat kemutawatirannya atau tidak bisa dipercaya lagi sebagai kitab suci dan Islam -sebagai sebuah ajaran- menjadi artefak yang tak lagi dikenal asal-usulnya. Allah SWT berfirman, "Jika kamu tidak berangkat (untuk berperang), niscaya Allah akan menghukum kamu dengan azab yang pedih dan menggantikan kamu dengan kaum yang lain, dan kamu tidak merugikan-Nya sedikitpun. Dan Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu." (Qs. At-Taubah: 39). Pada ayat ini, tiga poin penekanan yang harus diperhatikan. Pertama, Allah SWT menegaskan, sekalipun seluruh sahabat bersepakat tidak ikut berjihad bersama Rasulullah untuk menegakkan ajaran Islam ataupun sekalian tidak ada yang masuk Islam itu tidak merugikan Allah dan Islam sedikitpun. Kedua, Allah akan menggantikan mereka dengan kaum yang lain. Jadi sekalipun seandainya Abu Bakar, Umar bin Khattab, Utsman bin Affan, Mushab bin Umair, Abdurrahman bin Auf, Thalhah, Zubair dan lain-lain (radhiallahu anhum) tidak masuk Islam atau masuk Islam lalu kemudian berpaling itu tidak merugikan Allah, Rasul-Nya dan Islam sedikitpun. Sebagaimana firman Allah SWT, telah tersedia kaum (orang-orang) lain yang akan menggantikan kedudukan mereka di sisi Rasulullah saww sekiranya mereka membelot. Poin ketiga, Allah SWT Maha Kuasa atas segala sesuatu, sehingga secara pribadi keberadaan sahabat-sahabat tidaklah membawa pengaruh kepada kekuasaan Allah SWT. Jasa dan peran serta mereka dalam menumbuhkan Islam adalah bagian dari anugerah dan nikmat dari Allah SWT. Bukan Islam yang bergantung dengan keberadaan mereka. Allah SWT menandaskan, "Mereka merasa berjasa kepadamu dengan keislaman mereka. Katakanlah, "Janganlah kamu merasa berjasa kepadaku dengan keislamanmu, sebenarnya Allah yang melimpahkan nikmat kepadamu dengan menunjukkan kamu kepada keimanan, jika kamu orang yang benar." (Qs. Al-Hujurat: 17). Ayat ini juga menyentil kita, generasi muslim saat ini. Kitalah yang butuh pada Islam dan dakwah, bukan Islam yang membutuhkan kita. Jangan sampai ada sangkaan, kalau kita tidak ada, maka Islam juga tidak akan tersampaikan, sama halnya ucapan "Upaya mendiskreditkan dan menuding Sahabat akan mengakibatkan kita memotong jalur sampainya agama Islam ini kepada generasi setelah mereka termasuk kita". Percayalah, tanpa peran serta mereka, Islam akan selalu ada dan akan tersampaikan dengan baik pada setiap masa dan tempat. Kekuasaan Allah tidak bergantung dengan keberadaan mereka. "Illa tanshuruuhu faqad-e nasharahu llahu, Jika kamu tidak menolongnya (Muhammad) sesungguhnya Allah telah menolongnya…" (Qs. At-Taubah: 40). &lt;/div&gt;

&lt;div class="fullpost" align="justify"&gt;&lt;/div&gt;

&lt;div class="fullpost" align="justify"&gt;&lt;/div&gt;

&lt;div class="fullpost" align="justify"&gt;&lt;/div&gt;

&lt;div class="fullpost" align="justify"&gt;
Poin di atas hanyalah pemisalan ektrim, sekiranya mereka (yang dikenal selama ini sebagai sahabat-sahabat nabi) tidak ada atau murtad secara keseluruhan, maka itu tidak memberi pengaruh apa-apa terhadap keutuhan ajaran Islam, sebab Allah SWT yang langsung menjadi penjaga dan penjaminnya. Namun karena sejarah menyodorkan kepada kita kisah-kisah kepahlawanan mereka, Islam tumbuh melalui pengorbanan dan kesyahidan mereka, maka sepatutnyalah kita mencintai, mengagungkan dan memuliakan mereka. Mereka adalah tauladan nyata dalam pengorbanan dan kesetiaan, keberanian dan ketegaran iman. Mereka yang sebenar-benarnya sahabat yang dimaksud dalam firman-firman suci Allah yang tersebar dalam Taurat, Injil dan Al-Qur'an. Sahabat yang oleh Allah SWT berfirman atas mereka, "Allah tidak akan membiarkan orang-orang yang beriman sebagaimana dalam keadaan kamu sekarang ini, sehingga Dia membedakan yang buruk dari yang baik." (Qs. Ali-Imran: 179). Ya, Allah SWT bersikap selektif, menyeleksi mereka, menguji mereka, memisahkan yang munafik diantara mereka. Berbeda dengan Ibnu Hajar dan pengikut-pengikutnya yang berpendirian, semua yang bertemu dan beriman kepada Rasulullah adalah sahabat nabi, dan mereka adil secara keseluruhan, tanpa sikap selektif, tanpa ada gugatan, tanpa ada penyeleksian dan yang menyelisihi pendapat ini kafir dan keluar dari Islam. Semoga kita terlindungi dari kenekatan mereka menyalahi aturan Allah SWT. &lt;/div&gt;

&lt;div class="fullpost" align="justify"&gt;&lt;/div&gt;

&lt;div class="fullpost" align="justify"&gt;&lt;/div&gt;

&lt;div class="fullpost" align="justify"&gt;&lt;/div&gt;

&lt;div class="fullpost" align="justify"&gt;
Ketiga, Pernyataan Al-Qur'an adalah haq, Rasulullah adalah haq dan yang disampaikan oleh Rasulullah saww adalah haq, adalah penyataan yang tak diperselisihkan kebenarannya. Setiap kelompok Islam berupaya menegakkan syiar ini, semua meyakini syariat Islam terdiri atas dua unsur Al-Qur'an sebagai kalamullah dan Rasulullah saww sebagai utusan-Nya yang menetapkan, menjelaskan, mencontohkan dan mentaqrir syariat Ilahi. Sedangkan sahabat adalah generasi muslim pertama yang mengikuti ajaran Islam dan mengimaninya. Keduanya antara Islam dan pengikutnya tidaklah identik. Islam yang memiliki kebenaran mutlak di satu sisi dan pengikut yang memiliki pemahaman tentang Islam yang tidak mutlak kebenarannya berada di sisi lain. Setiap dari sahabat memiliki pemahaman yang berbeda tentang syariat Islam bergantung pada tingkat kemampuan dan kadar keilmuan masing-masing, yang sangat ditentukan oleh besarnya keimanan dan kemampuan menanggalkan kepentingan hawa nafsu. Sejarah menyodorkan realitas antara sahabat yang satu dengan yang lainnya tidak satu dalam pemahaman mengenai apa yang disampaikan oleh Rasulullah atau mengenai ayat yang terdapat dalam Al-Qur'an.&lt;/div&gt;

&lt;div class="fullpost" align="justify"&gt;&lt;/div&gt;

&lt;div class="fullpost" align="justify"&gt;&lt;/div&gt;

&lt;div class="fullpost" align="justify"&gt;&lt;/div&gt;

&lt;div class="fullpost" align="justify"&gt;
Saya menyodorkan contoh kasus. Sebuah tragedi yang disebut Ibnu Abbas ra sebagai Kamis Kelabu.
Kamis, 8 Rabiul Awal 11 H, demam Rasul SAW semakin meninggi. Kediaman beliau dipenuhi beberapa sahabat. Imam Bukhari dalam shahihnya melalui sanad Ubaidillah bin Abdullah dari Ibnu Abbas ra, menceritakan :"Ketika ajal Rasulullah telah hampir, dan di rumah beliau ada beberapa orang, diantara mereka Umar bin Khattab ra, beliau bersabda, 'Mari kutuliskan bagi kamu sebuah surat (wasiat) agar sesudah itu kamu tidak akan pernah sesat.' Namun Umar berkata, 'Nabi telah makin parah sakitnya, sedangkan Al-Qur'an ada pada kalian. Cukuplah kitab Allah bagi kita !'. Maka terjadilah perselisihan di antara yang hadir, dan mereka bertengkar. Sebagian berkata, 'Sediakan apa yang diminta oleh Nabi SAW agar menuliskan bagi kamu sesuatu yang menghindarkan kamu dari kesesatan. Tetapi sebagian yang lain menguatkan ucapan Umar. Dan ketika keributan dan pertengkaran makin bertambah dihadapan Nabi SAW; beliau memerintahkan 'Keluar kalian dari sini !'." &lt;/div&gt;

