27 Oktober, 2008

Kembali Kepada Al-Qur'an dan Ahlul Bait

Rasulullah Saw bersabda: "Sesungguhnya aku telah meninggalkan buat kalian dua hal yang berharga; Kitab Allah dan Itrah; Ahlul Baitku. Selama berpegang pada keduanya kalian tidak akan tersesat selama-lamanya. Dan keduanya juga tidak akan berpisah hingga menjumpaiku di telaga Kautsar kelak di Hari Kiamat."
(H.R. Sahih Muslim : jilid 7, hal 122. Sunan Ad-Darimi, jilid 2, hal 432. Musnad Ahad, jilid 3, hal 14, 17, 26 dan jilid 4, hal 371 serta jilid 5, hal 182 dan 189. Mustadrak Al-Hakim, jilid 3, hal 109, 147 dan 533, juga terdapat di dalam kitab-kitab induk hadis yang lain)
Sepanjang sejarah perjalanan umat manusia, polemik dan perbedaan pendapat telah menjadi keniscayaan tersendiri yang tak terelakkan. Adanya paradigma (cara pandang) yang berbeda pada umat manusia adalah konklusi dari dua jalan (kebajikan dan kejahatan) yang telah diilhamkan Allah Swt dalam diri setiap manusia (baca Qs. 90:10). Oleh karenanya, keberadaan tolok ukur kebenaran yang menjadi rujukan semua pihak adalah suatu keniscayaan pula, yang eksistensinya bagian dari hikmah Ilahi. Allah Swt telah menurunkan kitab pedoman yang merupakan tolok ukur kebenaran dan menjadi penengah untuk menyelesaikan berbagai hal yang diperselisihkan umat manusia. Allah SWT berfirman : “Manusia itu (dahulunya) satu umat. Lalu Allah mengutus para Nabi (untuk) menyampaikan kabar gembira dan peringatan. Dan diturunkan-Nya bersama mereka kitab yang mengandung kebenaran, untuk memberi keputusan diantara manusia tentang perkara yang mereka perselisihkan.” (Qs. Al-Baqarah [2]: 213). Ayat ini menjelaskan bahwa manusia tanpa bimbingan dan petunjuk Ilahi akan berpecah belah dan bergolong-golongan meskipun pada dasarnya berasal dari satu umat yang sama. Penggalan selanjutnya pada ayat yang sama menjelaskan pula, bahwa kedengkian dan memperturutkan hawa nafsulah yang menyebabkan manusia terlibat dalam perselisihan dan perpecahan. Kebijaksanaan Ilahilah yang kemudian menurunkan sang Penengah (para nabi as) yang membawa kitab-kitab yang menerangi. Kitab-kitab Ilahiah terutama Al-Qur’an memberikan petunjuk dan arahan yang jelas tentang kebenaran yang seharusnya ditempuh umat manusia. Namun hawa nafsu, kedengkian, kedurhakaan dan juga kebodohan telah menjerumuskan manusia jauh berpaling dari mata air jernih kebenaran.
Islam sebagai ajaran Ilahi yang abadi dan berlaku hingga akhir zaman terangkum dalam teks-teks Al-Qur’an dan tutur kata dan laku Rasulullah yang tak satupun yang darinya melainkan wahyu Ilahi semata. Rasulullah Saw diperintahkan Allah Swt untuk mengucapkan, “Aku hanyalah mengikuti apa yang diwahyukan kepadaku, dan aku adalah pemberi peringatan yang menjelaskan.” (Qs. Al-Ahqaf : 9). Di ayat lain dijelaskan, “Kawanmu (Muhammad) tidak sesat dan tidak (pula) keliru, dan tidaklah yang diucapkannya itu menurut keinginannya, melainkan wahyu yang diwahyukan kepadanya.” (Qs. An-Najm: 2-4). Keberadaan Nabi Muhammad