29 Januari, 2008

Yesus dalam Narasi Islam

"Ia akan menghapus segala air mata dari mata mereka"
(Wahyu 21:4)
Adalah sebuah kenyataan yang tidak bisa dipungkiri, Yesus as adalah tokoh yang kelahiran dan kehidupannya telah menciptakan gelombang gerakan kemanusiaan yang luar biasa. Ia termasuk yang disebut Thomas Carlyle sebagai 'pencipta' sejarah. Seorang tokoh teladan kemanusiaan yang sangat penting keberadaannya dalam tradisi Kristiani dan Islam. Geoffrey Parrinder, seorang Kristiani, ahli teologi Islam di Oxford University, Inggris, menulis sebuah buku yang sangat unik dan menarik berjudul Jesus in The Qur'an (Oxford: Oneworld, 1995). Kajian Geoffrey Parrindar dalam bukunya, menunjukkan bahwa Yesus merupakan salah satu dari sekian nabi yang mempunyai kedudukan sangat tinggi dan terhormat dalam Islam. Yesus dalam Al Quran disebut 'Isa. Nama Yesus berasal dari perkataan bahasa Syiria, Yeshu' , dan dalam bahasa Arab menjadi 'Isa. Di dalam Al Quran terdapat tiga surat yang berkaitan dengan Isa, yaitu: surat Al Imran, Al Maidah, dan Maryam. Nama Isa disebut sebanyak 35 kali, dan umumnya turun pada surat-surat Madaniyah, sedangkan sebutan tidak langsung namun berkaitan dengan 'Isa sebanyak 93 kali di dalam 15 surat. Al Quran memberikan sejumlah gelar kehormatan kepada 'Isa as lebih besar daripada kepada beberapa tokoh masa lampau lainnya. 'Isa as memperoleh setidaknya tiga gelar utama, yaitu: nabi, al-Masih , dan Anak Maryam. Dia seorang nabi karena memiliki kuasa (eksousia) sehingga mampu memperlihatkan mukjizat sebagai tanda atas kenabiannya. Patut disayangkan, meskipun tercatat sebagai nabi, apresiasi ummat Islam terhadap tokoh ini teramat minim, bahkan sebagai sosok yang asing. Yesus seakan-akan hanya 'milik' umat Kristiani. Kita sering lupa bahwa semua nabi adalah bersaudara dan mereka membawa misi tauhid. Apalagi di dalam rukun iman umat Islam diwajibkan untuk beriman kepada kitab suci dan nabi-nabi sebelum Islam. Dalam teologi Islam, Yesus memiliki status khusus sebagai salah satu nabi ulu’ al-‘azm, lima nabi utama dengan sejumlah keistimewaan, yang patut dihargai dan dihormati. Al-Qur'an menyediakan informasi yang mendetail tentang tahap-tahap kehidupan Yesus (as), dari kelahirannya, perjalanan dakwah tauhidnya, proses pengangkatannya ke haribaan Allah, kebangkitannya kembali dan kematiannya. Dalam al-Qur’an, banyak terdapat ayat yang menggambarkan penghormatan yang begitu tinggi terhadap Yesus. Dalam surah Ali-Imran ayat 45, Yesus digambarkan sebagai sebuah Kalimat dari Allah. Tentu saja penafsiran logos dalam teologi Kristen berbeda dengan penafsiran kalimat di kalangan umat Islam. Islam menyebut Yesus sebagai kalimat Allah justru untuk menegaskan statusnya sebagai nabi. Karena statusnya tinggi sebagai nabi, Yesus menjadi manifestasi sempurna dari Allah, orang yang menyampaikan pesan Allah, yang berkata atas nama nama Allah dan karenanya menjadi Kalimah Allah, bukan Allah itu sendiri yang berinkarnasi. Dalam penafsiran lain, Ia diciptakan langsung dengan kalimat Allah yakni "Kun" maka terciptalah ia, tanpa melalui proses pencampuran sperma dan sel ovum sebagaimana kebanyakan kelahiran manusia pada umumnya. Selain digelari ‘Kalimat Allah’, Yesus juga disebut sebagai ‘Ruh Allah’. Allah swt berfirman: "Sungguh, Al-Masih Isa putra Maryam itu, adalah utusan Allah dan (yang diciptakan) dengan kalimat-Nya yang disampaikan-Nya kepada Maryam, dan (dengan tiupan) roh dari-Nya"(4:171). Ruh adalah simbol paling nyata tentang eksistensi Tuhan. Karena itu, mungkin ini menjadi alasan bagi kalangan Kristen menganggap Yesus memiliki sifat ketuhanan. Sedangkan teologi Islam memahaminya sebagai ruh yang telah dibersihkan sedemikian rupa sehingga menjadi cermin