&lt;div class="fullpost" align="justify"&gt;&lt;/div&gt;

&lt;div class="fullpost" align="justify"&gt;&lt;/div&gt;

&lt;div class="fullpost" align="justify"&gt;&lt;/div&gt;

&lt;div class="fullpost" align="justify"&gt;
Hadits ini tak diragukan sedikitpun kesahihannya. Al-Bukhari meriwayatkannya pada bab "Al-Ilmu" (Jilid I, hal 22). Muslim meriwayatkannya dalam Shahihnya pada akhir bab al-Washiyah dan juga tertulis dalam Musnad Ahmad jilid I hal. 355. &lt;/div&gt;

&lt;div class="fullpost" align="justify"&gt;&lt;/div&gt;

&lt;div class="fullpost" align="justify"&gt;&lt;/div&gt;

&lt;div class="fullpost" align="justify"&gt;
Riwayat di atas, memberikan gambaran terpecahnya dua golongan sahabat menyikapi permintaan Rasulullah menjelang wafatnya. Golongan pertama, mendukung perkataan Umar bin Khattab, alasannya, Umar adalah salah seorang sahabat Rasul yang sangat loyal dengan Islam, maka alasan Umar menghalangi Rasullah menuliskan wasiatnya karena pertimbangan kesehatan bisa dibenarkan. Lagi pula Al-Qur’an sudah cukup bagi umat untuk menghancurkan kesesatan sehingga tidak perlu lagi tulisan lain, hatta itu berasal dari Rasulullah. Golongan kedua, menentang sikap mereka yang menghalangi Rasul menulis wasiat. Muhammad saww adalah Nabi Allah dan akan tetap menjadi nabi Allah meskipun ajal menjemputnya. Tidak ada alasan sedikitpun bagi seorang muslim menentang perkataan Rasulullah, dengan pertimbangan serasional apapun. Allah SWT berfirman, “Apa yang diberikan Rasul kepadamu, maka terimalah ia dan apa yang dilarangnya maka tinggalkanlah. Pada ayat lain Allah SWT berfirman, “Kawanmu (Muhammad) tidak sesat dan tidak juga keliru, serta ucapannya tiada lain hanyalah wahyu yang diwahyukan kepadanya.”&lt;/div&gt;

&lt;div class="fullpost" align="justify"&gt;&lt;/div&gt;

&lt;div class="fullpost" align="justify"&gt;&lt;/div&gt;

&lt;div class="fullpost" align="justify"&gt;&lt;/div&gt;

&lt;div class="fullpost" align="justify"&gt;
Ibnu Abbas ra menyebut peristiwa ini sebagai Kamis Kelabu. Hadits sahih ini menunjukkan adanya pemahaman yang berbeda antara sahabat dalam memahami hadits Rasul. Dan perbedaan ini meniscayakan adanya pertentangan antara kebenaran dan kebatilan, sebab tidak mungkin keduanya benar. Perselisihan dan pertikaian antar sahabat tidak hanya menjelang wafat Rasulullah namun kemudian semakin menjadi-jadi sepeninggal beliau. Dari khalifah ke dua sampai ke empat mati terbunuh. Semua yang membunuh termasuk muslim juga, kecuali pembunuh Khalifah Umar ra yang katanya seorang Majusi bernama Abu Lu'lu'. Peperangan Jamal, Shiffin dan Nahrawan adalah peperangan besar antara ribuan sahabat dengan sahabat lainnya. (lihat kitab-kitab Tarikh, seperti Taarikhu al-Thabari, Usduh al-Ghabah karangan Ibnu Atsir dan lainnya). Karenanya dari sini pula kita patut melontarkan pertanyaan, kalau perselisihan dikalangan sahabat bukanlah persoalan esensial, lalu mengapa harus ada pertumpahan darah diantara mereka?. Mana kebesaran jiwa para sahabat dalam menyikapi perbedaan sampai harus diatasi dengan logika kekuatan ?. &lt;/div&gt;

&lt;div class="fullpost" align="justify"&gt;&lt;/div&gt;

&lt;div class="fullpost" align="justify"&gt;
Berusaha menyelesaikan masalah dengan melontarkan solusi, bahwa pertikaian antar sahabat tidak perlu dipersoalkan sebab seluruh sahabat adil dan mereka secara keseluruhan adalah ahli ijtihad, kalaupun ijtihadnya salah akan tetap berbuah pahala dan tidak mengurangi kredibilitas mereka. Adalah tawaran solusi yang mengada-ada, dan sekali lagi mengacaukan syariat. Masih banyak lagi contoh kasus adanya perbedaan pemahaman sahabat mengenai Islam yang disampaikan oleh Rasulullah saww. Karenanya, saya sulit menerima jika dikatakan tanggung jawab penjelasan syariat Islam pasca Rasul jatuh ke tangan para sahabat. Sementara untuk contoh sederhana sahabat sendiri berbeda pendapat bagaimana cara Rasululullah melakukan wudhu dan shalat yang benar, padahal Rasul mempraktikkan wudhu dan salat bertahun-tahun di hadapan mereka. Untuk persoalan wudhu saja mereka menukilkan pendapat yang berbeda-beda, karenanya pada masalah yang lebih rumit sangat mungkin terjadi penukilan yang keliru.
Islam (Al-Qur'an dan Sunnah) berada pada satu sisi, dan pemahaman sahabat mengenai keduanya pada sisi lain. Berbeda pemahaman dengan sahabat tidaklah berarti berbeda dengan Islam yang sebenarnya. Apabila seseorang mampu memahami sebuah nash dengan pemahaman tertentu, sementara yang lain memahaminya dengan pemahaman yang berbeda, maka berarti ada tugas lain yang menunggu. Setiap dari dua pihak yang memahami berbeda dari sebuah nash harus berulang kali berupaya kembali memahami kandungan nash tersebut dengan mempertimbangkan pemahaman mereka yang berbeda. Bukan malah menganggap pemahamannyalah yang paling sesuai dengan syariat. Inilah yang sesungguhnya semestinya dilakukan kaum muslimin, bersama-sama melakukan pengkajian terus menerus sampai memperoleh kesepakatan yang satu, sebab nash sesungguhnya hanya mempunyai maksud syar'i yang tunggal yang merupakan maksud Ilahi. Secara sepihak mengklaim diri pemahamannyalah yang paling benar sembari mengutuk dan mencela pemahaman yang lain, menyimpang dari ketentuan ajaran Islam. Islam sebagai akidah Ilahi adalah satu pemahaman, yakni sebagaimana secara mutlak dipahami oleh Rasulullah saww. Adanya perbedaan pemahaman antara sahabat menunjukkan pemahaman mereka bukanlah Islam itu sendiri. Karenanya pekerjaan rumah kita adalah selektif terhadap pemahaman sahabat ataupun yang disebut Shalafush Shalih (tiga generasi terbaik), dimana diantara mereka yang lebih berkesesuaian dengan Al-Qur'an dan Sunnah. Secara mutlak mengatakan bahwa seorang muslim harus mengimani dan mengamalkan Islam sesuai dengan pemahaman Shalafus Shalih, sembari tetap membiarkan adanya perbedaan dikalangan mereka sama halnya semakin memperpanjang daftar perselisihan.&lt;/div&gt;

&lt;div class="fullpost" align="justify"&gt;&lt;/div&gt;