SAW di tengah-tengah umat manusia di masanya menjadi penengah dan hakim atas segala persoalan yang diperselisihkan. Begitu pula dengan hal-hal yang sebelumnya tidak diketahui menjadi terjelaskan secara terperinci oleh Rasulullah. Allah Swt berfirman, "Dan Kami tidak menurunkan kepadamu al-Kitab ini, melainkan agar kamu dapat menjelaskan kepada mereka apa yang mereka perselisihkan itu dan menjadi petunjuk dan rahmat bagi kaum yang beriman." (Qs. An-Nahl : 64). Hal yang patut diperhatikan pada ayat tersebut bahwa al-Kitab yang diturunkan butuh kepada seseorang yang menjelaskan. Al-Qur’an butuh penafsir, butuh pengulas yang menjelaskan secara terperinci maksud dan makna setiap ayat yang tersurat, dan tentu saja penafsir dan penjelas maksud al-Qur’an ini adalah orang yang memiliki ilmu dan pemahaman Ilahiah sehingga tidak bertentangan atau tidak meleset sedikitpun dari maksud sebenarnya yang ditujukan Allah Swt yang tersurat pada ayat-ayat Al-Qur’an, sebagaimana firman Allah Swt, ”Maka bertanyalah kalian kepada Ahlul kitab jika kalian tidak mengetahui.” (QS.21:7, 16:43). Semasa hidup Rasulullah, beliaulah yang menjadi pengulas firman-firman Allah Swt sehingga terpahami oleh kaum muslimin dan umat manusia secara umum. Hal inipun menjadi kesepakatan tak terbantahkan seluruh kaum muslimin tanpa terkecuali bahwa Rasulullah yang paling mengetahui makna tersirat maupun tersurat dari setiap ayat-ayat Al-Qur’an dan menaati Rasul pada hakikatnya taat kepada Allah Swt. “Barang siapa yang menaati Rasul (Muhammad) maka sesungguhnya dia telah menaati Allah.” (Qs. An-Nisaa’ : 80).
Di ayat yang lain, “...Kemudian, jika kamu berbeda pendapat tentang sesuatu, maka kembalikanlah kepada Allah dan Rasul, jika kamu beriman kepada Allah dan hari kemudian.” (Qs. An-Nisaa’ : 59). Yang menjadi persoalan selanjutnya adalah nasib umat manusia sepeninggal Rasulullah Saw. Siapakah yang melanjutkan tugas Rasulullah sebagai penengah setiap perselisihan yang terjadi sementara perselisihan adalah keniscayaan sejarah yang akan berlangsung sepanjang umur umat manusia ?. Ditutupnya kenabian hanya bisa sesuai dengan hikmah dan falsafah diutusnya para nabi bila syariat samawi yang terakhir tersebut memenuhi seluruh kebutuhan umat manusia, disetiap masa dan disetiap tempat. Al-Qur'an sebagai kitab samawi terakhir telah dijamin oleh Allah Swt keabadian dan keutuhannya dari berbagai penyimpangan hingga akhir masa. Akan tetapi secara zahir Al-Qur'an tidak menjelaskan hukum-hukum dan ajaran Islam secara mendetail. Oleh karenanya penjelasan perincian hukum menjadi tanggung jawab nabi untuk menerangkannya kepada seluruh umatnya. Sewaktu Nabi Muhammad Saw masih hidup tanggungjawab itu berada dipundaknya. Karena itu hadits-hadits Nabi Muhammad Saw menjadi hujah dan sumber autentik ajaran Islam. Namun apakah semasa hidupnya, Rasulullah Saw telah menjelaskan seluruh hukum dan syariat Islam kepada seluruh umat ?. Kalau tidak semua, siapa yang bertanggung jawab untuk menjelaskannya ?. Siapa pula yang bertanggungjawab menengahi silang sengketa sekiranya terjadi penafsiran yang berbeda tentang ayat-ayat Al-Qur'an dalam tubuh umat Islam?.
