13 Februari, 2009

Sahabat Rasulullah saww Menurut Al-Qur'an dan As-Sunnah (2)

-Tanggapan atas Tulisan Rahmat A. Rahman yang berjudul : Sahabat Rasulullah SAW dalam Pandangan Ahlus Sunnah wal Jama'ah-
-Bagian Terakhir dari Dua Tulisan-
Sahabat dalam Sunnah Nabawiyah

Balonku Ada Lima
Rupa-rupa warnanya
Merah, kuning, kelabu, merah muda dan biru
Meletus balon hijau, duarrr...
Hatiku sangat kacau
Balonku tinggal empat
Kupegang Erat-erat
Lagu ini akan menghantar kita melanjutkan pembahasan. Lagu kanak-kanak ini tak lekang oleh zaman, masih tetap popular hingga kini. Seolah-olah telah menjadi ketentuan umum, wajib mengajarkan lagu ini kepada generasi yang sedang bertumbuh. Saya juga termasuk dalam generasi yang wajib menghafalnya. Namun, sadarkah kita ada yang tidak beres pada matan syair lagu ini?. Teks lagu menyebutkan si aku memiliki 5 balon: merah, kuning, kelabu, merah muda dan biru. Kemudian meletus balon hijau, yang membuat hati si aku menjadi sangat kacau dan balonnya yang tinggal empat dipegangnya erat-erat. Pertanyaannya, balon hijau itu milik siapa? Sementara si aku memiliki 5 balon yang warnanya tidak ada yang hijau, melainkan merah, kuning, kelabu, merah muda dan biru? Lalu mengapa pula balon hijau yang meletus membuat balon si aku tinggal empat? Sebenarnya balon si aku ada berapa, lima atau enam?.
Bisa jadi si pengarang lagu –yang entah siapa- punya kepentingan memperindah liri lagu dengan memilih kata-kata yang bersuku akhir sama, meskipun itu harus memanipulasi jumlah angka. Dan kitapun tanpa sikap kritis menyanyikan lagu ini dari waktu ke waktu dan mewariskannya pada generasi selanjutnya dan merekapun turut ikut-ikutan menyanyikannya. Dalam istilah syariat sikap ikut-ikutan tanpa daya kritis disebut taklid buta.
Telah banyak ilmu yang telah kita dapatkan, baik dibangku pendidikan formal, lewat pengalaman atau ilmu yang kita gali dan kaji sendiri lewat media-media yang menawarkan pengetahuan, informasi dan wawasan yang beragam. Namun seberapa kritiskah kita terhadap semua itu?. Taklid buta memang harus kita hindari karena tidak sesuai dengan semangat zaman. Namun ada kalanya sesuatu yang telah menjadi tradisi yang mendarah daging sulit untuk kita tentang. Terkadang ada sekian banyak alasan dan kepentingan yang memaksa kita untuk tetap bertaklid buta, meskipun kita sadari sendiri, yang kita pertahankan sebenarnya itu sangat rapuh dan memang layak untuk dicampakkan. Sebut saja salah satunya konsep yang dipertahankan mayoritas ulama-ulama Ahlus Sunnah selama berabad-abad, ash-shahabiy kulluhum ‘udul, bahwa seluruh sahabat nabi adil tanpa terkecuali. Konsep ini berusaha mereka cangkokkan secara paksa dari masa ke masa dalam pikiran setiap muslim, yang mereka bungkus dengan berbagai macam manipulasi dan menyebutnya metode-metode ilmiah dan syar'i.
Pembahasan kita adalah menguji secara ilmiah konsep ash-shahabiy kulluhum ‘udul, bahwa semua sahabat itu baik dan adil, posisi saya menggugat konsep itu. Penggugatan yang saya lakukan bukan berarti saya sedang berusaha menjatuhkan kredibilitas dan merendahkan para sahabat, tetapi mengajak untuk kita mengkaji kembali jejak-jejak perjalanan mereka dan memposisikan mereka sebagaimana mestinya. Sahabat yang setia terhadap perjuangan Islam kita hormati dan muliakan sebagaimana Allah telah memberikan keridhaan kepada mereka dan memberikan penyikapan yang sepantasnya terhadap sahabat yang dalam rekaman sejarah terbukti telah melakukan penyimpangan. Allah SWT pun menjelaskan bahwa kedudukan mereka bertingkat-tingkat dan tidak pantas untuk menyamakan kedudukan mereka semuanya. Pembahasan sebelumnya, saya telah memaparkan sahabat-sahabat Nabi dalam tinjauan ayat-ayat Al-Qur'an. Sekarang akan saya ketengahkan sahabat-sahabat dalam Sunnah Nabawiyah. Saya hanya akan menukil dari kitab-kitab yang juga diakui oleh ulama-ulama Ahlus Sunnah keshahihan dan kemutawatiran sanadnya.
Hadits Riwayat Bukhari