&lt;div class="fullpost" align="justify"&gt;&lt;/div&gt;

&lt;div class="fullpost" align="justify"&gt;
Pada poin ketiga ini juga menunjukkan –setidaknya oleh saya-, mencela atau mengingkari sahabat yang memiliki pemahaman yang menyimpang dari Islam tidaklah identik dengan pencelaan dan pengingkaran terhadap Al-Qur'an dan As-Sunnah. &lt;/div&gt;

&lt;div class="fullpost" align="justify"&gt;&lt;/div&gt;

&lt;div class="fullpost" align="justify"&gt;&lt;/div&gt;

&lt;div class="fullpost" align="justify"&gt;
&lt;strong&gt;&lt;span style="color:#ff0000;"&gt;Studi Kritis Hadits&lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/div&gt;

&lt;div class="fullpost" align="justify"&gt;&lt;/div&gt;

&lt;div class="fullpost" align="justify"&gt;&lt;/div&gt;

&lt;div class="fullpost" align="justify"&gt;
Rahmat A. Rahman mengajukan kepada kita beberapa hadits yang katanya menunjukkan keutamaan sahabat yang dengan hadits-hadits tersebut dibuatlah penetapan hukum, ash-shahabiy kulluhum 'udul. Hadits-hadits tersebut tidak lepas dari kritik dan peninjauan kembali. Saya 'malas' mengkajinya dari sisi sanad periwayatan, karena selalu ada pendapat yang berbeda antar ulama mengenai kejujuran seorang perawi, kita kaji saja menurut matannya. Dan kita jadikan Al-Qur'an, sunnah yang lebih shahih, realitas sejarah dan akal sehat sebagai pembandingnya. Mari…. &lt;/div&gt;

&lt;div class="fullpost" align="justify"&gt;&lt;/div&gt;

&lt;div class="fullpost" align="justify"&gt;&lt;/div&gt;

&lt;div class="fullpost" align="justify"&gt;
&lt;strong&gt;&lt;span style="color:#ff0000;"&gt;Hadits Pertama:&lt;/span&gt;&lt;/strong&gt; &lt;/div&gt;

&lt;div class="fullpost" align="justify"&gt;&lt;/div&gt;

&lt;div class="fullpost" align="justify"&gt;&lt;/div&gt;

&lt;div class="fullpost" align="justify"&gt;&lt;/div&gt;

&lt;div class="fullpost" align="justify"&gt;
Dari Abdullah ibn Mas’ud radhiyallahu anhu, Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda: "Sebaik-baik manusia adalah (yang hidup) di zamanku, kemudian orang-orang setelahnya, kemudian orang-orang setelahnya". HR. Bukhari, no. 2652, Muslim, no. 6635.
Pertanyaannya, kalau masa sahabat, tabi'in dan tabi' tabi'in adalah sebaik-baik masa tentu tidak akan terjadi fitnah dan perpecahan umat. Kalau mereka semuanya adalah orang-orang terbaik dan pilihan tentu tidak akan terjadi pertumpahan darah di antara mereka, tentu tidak akan ada sahabat yang membunuh sahabat lainnya. Sebab orang adil tidak akan membunuh orang lain yang diharamkan Allah SWT untuk dibunuh. Seandainya seluruh sahabat adil dan masa mereka adalah masa terbaik tentu tidak akan terjadi pembunuhan kepada Imam Ali as dan kedua putranya yang merupakan buah kecintaan Rasulullah, dan juga pembantaian atas ratusan sahabat pada tragedi Al-Harrah. Kalau masa mereka adalah masa terbaik tentu kekhalifaan diserahkan kepada yang terbaik diantara mereka, bukan diserahkan kepada orang yang menyalahgunahkan kekhalifaan dan merubahnya menjadi kerajaan untuk kepentingan keluarganya. Karena sejarah menyodorkan kepada kita kisah tragis, tentang terjadinya peperangan antara dua kelompok besar, kelompok Imam Ali as dan kelompok Muawiyah maka ada tiga kemungkinan. Kemungkinan pertama kedua kelompok ini salah, kemungkinan ini kita tolak karena mereka adalah sahabat nabi, dan (menurut hadits diatas) termasuk generasi terbaik. Kemungkinan kedua, kedua kelompok yang bertikai semuanya benar, kemungkinan inipun kita tolak sebab seandainya mereka semua berada di jalan yang benar, tentu mereka tidak akan berperang dan saling bunuh. Bila terjadi perselisihan pun tentu perselisihan itu tidak akan sampai pada derajat saling bunuh dan bisa diselesaikan dengan syar'i, tanpa harus menumpahkan darah kelompok lain. Bukankah mereka orang-orang yang lebih paham tentang agama ini?. Karena sejarah mempertontonkan diantara kedua kelompok ini terjadi pertumpahan darah yang menyebabkan banyaknya kaum muslimin yang terbunuh, maka kemungkinan yang paling mungkin adalah, diantara kedua kelompok ini ada yang benar dan ada yang salah.
Yang harus dijawab juga adalah, kalau masa sahabat, masa sesudahnya dan sesudahnya adalah masa terbaik dalam perjalanan umat Islam mengapa justru fitnah kubra terjadi pada masa mereka?. Sementara setelah masa mereka tidak terjadi fitnah sebesar dan stragis masa mereka. Tolok ukur kebenaran hadits adalah tidak mungkin hadits yang disampaikan Rasulullah saww bertentangan dengan realita yang terjadi. Saya pribadi menyangsikan keshahihan hadits ini. Kalau disuruh memilih saya lebih memilih hadits yang menyatakan, "Sebaik-baik manusia adalah yang paling banyak manfaatnya bagi manusia yang lain." Ataupun firman Allah SWT, "Sungguh sebaik-baiknya diantara kamu di sisi Allah ialah yang paling bertakwa." (Qs. Al-Hujurat: 13). &lt;/div&gt;

&lt;div class="fullpost" align="justify"&gt;&lt;/div&gt;

&lt;div class="fullpost" align="justify"&gt;&lt;/div&gt;

&lt;div class="fullpost" align="justify"&gt;
&lt;strong&gt;&lt;span style="color:#ff0000;"&gt;Hadits Kedua:&lt;/span&gt;&lt;/strong&gt; &lt;/div&gt;

&lt;div class="fullpost" align="justify"&gt;&lt;/div&gt;

&lt;div class="fullpost" align="justify"&gt;&lt;/div&gt;

&lt;div class="fullpost" align="justify"&gt;&lt;/div&gt;

&lt;div class="fullpost" align="justify"&gt;
Dari Anas ibn Malik ra. bahwa Rasulullah saw. bersabda: “Umatku akan terpecah menjadi 73 golongan semua di neraka kecuali satu”. Mereka bertanya: Siapakah yang satu itu wahai Rasulullah saw. ? Beliau menjawab: “Yang (mencontoh) kepadaku dan para sahabatku saat ini”. HR. at-Thabrani dalam al-Mu’jam as-Shagir no. 724&lt;/div&gt;

&lt;div class="fullpost" align="justify"&gt;&lt;/div&gt;

&lt;div class="fullpost" align="justify"&gt;&lt;/div&gt;

&lt;div class="fullpost" align="justify"&gt;&lt;/div&gt;