Kita sulit menerima jika dikatakan tanggung jawab penjelasan syariat Islam pasca wafatnya Rasul jatuh ketangan para sahabat. Sementara untuk contoh sederhana sahabat sendiri berbeda pendapat bagaimana cara Rasululullah melakukan wudhu dan shalat yang benar, padahal Rasul mempraktikkan wudhu dan shalat bertahun-tahun di hadapan mereka. Untuk persoalan wudhu saja mereka menukilkan pendapat yang berbeda-beda, karenanya pada masalah yang lebih rumit sangat mungkin terjadi penukilan yang keliru. Ataupun tanggungjawab penafsiran Al-Qur'an jatuh kepada keempat imam mazhab yang untuk sekedar menafsirkan apa yang dimaksud debu pada surah Al-Maidah ayat 6 saja sulit menemukan kesepakatan. Kata mazhab Syafi'i debu meliputi pasir dan tanah, tanah saja kata Hanbali; tanah, pasir, batuan, salju dan logam kata Maliki; tanah, pasir dan batuan kata Hanafi (al-Mughniyah, 1960; Al-Jaziri, 1986). Islam hanya dapat ditawarkan sebagai agama yang sempurna, yang dapat memenuhi segala kebutuhan manusia jika didalam agama itu sendiri tidak terdapat perselisihan dan perpecahan. Karenanya, hikmah Ilahi meniscayakan adanya orang-orang yang memiliki kriteria seperti yang dimiliki nabi Muhammad Saw untuk memberikan bimbingan kepada umat manusia disetiap masa tentunya selain syariat. Ilmu yang mereka miliki tidak terbatas dengan apa yang pernah disampaikan Nabi Muhammad Saw (sebagaimana maklum Nabi tidak sempat menjelaskan semua tentang syariat Islam) namun juga memiliki potensi mendapatkan ilmu langsung dari Allah Swt ataupun melalui perantara sebagaimana ilham yang diterima Siti Maryam dan ibu nabi Musa as (Lihat Qs. Ali-Imran : 42, Thaha:38).
Mereka menguasai ilmu Al-Qur'an sebagaimana penguasaan nabi Muhammad Saw sehingga ucapan-ucapan merekapun merupakan hujjah dan sumber autentik ajaran Islam. Masalah ini berkaitan dengan Al-Qur'an sebagai mukjizat, berkaitan dengan kedalaman dan ketinggian Al-Qur'an, sehingga hukumnya membutuhkan penafsir dan pengulas. Al-Qur'an adalah petunjuk untuk seluruh ummat manusia sampai akhir zaman karenanya akan selalu berlaku dan akan selalu ada yang akan menjelaskannya sesuai dengan pengetahuan Ilahi. "Sungguh, Kami telah mendatangkan kitab (Al-Qur'an) kepada mereka, yang Kami jelaskan atas dasar pengetahuan, sebagai petunjuk dan rahmat bagi orang-orang yang beriman." (Qs. Al-A'raf : 52).
