13 Februari, 2008

Pengalaman Belajar di Kota Suci Qom

Pintu Gerbang Universitas Imam Khomeini Qom Qom, kota propinsi yang terletak 140 km sebelah utara Teheran ibu kota Iran. Setiap harinya para peziarah dari berbagai daerah di Iran, bahkan luar Iran berdoa memohon keberkahan dari beberapa tempat suci diantaranya, makam dari Fatimah al-Ma'sumah, saudari dari Imam Ali ar-Ridha keturunan Rasulullah. Di kota inilah, tentara Iran pertama kali menyerah kepada milisi Revolusi Islam yang sekaligus mengakhiri rezim Shah Pahlevi. Kota Qom merupakan pusat pendidikan Syi'ah terbesar di dunia. Hampir semua tokoh Iran mencicipi pendidikan keagamaan di Qom. Sehingga tidak heran jika Qom dikatakan sebagai pusat pengkaderan calon pemimpin agama sekaligus pemimpin politik. Tak kurang dari sederet nama-nama besar seperti Imam Khomeini, Imam Musa Sadr, Ayatullah Ali Khamaeni, Ayatullah Rafsanjani (mantan Presiden Iran 2 periode), Ayatullah Taqi Mizbah Yazdi, Hujjatul Islam Sayyid Khatami (Presiden Iran sebelum Ahmadi Nejad) bahkan Husein Tabataba’i, seorang anak dalam usia tujuh tahun meraih gelar Doktor dengan meraih nilai 93 di Hijaz College Islamic University terlahir dari pusat pendidikan keagamaan di Qom. Sejak Revolusi Islam Iran , Qom sudah menjadi salah satu kota multi nasional. Ribuan pelajar asing dari berbagai negara muslim, termasuk Indonesia , datang untuk menuntut ilmu di kota para Mullah ini. Tidak bisa dipungkiri, nama-nama besar tadi menjadi daya tarik bagi pelajar asing. Meski popularitasnya dikalangan kaum muslimin tidak sebagaimana Al Azhar di Mesir, namun Qom pun sudah pantas untuk disebut sebagai kota pelajar. Untuk menarik minat para pelajar asing, pemerintah Iran mengobral berbagai fasilitas serba gratis dari D3 sampai S3, dari fasilitas penginapan sampai beasiswa seratus persen. Dan sayapun termasuk seorang pelajar yang menimba ilmu di Qom , yang bukan saja tidak mengeluarkan biaya sama sekali malahan mendapat uang saku per bulannya. Dan bagi pelajar yang telah berkeluarga disediakan apartemen khusus sehingga dengan belajar di luar negeri tidak harus meninggalkan keluarganya di tanah air, sebab merekapun bisa ikut serta. Metode belajarnya terbilang unik, yang digunakan adalah sistem diskusi kecil. Sistem ini menyertakan 5 sampai 10 mahasiswa yang membahas satu mata kuliah. Kuliahpun tidak selalu dilakukan di dalam ruangan, namun sesekali di lakukan di tempat-tempat terbuka. Karenanya, kalau berkesempatan datang ke Qom, dengan mudah dapat disaksikan banyak sekali kelompok kecil yang sibuk mendiskusikan ilmu-ilmu agama, dari fikih sampai filsafat. Teman-teman menyebut metode belajar ini dengan sebutan metode Freiran. Tentu saja ini berbeda dengan Mesir (yang menurut informasi dari seorang teman yang belajar disana) masih menerapkan sistem klasikal dengan jumlah mahasiswa yang mencapai ratusan untuk setiap kelasnya. Di Qom jumlah peserta kuliah dibatasi sampai sepuluh orang setiap kelasnya. Hal ini memungkinkan setiap pengajar mengenal dengan baik tiap-tiap mahasiswanya dan proses pembelajaranpun berlangsung akrab dan intensif. Kegiatan ekstrakurikuler pun bisa menjadi pilihan bagi mahasiswa untuk mengisi waktu senggangnya, mulai kegiatan olahraga seperti, renang, sepakbola, karate, taekwondo dan beberapa khusus olahraga Iran maupun kegiatan seni, seperti khat (seni kaligrafi), Tanfidz Qur'an dan sebagainya. Yang unik lagi, meskipun Hauzah Ilmiyah yang mengkaji tentang ilmu-ilmu Islam tidak ada aturan khusus yang mengatur cara berpakaian mahasiswa, sebagaimana santri-santri yang belajar di pesantren-pesantren