Syaikhul hadits Imam Bukhari menulis dalam kitab Shahihnya pada bab fi al-Haudh. Diriwayatkan dari Abu Hurairah bahwa Nabi saw bersabda:
"Tatkala aku sedang berdiri, muncullah serombongan orang yang kukenal dan muncul pula seorang laki-laki diantara diriku dan rombongan itu. Lelaki itu berkata, "Halumma (Ayo)!" Aku bertanya, "Kemana?" Ia menjawab, "Ke neraka, demi Allah!" Aku bertanya, "Ada apa dengan mereka?" Ia menjawab: "Mereka berbalik (irtaddu) setelah engkau wafat."
Dari Ibn Musayyab bahwa Nabi (Saw.) bersabda: Sebagian dari sahabatku mendatangiku di Haudh, dan kemudian mereka dipisahkan dari Haudh. Maka aku berkata: Ya Rabbi! Mereka adalah para sahabatku (ashabi), dan mendapat jawaban: Sesungguhnya engkau tidak mengetahui apa yang telah mereka lakukan selepasmu. Sesungguhnya mereka telah berbalik mengingkari sepeninggalmu (inna-hum irtaddu ba ‘da-ka ‘ala Adbari-ka l-Qahqariyy)
Dari Abdullah bahwa Nabi saww bersabda, "Aku akan mendahului kamu di Haudh dan sebagian dari kamu akan dibawa di hadapanku. Kemudian mereka akan dipisahkan jauh dariku. Aku akan bersabda: wahai Tuhanku! Mereka itu adalah para sahabatku (ashabi).Maka dijawab: Sesungguhnya engkau tidak mengetahui apa yang dilakukan oleh mereka selepas engkau meninggalkan mereka (inna-ka la tadri ma ahdatsu ba‘da-ka)."
Dan beberapa hadits lagi dengan kata-kata serupa yang diriwayatkan dengan jalur sanad yang berbeda, juga pada bab yang sama. Sedangkan pada bab Ghaswah Hudaibiyah, Bukhari meriwayatkan dari al-'Ala bin Musayyib dari ayahnya yang berkata, "Aku bertemu al-Barra bin 'Azib dan aku berseru, "Selamat bagi anda, anda beruntung menjadi sahabat nabi dan anda telah membaiat rasul di bawah pohon, bai'ah tahta syajarah!". Ia menjawab, "Wahai saudaraku, engkau tidak tahu, apa yang kami lakukan sesudah Rasul wafat!".
Dalam bab yang sama, kembali Bukhari meriwayatkan dari Ibnu Abbas ra dari Rasulullah saw, "Dan sejumlah sahabat mengambil jalan kiri dan aku berseru, "Sahabatku-sahabatku!" dan terdengar jawaban dengan kata-kata, "Mereka tidak pernah berhenti berbalik ingkar sejak berpisah denganmu."
Yang dimaksud Rasulullah saw jalan kiri pada hadits di atas bisa kita temukan pada Surah Al-Waqiah ayat 41-44. Allah SWT berfirman, "…dan golongan kiri, alangkah sengsaranya golongan kiri itu. (Mereka) dalam siksaan angin yang sangat panas dan air yang mendidih, dan naungan asap yang hitam, tidak sejuk dan tidak menyenangkan."
Hadits Riwayat Muslim
Imam Muslim meriwayatkan dalam shahihnya, kitab Fadhail. Dari Abi Hazim berkata: Aku telah mendengar Sahlan berkata: Aku telah mendengar Nabi saww bersabda: "Aku akan mendahului kamu di Haudh. Siapa yang melaluinya, dia akan meminumnya. Dan siapa yang meminumnya, dia tidak akan dahaga selama-lamanya. Akan datang kepadaku beberapa orang yang aku mengenali mereka dan mereka mengenaliku (para sahabatku). Kemudian dipisahkan di antaraku dan mereka. Abu Hazim berkata: Nu‘man bin Abi ‘Iyasy telah mendengarnya dan aku telah memberitahu mereka tentang Hadis ini. Maka dia berkata: Adakah anda telah mendengar Sahlan berkata sedemikian? Dia berkata: Ya."
Perawi berkata: "Aku bersaksi bahwa aku telah mendengar Abu Sa‘id al-Khudri berkata Rasulullah bersabda: "Sesungguhnya mereka itu adalah dariku (inna-hum min-ni). Dan dijawab: "Sesungguhnya engkau tidak mengetahui apa yang dilakukan oleh mereka selepas engkau meninggalkan mereka (inna-ka la tadri ma ahdatsu ba‘da-ka). Maka aku (Nabi saw) bersabda, "Jauh! Jauh! (dari rahmat Allah)/ke Neraka mereka yang telah mengubah/menukarkan (hukum Tuhanku dan Sunnahku) selepasku (Suhqan suhqan li-man baddala ba‘di).
Perawi berkata: Asma‘ binti Abu Bakar berkata: Rasulullah saww bersabda: "Sesungguhnya aku akan berada di Haudh sehingga aku melihat mereka yang datang kepadaku dikalangan kamu (man yaridu ‘alayya min-kum). Dan mereka akan ditarik dengan pantas (dariku), maka aku akan bersabda: "Wahai Tuhanku! Mereka itu dari (sahabat)ku dan dari umatku. Dijawab: "Tidakkah engkau tahu apa yang dilakukan oleh mereka selepas engkau meninggalkan mereka (amma sya‘arta ma ‘amilu ba‘da-ka)? Demi Allah, mereka senantiasa berbalik ke belakang (kembali kepada kekafiran) selepas engkau meninggalkan mereka (Wa Llahi! Ma barihu ba‘da-ka yarji‘un ‘ala a‘qabi-him) Dia berkata: Ibn Abi Mulaikah berkata: “ Wahai Tuhanku! Sesungguhnya kami memohon perlindungan dari Mu supaya kami tidak berbalik ke belakang (kembali kepada kekafiran) atau kami difitnahkan tentang agama kami”
Dari Abdillah, Rasulullah (Saw.) bersabda: Aku akan mendahului kamu di Haudh. Dan aku akan bertelaga dengan mereka (aqwaman). Kemudian aku akan menguasai mereka. Maka aku bersabda: Wahai Tuhanku! Mereka itu adalah para sahabatku. Mereka itu adalah para sahabatku (Ya Rabb! Ashabi, ashabi). Lantas dijawab: Sesungguhnya engkau tidak mengetahui apa yang dilakukan oleh mereka selepas engkau meninggalkan mereka (inna-ka la tadri ma ahdatsu ba‘da-ka)"
Dari Anas bin Malik bahwa Nabi (Saw.) bersabda: "Akan datang kepadaku di Haudh beberapa lelaki (rijalun) dari mereka yang telah bersahabat denganku (mimman sahabani) sehingga aku melihat mereka diangkat kepadaku. Kemudian mereka dipisahkan dariku. Maka aku bersabda: "Ya Rabbi! Mereka adalah para sahabatku. Mereka adalah para sahabatku (Usaihabi) Akan dijawab kepadaku: Sesungguhnya engkau tidak mengetahui apa yang dilakukan oleh mereka selepas engkau meninggalkan mereka (inna-ka la tadri ma ahdatsu ba‘da-ka)."
Hadits-hadits yang terdapat dalam kitab shahih Bukhari dan Muslim di atas dengan jelas menunjukkan bahwa orang-orang yang dikenal oleh Rasulullah sebagai sahabatnya ternyata sepeninggal beliau banyak yang berbalik dan kembali kepada kekafiran. Hal ini sejalan dengan firman Allah SWT, "Dan Muhammad hanyalah seorang Rasul, sungguh telah berlalu sebelumnya beberapa orang Rasul apakah jika dia wafat atau dibunuh kamu berbalik ke belakang (murtad)? Barang siapa yang berbalik ke belakang (murtad), maka ia tidak akan merugikan Allah sedikitpun dan Allah akan memberi balasan kepada orang yang bersyukur.” (Qs. Ali Imran: 144). Allah SWT menegaskan, bahwa orang-orang yang murtad dan kembali kepada kekafiran sepeninggal Rasulullah tidak akan menimbulkan sedikitpun kerugian pada agama Allah dan Allah akan memberi balasan kepada mereka yang bersyukur. Pertanyaannya siapakah mereka yang bersyukur itu? Dan mengapa Allah menggunakan frasa 'orang yang bersyukur' bukan menyebut orang-orang bertakwa, beriman, setia dan sebutan lainnya yang bisa dinilai lebih cocok dengan padanan kata-kata sebelumnya. Frasa 'orang yang bersyukur' tidaklah dipilih Allah SWT tanpa alasan atau secara kebetulan belaka, melainkan untuk menunjukkan realitas bahwa mereka yang tetap pada keimanannya dan tidak berbalik ke belakang (murtad) jumlahnya sedikit, tidaklah banyak. Kita bisa merujuk pada ayat-ayat lain dalam Al-Qur'an, setiap Allah SWT menyebut orang-orang yang bersyukur selalu disertakan bahwa jumlah mereka sedikit. Seperti misalnya, Allah SWT berfirman, "Sesunggguhnya Allah memberikan karunia kepada manusia, tetapi kebanyakan manusia tidak bersyukur." (Qs. Al-Baqarah: 243). Pada ayat yang lain, "Dan Engkau tidak akan mendapati kebanyakan mereka bersyukur." (Qs. Al-A'raf: 17). Juga pada surah Saba': 13: ”Dan sedikit sekali dari hamba-hambaku yang bersyukur.” Baca juga pada Al-Qur'an surah Al-Mu'min: 61 dan surah Al-Mulk: 23.
Allah SWT berfirman, "Barang siapa menaati Rasul, maka sesungguhnya dia telah menaati Allah. Dan barang siapa berpaling (dari ketaatan itu), maka (ketahuilah) Kami tidak mengutusmu (Muhammad) untuk menjadi pemelihara mereka." (Qs. An-Nisa': 80).
Karena hadits-hadits di atas diriwayatkan oleh Bukhari – Muslim sehingga tidak bisa dilemahkan dari segi sanad sebagaimana kebiasaan sebagian ulama-ulama Ahlus Sunnah yang terkadang seenaknya menyebut sebuah hadits palsu atau dhaif karena tidak sesuai dengan pemahaman mereka, maka mereka mencoba menakwilkan maknanya. Saya pernah membaca sebuah postingan artikel -ditulis oleh Dr. Huda Muhsin- yang menukilkan pendapat seorang ulama tentang hadits-hadits di atas dan menyebut bahwa yang berbalik ke belakang dan murtad yang dimaksud pada riwayat tersebut bukanlah sahabat-sahabat nabi melainkan orang-orang munafik. Pada matan hadits sangat jelas, Rasulullah saww menyebut mereka ashabi (sahabatku) sehingga tidak bisa ditakwilkan atau diselewengkan maknanya. Apakah ulama-ulama Ahlus Sunnah lebih mengenal siapa saja yang termasuk sahabat nabi dibanding Rasulullah saww sendiri?. Hadits di atas juga menyebutkan, mereka tidak sekedar murtad dan mengingkari janji namun juga mengubah hukum dan sunnah nabi, sehingga Rasulullah saww berujar, "Suhqan suhqan li-man baddala ba‘di, Jauh! Jauh! (dari rahmat Allah) yang mengubah (sunnah) selepasku".
Setelah tahu kenyataan ini, bahwa banyak diantara mereka yang disebut nabi sebagai sahabatnya sepeninggal beliau justru berbalik kebelakang dan kembali murtad, saya jadi tidak bisa tenang dan dirundung gelisah yang berkepanjangan. Jangan sampai Islam yang kita peluk saat ini justru berasal dari mereka yang murtad itu ataupun dari mereka yang keterlaluan dengan kemunafikannya bahkan sampai mengubah-ubah hukum Allah. Sementara Islam yang diwariskan oleh sahabat-sahabat nabi yang setia terhadap aqidah dan perjuangan Islam diabaikan dan tersingkir secara sosial. Karenanya perlu ada keberanian untuk melakukan pengembaraan intelektual, melepas semua ikatan-ikatan dogma yang membelenggu dan mengubur tradisi klaim yang beku. Imam Ali bin Abi Thalib as. mengatakan: "Benturkan pandangan kalian satu sama lain, niscaya kalian temukan kebenaran". Ada semangat besar dalam mencari kebenaran yang terkandung dalam hikmah Imam Ali as ini. Bukan hanya sekedar berdiskusi, berdialog, bertukar pikiran namun juga kalau perlu saling berdebat, saling membenturkan pandangan, sealot dan sekeras mungkin. Imam Ali as melanjutkan pesannya, "Siapa yang bertabrakan dengan kebenaran akan terpental." Mari saling menghantamkan pandangan, kita lihat siapa yang terpental.
Antara Sahabat dan Keutuhan Syariat