Dengan pemahaman seperti ini maka jelaslah maksud dari penggalan hadits Rasulullah,”Kutinggalkan bagi kalian dua hal yang berharga, Al-Qur’an dan Ahlul Baitku.” (HR. Muslim). Bahwa keduanya Al-Qur’an dan Ahlul Bait adalah dua hal yang tak terpisahkan hingga hari kiamat, memisahkan satu sama lain akibatnya adalah kesesatan dan di luar dari koridor ajaran Islam itu sendiri. Rasul menyebut keduanya (Al-Qur'an dan Ahlul Baitnya) sebagai Tsaqalain yakni sesuatu yang sangat berharga. Keduanya saling melengkapi dan tidak dapat dipisahkan, apalagi oleh sekedar perkataan Umar bin Khattab pada saat Rasulullah mengalami masa-masa akhir dalam kehidupannya, bahwa Al-Qur'an sudah cukup bagi kita. Rasulullah menjamin bahwa siapapun yang bersungguh-sungguh dan berpegang pada kedua tsaqal ini, maka tidak akan pernah mengalami kesesatan. Kemunduran dan penyimpangan kaum muslimin terjadi ketika mencoba memisahkan kedua tsaqal ini.
Dari sini jelas, menurut hadits Rasulullah Ahlul Baitlah yang meneruskan tugas Rasulullah untuk menjelaskan secara terperinci ayat-ayat Al-Qur'an. Penerus nabi adalah orang-orang tahu interpretasi ayat-ayat Al-Qur'an sesuai dengan makna sejatinya, sesuai dengan karakter esensial Islam, sesuai yang dikehendaki Allah Swt. Imam Ali As dalam salah satu khutbahnya yang dihimpun dalam Nahj Balaqah, khutbah ke-4, "Melalui kami kalian akan dibimbing dalam kegelapan dan akan mampu menapakkan kaki di jalan yang benar. Dengan bantuan kami kalian dapat melihat cahaya fajar setelah sebelumnya berada dalam kegelapan malam. Tulilah telinga yang tidak mendengarkan seruan (nasihat) sang pemandu". Tentang Imam Ali As Rasulullah bersabda, "Aku adalah kota ilmu, sedangkan Ali adalah pintunya. Barang siapa yang menghendaki ilmu, hendaklah ia mendatangi pintunya" Hadits ini disepakati keshahihannya oleh kaum muslimin sebab banyak terdapat dalam kitab-kitab hadits, diantaranya At-Thabari, Hakim, Ibnu Hajar, Ibnu Katsir dan lainnya. Umar bin Khattab pun mengakui keilmuan Imam Ali as sebagaimana yang diriwayatkan Ath-Thabari, Al-Kanji Asy-Syati'i dan As-Shuyuti dalam kitabnya masing-masing, "Dari sanad Abu Hurairah, Umar bin Khattab berkata, "Ali adalah orang yang paling mengetahui di antara kami tentang masalah hukum. Aku mengetahui hal itu dari Rasulullah maka sekali-kali aku tidak akan pernah meninggalkannya" Dalil yang menyatakan bahwa tidak hanya Rasulullah yang mengetahui makna Ilahiah Al-Qur'an, maksud sebagaimana yang diinginkan Allah Swt terdapat dalam ayat, "Sebenarnya (Al-Qur'an) itu adalah ayat-ayat yang jelas dalam dada orang-orang berilmu." (Qs. Al-Ankabut : 49). Dan Ahlul Baitlah yang dimaksud dengan orang-orang berilmu tersebut.
Imam Ja’far Ash-Shadiq As menjelaskan, sebagaimana yang kita temukan dalam Ushul Al-Kafi pada riwayat yang diterima dari Sadir; “Aku berkata kepada Imam Ja’far As-Shadiq : “Orang-orang menganggap tuan-tuan sebagai Tuhan.” Beliau pun menjawab, “Wahai Sadir, pendengaranku, penglihatanku, kemanusiaan, daging, darah dan rambutku, berlepas diri dari apa yang dituduhkan orang-orang itu, dan Allah pun berlepas diri dari mereka. Orang-orang itu tidak berada dalam agamaku dan agama kakek-kakekku.” Akupun bertanya pula, “Kalau begitu siapakan tuan-tuan ini?” Imam menjawab, “Kami adalah pengejewantahan perintah Allah. Kami adalah hujjah yang tak terbantah bagi makhluk di bawah langit dan di atas bumi.” Hadits ini dapat diartikan bahwa bagi siapapun yang bertauhid dan beriman kepada Islam, maka wajib atasnya untuk menyembah Allah di bawah petunjuk agama ini serta beragama berdasar pada asasnya. Sementara para Imam dari kalangan Ahlul Bait Nabi adalah pengejewantahan dari petunjuk Ilahiah itu yang dengannya kita akan merujuk dan menjalani proses kehidupan berdasarkan apa-apa yang telah mereka contohkan.