&lt;div class="fullpost" align="justify"&gt;
Hadits di atas menjelaskan golongan yang selamat adalah mereka yang mencontoh kepada Rasulullah saww dan para sahabatnya. Siapakah sahabat yang dimaksud Rasulullah? apakah mereka yang lemah iman, lari tunggang langgang saat peperangan dan yang berbalik mengingkari janjinya sepeninggal Rasulullah saww?. Tentu saja jawabannya, tidak. Yang dimaksud sahabat oleh Rasulullah adalah mereka yang setia dengan perjuangan dan semangat revolusi Islam dan dalam sejarah terbukti tidak melakukan penyimpangan terhadap sunnah Rasulullah saww. Apakah logis jika yang dimaksud Rasulullah adalah sahabat yang mengubah sunnah sepeninggalnya?. Hadits ini tidak membenarkan pendapat bahwa semua sahabat adil, semua sahabat harus menjadi rujukan pemahaman keislaman, melainkan hanya dikhususkan kepada sahabat yang mematrikan kehidupannya pada ajaran-ajaran Ilahi dan sunnah Rasulullah dan tidak sesaatpun menyimpang darinya. Jika yang dimaksud Rasulullah adalah mencontoh para sahabatnya –sebagaimana definisi Ibnu Hajar- maka sama halnya Rasulullah menginginkan umatnya berpecah belah, sebab tidak ada yang memungkiri adanya perselisihan di antara sahabat dan mereka saling berpecah belah. Karenanya hanya satu kemungkinan, yang dimaksud Rasulullah "para sahabarku" adalah sahabat-sahabat yang benar-benar mencontoh Rasulullah dan tidak menyelisihinya sedikitpun. &lt;/div&gt;

&lt;div class="fullpost" align="justify"&gt;&lt;/div&gt;

&lt;div class="fullpost" align="justify"&gt;&lt;/div&gt;

&lt;div class="fullpost" align="justify"&gt;
&lt;strong&gt;&lt;span style="color:#ff0000;"&gt;Hadits Ketiga:&lt;/span&gt;&lt;/strong&gt; &lt;/div&gt;

&lt;div class="fullpost" align="justify"&gt;&lt;/div&gt;

&lt;div class="fullpost" align="justify"&gt;&lt;/div&gt;

&lt;div class="fullpost" align="justify"&gt;
Sabda Rasulullah shallallahu alaihi wasallam kepada Umar bin al-Khattab radhiyallahu anhu:
"Apakah engkau mengetahui, bahwa Allah Ta'ala telah melihat (ke dalam hati) orang-orang yang ikut dalam perang Badar, lalu Ia berfirman: "Lakukanlah apa yang kalian kehendaki, sungguh Aku telah mengampuni kalian".HR. al-Bukhari, no. 3983, dan Muslim, no. 2494
Makna hadits ini telah kita kaji pada pembahasan sebelumnya. &lt;/div&gt;

&lt;div class="fullpost" align="justify"&gt;&lt;/div&gt;

&lt;div class="fullpost" align="justify"&gt;&lt;/div&gt;

&lt;div class="fullpost" align="justify"&gt;
&lt;strong&gt;&lt;span style="color:#ff0000;"&gt;Hadits Keempat:&lt;/span&gt;&lt;/strong&gt; &lt;/div&gt;

&lt;div class="fullpost" align="justify"&gt;&lt;/div&gt;

&lt;div class="fullpost" align="justify"&gt;&lt;/div&gt;

&lt;div class="fullpost" align="justify"&gt;
Dari Abu Musa al-Asy'ari radhiallahu anhu, Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda: "Bintang-bintang itu penjaga bagi langit, jika ia lenyap maka terjadilah pada langit apa yang telah dijanjikan. Aku adalah penjaga bagi sahabatku, jika aku telah tiada, maka akan terjadi pada sahabatku apa yang dijanjikan. Dan para sahabatku adalah penjaga umat ini, jika mereka tiada, maka akan terjadi pada umat ini apa yang dijanjikan". HR. Muslim, no. 2531&lt;/div&gt;

&lt;div class="fullpost" align="justify"&gt;&lt;/div&gt;

&lt;div class="fullpost" align="justify"&gt;&lt;/div&gt;

&lt;div class="fullpost" align="justify"&gt;
Hadits ini senada dengan hadits berikut:&lt;/div&gt;

&lt;div class="fullpost" align="justify"&gt;&lt;/div&gt;

&lt;div class="fullpost" align="justify"&gt;&lt;/div&gt;

&lt;div class="fullpost" align="justify"&gt;&lt;/div&gt;

&lt;div class="fullpost" align="justify"&gt;
&lt;strong&gt;&lt;span style="color:#ff0000;"&gt;Hadits Keenam:&lt;/span&gt;&lt;/strong&gt; &lt;/div&gt;

&lt;div class="fullpost" align="justify"&gt;&lt;/div&gt;

&lt;div class="fullpost" align="justify"&gt;&lt;/div&gt;

&lt;div class="fullpost" align="justify"&gt;&lt;/div&gt;

&lt;div class="fullpost" align="justify"&gt;
Dari Watsilah bin al-Asqa' radhiallahu anhu, ia berkata, Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda: "Kalian akan senantiasa berada dalam kebaikan selama masih ada di antara kalian orang yang pernah melihat dan menemaniku. Demi Allah, kalian akan senatiasa berada dalam kebaikan selama masih ada di antara kalian orang yang pernah melihat orang yang melihatku dan berteman dengan orang yang menemaniku". (HR. Ibnu Abi Syaibah, XII/178, Ibnu Abi 'Ashim, II/630, at-Thabarani dalam al-Kabir, XXII/85. Dihasankan oleh al-Hafidz Ibnu Hajar dalam al-Fath, VII/5. al-Hafidz al-Haitsami berkata dalam al-Majma', X/20: Diriwayatkan oleh at-Thabarani melalui beberapa jalur, dan salah satunya melalui perawi-perawi shahih).
Saudaraku, apakah dengan ketiadaan orang yang pernah melihat dan menemani Nabi saww di sisi kita adalah kecelakaan bagi umat ini?. Apakah ini jawaban dari keterbelakangan umat Islam, kelemahan iman, kemunduran akhlak dari mayoritas kita karena sudah tidak ada sahabat yang menjadi penjaga umat ini?. &lt;/div&gt;

&lt;div class="fullpost" align="justify"&gt;&lt;/div&gt;

&lt;div class="fullpost" align="justify"&gt;&lt;/div&gt;

&lt;div class="fullpost" align="justify"&gt;&lt;/div&gt;

&lt;div class="fullpost" align="justify"&gt;
Akh, maafkan saya, kalau lebih memilih firman Allah SWT yang suci dari pada ucapan yang belum terjamin kemutlakannya pernah disabdakan oleh Nabi-Nya. Allah SWT berfirman, "Demi masa. Sungguh, manusia berada dalam kerugian, kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan kebajikan serta saling menasehati untuk kebenaran dan saling menasehati dalam kesabaran." (Qs. Al-'Asr: 1-3). Ayat ini menegaskan manusia senantiasa berada dalam kebaikan selama mereka beriman, mengerjakan kebajikan, saling menasehati untuk kebenaran dan saling menasehati dalam kesabaran. Allah SWT tidak mempersyaratkan harus ada sahabat Nabi di antara kita untuk senantiasa berada dalam kebaikan. Bagi yang meyakini keshahihan hadits di atas, silahkan menjadikan hadits tersebut sebagai hujjah ketika umat lain bertanya, "Mengapa umat Islam saat ini tidak pernah bisa maju-maju, terbelakang dan tahunya mengekor saja." Jawab saja, "Karena tidak ada lagi sahabat yang menjadi penjaga umat ini, sebab kami tidak lagi berada dalam kebaikan, sahabat Nabi telah meninggalkan kami sejak 1300 tahun lalu." Syukur-syukur, jika mereka ketika mendengar jawaban ini tidak menertawakan.
"Dan mereka membuat tipu daya, maka Allah pun membalas tipu daya. Dan Allah sebaik-baik pembalas tipu daya." (Qs. Ali-Imran: 54). &lt;/div&gt;

&lt;div class="fullpost" align="justify"&gt;&lt;/div&gt;

&lt;div class="fullpost" align="justify"&gt;&lt;/div&gt;

&lt;div class="fullpost" align="justify"&gt;
&lt;strong&gt;&lt;span style="color:#ff0000;"&gt;Hadits Kelima:&lt;/span&gt;&lt;/strong&gt; &lt;/div&gt;

&lt;div class="fullpost" align="justify"&gt;&lt;/div&gt;

&lt;div class="fullpost" align="justify"&gt;&lt;/div&gt;