Di antara alasan ulama Ahlus Sunnah menyematkan sebutan kafir, fasiq, munafik dan ahli bid'ah kepada mereka yang melakukan penghinaan dan meragukan kredibilitas salah seorang di antara sahabat adalah menyatakan bahwa sahabat yang merupakan penyampai Al-Qur'an dan Sunnah mengandung konsekwensi celaan terhadap keduanya (Al-Qur'an dan Sunnah). Semua golongan Islam apapun mazhabnya (termasuk Syiah) sepakat, yang melakukan celaan kepada Al-Qur'an dan Sunnah adalah kafir dan keluar dari Islam. Lebih lanjut, Rahmat A. Rahman mengajukan argumentasi, "Upaya mendiskreditkan dan menuding Sahabat akan mengakibatkan kita memotong jalur sampainya agama Islam ini kepada generasi setelah mereka termasuk kita. Jika demikian, dari mana sumber kita mengambil agama ini? Al Qur’an pun sampai kepada kita melalui periwayatan sahabat Nabi–Radliyallahuanhum."
Kita bisa menemukan kelemahan pendapat di atas dari berbagai sisi. Pertama, telah dijelaskan pada pembahasan-pembahasan sebelumnya bahwa kedudukan sahabat bertingkat-tingkat dan tidaklah sebagaimana yang diklaim Ahlus Sunnah bahwa semuanya adil tanpa terkecuali. Karenanya, kita bisa mengkategorikan sahabat menjadi dua kelompok besar. Yang pertama adalah sahabat istimewa. Mereka adalah orang-orang pilihan yang memiliki keteguhan iman, kekuatan tekad dan senantiasa bersabar terhadap berbagai ujian dan celaan orang-orang kafir sehingga Allah SWT memberikan kemenangan besar kepada mereka. Mereka senantiasa berpegang teguh kepada Allah, menepati janji kesetiaan yang telah disematkan kepada Nabiullah saww, menampakkan kesetiaan dan meninggal tetap dalam kesetiaannya itu. Mereka adalah orang-orang yang lurus secara ijma dan tak ada satupun golongan Islam yang menentang ini. Dan yang kedua, adalah kelompok sahabat yang menyatakan keimanannya kepada Allah dan Rasul-Nya namun memiliki berbagai macam watak yang hanya Allah SWT yang mengetahuinya. Diantara mereka ada yang lemah imannya, mencampur adukkan antara yang hak dan yang batil, yang enggan berjihad dan bersedekah, bahkan tidak sedikit di kalangan mereka yang munafik. Kelompok kedua ini karena menyatakan keimanannya, turut berjihad meskipun dengan perasaan berat, ikut shalat meskipun dengan rasa malas dan turut bersedekah meskipun sebenarnya sangat kikir menafkahkan hartanya turut dikategorikan sahabat oleh ulama Ahlus Sunnah berdasarkan defenisi yang diajukan Ibnu Hajar. Kalau kelompok Ahlus Sunnah mengatakan, bahwa yang mereka maksud semua sahabat adil adalah kelompok yang pertama -yakni sahabat istimewa- sedangkan kelompok yang kedua tidak dikategorikan sebagai sahabat nabi, mereka harus menyatakan kesediaan untuk medekonstruksi defenisi sahabat. Yang bisa jadi berbunyi, sahabat adalah mereka yang bertemu dan menampakkan keimanannya kepada Rasulullah saww, setia terhadap janji kesetiaan dan dalam perjalanan hidupnya yang dilaporkan sejarah sepeninggal Rasulullah teruji kesetiaannya, tidak melakukan penyimpangan terhadap Al-Qur'an dan sunnah dengan mengubah hukum-hukum Allah dan meninggal dalam keadaan tetap setia kepada Islam. Dalam hal ini kita bersepakat. Bukan defenisi yang menghina akal sehat, fitrah dan hukum syar'i, bahwa meskipun sekedar melihat, berjumpa dengan Rasulullah baik lama maupun sebentar, tanpa harus pernah bermajelis dengan Rasulullah, meriwayatkan hadits atau tidak, turut berjihad atau tidak maka semuanya dikategorikan sahabat nabi yang kemudian mereka semuanya dihukumi orang-orang yang adil tanpa terkecuali. Imbas dari defenisi yang sangat longgar ini, mengakibatkan orang memerangi keluarga Nabi saww ataupun yang telah dilaknat dan diusir Nabi saww dari Madinah atau mereka yang melakukan penyimpangan terhadap sunnah tetap mendapat kehormatan sebagai sahabat Nabi saww.
Mengetahui dimana di antara sahabat nabi yang teruji kesetiaannya sangat penting. Di tangan mereka ajaran Islam teraplikasikan, karena merekalah generasi pertama yang melaksanakan titah langsung Rasulullah saww. Bersama Rasulullah mereka berhijrah, berjuang dan berjihad untuk menegakkan Daulah Islamiyah dan mempersiapkan masyarakat yang melaksanakan syariat Islam dengan baik. Keridhaan mereka seharusnya menjadi keridhaan kita, kebencian mereka seyogyanya juga menjadi kebencian kita. Mengetahui mereka yang teruji kesetiaannya juga dapat membantu kita melakukan penelaahan dan penyelusuran kembali akar permasalahan timbulnya pergolakan dalam Daulah Islamiyah yang terjadi justru pada generasi awal Islam. Dengan demikian kita dapat menentukan dan memilah kepada siapa kita bersandar. Menyatakan dua kelompok besar yang bertikai sepeninggal Rasulllah saww antara kelompok Muawiyah dan Imam Ali bin Abi Thalib as sebagai dua-duanya kelompok sahabat yang seluruhnya adil sangat membingungkan dan mengacaukan syariat, sebab ini berarti mencampur adukkan antara yang hak dan yang batil. Konsep afdhaliah insan (keistimewaan dalam manusia) merupakan hal penting untuk mengetahui siapa yang lebih utama dan yang lebih layak untuk diikuti.
Pada bagian ini jelas. Kalau kelompok Ahlus Sunnah berada pada titik ekstrim, "Semua sahabat adil tanpa terkecuali", kita tidak berada pada titik ekstrim yang lain yang menyatakan "Semua sahabat murtad/munafik tanpa terkecuali". Islam yang benar terletak di antara kedua titik ekstrim ini. Yakni bahwa ada sahabat yang setia, yang kita agungkan, muliakan, do'akan dan berusaha meneladani mereka pada sisi perjuangan dan semangat keislaman mereka dan dengan perantaraan merekalah kita mengambil agama ini. Selain itu, ada juga sahabat yang kita berlepas diri dari mereka karena penyimpangan-penyimpangan yang mereka lakukan, baik ketika Rasulullah saww masih hidup maupun sepeninggal beliau. Karenanya melakukan pengkajian atas mereka, sampai pada tahap melakukan kritikan dan celaan terhadap sahabat yang terbukti melakukan penyimpangan dengan tujuan kaum muslimin terhindar dari perilaku serupa dan tidak menjadikan mereka suri tauladan, tidaklah berarti melakukan celaan terhadap Al-Qur'an dan Sunnah.
Kedua, Al-Qur'an adalah adz-dzikru (pemberi peringatan), dan sunnah adalah penjelasan dan pelaksanaan dari ajaran Al-Qur'an yang dijelaskan, ditaqrir dan dicontohkan oleh Rasulullah saww. Allah SWT telah menjanjikan dan menjamin keutuhan Al-Qur'an sepanjang sejarah dan zaman. Allah SWT berfirman, "Sungguh, Kamilah yang menurunkannya (Al-Qur'an) dan Kamilah yang menjaganya." (Qs. Al-Hijr: 9). Menjaga keutuhan Al-Qur'an adalah jaminan dari Allah SWT dan sama sekali tidak ada hubungannya dengan sahabat. Islam akan tetap terjaga dan tegak, sekalipun tidak ada yang menjadi saksi dari sahabat Rasulullah sebab Allah lah yang langsung menjadi saksi dan memberikan jaminan atas keutuhan ajaran Islam. Rasulullah saww tidak akan wafat sebelum Allah menyempurnakan ajaran Islam. Allah SWT berfirman, "Wahai Rasul! Sampaikanlah apa yang diturunkan Tuhanmu kepadamu. Jika tidak engkau lakukan (apa yang diperintahkan itu) berarti engkau tidak menyampaikan amanah-Nya. Dan Allah memelihara engkau dari (gangguan) manusia. Sungguh Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang kafir." (Qs. Al-Maidah: 67). Tim penerjemah Depag RI memberi catatan kaki mengenai ayat ini, bahwa tidak seorangpun yang dapat membunuh Nabi Muhammad saww. Artinya sebelum Rasulullah saww menyampaikan seluruh syariat yang menjadi amanah dari Allah SWT, beliau akan selalu berada dalam pemeliharaan Allah SWT. Tidak ada yang bisa mencelakakan, menganggu atau sampai membunuh. Rasulullah saww tidak akan meninggal sebelum Allah menyempurnakan agama Islam. Pernyataan bahwa tanpa peran serta sahabat (generasi pertama umat Islam), Islam tidak akan sampai pada kita, salah besar. Sekiranya di zaman Rasulullah abad ke 6 Masehi sampai saat ini tidak ada seorangpun yang menjadi pengikut dan sahabatnya, maka Rasulullah saww sendiri yang langsung menyampaikan agama Islam kepada generasi kita. Dengan kekuasaan-Nya Allah SWT mudah membuat nabi Muhammad saww sebagai utusan-Nya berumur panjang sampai hari ini, sebagaimana Allah SWT memperpanjang usia nabi Nuh as yang berdakwah 950 tahun lamanya. Tegaknya ajaran Islam sama sekali tidak bergantung pada sahabat, ada tidaknya pengikut dan sahabat Nabi, Islam sebagai sebuah ajaran akan tetap ada. Allah SWT menegaskan dengan firman-Nya,"Maka berperanglah engkau (Muhammad) di jalan Allah, engkau tidaklah dibebani melainkan atas dirimu sendiri." (Qs. An-Nisa': 84). Tim penerjemah Depag RI memberi catatan atas ayat ini, "Perintah berperang itu harus dilakukan oleh Nabi Muhammad saww karena yang dibebani adalah dirinya sendiri. Ayat ini berhubungan dengan keengganan sebagian besar orang Madinah untuk ikut berperang bersama Nabi ke Badar. Maka turunlah ayat yang memerintahkan agar nabi Muhammad saww pergi berperang walaupun sendiri saja."