Atas dasar ini, Al-Quran telah menyodorkan obor bagi umat yang dapat digunakan selepas kepergian Rasulullah; obor yang dapat menuntun manusia mengikuti jejak yang pernah ditinggalkan oleh beliau dan dapat memberikan bantuan kepada mereka dalam rangka memahami dan menafsirkannya. Obor itu tak lain adalah Ahlul Bait As. Mereka adalah pribadi-pribadi yang telah disucikan dari segala kotoran dan noda, manusia-manusia yang kepada kakek mereka Al-Quran diturunkan, mereka menerima langsung ajaran ilahi dari beliau dan memahaminya dengan penuh kesadaran dan amanah, dan mereka telah dianugerahi hal-hal yang tidak diberikan kepada siapa pun. "Mereka (para malaikat) berkata, "Mengapa engkau merasa heran tentang ketetapan Allah ? (itu adalah) rahmat dan berkah Allah, dicurahkan kepada kamu, wahai Ahlul Bait! Sesungguhnya Allah Maha terpuji dan Maha Pengasih." (Qs. Hud : 73).
Sebagaimana Rasulullah telah menegaskan kepemimpinan mereka secara global dalam hadis Tsaqalain, mereka telah berupaya semaksimal mungkin menjaga syariat Islam dan Al-Quran dari pemahaman dan interpretasi yang keliru. Mereka juga tekun menjelaskan konsep-konsep agung. Maka itu, mereka adalah rujukan umat Islam, mereka menepis segala kerancuan, menerima pertanyaan, meredam berbagai provokasi dengan penuh ketabahan dan kecemerlangan jiwa. Imam Ali as berkata, "Pengetahuan masuk ke mereka, sehingga mereka mempunyai pengetahuan mendalam tentang kebenaran." Mereka memiliki pengetahuan bukan hasil belajar dan terlepas dari kekeliruan. Meminjam istilah Ali Syariati, Revolusi tauhid ini gugusannya dimulai oleh Nabi Ibrahim As, diledakkan secara sempurna oleh nabi Muhammad Saw dan dipertahankan hidup oleh keturunan-keturunan Rasulullah Saw oleh kesyahidan dan pengorbanan putra-putri tercinta nabi yang berakhir pada revolusi Mahdi Afs kelak dipenghujung zaman.
Satu kesimpulan yang tegas, memisahkan Al-Qur’an dan Ahlul Bait adalah penyimpangan. Islam adalah keduanya yang tidak akan terpisah hingga akhir zaman, hingga kehadiran keturunan Rasulullah yang terakhir, Imam Mahdi Afs yang dinanti-natikan. Ahlul Bait adalah madrasah yang paling komplit yang mengandung berbagai khazanah keislaman. Madrasah ini telah terbukti menghasilkan kader-kader yang mumpuni dan telah mempersembahkan karya-karya cemerlang bagi kehidupan umat manusia. Imam Ja’far Shadiq (fiqh), Jalaluddin Rumi (tasawuf), Ibnu Sina (kedokteran), Mulla Sadra (Filsafat), Allamah Taba’tabai (tafsir) dan Imam Khomeini (politik), sebagian kecil orang-orang besar yang terlahir dari madrasah ini.
Wallahu 'alam bishshawaab