&lt;div class="fullpost" align="justify"&gt;
Dari Umar bin al-Khattab radhiallahu anhu, Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda: "Muliakanlah para sahabatku, karena sesungguhnya mereka adalah (generasi) terbaik kalian". HR. Abdun Ibnu Humaid dan al-Hakim dengan sanad Shahih. Lihat Misykat al-Mashabih, Syaikh al-Albani, III/1695
Saya tidak habis pikir, ketika menyabdakan ini Rasulullah berbicara dengan siapa?. Bukankah yang menjadi mukhatib (pendengar) langsung adalah sahabat sendiri, termasuk Umar bin Khattab ra yang meriwayatkan hadits ini. Ataukah hadits ini menunjukkan Umar bin Khattab ra bukan sahabat nabi, sehingga Rasulullah saww memesankan kepada beliau untuk memuliakan para sahabatnya?. Kalau pesan Rasul ini diperuntukkan kepada generasi setelah sahabat termasuk generasi kita, seharusnya teks hadits tersebut tidak seperti itu. Minimal berbunyi, "Sampaikan kepada generasi setelah kalian (sahabatku), bahwa mereka harus memuliakan kalian, karena kalian adalah generasi terbaik mereka." Problem semantik lainnya dari hadits ini, kalau generasi sahabat adalah generasi terbaik, maka kita sekarang ini sebagai generasi apa?. Bukankah semakin jauh jarak dengan generasi terbaik maka semakin jauh pula pada kebaikan?. Bisakah kita menerima bahwa umat Islam sesungguhnya mengalami evolusi regressif, makin hari makin mundur dan bukannya evolusi progressif, makin hari makin menuju kesempurnaan?. Saya pribadi menolaknya, sebab saya yakin suatu waktu umat Islam mencapai puncak kegemilangan peradaban. Itu pasti, dan umat Islam saat ini menuju kesana, meski dengan merangkak sekalipun. &lt;/div&gt;

&lt;div class="fullpost" align="justify"&gt;&lt;/div&gt;

&lt;div class="fullpost" align="justify"&gt;&lt;/div&gt;

&lt;div class="fullpost" align="justify"&gt;
&lt;strong&gt;&lt;span style="color:#ff0000;"&gt;Hadits Ketujuh:&lt;/span&gt;&lt;/strong&gt; &lt;/div&gt;

&lt;div class="fullpost" align="justify"&gt;&lt;/div&gt;

&lt;div class="fullpost" align="justify"&gt;&lt;/div&gt;

&lt;div class="fullpost" align="justify"&gt;
Dari Anas bin Malik radhiallahu anhu, dari Nabi shallallahu alaihi wasallam, beliau bersabda: "Tanda iman itu cinta kepada kaum Anshar dan tanda kemunafikan adalah membenci kaum Anshar". (HR. al-Bukhari, no. 3500, dan Muslim, no. 74).
Di dalam beberapa riwayat bahkan disebutkan secara eksplisit jaminan syurga kepada banyak sahabat, seperti yang disebut dalam hadits riwayat Imam at-Tirmidzi no. 4112 dan selainnya:
bersabda: “Abu Bakar di syurga, Umar di syurga, Utsman di syurga, Ali di syurga, Thalhah di syurga, Zubair di syurga, Abdurahman ibn Auf di syurga, Sa’ad (ibn Abi Waqqash) di syurga, Said (ibn Zaid ibn Amru ibn Nufail) di syurga, Abu Ubaidah ibn al-Jarrah di syurga”
Saya tidak menolak hadits ini. Kaum Anshar adalah kaum yang banyak memberikan kontribusi besar terhadap tumbuh berkembangnya Islam, dan menjadi perintis terbentuknya Daulah Islamiyah. Kita wajib mencintai mereka sebagaimana layaknya kecintaan kepada saudara-saudara kita seiman. Namun apakah yang dimaksud kaum Anshar dalam hadits Rasulullah tersebut yang kita wajib mencintainya adalah keseluruhan kaum Anshar tanpa terkecuali?. Berdasarkan firman suci Allah SWT, "Dan diantara penduduk Madinah (ada juga orang-orang munafik), mereka keterlaluan dalam kemunafikannya." (Qs. At-Taubah: 101) tentu saja yang dimaksud Rasulullah tidak semua kaum Anshar, sebab di antara mereka ada yang keterlaluan dalam kemunafikannya. Lalu bagaimana hadits ini bisa menjadi referensi penetapan hukum bahwa semua sahabat adil dan wajib mencintainya dan yang membencinya adalah tanda kemunafikan sementara diantara mereka ada yang munafik?.
Begitupun dengan riwayat yang menyebutkan secara eksplisit jaminan surga kepada banyak sahabat. Apakah riwayat-riwayat tersebut serta merta membenarkan pernyataan semua sahabat adalah ahli surga dan tak ada satupun yang ke neraka?. &lt;/div&gt;

&lt;div class="fullpost" align="justify"&gt;&lt;/div&gt;

&lt;div class="fullpost" align="justify"&gt;&lt;/div&gt;

&lt;div class="fullpost" align="justify"&gt;Allah SWT bertanya, "…Mengapa kamu (berbuat demikian)? Bagaimana kamu mengambil keputusan?" (Qs. Yunus : 35)&lt;/div&gt;

&lt;div class="fullpost" align="justify"&gt;&lt;/div&gt;

&lt;div class="fullpost" align="justify"&gt;&lt;/div&gt;

&lt;div class="fullpost" align="justify"&gt;
&lt;strong&gt;&lt;span style="color:#ff0000;"&gt;Menimbang Kejujuran Ulama Ahlus Sunnah&lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/div&gt;

&lt;div class="fullpost" align="justify"&gt;&lt;/div&gt;

&lt;div class="fullpost" align="justify"&gt;&lt;/div&gt;

&lt;div class="fullpost" align="justify"&gt;&lt;/div&gt;

&lt;div class="fullpost" align="justify"&gt;
Selanjutnya kita lihat fatwa-fatwa beberapa ulama Ahlus Sunnah yang menetapkan hukum bagi mereka yang mencela dan menghina sahabat.
Imam Malik rahimahullah berkata: “Mereka yang membenci para sahabat Rasulullah shallallahu alaihi wasallam adalah orang-orang kafir”.(Tafsir al-Qur'an al-Adzim, Ibnu Katsir V/367-368.)
Dengan fatwa ini, mari, mulai sekarang kita menetapkan kekafiran untuk Muawiyah dan anaknya Yazid. Apakah Muawiyah bin Abu Sufyan yang mengangkat senjata memerangi Imam Ali as -yang tercatat sebagai sahabat nabi dan Ahlul Bait beliau- dan memerintahkan kepada pengikut-pengikutnya untuk melaknat Imam Ali as di mimbar-mimbar masjid dengan semangat kecintaan dan bukan kebencian?. Ammar bin Yasir ra salah seorang sahabat nabi yang utama dan mulia terbunuh pada perang Siffin ditangan Muawiyah dan tentaranya. Dengan motivasi apa Yazid bin Muawiyah memerintahkan Muslim bin Uqbah dan bala tentaranya untuk menyerang kota Madinah dan menghalalkan mereka berbuat apa saja terhadap penduduk Madinah selama tiga hari?. Tragedi ini dikenal dengan sebutan Tragedi Al-Harrah yang mengakibatkan terbunuhnya sekitar tujuh ratus tokoh sahabat dari Muhajirin dan Anshar. Sayangnya, fatwa ini tidak untuk Muawiyah dan anaknya Yazid. Dengan hadits yang dibuat-buat, Muawiyah justru dikenal sebagai penulis wahyu Rasulullah, sahabat yang di do'akan Rasulullah saww akan senantiasa berada dalam petunjuk dan mampu memberi petunjuk dan akhirnya menjadi khalifah atas kaum muslimin dan kekafiran bagi mereka yang melaknatnya. Sedangkan Adz-Dzahabi berkata tentang Yazid, "Kita tidak mencela Yazid, tapi tidak pula mencintainya." Dan menurut mereka, selesailah persoalan. &lt;/div&gt;