Masih ada keraguan tentang hal ini?. Islam sebagai sebuah ajaran sama sekali tidak memiliki keterkaitan dengan sahabat sebagai pengikut ajaran. Islam adalah akidah Ilahi yang dikehendaki Allah sebagai agama samawi terakhir dan menjadi agama bagi mereka yang taat. Islam berdiri kukuh dengan Al-Qur'an dan Rasulullah (utusan-Nya) dan tidak bergantung pada selainnya. Para sahabat yang mulia mengikuti dakwah Rasulullah saww, menganut Islam dan membantu Rasulullah dalam Daulah Islamiyah yang beliau pimpin. Mereka memang pengikut Islam dan sahabat nabi namun tidak identik dengan Islam atau menjadi bagian dari Islam. Kaum muslimin adalah mereka yang mengikuti ajaran Islam dan mengimaninya. Umat Islam bukanlah Islam itu sendiri. Sungguh berbeda antara akidah dengan pemeluk akidah, antara sahabat Nabi dan Nabi itu sendiri. Tidak bisa disamakan karena keduanya secara dzatiyah berbeda. Al-Qur'an mendapat jaminan langsung dari Allah akan keutuhan dan terjaganya dari penyelewengan. Tidak ada yang mampu menambah atau mengurangi satupun hurufnya, karena Al-Qur'an adalah kalamullah. Pernyataan bahwa seluruh sahabat adil sama sekali tidak menambah kekukuhan kitabullah yang memang telah kukuh, atau menambah penjagaan Al-Qur'an karena memang telah terjaga oleh Allah SWT. Begitupun dengan pernyataan semua sahabat murtad dan berbalik kafir sepeninggal Rasulullah saww tidak serta merta menjadikan Al-Qur'an tercoreng derajat kemutawatirannya atau tidak bisa dipercaya lagi sebagai kitab suci dan Islam -sebagai sebuah ajaran- menjadi artefak yang tak lagi dikenal asal-usulnya. Allah SWT berfirman, "Jika kamu tidak berangkat (untuk berperang), niscaya Allah akan menghukum kamu dengan azab yang pedih dan menggantikan kamu dengan kaum yang lain, dan kamu tidak merugikan-Nya sedikitpun. Dan Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu." (Qs. At-Taubah: 39). Pada ayat ini, tiga poin penekanan yang harus diperhatikan. Pertama, Allah SWT menegaskan, sekalipun seluruh sahabat bersepakat tidak ikut berjihad bersama Rasulullah untuk menegakkan ajaran Islam ataupun sekalian tidak ada yang masuk Islam itu tidak merugikan Allah dan Islam sedikitpun. Kedua, Allah akan menggantikan mereka dengan kaum yang lain. Jadi sekalipun seandainya Abu Bakar, Umar bin Khattab, Utsman bin Affan, Mushab bin Umair, Abdurrahman bin Auf, Thalhah, Zubair dan lain-lain (radhiallahu anhum) tidak masuk Islam atau masuk Islam lalu kemudian berpaling itu tidak merugikan Allah, Rasul-Nya dan Islam sedikitpun. Sebagaimana firman Allah SWT, telah tersedia kaum (orang-orang) lain yang akan menggantikan kedudukan mereka di sisi Rasulullah saww sekiranya mereka membelot. Poin ketiga, Allah SWT Maha Kuasa atas segala sesuatu, sehingga secara pribadi keberadaan sahabat-sahabat tidaklah membawa pengaruh kepada kekuasaan Allah SWT. Jasa dan peran serta mereka dalam menumbuhkan Islam adalah bagian dari anugerah dan nikmat dari Allah SWT. Bukan Islam yang bergantung dengan keberadaan mereka. Allah SWT menandaskan, "Mereka merasa berjasa kepadamu dengan keislaman mereka. Katakanlah, "Janganlah kamu merasa berjasa kepadaku dengan keislamanmu, sebenarnya Allah yang melimpahkan nikmat kepadamu dengan menunjukkan kamu kepada keimanan, jika kamu orang yang benar." (Qs. Al-Hujurat: 17). Ayat ini juga menyentil kita, generasi muslim saat ini. Kitalah yang butuh pada Islam dan dakwah, bukan Islam yang membutuhkan kita. Jangan sampai ada sangkaan, kalau kita tidak ada, maka Islam juga tidak akan tersampaikan, sama halnya ucapan "Upaya mendiskreditkan dan menuding Sahabat akan mengakibatkan kita memotong jalur sampainya agama Islam ini kepada generasi setelah mereka termasuk kita". Percayalah, tanpa peran serta mereka, Islam akan selalu ada dan akan tersampaikan dengan baik pada setiap masa dan tempat. Kekuasaan Allah tidak bergantung dengan keberadaan mereka. "Illa tanshuruuhu faqad-e nasharahu llahu, Jika kamu tidak menolongnya (Muhammad) sesungguhnya Allah telah menolongnya…" (Qs. At-Taubah: 40).
Poin di atas hanyalah pemisalan ektrim, sekiranya mereka (yang dikenal selama ini sebagai sahabat-sahabat nabi) tidak ada atau murtad secara keseluruhan, maka itu tidak memberi pengaruh apa-apa terhadap keutuhan ajaran Islam, sebab Allah SWT yang langsung menjadi penjaga dan penjaminnya. Namun karena sejarah menyodorkan kepada kita kisah-kisah kepahlawanan mereka, Islam tumbuh melalui pengorbanan dan kesyahidan mereka, maka sepatutnyalah kita mencintai, mengagungkan dan memuliakan mereka. Mereka adalah tauladan nyata dalam pengorbanan dan kesetiaan, keberanian dan ketegaran iman. Mereka yang sebenar-benarnya sahabat yang dimaksud dalam firman-firman suci Allah yang tersebar dalam Taurat, Injil dan Al-Qur'an. Sahabat yang oleh Allah SWT berfirman atas mereka, "Allah tidak akan membiarkan orang-orang yang beriman sebagaimana dalam keadaan kamu sekarang ini, sehingga Dia membedakan yang buruk dari yang baik." (Qs. Ali-Imran: 179). Ya, Allah SWT bersikap selektif, menyeleksi mereka, menguji mereka, memisahkan yang munafik diantara mereka. Berbeda dengan Ibnu Hajar dan pengikut-pengikutnya yang berpendirian, semua yang bertemu dan beriman kepada Rasulullah adalah sahabat nabi, dan mereka adil secara keseluruhan, tanpa sikap selektif, tanpa ada gugatan, tanpa ada penyeleksian dan yang menyelisihi pendapat ini kafir dan keluar dari Islam. Semoga kita terlindungi dari kenekatan mereka menyalahi aturan Allah SWT.
Ketiga, Pernyataan Al-Qur'an adalah haq, Rasulullah adalah haq dan yang disampaikan oleh Rasulullah saww adalah haq, adalah penyataan yang tak diperselisihkan kebenarannya. Setiap kelompok Islam berupaya menegakkan syiar ini, semua meyakini syariat Islam terdiri atas dua unsur Al-Qur'an sebagai kalamullah dan Rasulullah saww sebagai utusan-Nya yang menetapkan, menjelaskan, mencontohkan dan mentaqrir syariat Ilahi. Sedangkan sahabat adalah generasi muslim pertama yang mengikuti ajaran Islam dan mengimaninya. Keduanya antara Islam dan pengikutnya tidaklah identik. Islam yang memiliki kebenaran mutlak di satu sisi dan pengikut yang memiliki pemahaman tentang Islam yang tidak mutlak kebenarannya berada di sisi lain. Setiap dari sahabat memiliki pemahaman yang berbeda tentang syariat Islam bergantung pada tingkat kemampuan dan kadar keilmuan masing-masing, yang sangat ditentukan oleh besarnya keimanan dan kemampuan menanggalkan kepentingan hawa nafsu. Sejarah menyodorkan realitas antara sahabat yang satu dengan yang lainnya tidak satu dalam pemahaman mengenai apa yang disampaikan oleh Rasulullah atau mengenai ayat yang terdapat dalam Al-Qur'an.
Saya menyodorkan contoh kasus. Sebuah tragedi yang disebut Ibnu Abbas ra sebagai Kamis Kelabu. Kamis, 8 Rabiul Awal 11 H, demam Rasul SAW semakin meninggi. Kediaman beliau dipenuhi beberapa sahabat. Imam Bukhari dalam shahihnya melalui sanad Ubaidillah bin Abdullah dari Ibnu Abbas ra, menceritakan :"Ketika ajal Rasulullah telah hampir, dan di rumah beliau ada beberapa orang, diantara mereka Umar bin Khattab ra, beliau bersabda, 'Mari kutuliskan bagi kamu sebuah surat (wasiat) agar sesudah itu kamu tidak akan pernah sesat.' Namun Umar berkata, 'Nabi telah makin parah sakitnya, sedangkan Al-Qur'an ada pada kalian. Cukuplah kitab Allah bagi kita !'. Maka terjadilah perselisihan di antara yang hadir, dan mereka bertengkar. Sebagian berkata, 'Sediakan apa yang diminta oleh Nabi SAW agar menuliskan bagi kamu sesuatu yang menghindarkan kamu dari kesesatan. Tetapi sebagian yang lain menguatkan ucapan Umar. Dan ketika keributan dan pertengkaran makin bertambah dihadapan Nabi SAW; beliau memerintahkan 'Keluar kalian dari sini !'."
Hadits ini tak diragukan sedikitpun kesahihannya. Al-Bukhari meriwayatkannya pada bab "Al-Ilmu" (Jilid I, hal 22). Muslim meriwayatkannya dalam Shahihnya pada akhir bab al-Washiyah dan juga tertulis dalam Musnad Ahmad jilid I hal. 355.
Riwayat di atas, memberikan gambaran terpecahnya dua golongan sahabat menyikapi permintaan Rasulullah menjelang wafatnya. Golongan pertama, mendukung perkataan Umar bin Khattab, alasannya, Umar adalah salah seorang sahabat Rasul yang sangat loyal dengan Islam, maka alasan Umar menghalangi Rasullah menuliskan wasiatnya karena pertimbangan kesehatan bisa dibenarkan. Lagi pula Al-Qur’an sudah cukup bagi umat untuk menghancurkan kesesatan sehingga tidak perlu lagi tulisan lain, hatta itu berasal dari Rasulullah. Golongan kedua, menentang sikap mereka yang menghalangi Rasul menulis wasiat. Muhammad saww adalah Nabi Allah dan akan tetap menjadi nabi Allah meskipun ajal menjemputnya. Tidak ada alasan sedikitpun bagi seorang muslim menentang perkataan Rasulullah, dengan pertimbangan serasional apapun. Allah SWT berfirman, “Apa yang diberikan Rasul kepadamu, maka terimalah ia dan apa yang dilarangnya maka tinggalkanlah. Pada ayat lain Allah SWT berfirman, “Kawanmu (Muhammad) tidak sesat dan tidak juga keliru, serta ucapannya tiada lain hanyalah wahyu yang diwahyukan kepadanya.”
Ibnu Abbas ra menyebut peristiwa ini sebagai Kamis Kelabu. Hadits sahih ini menunjukkan adanya pemahaman yang berbeda antara sahabat dalam memahami hadits Rasul. Dan perbedaan ini meniscayakan adanya pertentangan antara kebenaran dan kebatilan, sebab tidak mungkin keduanya benar. Perselisihan dan pertikaian antar sahabat tidak hanya menjelang wafat Rasulullah namun kemudian semakin menjadi-jadi sepeninggal beliau. Dari khalifah ke dua sampai ke empat mati terbunuh. Semua yang membunuh termasuk muslim juga, kecuali pembunuh Khalifah Umar ra yang katanya seorang Majusi bernama Abu Lu'lu'. Peperangan Jamal, Shiffin dan Nahrawan adalah peperangan besar antara ribuan sahabat dengan sahabat lainnya. (lihat kitab-kitab Tarikh, seperti Taarikhu al-Thabari, Usduh al-Ghabah karangan Ibnu Atsir dan lainnya). Karenanya dari sini pula kita patut melontarkan pertanyaan, kalau perselisihan dikalangan sahabat bukanlah persoalan esensial, lalu mengapa harus ada pertumpahan darah diantara mereka?. Mana kebesaran jiwa para sahabat dalam menyikapi perbedaan sampai harus diatasi dengan logika kekuatan ?.
