29 Desember, 2008

Hapus Israel dari Peta Dunia

Mari berkelana ke Timur Tengah, penggalan dunia yang berkisah tentang banyak hal. Di sana, ribuan tahun lalu, tiga agama besar dunia lahir dan peradaban moral dimulai, dibangun dan ditinggikan. Namun, di sana pula, kedustaan, kesombongan dan kezaliman yang tak terperikan ditebar hingga kini.

Sejenak kita mampir di Afghanistan. Afghanistan adalah negara kaya yang letaknya sangat strategis dan punya akses langsung dengan laut Kaspia yang kaya minyak. Negeri yang dulu dikenal dengan panorama alamnya yang indah, peradaban yang luhur serta sumbangsihnya terhadap perkembangan kemajuan dunia, oleh ketamakan dan kerakusan kini hanya menjadi cerita panjang tentang darah dan airmata. Selama berabad-abad, mereka didera oleh perang tak berkesudahan. Meskipun rezim Taliban telah runtuh bersamaan dengan invasi AS yang memporakporandakan negara mereka. Namun mereka belum juga bisa menentukan nasib bangsa mereka sendiri.
Selanjutnya kita ke Irak. Negeri yang tak perlu banyak diceritakan lagi tentang kemajuan dan kecemerlangan peradaban yang dimilikinya dimasa silam. Negeri seribu satu malam ini kini hanya bisa bercerita tentang seribu satu sayatan luka rakyatnya yang belum juga kering. Dan mari kita berlama-lama di Palestina. Tengoklah negeri ini, selama 60 tahun Israel telah menjadikannya panggung monolog mementaskan drama nyata tragedi kemanusiaan yang tak berkesudahan. Kita baru-baru ini menyaksikan apa yang menimpa penduduk Gaza. Pembunuhan massal, keterusiran, blokade ekonomi dan militer telah menghalangi sebuah bangsa untuk tumbuh dan berkembang. Jet-jet tempur Rezim Zionis Israel tak henti-hentinya menggempur sejumlah kawasan di Jalur Gaza yang menjadikan ratusan orang hancur menjadi debu dan darah dalam waktu singkat. Mereka tidak cukup puas hanya sekedar memblokade jalur Gaza sejak 17 Januari 2008.
Sampai saat ini, kaum pengungsi Palestina nyaris berjumlah 4 juta orang, di luar populasi keseluruhan bangsa Palestina yang mendekati angka 10 juta. Mereka yang jutaan orang harus hidup dalam kamp-kamp pengungsian yang sangat tidak layak, sementara hak pulang mereka hingga detik ini masih dirampas secara internasional. Di Tepi Barat, Israel bahkan terus melanjutkan proyek akuisisi lahan demi mewujudkan mimpi fasis “pemukiman eksklusif Israel” dan “jalan khusus Israel”.
Sudah banyak upaya untuk menciptakan perdamaian di Palestina. Minimalnya ada dua perjanjian penting yang pernah ditandatangani kedua pihak, Perjanjian Oslo I dan Perjanjian Oslo II. Namun sampai detik ini perdamaian belum juga terwujud. Rumitkah konflik ini ?.
Absurditas Pengakuan atas Israel
Satu hal yang membuat konflik ini terlihat rumit adalah secara sengaja kita terjebak dalam amnesia bersama. Kita harus memulainya dari apa yang telah memicu kelahiran Israel sebagai sebuah negara yang dicangkokkan secara paksa di Palestina dan berbagai tindakan anti-kemanusiaan yang menyertainya. Amnesia sejarah ini terkadang membuat kita tanpa sadar menyalahkan Palestina, apa sulitnya mengakui kedaulatan Israel dan hidup berdampingan secara damai dan tidak mengganggu ketenangan rakyat sipil Israel dengan bom-bom bunuh diri dan tindakan terorisme lainnya. Kita lihat faktanya, pada