30 Januari, 2008

Mars PKI

Darah Rakjat

Darah rakjat masih berdjalan mendrita sakit dan miskin
Pada datangnja pembalasan rakjat jang mendjadi hakim Rakjat jang mendjadi hakim.
Ajo, ajo bergerak sekarang
Kemenangan pasti akan datang
Merahlah warna pandji kita
Merah warna darah rakjat, merah warna darah rakjat Kita bersumpah pada rakjat, kemiskinan pasti hilang
Kaum pekerdja akan memerintah, dunia baru pasti datang Dunia baru pasti datang ajo, ajo, bergerak sekarang
Kemenangan pasti akan datang
Merahlah warna pandji kita
Merah warna darah rakjat,
merah warna darah rakjat.
Semaoen, Aktivis Buruh dan Pemikir LAHIR di kota kecil Curahmalang, Mojokerto, pada tahun 1899, anak dari tukang batu. Kemunculannya di panggung politik pergerakan dimulai di usia belia, 14 tahun. Saat itu, tahun 1914, ia bergabung dengan Sarekat Islam (SI) afdeeling Surabaya. Setahun kemudian ia masuk ke Indische Sociaal-Democratische Vereeniging, organisasi sosial demokrat Hindia Belanda (ISDV) afdeeling Surabaya yang didirikan Sneevliet dan Vereeniging voor Spoor-en Tramwegpersoneel, serikat buruh kereta api dan trem (VSTP) afdeeling Surabaya. Di usia 16 tahun, sebagai Ketua SI Semarang, Semaoen banyak terlibat dengan pemogokan buruh. Pemogokan terbesar dan sangat berhasil di awal tahun 1918 dilancarkan 300 pekerja industri furnitur. Pada tahun 1920, terjadi lagi pemogokan besar-besaran di kalangan buruh industri cetak yang melibatkan SI Semarang. Pemogokan ini berhasil memaksa majikan untuk menaikkan upah buruh sebesar 20 persen dan uang makan 10 persen. Pada 23 Mei 1920, Semaoen mendirikan Partai Komunis Hindia. Tujuh bulan kemudian, namanya diubah menjadi Partai Komunis Indonesia. Semaun menacatat sejarah sebagai pemimpin partai komunis terbesar di Asia diusia 21 tahun. Puncak "karirnya" adalah ketika diangkat oleh Stalin menjadi pimpinan Badan Perancang Negara (Gozplan) di Tajikistan. Pemberontakan PKI 1926 yang dipimpinnya menginspirasi kaum muda organ2 lain untuk menyatukan kekuatan dan tercetuslah sumpah pemuda 2 tahun berikutnya. Tokoh termuda dalam pergolakan revolusi ini tak pernah dikenang bahkan tak pula digelari pahlawan. Tapi ia menemukan dunia sendirinya..... berjuang sampai akhir.
"Kaum muda bangkitlah, berpeluhlah.....
tunjukkan kita muda dan pahlawan....mereka tua dan pengkhianat....!"
(Semaoen)

2 komentar:

Yanuarebri mengatakan...

Salam..
bagus euy..
keren...

Anonim mengatakan...

liriknya kurang.. maaf.. dan itu bukan mars pki, karena ada 2 versi lirik, dalam lagu yang sama, yang dipakai partai murba pimpinan tan malaka waktu itu...