1 komentar:

elfizonanwar mengatakan...

Dlm Al Quran yang menyebut 'ahlulbait', rasanya ada 3 (tiga) ayat dan 3 surat.

1. QS. 11:73: Para Malaikat itu berkata: "Apakah kamu merasa heran tentang ketetapan Allah? (Itu adalah) rahmat Allah dan kebrkatan-Nya, dicurahkan atas kamu, hai ahlulbait. Sesungguhnya Allah Maha Terpuji lagi Maha Pemurah".

Ayat ini jika dikaitkan dengan ayat sebelumnya, maka makna 'ahlulbait' adalah terdiri dari isteri dari Nabi Ibrahim.

2. QS. 28:12: Dan Kami cegah Musa dari menyusu kepada perempuan-perempuan yang mau menyusukan(nya) sebelum itu; maka berkatalah Saudara Musa: 'Maukahkamu aku tunjukkan kepadamu 'ahlulbait' yang akan memeliharanya untukmu, dan mereka dapat berlaku baik kepadanya?

Ayat ini jika dikaitkan dengan ayat sebelumnya, maka makna 'ahlulbait' adalah meliputi Ibu kandung Nabi Musa As. atau ya Saudara kandung Nabi Musa As.

3. QS. 33:33: "...Sesungguhnya Allah bermaksud hendak menghilangkan dosa dari kamu 'ahlulbait' dan membersihkan kamu sebersih-bersihnya".

Ayat ini jika dikaitkan dengan ayat sebelumnya QS. 33: 28, 30 dan 32, maka makna para ahlulbait adalah para isteri Nabi Muhammad SAW. Sedangkan ditinjau dari sesudah ayat 33 yakni QS. 33:34, 37 dan 40 maka penggambaran ahlulbaitnya jadi mencakup keluarga besar Nabi Muhammad SAW. para isteri dan anak-anak beliau.

Coba baca catatan kaki dari kitab: Al Quran dan Terjemahannya, maka ahlulbaik yaitu hanya ruang lingkup keluarga rumah tangga MUHAMMAD RASULULLAH SAW. Rumah tangga Nabi Muhammad SAW itu yang bagaimana?

Dan jika kita kaitkan dengan makna ketiga ayat di atas dan bukan hanya QS. 33:33, maka ruang lingkup ahlul bait tersebut sifatnya universal menjadi:

1. Kedua orang tua Saidina Muhammad SAW, sayangnya kedua orang tua beliau ini disaat Saidina Muhammad SAW diangkat sbg 'nabi' sudah meninggal terlebih dahulu.

2. Saudara kandung Saidina Muhammad SAW, tapi sayangnya saudara kandung beliau ini, tak ada karena beliau 'anak tunggal' dari Bapak Abdullah dengan Ibu Aminah.

3. Isteri-isteri beliau.

4. Anak-anak beliau baik perempuan maupun laki-laki. Khusus anak lelaki beliau, sayangnya tak ada yang hidup sampai anaknya dewasa, sehingga anak lelakinya tak meninggalkan keturunan.

Seandainya ada anak lelaki beliau yang berkeluarga, ada anak lelaki pula, wah ini masalah pewaris tahta 'ahlul bait' akan semakin seru. Mungkin inilah salah satu mukjizat atau hikmah, mengapa Saidina Muhammad SAW tak diberi oleh Allah SWT anak lelaki sampai dewasa dan berketurunan?. Pasti, perebutan tahta ahlul baitnya akan semakin dahsyat jadinya.

Bagaimana tentang pewaris tahta 'ahlul bait' dari Bunda Fatimah?. Ya jika merujuk pada QS. 33:4-5, jelas bahwa Islam tidaklah mengambil garis nasab dari perempuan kecuali bagi Nabi Isa Al Masih yakni bin Maryam. Lalu, apakah anak-anak Bunda Fatimah dengan Saidina Ali boleh kita nasabkan kepada nasabnya Bunda Fatimah, ya jika merujuk pada Al Quran tidak bisalah.

Kalaupun kita paksakan, bahwa anak Bunda Fatimah juga ahlul bait, karena kita mau mengambil garis dari perempuannya (Bunda Fatimah), maka ya seharusnya pemegang waris tahta ahlul bait diambil dari anak perempuannya seperti Zainab, bukan Hasan dan Husein sbg penerima warisnya. Jadi sistim nasab yang diterapkan itu tidan sistim nasab berzigzag, setelah nasab perempuan lalu lari kembali ke nasab laki-laki.