&lt;div class="fullpost" align="justify"&gt;&lt;/div&gt;

&lt;div class="fullpost" align="justify"&gt;&lt;/div&gt;

&lt;div class="fullpost" align="justify"&gt;
Kita lihat fatwa berikutnya. &lt;/div&gt;

&lt;div class="fullpost" align="justify"&gt;&lt;/div&gt;

&lt;div class="fullpost" align="justify"&gt;&lt;/div&gt;

&lt;div class="fullpost" align="justify"&gt;
Imam Ahmad bin Hambal rahimahullah berkata: Wajib atas pemerintah memberi hukuman dan siksaan serta tidak boleh memberi maaf baginya (penghina sahabat). Bahkan harus menegakkan hukum dan memaksanya untuk bertaubat.(As-Sunnah, Ahmad bin Hambal, hal: 78, Tahqiq: Syaikh al-Albani, al-Maktab al-Islami, Beirut, th. 1400 H / 1980 M. )
al-Qadhi ‘Iyadh rahimahullah berkata: “Menghina salah satu dari mereka (sahabat) merupakan dosa besar. Menurut kami dan jumhur ulama, bahwa orang yang melakukan demikian pantas mendapat ta’ziir (hukuman setimpal menurut kebijaksanaan hakim). (Al-Syifa Bi Ta'riifi Huquq al-Mushtafa, II/653, tahqiq: Muhammad Amin Qurrah Ali, Muassassah Ulum al-Qur'an, Damaskus.)
Imam Ahmad bin Hambal dan al-Qadhi 'Iyadh mengeluarkan fatwa bahwa pemerintah dan hakim wajib memberikan hukum yang setimpal kepada mereka yang menghina sahabat nabi. Sekali lagi, ketika berhadapan dengan pemerintahan Muawiyah dan Yazid mereka hanya bungkam seribu bahasa. Di masa pemerintahan Muawiyah, Imam Hasan as ditemukan tergeletak tak bernyawa di rumahnya, penyebab kematiannya adalah racun yang menghancurkan ulu hatinya. Tak ada upaya dari Muawiyah selaku khalifah dan pemerintah saat itu untuk mengusut tuntas kasus ini, bahkan wasiat terakhir Imam Hasan as untuk dimakamkan di sisi makam Rasulullah saww kakeknya, tidak digubris khalifah dan dimakamkan di pemakaman Baqi. Sesuai fatwa Imam Ahmad bin Hambal wajib bagi Muawiyah menegakkan hukum dan memberi hukuman dan siksaan bagi pembunuh Imam Hasan as. Sebab pembunuhan lebih kejam dari penghinaan. Ataukah fatwa tersebut hanya berkenaan dengan penghinaan dan tidak untuk pembunuhan?. Mengapa tidak ada gugatan atas Muawiyah mengenai hal ini?. Apakah fatwa Imam Ahmad ini hanya berlaku untuk masa beliau dan sesudahnya dan tidak untuk masa sebelumnya. Bagi saya berpedoman dengan keputusan hukum Imam Ahmad, kita wajib melakukan gugatan kepada Muawiyah yang tidak melaksanakan kewajibannya sebagai khalifah yang berkewajiban melindungi warganya. Melaknatnya kalau perlu dan tidak boleh memberi maaf baginya. Soeharto sampai hari ini –meski telah berkalang tanah- terus mendapat penggugatan dan diminta untuk diadili, karena ia mewariskan sepah-sepah kekejian. Ia harus bertanggungjawab atas pembantaian jutaan warga yang diduganya PKI, pembantaian kaum muslimin di Tanjung Priok, Lampung, Aceh dan telah menyeret bangsa ini kekubangan krisis yang menanggung tumpukan hutang luar negeri. Apakah kita rela, jika dengan kezaliman-kezaliman ini Soeharto bukannya mendapat hukuman malah mendapat gelar sebagai pahlawan nasional dan diagungkan?.
Begitu juga pada masa pemerintahaan Yazid bin Muawiyah. Karbala mengisahkan tragedi berdarah dan menjadi saksi atas tertumpahnya darah dari keluarga suci Rasulullah dan beberapa sahabatnya yang setia. Yazid tidak memberi hukuman kepada Ubaidillah bin Ziyad kalaupun memang Yazid tidak ridha dengan tindakan gubernurnya itu. Bahkan selanjutnya lebih banyak lagi sahabat yang dibantai di Madinah dengan perintahnya. Mengapa para mufti kita ini melewatkan peristiwa ini begitu saja, dan tidak ada sama sekali kecaman kepada Muawiyah dan Yazid selaku khalifah yang sewenang-wenang dan dzalim dengan kekuasaannya. Allah SWT berfirman, "Ingatlah, laknat Allah ditimpakan atas orang-orang yang dzalim." (Qs. Hud: 18).
Imam al-Hafizh Adz-Dzahabi rahimahullah berkata dalam kitabnya al-Kabair hal. 352-353: “Barangsiapa yang mencaci dan menghina mereka (para shahabat), maka sungguh ia telah keluar dari agama Islam dan merusak kaum muslimin."&lt;/div&gt;

&lt;div class="fullpost" align="justify"&gt;&lt;/div&gt;

&lt;div class="fullpost" align="justify"&gt;&lt;/div&gt;

&lt;div class="fullpost" align="justify"&gt;
Benar, Muawiyah dan Yazid tidak sekedar menghina sahabat-sahabat nabi, namun juga sampai tingkat memerangi dan membunuhnya. Karenanya keduanya telah keluar dari Islam dan merusak kaum muslimin. Kalau dikatakan hukum ini tidak untuk Muawiyah karena dia juga sahabat nabi, apakah ini berarti sesama sahabat tidak apa-apa saling menghina dan saling berperang?. Lalu mana konklusinya dengan perintah kita harus ikut sahabat dalam iman dan amal?. Kalau sesama sahabat saling meghina, bukankah kita juga harus saling menghina?. Mereka mewariskan sunnah saling menumpahkan darah di antara mereka, mari kita saling berperang, sebagai ketaatan kita kepada hadits, "Yang selamat ialah orang yang mengikuti apa yang Aku lakukan dan dilakukan oleh sahabatku" (HR. Tirmidzi). Atau mari kita menyatakan perang terhadap Muawiyah, ajaran-ajaran dan pengagum-pengagumnya sebagaimana Imam Ali as memeranginya. Bukankah ada titah Rasulullah, "Sesungguhnya siapa yang hidup (lama) diantara kamu, maka ia akan melihat perselisihan yang banyak, maka ikutilah sunnahku, dan sunnah Khulafaur Raasyidin yang mendapat petunjuk". (Hadits Shahih Riwayat Tirmidzi). Dan tidak ada perselisihan sedikitpun bahwa diantara mereka yang termasuk Khulafaur Raasyidin adalah Imam Ali as, dan Muawiyah sama sekali tidak terhitung. Salah satu sunnah Imam Ali as selaku Khulafaur Raasyidin, adalah memerangi Muawiyah. Saya yakin, sekiranya sahabat Abu Bakar, Umar bin Khattab dan Utsman bin Affan (Radiyallahu anhum) masih hidup ketika perang berkecamuk antara pasukan Imam Ali as dan Muawiyah, nisacaya ketiga sahabat yang mulia ini akan berada pada barisan Imam Ali as. &lt;/div&gt;

&lt;div class="fullpost" align="justify"&gt;&lt;/div&gt;

&lt;div class="fullpost" align="justify"&gt;&lt;/div&gt;