yang dengannya Tuhan dikenal. Biara menjadi suci bukan karena kesucian dalam bangunannya, tetapi karena ia merupakan tempat menyembah Tuhan. (Muhsin Labib mengutip Ibnu al-‘Arabi, dalam The Bezels of Wisdom (Fushus al-Hikam)).Gelar yang lain kepada 'Isa ialah al-Masih (messias, mashiah, kristus) , yang arti harfiah ialah "diurapi". Sebelum Islam datang kata al-Masih memang sudah dikenal di Arabia bagian selatan. Di dalam Al Quran sebutan al-Masih disebutkan sebanyak 11 kali, semuanya dalam surat Madaniyah. Di dalam bahasa Ibrani kata mashiah digunakan untuk mengacu pada seorang juru selamat yang dinanti-nantikan. Kata itu kemudian diterjemahkan ke dalam bahasa Yunani menjadi Kristos. Jadi, nama Isa al-Masih adalah identik dengan Yesus Kristus. Bisa juga kata al-masih dikaitkan dengan kata masaha dalam bahasa Arab, artinya membasuh atau menyucikan. Gelar lain terhadap 'Isa yang sering disebut di dalam Al Quran ialah Anak Maryam ('Isa Ibn Maryam). Kisah kelahiran 'Isa Ibn Maryam dijelaskan dua kali secara rinci dalam Al Quran. Memang para malaikat memberi tahu Maryam akan kedatangan sebuah kalimah (perkataan atau logos) dari Tuhan 'yang bernama al-Masih" (Q. 3:45). "Anak Maryam dan ibunya" dikatakan telah dipilih sebagai tanda karena ia memberikan keterangan dan bukti-bukti tentang Tuhan (Q. 2: 87, Q. 23:50, Q. 43:63). Anak Maryam digunakan sebagai "perumpamaan" melawan orang-orang musryik, karena ia datang dengan kebijaksanaan dan menunjukkan kesalehan kepada Tuhan (Q. 43: 57-63). Gelar Anak Maryam sedemikian menakjubkan sehingga para pakar tafsir modern pun mendiskusikannya. Seorang pakar tafsir modern, Baidawi, mengatakan bahwa gelar itu dipakai untuk menunjukkan dan membuktikan bahwa 'Isa dilahirkan dan merupakan anak manusia, bukan anak Tuhan sebagaimana dalam doktrin Kristen. Keistimewaan lainnya, nama Al-Masih Isa putra Maryam adalah pemberian langsung dari Allah SWT, tidak sebagaimana kelahiran anak pada umumnya, anggota keluarganyalah yang memberi nama. Allah berfirman : "(Ingatlah) ketika Malaikat berkata, "Hai Maryam, sesungguhnya Allah menggembirakan kamu (dengan kelahiran seorang putra yang diciptakan) dengan kalimat (yang datang) dari-Nya, namanya Al-Masih Isa putra Maryam, seorang terkemuka di dunia dan di akhirat dan salah seorang di antara orang-orang yang didekatkan (kepada Allah)." (Qs. Ali Imran: 45)
Misi Para Nabi
Sebagaimana telah dituliskan, menurut Al-Qur'an, Yesus Kristus hanyalah anak manusia dan posisinya sama dengan para Nabi lainnya yang di utus oleh Tuhan Semesta Alam untuk menciptakan keadilan di muka bumi. Sebagaimana Nabi lainya, Yesus pun di karuniai kemampuan luar biasa (mukjizat) sebagai tanda kenabiannya. Mukjizat itu sebagaimana digambarkan dalam Surah Al-Maidah ayat 110 diantaranya, mampu berbicara sejak baru dilahirkan, membentuk burung dari tanah, mampu menyembuhkan orang buta bahkan menghidupkan orang yang telah mati, yang kesemuanya itu terjadi dengan seizin Allah SWT. Namun, yang paling penting dari status kenabian Isa, bukan pada kemampuannya memperlihatkan mukjizat, tetapi kepeduliannya terhadap orang-orang menderita sakit, miskin, tertindas, dan orang-orang yang sesat jalan hidupnya. Misi perjuangan para Nabi dan pelanjutnya ditegaskan Allah dalam Al-Qur'an :”Orang-orang yang mengikuti Rasul, Nabi yang ummi, yang mereka dapatkan termaktub dalam Taurat dan Injil, memerintah yang ma’ruf, melarang mereka dari yang mungkar, menghalalkan yang baik bagi mereka dan mengharamkan atas mereka yang jelek, dan melepaskan mereka dari beban berat dan belenggu-belenggu (yang memasung kebebasan) mereka...” (Qs. Al-A’raf : 157).Dari surah Al-A’raf diatas menggambarkan ajaran yang dibawa para nabi adalah ajaran yang penuh