Berusaha menyelesaikan masalah dengan melontarkan solusi, bahwa pertikaian antar sahabat tidak perlu dipersoalkan sebab seluruh sahabat adil dan mereka secara keseluruhan adalah ahli ijtihad, kalaupun ijtihadnya salah akan tetap berbuah pahala dan tidak mengurangi kredibilitas mereka. Adalah tawaran solusi yang mengada-ada, dan sekali lagi mengacaukan syariat. Masih banyak lagi contoh kasus adanya perbedaan pemahaman sahabat mengenai Islam yang disampaikan oleh Rasulullah saww. Karenanya, saya sulit menerima jika dikatakan tanggung jawab penjelasan syariat Islam pasca Rasul jatuh ke tangan para sahabat. Sementara untuk contoh sederhana sahabat sendiri berbeda pendapat bagaimana cara Rasululullah melakukan wudhu dan shalat yang benar, padahal Rasul mempraktikkan wudhu dan salat bertahun-tahun di hadapan mereka. Untuk persoalan wudhu saja mereka menukilkan pendapat yang berbeda-beda, karenanya pada masalah yang lebih rumit sangat mungkin terjadi penukilan yang keliru. Islam (Al-Qur'an dan Sunnah) berada pada satu sisi, dan pemahaman sahabat mengenai keduanya pada sisi lain. Berbeda pemahaman dengan sahabat tidaklah berarti berbeda dengan Islam yang sebenarnya. Apabila seseorang mampu memahami sebuah nash dengan pemahaman tertentu, sementara yang lain memahaminya dengan pemahaman yang berbeda, maka berarti ada tugas lain yang menunggu. Setiap dari dua pihak yang memahami berbeda dari sebuah nash harus berulang kali berupaya kembali memahami kandungan nash tersebut dengan mempertimbangkan pemahaman mereka yang berbeda. Bukan malah menganggap pemahamannyalah yang paling sesuai dengan syariat. Inilah yang sesungguhnya semestinya dilakukan kaum muslimin, bersama-sama melakukan pengkajian terus menerus sampai memperoleh kesepakatan yang satu, sebab nash sesungguhnya hanya mempunyai maksud syar'i yang tunggal yang merupakan maksud Ilahi. Secara sepihak mengklaim diri pemahamannyalah yang paling benar sembari mengutuk dan mencela pemahaman yang lain, menyimpang dari ketentuan ajaran Islam. Islam sebagai akidah Ilahi adalah satu pemahaman, yakni sebagaimana secara mutlak dipahami oleh Rasulullah saww. Adanya perbedaan pemahaman antara sahabat menunjukkan pemahaman mereka bukanlah Islam itu sendiri. Karenanya pekerjaan rumah kita adalah selektif terhadap pemahaman sahabat ataupun yang disebut Shalafush Shalih (tiga generasi terbaik), dimana diantara mereka yang lebih berkesesuaian dengan Al-Qur'an dan Sunnah. Secara mutlak mengatakan bahwa seorang muslim harus mengimani dan mengamalkan Islam sesuai dengan pemahaman Shalafus Shalih, sembari tetap membiarkan adanya perbedaan dikalangan mereka sama halnya semakin memperpanjang daftar perselisihan.
Pada poin ketiga ini juga menunjukkan –setidaknya oleh saya-, mencela atau mengingkari sahabat yang memiliki pemahaman yang menyimpang dari Islam tidaklah identik dengan pencelaan dan pengingkaran terhadap Al-Qur'an dan As-Sunnah.
Studi Kritis Hadits
Rahmat A. Rahman mengajukan kepada kita beberapa hadits yang katanya menunjukkan keutamaan sahabat yang dengan hadits-hadits tersebut dibuatlah penetapan hukum, ash-shahabiy kulluhum 'udul. Hadits-hadits tersebut tidak lepas dari kritik dan peninjauan kembali. Saya 'malas' mengkajinya dari sisi sanad periwayatan, karena selalu ada pendapat yang berbeda antar ulama mengenai kejujuran seorang perawi, kita kaji saja menurut matannya. Dan kita jadikan Al-Qur'an, sunnah yang lebih shahih, realitas sejarah dan akal sehat sebagai pembandingnya. Mari….
Hadits Pertama:
Dari Abdullah ibn Mas’ud radhiyallahu anhu, Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda: "Sebaik-baik manusia adalah (yang hidup) di zamanku, kemudian orang-orang setelahnya, kemudian orang-orang setelahnya". HR. Bukhari, no. 2652, Muslim, no. 6635. Pertanyaannya, kalau masa sahabat, tabi'in dan tabi' tabi'in adalah sebaik-baik masa tentu tidak akan terjadi fitnah dan perpecahan umat. Kalau mereka semuanya adalah orang-orang terbaik dan pilihan tentu tidak akan terjadi pertumpahan darah di antara mereka, tentu tidak akan ada sahabat yang membunuh sahabat lainnya. Sebab orang adil tidak akan membunuh orang lain yang diharamkan Allah SWT untuk dibunuh. Seandainya seluruh sahabat adil dan masa mereka adalah masa terbaik tentu tidak akan terjadi pembunuhan kepada Imam Ali as dan kedua putranya yang merupakan buah kecintaan Rasulullah, dan juga pembantaian atas ratusan sahabat pada tragedi Al-Harrah. Kalau masa mereka adalah masa terbaik tentu kekhalifaan diserahkan kepada yang terbaik diantara mereka, bukan diserahkan kepada orang yang menyalahgunahkan kekhalifaan dan merubahnya menjadi kerajaan untuk kepentingan keluarganya. Karena sejarah menyodorkan kepada kita kisah tragis, tentang terjadinya peperangan antara dua kelompok besar, kelompok Imam Ali as dan kelompok Muawiyah maka ada tiga kemungkinan. Kemungkinan pertama kedua kelompok ini salah, kemungkinan ini kita tolak karena mereka adalah sahabat nabi, dan (menurut hadits diatas) termasuk generasi terbaik. Kemungkinan kedua, kedua kelompok yang bertikai semuanya benar, kemungkinan inipun kita tolak sebab seandainya mereka semua berada di jalan yang benar, tentu mereka tidak akan berperang dan saling bunuh. Bila terjadi perselisihan pun tentu perselisihan itu tidak akan sampai pada derajat saling bunuh dan bisa diselesaikan dengan syar'i, tanpa harus menumpahkan darah kelompok lain. Bukankah mereka orang-orang yang lebih paham tentang agama ini?. Karena sejarah mempertontonkan diantara kedua kelompok ini terjadi pertumpahan darah yang menyebabkan banyaknya kaum muslimin yang terbunuh, maka kemungkinan yang paling mungkin adalah, diantara kedua kelompok ini ada yang benar dan ada yang salah. Yang harus dijawab juga adalah, kalau masa sahabat, masa sesudahnya dan sesudahnya adalah masa terbaik dalam perjalanan umat Islam mengapa justru fitnah kubra terjadi pada masa mereka?. Sementara setelah masa mereka tidak terjadi fitnah sebesar dan stragis masa mereka. Tolok ukur kebenaran hadits adalah tidak mungkin hadits yang disampaikan Rasulullah saww bertentangan dengan realita yang terjadi. Saya pribadi menyangsikan keshahihan hadits ini. Kalau disuruh memilih saya lebih memilih hadits yang menyatakan, "Sebaik-baik manusia adalah yang paling banyak manfaatnya bagi manusia yang lain." Ataupun firman Allah SWT, "Sungguh sebaik-baiknya diantara kamu di sisi Allah ialah yang paling bertakwa." (Qs. Al-Hujurat: 13).
Hadits Kedua:
Dari Anas ibn Malik ra. bahwa Rasulullah saw. bersabda: “Umatku akan terpecah menjadi 73 golongan semua di neraka kecuali satu”. Mereka bertanya: Siapakah yang satu itu wahai Rasulullah saw. ? Beliau menjawab: “Yang (mencontoh) kepadaku dan para sahabatku saat ini”. HR. at-Thabrani dalam al-Mu’jam as-Shagir no. 724
Hadits di atas menjelaskan golongan yang selamat adalah mereka yang mencontoh kepada Rasulullah saww dan para sahabatnya. Siapakah sahabat yang dimaksud Rasulullah? apakah mereka yang lemah iman, lari tunggang langgang saat peperangan dan yang berbalik mengingkari janjinya sepeninggal Rasulullah saww?. Tentu saja jawabannya, tidak. Yang dimaksud sahabat oleh Rasulullah adalah mereka yang setia dengan perjuangan dan semangat revolusi Islam dan dalam sejarah terbukti tidak melakukan penyimpangan terhadap sunnah Rasulullah saww. Apakah logis jika yang dimaksud Rasulullah adalah sahabat yang mengubah sunnah sepeninggalnya?. Hadits ini tidak membenarkan pendapat bahwa semua sahabat adil, semua sahabat harus menjadi rujukan pemahaman keislaman, melainkan hanya dikhususkan kepada sahabat yang mematrikan kehidupannya pada ajaran-ajaran Ilahi dan sunnah Rasulullah dan tidak sesaatpun menyimpang darinya. Jika yang dimaksud Rasulullah adalah mencontoh para sahabatnya –sebagaimana definisi Ibnu Hajar- maka sama halnya Rasulullah menginginkan umatnya berpecah belah, sebab tidak ada yang memungkiri adanya perselisihan di antara sahabat dan mereka saling berpecah belah. Karenanya hanya satu kemungkinan, yang dimaksud Rasulullah "para sahabarku" adalah sahabat-sahabat yang benar-benar mencontoh Rasulullah dan tidak menyelisihinya sedikitpun.
Hadits Ketiga:
Sabda Rasulullah shallallahu alaihi wasallam kepada Umar bin al-Khattab radhiyallahu anhu: "Apakah engkau mengetahui, bahwa Allah Ta'ala telah melihat (ke dalam hati) orang-orang yang ikut dalam perang Badar, lalu Ia berfirman: "Lakukanlah apa yang kalian kehendaki, sungguh Aku telah mengampuni kalian".HR. al-Bukhari, no. 3983, dan Muslim, no. 2494 Makna hadits ini telah kita kaji pada pembahasan sebelumnya.
Hadits Keempat:
Dari Abu Musa al-Asy'ari radhiallahu anhu, Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda: "Bintang-bintang itu penjaga bagi langit, jika ia lenyap maka terjadilah pada langit apa yang telah dijanjikan. Aku adalah penjaga bagi sahabatku, jika aku telah tiada, maka akan terjadi pada sahabatku apa yang dijanjikan. Dan para sahabatku adalah penjaga umat ini, jika mereka tiada, maka akan terjadi pada umat ini apa yang dijanjikan". HR. Muslim, no. 2531
Hadits ini senada dengan hadits berikut:
Hadits Keenam:
Dari Watsilah bin al-Asqa' radhiallahu anhu, ia berkata, Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda: "Kalian akan senantiasa berada dalam kebaikan selama masih ada di antara kalian orang yang pernah melihat dan menemaniku. Demi Allah, kalian akan senatiasa berada dalam kebaikan selama masih ada di antara kalian orang yang pernah melihat orang yang melihatku dan berteman dengan orang yang menemaniku". (HR. Ibnu Abi Syaibah, XII/178, Ibnu Abi 'Ashim, II/630, at-Thabarani dalam al-Kabir, XXII/85. Dihasankan oleh al-Hafidz Ibnu Hajar dalam al-Fath, VII/5. al-Hafidz al-Haitsami berkata dalam al-Majma', X/20: Diriwayatkan oleh at-Thabarani melalui beberapa jalur, dan salah satunya melalui perawi-perawi shahih). Saudaraku, apakah dengan ketiadaan orang yang pernah melihat dan menemani Nabi saww di sisi kita adalah kecelakaan bagi umat ini?. Apakah ini jawaban dari keterbelakangan umat Islam, kelemahan iman, kemunduran akhlak dari mayoritas kita karena sudah tidak ada sahabat yang menjadi penjaga umat ini?.