&lt;div class="fullpost" align="justify"&gt;
Saya perlu menyertakan juga contoh lain. Dalam at-Tabaqot al-Kubra Jil:4 Hal:335, Siar a’alam an-Nubala’ Jil:2 Hal: 612, kita akan menemukan perselisihan tajam antara khalifah Umar ra dan Abu Hurairah. Umar bin Khattab berkata kepada Abu Hurairah “Wahai musuh Allah dan musuh kitab-Nya, engkau telah mencuri harta Allah”? (ya ‘aduwallah wa ‘aduwa kitabihi saraqta maalallah). Kecaman keras Umar bin Khattab ra ini karena betapa mudahnya Abu Hurairah dalam meriwayatkan hadits, ia seenaknya menetapkan hukum dengan menisbahkannya kepada Rasulullah saww. Khalifah Umar mengecam Abu Hurairah dan menyebutnya sebagai musuh Allah. Berdasarkan fatwa mayoritas ulama Ahlus Sunnah, apakah kecaman khalifah Umar ra terhadap Abu Hurairah yang terhitung sebagai sahabat nabi menyebabkan kekafirannya?. Kalau dikatakan tidak, sebab Umar bin Khattab ra adalah juga sahabat nabi, lalu apakah saya bisa disalahkan ketika saya selektif dan curiga terhadap setiap hadits yang diriwayatkan Abu Hurairah bahkan memberikan kecaman keras sebagaimana yang dilakukan khalifah Umar ra?. Bukankah Umar bin Khattab ra adalah salah seorang yang tercatat sebagai Khulafaur Raasyidin?. Benar-benar kontradiksi yang sangat akut. &lt;/div&gt;

&lt;div class="fullpost" align="justify"&gt;&lt;/div&gt;

&lt;div class="fullpost" align="justify"&gt;&lt;/div&gt;

&lt;div class="fullpost" align="justify"&gt;
Suatu hari, Abu Hurairah meriwayatkan satu hadis dengan mengucapkan: “Kekasihku (Rasulullah saww) telah berbicara kepadaku…”, lantas Imam Ali as berkata: “Sejak kapan beliau menjadi kekasihmu?” (al-Matholib al-Aliyah Jil:9 Hal:205) &lt;/div&gt;

&lt;div class="fullpost" align="justify"&gt;&lt;/div&gt;

&lt;div class="fullpost" align="justify"&gt;&lt;/div&gt;

&lt;div class="fullpost" align="justify"&gt;
al-Qadhi Abu Ya'la rahimahullah berkata: Yang merupakan pendapat para fuqaha (ahli Fiqhi Islam) tentang hukum menghina sahabat: Jika ia menghalalkan perbuatan tersebut maka ia kafir, namun jika tidak menghalalkan maka ia fasiq. (Hukmu Sabbi as-Shahabah, Ibnu Taimiyah, hal: 33.)
Fatwa ini menyatakan bahwa yang menghalalkan penghinaan terhadap sahabat maka kafir. Karenanya berdasarkan fatwa ini, bagi mereka yang menghalalkan perbuatan Muawiyah dan Yazid terlebih lagi mencari-cari dalih untuk membenarkan mereka, maka kafir. "Ya Allah lindungilah kami dari kekafiran dan dari menghalalkan perbuatan mereka yang menghina, memerangi dan membunuh sahabat nabi-Mu."&lt;/div&gt;

&lt;div class="fullpost" align="justify"&gt;&lt;/div&gt;

&lt;div class="fullpost" align="justify"&gt;&lt;/div&gt;

&lt;div class="fullpost" align="justify"&gt;
&lt;strong&gt;&lt;span style="color:#ff0000;"&gt;Renungan&lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/div&gt;

&lt;div class="fullpost" align="justify"&gt;&lt;/div&gt;

&lt;div class="fullpost" align="justify"&gt;&lt;/div&gt;

&lt;div class="fullpost" align="justify"&gt;
Di akhir tulisannya, Rahmat A. Rahman memberi renungan dengan menulis, "Generasi terbaik setiap nabi adalah sahabat-sahabat mereka, generasi terbaik Nabi Musa adalah sahabat dekat beliau, generasi terbaik Nabi Isa adalah kaum hawariyyun dan mereka adalah sahabat dekat beliau, maka bagaimana mungkin tuduhan kaum Syiah bahwa sebagian besar sahabat-sahabat Rasulullah saw. adalah kafir dan murtad sepeninggal beliau dapat diterima agama dan akal sehat ? Allahul Musta’an."&lt;/div&gt;

&lt;div class="fullpost" align="justify"&gt;&lt;/div&gt;

&lt;div class="fullpost" align="justify"&gt;&lt;/div&gt;

&lt;div class="fullpost" align="justify"&gt;
Sebuah renungan yang bijak. Namun apakah sesuai dengan kenyataan?. Kebanyakan ajaran-ajaran Nabi justru dirusak oleh sebagian dari sahabat-sahabat mereka. Samiri sebagai salah seorang sahabat terdekat Nabi Musa as dan dikenal sebagai tokoh terkemuka dikalangan Bani Israel, melakukan pengkhianatan dengan menyesatkan umat nabi Musa as. Samiri membuat patung anak sapi dari emas dan mengatakan, "Inilah Tuhanmu dan Tuhannya Musa, tetapi dia (Musa) telah lupa." (baca Qs. Taha: 88). Karena dekatnya kedudukan Samiri di sisi Musa dan karena ketokohannya, Bani Israel menganggap apa yang dikatakan Samiri berarti juga apa yang dikatakan Nabi Musa as. Mereka pun menuruti perkataan Samiri dan menyembah patung anak sapi tersebut. Mengetahui kenyataan ini, nabi Musa as kembali kepada kaumnya dengan marah dan bersedih hati. Kaumnya berdalih, "Kami tidak melanggar perjanjianmu dengan kemauan kami sendiri, …Samiri melakukannya, maka kami juga melakukannya."(baca Qs. Taha: 87). Perhatikan, nabi Musa as masih berada di tengah-tengah mereka, namun mereka telah berani mengubah-ubah ajarannya dengan pengubahan yang justru sangat bertolak belakang dengan nilai ketauhidan yang menjadi spirit ajaran nabi Musa as. Maka tidak heran, sepeninggal nabi Musa as, ajaran nabi Musa as tidak lagi dikenal sebagai ajaran tauhid dan Taurat mereka ubah sesuka hati mereka. Hanya sedikit dari kalangan mereka yang tetap setia dengan ajaran nabi Musa as, itupun tersingkirkan dan terpinggirkan. Diantaranya yang kisahnya sangat ma'ruf adalah Ashabul Kahfi, yang hanya berjumlah sekitar tujuh orang (Allah SWT yang lebih mengetahui jumlah pastinya), mereka adalah pemuda-pemuda yang harus tersingkir dan berlindung di dalam gua untuk mempertahankan aqidah mereka. &lt;/div&gt;

&lt;div class="fullpost" align="justify"&gt;&lt;/div&gt;

&lt;div class="fullpost" align="justify"&gt;&lt;/div&gt;