antusias dan menawarkan mimpi besar tentang kesejahteraan dan keadilan, roh perjuangan mereka adalah memerdekakan manusia dari segala bentuk penindasan dan penyembahan kepada sesama makhluk. Agama adalah revolusi karena mengandung ajaran-ajaran pembebasan manusia dan perlawanan terhadap segala bentuk kejahatan yang menistakan dirinya. Sedangkan para nabi dan rasul adalah revolusioner. Mereka diutus Allah untuk mengubah dunia sesuai dengan kehendak Ilahi. Nabi Ibrahim memproklamasikan revolusi tauhid menentang kemusyrikan dan tirani Namrudz. Nabi Musa membebaskan bangsa Israel dari perbudakan Fir’aun. Nabi Isa As (Yesus Kristus) mendeklarasikan revolusi spritual melawan kekuasaan tirani sekular hedonistik Imperium romawi. Dan penghulu para Nabi, Muhammad SAW sebagai pelopor pembebasan kaum jelata, budak dan rakyat tertindas dan berhasil menghancurkan stuktur sosial Qurays yang penuh kemusyrikan, penindasan yang sarat dengan ketidak adilan.
Menyoal Natal
Dari sini, umat Kristiani kiranya perlu mencatat bahwa umat Islam menerima Yesus sebagai juru selamat, bersama seluruh nabi lainnya. Karena fungsi kenabian adalah menyelamatkan umat manusia dari belenggu-belenggu yang memasung pundak-pundak mereka. Yesus (as) pada masanya sebagaimana Muhammad yang diutus di akhir zaman adalah sebagai rahmat bagi semesta alam. Al Quran menyebutnya sebagai "sebuah tanda bagi alam semesta" (Q. 21:91) dan dia diutus "untuk Kami jadikan tanda bagi manusia" (Q. 19:21). Karenanya menurut saya, perayaan Natal semestinya tidak dipandang hanya sebagai hari raya kelahiran Yesus sebagai putra Tuhan Bapak sesuai teologi Kristen semata, sehingga tidak terkesan hanya milik umat Kristiani saja. Melainkan juga perlu dipandang dan ditradisikan sebagai hari raya kelahiran Yesus, Nabi Isa (as) Sang Kalimat dan Ruh Allah, sebagaimana diyakini umat Islam. Dalam teologi Islam, semua posisi nabi sama. Bagi saya penggalan do'a Yesus, "Dan kesejahteraan semoga dilimpahkan kepadaku, pada hari kelahiranku, pada hari wafatku, dan pada hari aku dibangkitkan kembali." (Qs. 19 : 33) menunjukkan hari kelahirannya adalah sesuatu yang patut dihargai. Bahwa kemudian Nabi Isa "dijadikan" Anak Tuhan oleh umat Kristiani, adalah suatu hal yang lain lagi, yang tidak mengurangi arti ucapan Yesus itu. Artinya, Natal (hari lahir Yesus) diakui oleh kitab suci al-Qur'an sebagai hari yang mulia, juga sebagai kata penunjuk hari kelahiran beliau harus dihormati oleh umat Islam juga. Kalau Yesus (as) dan pengikutnya menjadikan hari turunnya hidangan dari langit buat mereka sebagai hari raya (baca Qs. 5 : 114) maka hari dimana nabi dilahirkan yang diutus Tuhan untuk menyajikan hidangan akal dan ruhani yang menyelamatkan manusia maka lebih patut lagi untuk dijadikan hari raya. Maka secara pribadi, tidak ada ganjalan psikologis sedikitpun untuk turut merayakan Natal sebagaimana penulis yakini tentang Yesus sebagai salah satu Nabi Allah, yang tentu saja dalam bentuk dan maksud yang berbeda. Meski sampai sekarang tanggal kelahiran Yesus masih kontroversial, namun perayaan Natal per 25 Desember yang menjadi tradisi Kristen berabad-abadpun perlu mendapat apresiasi. Makna perayaan hari besar suatu agama tidak mesti bertempat pada kuatnya akurasi hitungan hari dan tanggal, tapi bagaimana merevitalisasi makna-makna di balik perayaannya. Selamat atas kelahiran Yesus Kristus (as).
Wallahu'alam bishshwwab.
Qom, 22 Desember 2007

2 komentar:

DEDI RUSTANDI mengatakan...

Assalamualaikum wr wb...

Tentang hari kelahiran nabi Isa as tanggal 25 Desember sendiri masih dalam perdebatan...

Waalaikum salam wr wb.

KLIK SAYA mengatakan...

KALO ENTE NGOMONGIN KRISTEN,
BOLEH DONG ANE NGOMONGIN ISLAM...
BIAR IMBANG COY..

Heheheheeee...