Akh, maafkan saya, kalau lebih memilih firman Allah SWT yang suci dari pada ucapan yang belum terjamin kemutlakannya pernah disabdakan oleh Nabi-Nya. Allah SWT berfirman, "Demi masa. Sungguh, manusia berada dalam kerugian, kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan kebajikan serta saling menasehati untuk kebenaran dan saling menasehati dalam kesabaran." (Qs. Al-'Asr: 1-3). Ayat ini menegaskan manusia senantiasa berada dalam kebaikan selama mereka beriman, mengerjakan kebajikan, saling menasehati untuk kebenaran dan saling menasehati dalam kesabaran. Allah SWT tidak mempersyaratkan harus ada sahabat Nabi di antara kita untuk senantiasa berada dalam kebaikan. Bagi yang meyakini keshahihan hadits di atas, silahkan menjadikan hadits tersebut sebagai hujjah ketika umat lain bertanya, "Mengapa umat Islam saat ini tidak pernah bisa maju-maju, terbelakang dan tahunya mengekor saja." Jawab saja, "Karena tidak ada lagi sahabat yang menjadi penjaga umat ini, sebab kami tidak lagi berada dalam kebaikan, sahabat Nabi telah meninggalkan kami sejak 1300 tahun lalu." Syukur-syukur, jika mereka ketika mendengar jawaban ini tidak menertawakan. "Dan mereka membuat tipu daya, maka Allah pun membalas tipu daya. Dan Allah sebaik-baik pembalas tipu daya." (Qs. Ali-Imran: 54).
Hadits Kelima:
Dari Umar bin al-Khattab radhiallahu anhu, Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda: "Muliakanlah para sahabatku, karena sesungguhnya mereka adalah (generasi) terbaik kalian". HR. Abdun Ibnu Humaid dan al-Hakim dengan sanad Shahih. Lihat Misykat al-Mashabih, Syaikh al-Albani, III/1695 Saya tidak habis pikir, ketika menyabdakan ini Rasulullah berbicara dengan siapa?. Bukankah yang menjadi mukhatib (pendengar) langsung adalah sahabat sendiri, termasuk Umar bin Khattab ra yang meriwayatkan hadits ini. Ataukah hadits ini menunjukkan Umar bin Khattab ra bukan sahabat nabi, sehingga Rasulullah saww memesankan kepada beliau untuk memuliakan para sahabatnya?. Kalau pesan Rasul ini diperuntukkan kepada generasi setelah sahabat termasuk generasi kita, seharusnya teks hadits tersebut tidak seperti itu. Minimal berbunyi, "Sampaikan kepada generasi setelah kalian (sahabatku), bahwa mereka harus memuliakan kalian, karena kalian adalah generasi terbaik mereka." Problem semantik lainnya dari hadits ini, kalau generasi sahabat adalah generasi terbaik, maka kita sekarang ini sebagai generasi apa?. Bukankah semakin jauh jarak dengan generasi terbaik maka semakin jauh pula pada kebaikan?. Bisakah kita menerima bahwa umat Islam sesungguhnya mengalami evolusi regressif, makin hari makin mundur dan bukannya evolusi progressif, makin hari makin menuju kesempurnaan?. Saya pribadi menolaknya, sebab saya yakin suatu waktu umat Islam mencapai puncak kegemilangan peradaban. Itu pasti, dan umat Islam saat ini menuju kesana, meski dengan merangkak sekalipun.
Hadits Ketujuh:
Dari Anas bin Malik radhiallahu anhu, dari Nabi shallallahu alaihi wasallam, beliau bersabda: "Tanda iman itu cinta kepada kaum Anshar dan tanda kemunafikan adalah membenci kaum Anshar". (HR. al-Bukhari, no. 3500, dan Muslim, no. 74). Di dalam beberapa riwayat bahkan disebutkan secara eksplisit jaminan syurga kepada banyak sahabat, seperti yang disebut dalam hadits riwayat Imam at-Tirmidzi no. 4112 dan selainnya: bersabda: “Abu Bakar di syurga, Umar di syurga, Utsman di syurga, Ali di syurga, Thalhah di syurga, Zubair di syurga, Abdurahman ibn Auf di syurga, Sa’ad (ibn Abi Waqqash) di syurga, Said (ibn Zaid ibn Amru ibn Nufail) di syurga, Abu Ubaidah ibn al-Jarrah di syurga” Saya tidak menolak hadits ini. Kaum Anshar adalah kaum yang banyak memberikan kontribusi besar terhadap tumbuh berkembangnya Islam, dan menjadi perintis terbentuknya Daulah Islamiyah. Kita wajib mencintai mereka sebagaimana layaknya kecintaan kepada saudara-saudara kita seiman. Namun apakah yang dimaksud kaum Anshar dalam hadits Rasulullah tersebut yang kita wajib mencintainya adalah keseluruhan kaum Anshar tanpa terkecuali?. Berdasarkan firman suci Allah SWT, "Dan diantara penduduk Madinah (ada juga orang-orang munafik), mereka keterlaluan dalam kemunafikannya." (Qs. At-Taubah: 101) tentu saja yang dimaksud Rasulullah tidak semua kaum Anshar, sebab di antara mereka ada yang keterlaluan dalam kemunafikannya. Lalu bagaimana hadits ini bisa menjadi referensi penetapan hukum bahwa semua sahabat adil dan wajib mencintainya dan yang membencinya adalah tanda kemunafikan sementara diantara mereka ada yang munafik?. Begitupun dengan riwayat yang menyebutkan secara eksplisit jaminan surga kepada banyak sahabat. Apakah riwayat-riwayat tersebut serta merta membenarkan pernyataan semua sahabat adalah ahli surga dan tak ada satupun yang ke neraka?.
Allah SWT bertanya, "…Mengapa kamu (berbuat demikian)? Bagaimana kamu mengambil keputusan?" (Qs. Yunus : 35)
Menimbang Kejujuran Ulama Ahlus Sunnah
Selanjutnya kita lihat fatwa-fatwa beberapa ulama Ahlus Sunnah yang menetapkan hukum bagi mereka yang mencela dan menghina sahabat. Imam Malik rahimahullah berkata: “Mereka yang membenci para sahabat Rasulullah shallallahu alaihi wasallam adalah orang-orang kafir”.(Tafsir al-Qur'an al-Adzim, Ibnu Katsir V/367-368.) Dengan fatwa ini, mari, mulai sekarang kita menetapkan kekafiran untuk Muawiyah dan anaknya Yazid. Apakah Muawiyah bin Abu Sufyan yang mengangkat senjata memerangi Imam Ali as -yang tercatat sebagai sahabat nabi dan Ahlul Bait beliau- dan memerintahkan kepada pengikut-pengikutnya untuk melaknat Imam Ali as di mimbar-mimbar masjid dengan semangat kecintaan dan bukan kebencian?. Ammar bin Yasir ra salah seorang sahabat nabi yang utama dan mulia terbunuh pada perang Siffin ditangan Muawiyah dan tentaranya. Dengan motivasi apa Yazid bin Muawiyah memerintahkan Muslim bin Uqbah dan bala tentaranya untuk menyerang kota Madinah dan menghalalkan mereka berbuat apa saja terhadap penduduk Madinah selama tiga hari?. Tragedi ini dikenal dengan sebutan Tragedi Al-Harrah yang mengakibatkan terbunuhnya sekitar tujuh ratus tokoh sahabat dari Muhajirin dan Anshar. Sayangnya, fatwa ini tidak untuk Muawiyah dan anaknya Yazid. Dengan hadits yang dibuat-buat, Muawiyah justru dikenal sebagai penulis wahyu Rasulullah, sahabat yang di do'akan Rasulullah saww akan senantiasa berada dalam petunjuk dan mampu memberi petunjuk dan akhirnya menjadi khalifah atas kaum muslimin dan kekafiran bagi mereka yang melaknatnya. Sedangkan Adz-Dzahabi berkata tentang Yazid, "Kita tidak mencela Yazid, tapi tidak pula mencintainya." Dan menurut mereka, selesailah persoalan.
Kita lihat fatwa berikutnya.
Imam Ahmad bin Hambal rahimahullah berkata: Wajib atas pemerintah memberi hukuman dan siksaan serta tidak boleh memberi maaf baginya (penghina sahabat). Bahkan harus menegakkan hukum dan memaksanya untuk bertaubat.(As-Sunnah, Ahmad bin Hambal, hal: 78, Tahqiq: Syaikh al-Albani, al-Maktab al-Islami, Beirut, th. 1400 H / 1980 M. ) al-Qadhi ‘Iyadh rahimahullah berkata: “Menghina salah satu dari mereka (sahabat) merupakan dosa besar. Menurut kami dan jumhur ulama, bahwa orang yang melakukan demikian pantas mendapat ta’ziir (hukuman setimpal menurut kebijaksanaan hakim). (Al-Syifa Bi Ta'riifi Huquq al-Mushtafa, II/653, tahqiq: Muhammad Amin Qurrah Ali, Muassassah Ulum al-Qur'an, Damaskus.) Imam Ahmad bin Hambal dan al-Qadhi 'Iyadh mengeluarkan fatwa bahwa pemerintah dan hakim wajib memberikan hukum yang setimpal kepada mereka yang menghina sahabat nabi. Sekali lagi, ketika berhadapan dengan pemerintahan Muawiyah dan Yazid mereka hanya bungkam seribu bahasa. Di masa pemerintahan Muawiyah, Imam Hasan as ditemukan tergeletak tak bernyawa di rumahnya, penyebab kematiannya adalah racun yang menghancurkan ulu hatinya. Tak ada upaya dari Muawiyah selaku khalifah dan pemerintah saat itu untuk mengusut tuntas kasus ini, bahkan wasiat terakhir Imam Hasan as untuk dimakamkan di sisi makam Rasulullah saww kakeknya, tidak digubris khalifah dan dimakamkan di pemakaman Baqi. Sesuai fatwa Imam Ahmad bin Hambal wajib bagi Muawiyah menegakkan hukum dan memberi hukuman dan siksaan bagi pembunuh Imam Hasan as. Sebab pembunuhan lebih kejam dari penghinaan. Ataukah fatwa tersebut hanya berkenaan dengan penghinaan dan tidak untuk pembunuhan?. Mengapa tidak ada gugatan atas Muawiyah mengenai hal ini?. Apakah fatwa Imam Ahmad ini hanya berlaku untuk masa beliau dan sesudahnya dan tidak untuk masa sebelumnya. Bagi saya berpedoman dengan keputusan hukum Imam Ahmad, kita wajib melakukan gugatan kepada Muawiyah yang tidak melaksanakan kewajibannya sebagai khalifah yang berkewajiban melindungi warganya. Melaknatnya kalau perlu dan tidak boleh memberi maaf baginya. Soeharto sampai hari ini –meski telah berkalang tanah- terus mendapat penggugatan dan diminta untuk diadili, karena ia mewariskan sepah-sepah kekejian. Ia harus bertanggungjawab atas pembantaian jutaan warga yang diduganya PKI, pembantaian kaum muslimin di Tanjung Priok, Lampung, Aceh dan telah menyeret bangsa ini kekubangan krisis yang menanggung tumpukan hutang luar negeri. Apakah kita rela, jika dengan kezaliman-kezaliman ini Soeharto bukannya mendapat hukuman malah mendapat gelar sebagai pahlawan nasional dan diagungkan?. Begitu juga pada masa pemerintahaan Yazid bin Muawiyah. Karbala mengisahkan tragedi berdarah dan menjadi saksi atas tertumpahnya darah dari keluarga suci Rasulullah dan beberapa sahabatnya yang setia. Yazid tidak memberi hukuman kepada Ubaidillah bin Ziyad kalaupun memang Yazid tidak ridha dengan tindakan gubernurnya itu. Bahkan selanjutnya lebih banyak lagi sahabat yang dibantai di Madinah dengan perintahnya. Mengapa para mufti kita ini melewatkan peristiwa ini begitu saja, dan tidak ada sama sekali kecaman kepada Muawiyah dan Yazid selaku khalifah yang sewenang-wenang dan dzalim dengan kekuasaannya. Allah SWT berfirman, "Ingatlah, laknat Allah ditimpakan atas orang-orang yang dzalim." (Qs. Hud: 18). Imam al-Hafizh Adz-Dzahabi rahimahullah berkata dalam kitabnya al-Kabair hal. 352-353: “Barangsiapa yang mencaci dan menghina mereka (para shahabat), maka sungguh ia telah keluar dari agama Islam dan merusak kaum muslimin."