pagi buta, 9 April 1948, tiga milisi Zionis internasional, Haganah, Irgun, dan Stern Gang menyerang sebuah desa Palestina, Deir Yassin, yang berada di sebelah barat Yerusalem. Lebih dari 100 orang dibantai secara tragis. Teror ini berlangsung dari hari kehari, karena mencemaskan hidup mereka, sebagian besar meninggalkan tanah historis yang telah dihuni berabad-abad. Tak lebih dari setahun, dengan gerak cepat, Milisi Rezim Zionis memobilisasi pemindahan Yahudi dari seantero dunia ke rumah-rumah dan tanah-tanah rakyat Palestina yang ditinggalkan. Ketika Israel mendeklarasikan diri 60 tahun lalu, lebih dari 700,000 Palestina terusir sementara 78 persen tanah historis Palestina terhapus dari peta dan berubah nama menjadi “Israel”. Karenanya dari sini, sangat absurd jika harus memberi pengakuan keabsahan (right) Israel untuk eksis. Menuntut bangsa Palestina untuk melakukan itu sebagai upaya perdamaian, sama saja memaksa mereka mengakui bahwa mereka layak untuk diusir dari tanah-tanah mereka, dibantai, diblokade, dan ditindas sekejam-kejamnya.
Alasan lainnya, pengakuan atas Israel, menurut seorang pengacara internasional, John V Whitbeck, mengandung problem linguistic (Irman Abdurrahman, 2007). Persoalannya, Israel sampai saat ini adalah satu-satunya negara yang tidak memiliki batasan geografis yang jelas. Keberadaan Israel yang mana yang harus diakui ? Apakah 55 persen tanah Palestina yang ditetapkan oleh Majelis Umum PBB pada 1947 sebagai negara Israel? Apakah 78 persen tanah Palestina yang dijarah gerakan Zionis pada 1948 (tragedi Nakba), dan kini dipandang sebagian besar masyarakat dunia sebagai Israel ? Ataukah 100 persen tanah Palestina yang dikuasai Israel sejak Juni 1967 ? Karenanya tuntutan untuk mengakui keabsahan Israel sebagai sebuah negara yang berdaulat sangat tidak bisa diterima, tidak bermoral sebab sama halnya memberikan pengakuan pembenaran terhadap tindakan-tindakan anti kemanusiaan yang selama ini dilakukan Israel. "Israel must wiped off the map", inilah yang diucapkan Ahmadi Nejad untuk segera menyelesaikan konflik. One state solution adalah solusi yang paling logis. Selanjutnya, mengizinkan bangsa Palestina, baik itu Yahudi, Kristiani maupun muslim yang telah ribuan tahun hidup bersama secara damai menentukan sendiri nasib mereka dalam sebuah referendum yang bebas. Pertanyaan Ahmadi Nejad yang belum juga dijawab sampai detik ini, "Jika Israel harus didirikan untuk menebus derita kaum Yahudi pada Perang Dunia II, lalu mengapa tebusan atas tragedi yang terjadi di Eropa itu harus dilakukan dan ditanggung rakyat Palestina yang letaknya justru di Timur Tengah ? "
Telah 60 tahun rakyat Palestina dalam penderitaan, seiring bergantinya tahun, haruskah mereka merasakan derita lebih lama ?.
Qom, 29 Desember 2008

1 komentar:

Fitri R.Ghozally mengatakan...

AssWrWb

Pagi tadi, saya & teman-teman kantor membuka rutinitas kerja dgn percakapan mengenai serangan Israel ke Palestina. Sungguh sebuah kekejian yg teramat sangat. Dan sekarang saya membuka blog yg juga memaparkan hal yg sama. Saya satu dari sekian umat muslim tak banyak yg bisa dilakukan.Lewat blog ini saya hanya menyerukan"bersatulah umat Islam!

Good blog!

Please see myBLog www.blognyafitri.blogspot.com