Indonesia, kami tetap dibiarkan masuk ke ruang kuliah dengan gaya berpakaian yang kami mau (asal tetap rapidan sopan), sehingga saya pribadi dan beberapa teman masih setia dengan kaos oblong ke ruang-ruang kuliah. Hal yang menarik lainnya, masyarakat Iran sangat menghormati pelajar-pelajar asing. Pelajar asing mengingatkan mereka dengan pendahulunya, Abu Dzar Al-Ghiffari dan Salman al- Farisi yang berjalan kaki dari Persia untuk bertemu langsung dengan Rasulullah SAW di Mekah untuk menimba ilmu. Sehingga mereka terkadang memberikan perlakuan khusus dan istimewa terhadap pelajar asing. Terkadang jika naik taksi oleh supir digratiskan, ataupun ketika berbelanja harganya lebih murah, kalau antri di dahulukan dan sebagainya. Meskipun tidak bisa dipungkiri tidak sedikit pula yang membenci dan tidak senang dengan kedatangan pelajar-pelajar asing. Terutama dari kelompok yang anti revolusi Islam. Di antara sekian banyak madrasah tradisional yang bertebaran di seputar kota Qom, terdapat pula lembaga-lembaga pendidikan modern, seperti Universitas Imam Khomeini dan Muassasah Imam Khomeini, yang mulai mengadopsi sitem pengajarn modern, di samping sistem tradisional yang tetap dipertahankan. Media pengajarannyapun mengalami modenisasi. Ribuan literatur penting, baik dari kalangan sunnah maupun syiah telah di rekam dalam CD dan belajar dengan sistem komputerisasi. Mahasiswa asal Indonesia termasuk pelajar asing yang terbesar di Qom . Jumlahnya sekarang melebihi 200 orang, yang tersebar di berbagai Universitas dan Hauzah Ilmiyah. Karenanya, Indonesiapun dikenal oleh masyarakat Iran melalui interaksi dengan mahasiswa-mahasiswa asal Indonesia. Selain lembaga-lembaga formal, di kota Seribu Mullah ini, bertebaran majelis-majelis kajian yang berjalan rutin dan bisa diikuti semua kalangan secara gratis. Istimewanya, para narasumber yang mengisi majelis-majelis tersebut bukanlah orang sembarangan. Tak kurang nama-nama beken seperti Ayatullah Javadi Amuli, Ayatullah Makarim Syirazi, Ayatullah Muhammad Taqi Mizbah Yazdi, Sayyid Kamal Haedari, Ayatullah Jaf'ar Subhani dan deretan Ayatullah lainnya mengajar di majeli-majelis kajian bebas tadi. Masyarakat Qom pun termasuk masyarakat yang punya tradisi belajar yang sangat tinggi, jadi sangat sesuai dengan keberadaan para Ayatullah di Qom. Masjid-masjid tidak hanya mereka jadikan tempat shalat berjama'ah melainkan juga sebagai 'ruang kuliah' dengan mendengarkan ceramah-cermah setiap harinya dari para Ayatullah, dari persoalan fikih hari-hari sampai pada pembahasan filsafat yang rumit. Jumlah perpustakaan dan toko bukupun tersebar di mana-mana, dengan harga yang sangat terjangkau. Bahkan persentase keberadaan toko buku lebih tinggi dibanding toko yang menjual barang/jasa lainnya. Tidak cukup dengan itu, di emperan-emperan toko sangat mudah menemukan orang yang menggelar buku sebagai barang jualannya. Inilah sekilas tentang Qom, kota dari sebuah negeri yang menjadikan Islam sebagai asas pemerintahannya, tempat ilmu bisa ditimba sebebas-bebasnya dan gratis segratis cahaya matahari.

1 komentar:

gaul moslem mengatakan...

Ass ya akhi...>>>
ya, sy agra dri tnah air
sy tertrik crita akhi d Iran
kbtulan sy kul d univ. swsta islam d Yogyakarta..dan kbtulan jg kmrin hbis mngikuti seminar ttg Iran ma sistem penddikany?
Subhanallah...bnar2 bagus.. agra tertrik....>>>
agra mo tnya pa bnar penddkn dsn gratis buat ank luar Iran?kyk Indonesia?
thanks in advance buat info2nya!!
agra butuh info2 lbh ttg penddkn dsna..
kbrin sy d (agra_ala@yahoo.co.id)
saya tunggu..sukron
Ass............................