Benar, Muawiyah dan Yazid tidak sekedar menghina sahabat-sahabat nabi, namun juga sampai tingkat memerangi dan membunuhnya. Karenanya keduanya telah keluar dari Islam dan merusak kaum muslimin. Kalau dikatakan hukum ini tidak untuk Muawiyah karena dia juga sahabat nabi, apakah ini berarti sesama sahabat tidak apa-apa saling menghina dan saling berperang?. Lalu mana konklusinya dengan perintah kita harus ikut sahabat dalam iman dan amal?. Kalau sesama sahabat saling meghina, bukankah kita juga harus saling menghina?. Mereka mewariskan sunnah saling menumpahkan darah di antara mereka, mari kita saling berperang, sebagai ketaatan kita kepada hadits, "Yang selamat ialah orang yang mengikuti apa yang Aku lakukan dan dilakukan oleh sahabatku" (HR. Tirmidzi). Atau mari kita menyatakan perang terhadap Muawiyah, ajaran-ajaran dan pengagum-pengagumnya sebagaimana Imam Ali as memeranginya. Bukankah ada titah Rasulullah, "Sesungguhnya siapa yang hidup (lama) diantara kamu, maka ia akan melihat perselisihan yang banyak, maka ikutilah sunnahku, dan sunnah Khulafaur Raasyidin yang mendapat petunjuk". (Hadits Shahih Riwayat Tirmidzi). Dan tidak ada perselisihan sedikitpun bahwa diantara mereka yang termasuk Khulafaur Raasyidin adalah Imam Ali as, dan Muawiyah sama sekali tidak terhitung. Salah satu sunnah Imam Ali as selaku Khulafaur Raasyidin, adalah memerangi Muawiyah. Saya yakin, sekiranya sahabat Abu Bakar, Umar bin Khattab dan Utsman bin Affan (Radiyallahu anhum) masih hidup ketika perang berkecamuk antara pasukan Imam Ali as dan Muawiyah, nisacaya ketiga sahabat yang mulia ini akan berada pada barisan Imam Ali as.
Saya perlu menyertakan juga contoh lain. Dalam at-Tabaqot al-Kubra Jil:4 Hal:335, Siar a’alam an-Nubala’ Jil:2 Hal: 612, kita akan menemukan perselisihan tajam antara khalifah Umar ra dan Abu Hurairah. Umar bin Khattab berkata kepada Abu Hurairah “Wahai musuh Allah dan musuh kitab-Nya, engkau telah mencuri harta Allah”? (ya ‘aduwallah wa ‘aduwa kitabihi saraqta maalallah). Kecaman keras Umar bin Khattab ra ini karena betapa mudahnya Abu Hurairah dalam meriwayatkan hadits, ia seenaknya menetapkan hukum dengan menisbahkannya kepada Rasulullah saww. Khalifah Umar mengecam Abu Hurairah dan menyebutnya sebagai musuh Allah. Berdasarkan fatwa mayoritas ulama Ahlus Sunnah, apakah kecaman khalifah Umar ra terhadap Abu Hurairah yang terhitung sebagai sahabat nabi menyebabkan kekafirannya?. Kalau dikatakan tidak, sebab Umar bin Khattab ra adalah juga sahabat nabi, lalu apakah saya bisa disalahkan ketika saya selektif dan curiga terhadap setiap hadits yang diriwayatkan Abu Hurairah bahkan memberikan kecaman keras sebagaimana yang dilakukan khalifah Umar ra?. Bukankah Umar bin Khattab ra adalah salah seorang yang tercatat sebagai Khulafaur Raasyidin?. Benar-benar kontradiksi yang sangat akut.
Suatu hari, Abu Hurairah meriwayatkan satu hadis dengan mengucapkan: “Kekasihku (Rasulullah saww) telah berbicara kepadaku…”, lantas Imam Ali as berkata: “Sejak kapan beliau menjadi kekasihmu?” (al-Matholib al-Aliyah Jil:9 Hal:205)
al-Qadhi Abu Ya'la rahimahullah berkata: Yang merupakan pendapat para fuqaha (ahli Fiqhi Islam) tentang hukum menghina sahabat: Jika ia menghalalkan perbuatan tersebut maka ia kafir, namun jika tidak menghalalkan maka ia fasiq. (Hukmu Sabbi as-Shahabah, Ibnu Taimiyah, hal: 33.) Fatwa ini menyatakan bahwa yang menghalalkan penghinaan terhadap sahabat maka kafir. Karenanya berdasarkan fatwa ini, bagi mereka yang menghalalkan perbuatan Muawiyah dan Yazid terlebih lagi mencari-cari dalih untuk membenarkan mereka, maka kafir. "Ya Allah lindungilah kami dari kekafiran dan dari menghalalkan perbuatan mereka yang menghina, memerangi dan membunuh sahabat nabi-Mu."
Renungan
Di akhir tulisannya, Rahmat A. Rahman memberi renungan dengan menulis, "Generasi terbaik setiap nabi adalah sahabat-sahabat mereka, generasi terbaik Nabi Musa adalah sahabat dekat beliau, generasi terbaik Nabi Isa adalah kaum hawariyyun dan mereka adalah sahabat dekat beliau, maka bagaimana mungkin tuduhan kaum Syiah bahwa sebagian besar sahabat-sahabat Rasulullah saw. adalah kafir dan murtad sepeninggal beliau dapat diterima agama dan akal sehat ? Allahul Musta’an."
Sebuah renungan yang bijak. Namun apakah sesuai dengan kenyataan?. Kebanyakan ajaran-ajaran Nabi justru dirusak oleh sebagian dari sahabat-sahabat mereka. Samiri sebagai salah seorang sahabat terdekat Nabi Musa as dan dikenal sebagai tokoh terkemuka dikalangan Bani Israel, melakukan pengkhianatan dengan menyesatkan umat nabi Musa as. Samiri membuat patung anak sapi dari emas dan mengatakan, "Inilah Tuhanmu dan Tuhannya Musa, tetapi dia (Musa) telah lupa." (baca Qs. Taha: 88). Karena dekatnya kedudukan Samiri di sisi Musa dan karena ketokohannya, Bani Israel menganggap apa yang dikatakan Samiri berarti juga apa yang dikatakan Nabi Musa as. Mereka pun menuruti perkataan Samiri dan menyembah patung anak sapi tersebut. Mengetahui kenyataan ini, nabi Musa as kembali kepada kaumnya dengan marah dan bersedih hati. Kaumnya berdalih, "Kami tidak melanggar perjanjianmu dengan kemauan kami sendiri, …Samiri melakukannya, maka kami juga melakukannya."(baca Qs. Taha: 87). Perhatikan, nabi Musa as masih berada di tengah-tengah mereka, namun mereka telah berani mengubah-ubah ajarannya dengan pengubahan yang justru sangat bertolak belakang dengan nilai ketauhidan yang menjadi spirit ajaran nabi Musa as. Maka tidak heran, sepeninggal nabi Musa as, ajaran nabi Musa as tidak lagi dikenal sebagai ajaran tauhid dan Taurat mereka ubah sesuka hati mereka. Hanya sedikit dari kalangan mereka yang tetap setia dengan ajaran nabi Musa as, itupun tersingkirkan dan terpinggirkan. Diantaranya yang kisahnya sangat ma'ruf adalah Ashabul Kahfi, yang hanya berjumlah sekitar tujuh orang (Allah SWT yang lebih mengetahui jumlah pastinya), mereka adalah pemuda-pemuda yang harus tersingkir dan berlindung di dalam gua untuk mempertahankan aqidah mereka.
Nabi Isa as juga mengalami hal serupa. Yudas dikenal sebagai murid Nabi Isa as yang terbaik dari kalangan hawariyyun. Namun justru Yudas lah yang menunjukkan kepada tentara Romawi yang mencari dan ingin membunuh Nabi Isa as yang tidak mereka kenal. Dengan petunjuk itu, Nabi Isa as ditangkap dan dibawa ke hadapan Sanhendrin, Dewan Pengadilan Yahudi yang memutuskan Nabi Isa as harus disalib karena telah menghujat Tuhan. Dengan kekuasaan Allah SWT sebenarnya bukanlah Nabi Isa as yang disalib, melainkan Yudas -sang pengkhianat- sendiri yang diserupakan wajahnya dengan Nabi Isa as. Tentang ini Allah SWT berfirman, "dan (Kami hukum juga) karena ucapan mereka, "Sesungguhnya kami telah membunuh Al-Masih, Isa putra Maryam, Rasul Allah", padahal mereka tidak membunuhnya dan tidak (pula) menyalibnya, tetapi (yang mereka bunuh adalah) orang yang diserupakan dengan Isa." (Qs. An-Nisa': 157). Dan selanjutnya, Injil, kitab suci yang dibawa Nabi Isa as juga mengalami nasib serupa dengan Taurat. Saya ingin bertanya, siapa yang lebih mampu mengotak-atik ajaran Taurat dan Injil dan menyesatkan kaum Yahudi dan Nashrani dari ajaran tauhid?. Apakah musuh-musuh Nabi (yang kafir dan musyrik) bisa melakukannya dan kemudian mengajak kaum Yahudi dan Nashrani untuk meyakininya sebagai ajaran Nabi?. Yang bisa melakukannya hanyalah mereka yang dikenal sebagai orang terdekat Nabi as, mereka diyakini sebagai orang yang paling paham tentang ajaran Nabi as, sehingga sepeninggal Nabi as mereka dijadikan sumber rujukan. Sayangnya, pengkhianat dan kaum munafik selalu ada. Mereka ada dimana saja, tanpa memilih ras, suku dan agama. Mereka bisa muncul dikalangan Budha, Hindu, Kristen ataupun Islam, Sunni maupun Syiah. Di Arab, Eropa, Asia atau di Afrika, masa lalu, sekarang dan nanti. Munafik adalah mereka yang mencium tangan pemimpinnya karena belum punya kesempatan untuk menggigit. Dan disaat menggigit, mereka disebut pengkhianat. Orang-orang munafik dan pengkhianat, juga ada terselip diantara sahabat-sahabat terbaik nabi Muhammad saww. Berbeda dengan dua kitab samawi sebelumnya, Al-Qur'an sebagai kitab terakhir mendapat penjagaan ketat dari Allah SWT dari penyelewengan dan penyimpangan, maka satu-satunya cara untuk mengubah-ubah ajaran nabi adalah melalui sunnahnya.
Ulama-ulama dari kalangan Yahudi dan Nashrani disebut sebagai Ahlul Kitab karena penguasaan mereka terhadap kitab-kitab Allah SWT, yang dengan itu mereka mudah melakukan apa saja terhadap Taurat dan Injil. Mayoritas dari Ahlul Kitab, jika ayat-ayat dalam al-Kitab sesuai dengan keinginan mereka, mereka pertahankan dan jika tidak, mereka ubah sesuai hawa nafsu mereka. Ulama-ulama dari kalangan umat Islam, tidak bisa menyebut diri mereka sebagai Ahlul Kitab, karena mereka tidak memiliki penguasaan terhadap al-Kitab (baca: Al-Qur'an). Karena itu mereka menyebut diri sebagai ulama Ahlus Sunnah. Dengan penguasaan mereka terhadap sunnah nabi, mereka mudah melakukan apa saja. Mengkafirkan, menuduh, mengucilkan, memboikot dan memerangi. Sehingga 'Ashabul Kahfi' umat ini pun harus tersingkir dan berlindung dalam gua.
Ayat ini semoga bisa menjadi renungan. Untuk Ahlul Kitab, Ahlus Sunnah dan siapa saja. Allah SWT berfirman, ""Wahai Ahlul Kitab! Mengapa kamu mengingkari ayat-ayat Allah, padahal kamu mengetahui (kebenarannya)?, Wahai Ahlul Kitab, mengapa kamu mencampur adukkan kebenaran dengan kebatilan, dan kamu menyembunyikan kebenaran, padahal kamu mengetahui." (Qs. Ali-Imran: 70-71).
"Les to’a serbet", sebuah pepatah Perancis,"Sejarah selalu berulang".
Selesai di tulis di Qom, 17 Safar 1429 H/ 25 Bahman 1387 HS/ 13 Februari 2009 M.
Hormat Saya
Ismail Amin
Mahasiswa Mostafa International University Republik Islam Iran
Catatan tambahan: Rahmat A. Rahman menukil dalam artikelnya riwayat-riwayat dalam kitab-kitab Syiah yang mencela dan menghina sahabat. Saya merasa tidak perlu menanggapinya, sebab Rahmat A. Rahman sendiri meyakini orang-orang Syiah adalah orang-orang yang paling keterlaluan dalam berdusta. Jadi sebenarnya buat apa dinukil, bukankah itu hanyalah tebaran kedustaan?.
Tulisan Rahmat A. Rahman di muat di http://www.wahdah.or.id/