&lt;div class="fullpost" align="justify"&gt;
Nabi Isa as juga mengalami hal serupa. Yudas dikenal sebagai murid Nabi Isa as yang terbaik dari kalangan hawariyyun. Namun justru Yudas lah yang menunjukkan kepada tentara Romawi yang mencari dan ingin membunuh Nabi Isa as yang tidak mereka kenal. Dengan petunjuk itu, Nabi Isa as ditangkap dan dibawa ke hadapan Sanhendrin, Dewan Pengadilan Yahudi yang memutuskan Nabi Isa as harus disalib karena telah menghujat Tuhan. Dengan kekuasaan Allah SWT sebenarnya bukanlah Nabi Isa as yang disalib, melainkan Yudas -sang pengkhianat- sendiri yang diserupakan wajahnya dengan Nabi Isa as. Tentang ini Allah SWT berfirman, "dan (Kami hukum juga) karena ucapan mereka, "Sesungguhnya kami telah membunuh Al-Masih, Isa putra Maryam, Rasul Allah", padahal mereka tidak membunuhnya dan tidak (pula) menyalibnya, tetapi (yang mereka bunuh adalah) orang yang diserupakan dengan Isa." (Qs. An-Nisa': 157). Dan selanjutnya, Injil, kitab suci yang dibawa Nabi Isa as juga mengalami nasib serupa dengan Taurat. Saya ingin bertanya, siapa yang lebih mampu mengotak-atik ajaran Taurat dan Injil dan menyesatkan kaum Yahudi dan Nashrani dari ajaran tauhid?. Apakah musuh-musuh Nabi (yang kafir dan musyrik) bisa melakukannya dan kemudian mengajak kaum Yahudi dan Nashrani untuk meyakininya sebagai ajaran Nabi?. Yang bisa melakukannya hanyalah mereka yang dikenal sebagai orang terdekat Nabi as, mereka diyakini sebagai orang yang paling paham tentang ajaran Nabi as, sehingga sepeninggal Nabi as mereka dijadikan sumber rujukan. Sayangnya, pengkhianat dan kaum munafik selalu ada. Mereka ada dimana saja, tanpa memilih ras, suku dan agama. Mereka bisa muncul dikalangan Budha, Hindu, Kristen ataupun Islam, Sunni maupun Syiah. Di Arab, Eropa, Asia atau di Afrika, masa lalu, sekarang dan nanti. Munafik adalah mereka yang mencium tangan pemimpinnya karena belum punya kesempatan untuk menggigit. Dan disaat menggigit, mereka disebut pengkhianat. Orang-orang munafik dan pengkhianat, juga ada terselip diantara sahabat-sahabat terbaik nabi Muhammad saww. Berbeda dengan dua kitab samawi sebelumnya, Al-Qur'an sebagai kitab terakhir mendapat penjagaan ketat dari Allah SWT dari penyelewengan dan penyimpangan, maka satu-satunya cara untuk mengubah-ubah ajaran nabi adalah melalui sunnahnya.&lt;/div&gt;

&lt;div class="fullpost" align="justify"&gt;&lt;/div&gt;

&lt;div class="fullpost" align="justify"&gt;&lt;/div&gt;

&lt;div class="fullpost" align="justify"&gt;&lt;/div&gt;

&lt;div class="fullpost" align="justify"&gt;
Ulama-ulama dari kalangan Yahudi dan Nashrani disebut sebagai Ahlul Kitab karena penguasaan mereka terhadap kitab-kitab Allah SWT, yang dengan itu mereka mudah melakukan apa saja terhadap Taurat dan Injil. Mayoritas dari Ahlul Kitab, jika ayat-ayat dalam al-Kitab sesuai dengan keinginan mereka, mereka pertahankan dan jika tidak, mereka ubah sesuai hawa nafsu mereka. Ulama-ulama dari kalangan umat Islam, tidak bisa menyebut diri mereka sebagai Ahlul Kitab, karena mereka tidak memiliki penguasaan terhadap al-Kitab (baca: Al-Qur'an). Karena itu mereka menyebut diri sebagai ulama Ahlus Sunnah. Dengan penguasaan mereka terhadap sunnah nabi, mereka mudah melakukan apa saja. Mengkafirkan, menuduh, mengucilkan, memboikot dan memerangi. Sehingga 'Ashabul Kahfi' umat ini pun harus tersingkir dan berlindung dalam gua. &lt;/div&gt;

&lt;div class="fullpost" align="justify"&gt;&lt;/div&gt;

&lt;div class="fullpost" align="justify"&gt;
Ayat ini semoga bisa menjadi renungan. Untuk Ahlul Kitab, Ahlus Sunnah dan siapa saja. Allah SWT berfirman, ""Wahai Ahlul Kitab! Mengapa kamu mengingkari ayat-ayat Allah, padahal kamu mengetahui (kebenarannya)?, Wahai Ahlul Kitab, mengapa kamu mencampur adukkan kebenaran dengan kebatilan, dan kamu menyembunyikan kebenaran, padahal kamu mengetahui." (Qs. Ali-Imran: 70-71). &lt;/div&gt;

&lt;div class="fullpost" align="justify"&gt;&lt;/div&gt;

&lt;div class="fullpost" align="justify"&gt;&lt;/div&gt;

&lt;div class="fullpost" align="justify"&gt;
"Les to’a serbet", sebuah pepatah Perancis,"Sejarah selalu berulang".

&lt;/div&gt;

&lt;div class="fullpost" align="justify"&gt;

Selesai di tulis di Qom, 17 Safar 1429 H/ 25 Bahman 1387 HS/ 13 Februari 2009 M. &lt;/div&gt;

&lt;div class="fullpost" align="justify"&gt;&lt;/div&gt;

&lt;div class="fullpost" align="justify"&gt;&lt;/div&gt;

&lt;div class="fullpost" align="justify"&gt;&lt;/div&gt;

&lt;div class="fullpost" align="justify"&gt;
Hormat Saya&lt;/div&gt;

&lt;div class="fullpost" align="justify"&gt;&lt;/div&gt;

&lt;div class="fullpost" align="justify"&gt;&lt;/div&gt;

&lt;div class="fullpost" align="justify"&gt;
Ismail Amin&lt;/div&gt;

&lt;div class="fullpost" align="justify"&gt;&lt;/div&gt;

&lt;div class="fullpost" align="justify"&gt;&lt;/div&gt;

&lt;div class="fullpost" align="justify"&gt;
Mahasiswa Mostafa International University Republik Islam Iran&lt;/div&gt;

&lt;div class="fullpost" align="justify"&gt;&lt;/div&gt;

&lt;div class="fullpost" align="justify"&gt;&lt;/div&gt;

&lt;div class="fullpost" align="justify"&gt;&lt;/div&gt;

&lt;div class="fullpost" align="justify"&gt;
&lt;strong&gt;&lt;span style="color:#ff0000;"&gt;Catatan tambahan:
&lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;Rahmat A. Rahman menukil dalam artikelnya riwayat-riwayat dalam kitab-kitab Syiah yang mencela dan menghina sahabat. Saya merasa tidak perlu menanggapinya, sebab Rahmat A. Rahman sendiri meyakini orang-orang Syiah adalah orang-orang yang paling keterlaluan dalam berdusta. Jadi sebenarnya buat apa dinukil, bukankah itu hanyalah tebaran kedustaan?.

&lt;/div&gt;
&lt;div class="fullpost" align="justify"&gt;Tulisan Rahmat A. Rahman di muat di &lt;a href="http://www.wahdah.or.id/"&gt;http://www.wahdah.or.id/&lt;/a&gt;







&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6808511174156263273-2115927326479047399?l=abi-azzahra.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://abi-azzahra.blogspot.com/feeds/2115927326479047399/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=6808511174156263273&amp;postID=2115927326479047399&amp;isPopup=true' title='4 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6808511174156263273/posts/default/2115927326479047399'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6808511174156263273/posts/default/2115927326479047399'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://abi-azzahra.blogspot.com/2009/02/sahabat-rasulullah-saww-menurut-al.html' title='Sahabat Rasulullah saww Menurut Al-Qur&apos;an dan As-Sunnah (2)'/><author><name>Ismail Amin</name><uri>http://www.blogger.com/profile/00461561157182799656</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://bp0.blogger.com/_b535izL1kDU/R54Ij8cN26I/AAAAAAAAAA8/7WbjvsXb9Tg/S220/Aku.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/_b535izL1kDU/SZVyCsHGUtI/AAAAAAAAAlc/ulWbspghGT4/s72-c/d9b3a807158e41ec.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>4</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6808511174156263273.post-7876680240472278118</id><published>2009-02-10T05:21:00.000-08:00</published><updated>2009-02-10T05:34:12.918-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Agama'/><title type='text'>Iran dan Revolusi yang Belum Selesai</title><content type='html'>&lt;a href="http://4.bp.blogspot.com/_b535izL1kDU/SZGBFLNMIgI/AAAAAAAAAk0/EhOPmZNm23Y/s1600-h/imam(rah)+0107.jpg"&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5301160162299224578" style="FLOAT: left; MARGIN: 0px 10px 10px 0px; WIDTH: 320px; CURSOR: hand; HEIGHT: 238px" alt="" src="http://4.bp.blogspot.com/_b535izL1kDU/SZGBFLNMIgI/AAAAAAAAAk0/EhOPmZNm23Y/s320/imam(rah)+0107.jpg" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;

&