4 komentar:

Anonim mengatakan...

Tanggapannya kosong, mutar balik tulisan aja

muhammad mengatakan...

kenapa korang mengatakan bahawa kitab korang lebih baik daripada Al-Quran??? berubahlah kalian hai syiah...kembalilah pada syariat yg sebenar.....

Anonim mengatakan...

Emangnya ayat2 Al-Qur'an yang anda bawakan di atas siapa yang ngumpulin dan mengkodifikasinya menjadi mushaf spt skrg ini? sahabat atau siapa? dan hadits2 yg anda bawain di atas riwayat siapa mas? sahabat atau siapa? jika anda ragu terhadap sahabat, seharusnya anda ragu juga terhadap al-Qur'an yg ada skrg, jika bener demikian.. memang berarti syi'ah jenis ini sudah pantas dikeluarkan dari millah.. lakum dinnukum waliyaddin aja dech..

Anonim mengatakan...

Jangan malas bung, orang malas belajar hadist ya gitu itu, seenaknya sendiri mengartikannya, akibatnya sesat dan menyesatkan.

Abdullah bin Saba’ adalah seorang pendeta Yahudi dari Yaman yang pura-pura masuk Islam pada akhir kekhalifahan ‘Utsman radiallahu ‘anhu. Dialah orang yang pertama mengisukan bahwa yang berhak menjadi khalifah setelah Rasulullah Shallallahu’Alaihi Wasallam adalah Ali Shallallahu ‘AlaihiWasallam. Tetapi pada abad ke-14, dimunculkanlah isu bahwa Abdullah bin Saba’ itu adalah manusia bayangan. Mungkin didorong oleh rasa tidak enak, karena timbul imajinasi bahwa ajaran Syi’ah itu berasal dari Yahudi.Tetapi itu merupakan fakta sejarah yang telah dibakukan,diakui oleh ulama-ulama Syi’ah pada jaman dahulu hingga sekarang. Sungguh keliru orang yang mengatakan bahwa tidak ada perbedaan antara Sunni dan Syi’ah, kecuali sebagaimana perbedaan yang terjadi antara madzhab yang empat (Hanafi, Maliki, Syafi’i dan Hambali) dan masalah-masalah furu’iyah ijtihadiyyah! Ketahuilah bahwa Syi’ah adalah agama di luar Islam.Perbedaan antara kita kaum Muslimin dengan Syi’ah sebagaimana berbedanya dua agama dari awal sampai akhir yang tidak mungkin disatukan, kecuali salah satunya meninggalkan agamanya.Agar para pembaca mengetahui bashirah (yakni hujjah yang kuat dan terang naqliyyun dan aqliyyun) bahwa Syi’ah adalah dien/agama, maka di bawah ini kami tuliskan sebagian dari aqidah Syi’ah yang tidak seorang Muslim pun meyakini salah satunya melainkan dia telah keluar dari Islam.
http://abangdani.wordpress.com/2010/07/13/fatwa-fatwa-sesat-agama-syiah/